
Pagi hari Mawar terbangun sambil meringis sakit,keningnya yang lebam terasa ngilu,Mawar langsung turun dari ranjang melihat tanda didadanya belum juga hilang.
"Tok tok tok"
Mawar langsung berjalan kearah pintu dan membukanya,pasti Rita yang datang untuk mandikan Mawar.
"Nona ayo mandi,saya sudah siapkan semuanya"Kata Rita tersenyum.
"Ok bentar ya"Balas Mawar langsung mengambil handuk kecil.
"Nona kening anda kenapa?,lebam gitu?"Tanya Rita heran.
"Apa aku kasih tau saja ya?,kalau aku kasih tau nyonya Winda pasti terkena hukuman,dia semakin membenciku"Batin Mawar bingung.
"Nona kenapa diam saja?"Tanya Rita heran masih berdiri didepan pintu kamar.
Terdengar Mawar dan Rita suara Winda bicara kepada Jorse sambil berjalan melewati kamar khusus,Jorse berhenti tepat didepan pintu dan melihat dahi Mawar yang lebam.
"Honey ayo kita sarapan"Ajak Winda yang sedikit takut karena Jorse berhenti didepan kamar khusus itu.
"Kenapa kening kamu itu?"Tanya Jorse mengkerutkan dahi.
"Wah gawat,kalau placur kecil ini mengadu bisa dihukum aku"Batin Winda sambil menenggak salivanya ketakutan.
Mata Winda terbelalak melihat Mawar seakan memberi kode ancaman,Mawar jadi ngerti,Rita memperhatikan itu berfikir curiga.
"Sem-semalam aku jatuh dari kamar mandi"Jawab Mawar gugup dengan berbohong.
"Mmmm,goblok banget"Hanya Kata Itu dilontarkan Jorse lalu pergi kelantai bawah disusul Winda.
"Hahaha,placur kecil itu pasti takut,syukur dia enggak mengadu"Batin Winda bernafas lega.
"Nona anda pasti berbohong,itu bukan jatuhkan,lebamnya beda"Tukas Rita menyelidiki.
"Sudahlah tidak usah dibahas,ayo kita mandi"Kata Mawar langsung berjalan menuju kamar mandi.
Mawar disusul Rita masuk kedalam kamar mandi,seperti bisa Rita melayani Mawar dengan senang hati.
"Rita kenapa dada aku bisa merah begini,apa ini tidak akan hilang?"Tanya Mawar dengan antusias.
"Itu tidak akan hilang nona"Kata Rita niat bercanda sambil tersenyum.
"Astaga,ini semua ulah tuan kejam itu,jadi jelek dada aku"Kata Mawar panik.
"Apa nona tidak tau itu tanda apa?"Tanya Rita heran.
"Kalau aku tau tidak mungkin aku tanya sama kamu Rita"Jawab Mawar kesal.
"Itu tanda cinta nyonya"Balas Rita terkekeh dan geli.
"Tanda cinta?"Gumam Mawar berfikir,sedangkan Rita tersenyum sambil membasuh tubuh Mawar.
"Nona Mawar polos banget,pantes dia tidak malu menunjukkan tanda itu,Aneh aneh saja"Batin Rita geli.
__ADS_1
"Tanda cinta?,artinya tuan kejam itu mencintaiku?,ah tidak mungkin dia cinta sama aku,diperjanjian surat kami tidak boleh ada rasa"Batin Mawar gagal paham.
"Nona lebih baik cerita deh,saya tau dahi anda bukan karena jatuh,pasti perbuatan nyonya Windakan?"Tanya Rita suara pelan.
"Ah ini jatuh kok,beneran"Sangkal Mawar sedikit gugup.
"Beneran karena jatuh nona?"
"Iya jatuh Mbak Rita"
"Bohong,kalau bohong dosa lho"Kata Rita penasaran.
"Kamu benar ini perbuatan nyonya itu,tapi janji ya mbak jangan kasih tau siapa siapa,Mawar takut nyonya itu semakin benci sama aku"Balas Mawar wajah sedih.
"Lain kali nona harus hati hati,nona juga harus melawan dia,kalau nona lemah dia semakin menindas nona"Balas Rita dengus kesal pada Winda.
"Sudahlah tidak usah dibahas,entar ada yang dengar"Sahut Mawar wajah sedih.
Mereka berdua tidak tau ada seseorang dari tadi mendengar obrolan mereka,dia adalah Kartika yang ingin mandi,Kartika langsung pergi dari tempat itu.
Sesaat kemudian Mawar sudah bersih lalu keluar dari kamar mandi,Mawar langsung berjalan kelantai bawah untuk melihat Adikknya,saat didapur Mawar melihat Adi memakai seragam sekolah sambil sarapan.
"Adek,kok pake baju sekolah?,emangnya mau sekolah dimana?"Tanya Mawar heran.
"Adi tidak tau sekolah dimana,Om Hasan yang nyuruh Adi sekolah mbak,Adi senang banget bisa sekolah lagi"Jawab Adi bahagia.
Hasan masuk kedalam dapur lalu tersenyum menunduk kepada Mawar,Hasan datang ingin mengantarkan Adi sekolah.
"Adi udah siap sarapannya?,ayo Om antar"Kata Hasan tersenyum ramah.
"Tuan,Adi sekolah dimana?,Mawar tidak tau kalau hari ini Adi mau sekolah,Mawar enggak punya uang bayar uang sekolah Adi"Kata Mawar cemas.
"Udah enggak usah pikir biaya sekolah itu nona,ini semua karena tuan,tuan yang suruh Adi sekolah"Balas Hasan.
"Om Hasan Adi sudah siap,ayo kita berangkat"Kata Adi semangat empat lima.
"Nona saya antar Adi dulu ya"Kata Hasan berjalan keluar dapur.
"Mbak Adi pergi sekolah dulu ya"Tukas Adi mencium punggung tangan Mawar.
"Hati hati ya dek,Tuan Hasan"Kata Mawar tersenyum senang.
Mereka berdua pergi berjalan keluar rumah,terlihat Rini berlarian sambil membawa bekal untuk Adi,Mawar melihat sikap Rini yang begitu perhatian kepada Adiknya.
"Alhamdulilah Adikku bisa sekolah ya Allah,tuan kejam itu baik juga ternyata"Kata Mawar bicara sendiri.
"Kalau gitu aku harus temui tuan kejam itu,ngucapin terima kasih"Gumam Mawar berjalan mencari Jorse.
Mawar mencari Jorse disetiap ruangan rumah tetapi tidak menemukan pria itu,Melintas Rini dari hadapan Mawar.
"Mbak,tuan dimana ya apa dia udah berangkat ngantor?"Tanya Mawar.
"Tadi sarapan nona,mungkin diruangan kerjanya"Jawab Rini.
__ADS_1
"Ow gitu,ruanganya dimana ya?"Tanya Mawar penasaran.
"Dari sini nona lurus belok kanan nah tepat disitu ruangan kerja tuan"Balas Rini.
"Ow ya sudah,terima kasih ya mbak"Kata Mawar dengan senyum.
"Sama sama nona"Balas Rini langsung pergi menuju dapur,Mawar berjalan terus sampai dapat belokan kanan dan melihat pintu ruangan itu.
"Tok tok tok"Mawar beranikan diri mengetuk pintu ruangan kerja Jorse, "Masuk" Suara Jorse dari dalam ruangan,Mawar membuka pintu ruangan lalu menutupnya.
"Mau apa placur kecil ini?"Batin Winda saat memijat bahu Jorse.
"Ada apa?"Tanya Jorse dengan sorotan mata elang,lagi duduk santai.
"Anu tuan,mmmm"Mawar jadi enggan bicara karena malas melihat mata Winda yang melihat dengan nanar.
"Sudah,kau keluar dulu"Titah Jorse menyuruh Winda keluar dari ruangan.
"Honey,kenapa aku disuruh keluar,apa sal---"
"Apa kau tuli Hum,aku benci wanita pembangkang !"Ketus Jorse memotong ucapan Winda.
"Baiklah,huh"Balas Winda bersungut kesal lalu berjalan keluar sambil melirik nanar wajah Mawar.
"Mau bicara apa?"Tanya Jorse setelah Winda keluar ruangan.
"Mawar mau ucapin terima kasih,karena tuan Adi bisa sekolah lagi"Jawab Mawar tersenyum polos.
"Ow cuma bicara itu saja,baiklah kau bisa keluar dari sini"Kata Jorse sambil berdiri dari duduk.
"Ah iya"Kata Singkat Mawar lalu berjalan kearah pintu ruangan. "Tunggu !"Kata Jorse membuat Mawar berhenti berjalan membalikan tubuhnya.
Jorse berjalan sambil membawa sebuah obat anti pereda lebam dikulit,Jorse langsung mengoleskan sendiri cream itu dikening Mawar. "Diam saja jangan bergerak"Kata Jorse masih sibuk mengolesi kening Mawar.
Mata Mawar dengan jelas melihat wajah Jorse dari dekat,bibir tipis Jorse yang merah merekah,bulu mata panjang dengan alis tebalnya seperti ulat bulu.
"Deg deg deg" Jantung Mawar entah kenapa jadi berdetak kencang melihat wajah tampan Jorse,apalagi sikap lembut Jorse saat ini.
"Lain kali hati hati,dah sana kau boleh pergi"Kata Jorse menyudahi oles cream itu.
"Terima kasih tuan"Kata Mawar langsung pergi dari tempat itu,karena jantungnya tidak bisa iya kontrol.
"Kenapa jantungku berdebar melihat wajah dia dari dekat,ah Mawar pikiran kamu kacau"Batin Mawar berjalan kelantai atas.
Bersambung*
Like
Vote
Komen
Pavorit.
__ADS_1
Sudah baca sampai sini dilike dong sayang,jangan jadi pembaca hantu ya,cuma baca doang like pun enggak mau.😥😥😥😥😥