Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
1. Pria Tua Menyebalkan (I)


__ADS_3

Kahiyang Prasojo.



Di usianya yang menginjak umur 20 tahun, Kahiyang tumbuh menjadi gadis yang pintar, introvert dan angkuh. Keangkuhannya itu dimulai sejak remaja. Bagi Kahiyang semua temannya bermuka dua. Memanfaatkannya karena tumbuh besar di keluarga kaya pemilik Rumah Sakit ternama di daerah Jakarta Utara.


Ayahnya Rozi Prasojo seorang Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dan Perilaku.


Kahiyang terus di bully karena berita yang menyebar tentang siapa jati dirinya. Seorang anak perempuan hasil dari hubungan tidak sah yang dibawa masuk ke kehidupan keluarga Prasojo, Permadi dan Wiryawan.


Sebutan anak haram terus dilontarkan. Awalnya Kahiyang marah dan berkelahi dengan beberapa senior di sekolahnya. Namun, lambat laun Kahiyang tidak menggubris segala cacian dan bully an.


Dibalik sikap angkuhnya, ia sangat menyayangi keluarganya. Sebagai putri pertama di keluarga Prasojo, Kahiyang memiliki saudara sedarah dari pernikahan Ayahnya Rozi dengan Brisia Wiryawan.


Adiknya berjumlah dua orang dan semuanya perempuan. Bitna Prasojo berusia 16 tahun dan Brenda Prasojo berusia 14 tahun. Kahiyang begitu sayang pada adik-adiknya, meski berbeda ibu.


Brisia ibu sambungnya yang merawat, mendampingi dan juga selalu mendukung setiap langkah yang diambil putri tirinya itu. Kahiyang mendapatkan kasih sayang sebuah keluarga yang utuh.


"Bitna ... Brenda ... ayok cepat! Kalian bisa terlambat," Kahiyang berteriak dari teras rumah.


Setiap pagi ia akan mengantarkan adik-adiknya ke sekolah saat di Indonesia. Tugas yang memang Kahiyang inginkan, walaupun ada supir di rumah. Ia ingin selalu dekat dengan kedua adiknya. Brisia bahagia melihat ketiga putrinya akur dan saling menyayangi.


Bitna dan Brenda lari tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Keributan di setiap pagi hari memang seperti itu.


"Pelan-pelan sayang," Brisia mengingatkan Bitna dan Brenda yang buru-buru meminum susu lalu mencomot roti bakar yang sudah di olesi selai strawberry oleh Mamanya.


"Bye Ma," ucap Bitna dan Brenda bersamaan. Mencium pipi kanan dan kiri. Pagi itu Rozi sudah berada dirumah sakit. Mereka tidak bertemu saat sarapan.


Bitna dan Brenda sekolah di tempat yang sama. Sekolah swasta elit kenamaan di daerah Jakarta Utara. Sedangkan Kahiyang sedang libur musim dingin. Ia kuliah di Luxurious College of Art, London, United Kingdom, jurusan Kurator Seni Kontemporer.


Alasan Kahiyang memilih kuliah di Luar Negri, salah satunya karena bully an itu. Kehidupan kuliahnya terbilang mulus dan tanpa kendala.


Kahiyang berteman dengan siapa pun, namun tidak memiliki sahabat. Sahabat baginya tempat berbagi cerita dan menjaga rahasia. Kahiyang tidak percaya itu.


"Ayok cepat masuk! Sudah jam berapa ini?" seru Kahiyang dari kaca jendela mobil yang terbuka, sambil menunjukkan jam di tangan kirinya.


"Iya ... iya, sabar kakak. Masih jam tujuh, ada waktu satu jam lagi," sahut Bitna sembari membuka pintu di sisi kiri Kahiyang.


"Macet. Aku benci kemacetan! Wear the safety belt, now!" ucap Kahiyang tegas agar kedua adiknya itu memakai sabuk pengaman sekarang juga.

__ADS_1


"Iya kakak ku sayang. Pagi-pagi jangan marah-marah. I don't like it," ejek Brenda, menirukan Kahiyang yang suka menyelipkan bahasa asing saat berbicara atau pun mengomel. Brenda tidak suka.


"Brenda!"-menunjuk-"jangan mengejekku! pakai sabuk pengamanmu juga. Now!" imbuhnya. Bitna dan Brenda menuruti ucapan Kahiyang.


Jalanan pagi itu memang sungguh luar biasa padat merayap. Semua tumpah ruah di jalanan ibu kota. Pemasangan traffic lights di setiap pertigaan, perempatan atau pun simpang lima, tidak cukup mengatasi kemacetan.


Lampu lalu lintas belum berganti warna, para pemotor dan beberapa mobil sudah berada di depan garis zebra cross.


Kahiyang mengumpat dengan pelafalan english britishnya. Kesal akan sikap pengendara yang bodoh dan tidak sabaran. "Hei, this is so stupid! They were impatient!".


Bitna dan Brenda yang sudah terbiasa mendengarkan Kahiyang mengumpat juga menggerutu, hanya menggelengkan kepalanya lalu menutup telinga mereka dengan earphone.


"I hate this mess," Kahiyang masih saja mengumpat sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya ke atas. Kahiyang membenci kesemrawutan lalu lintas.


Mobil yang dikendarainya sudah kembali melaju.


Kahiyang menoleh sekilas ke sisi kirinya, dimana Bitna duduk dengan earphone terpasang di telinga. Kemudian melihat Brenda dari spion tengah. Brenda melakukan hal yang sama. Kahiyang mencibir adik-adiknya yang tidak ikut berkomentar.


Mobil sedan mewah warna hitam itu memasuki halaman sekolah. Sekolah swasta elit berwarna khas biru dengan luas empat kali lipat sekolah swasta pada umumnya. Sekolah yang memiliki lima jenjang akademik. Playgroup, Kindergarten, Primary, Junior High dan Senior High.


Bitna Senior High sedangkan Brenda Junior High. Keduanya cukup terkenal akan prestasinya. Bitna di bidang akademik sedangkan Brenda di bidang non akademik. Brenda salah satu atlet sprinter kebanggaan sekolah.


Bitna sendiri beberapa kali ikut berpartisipasi di kejuaraan olimpiade matematika. Terakhir kali, Kahiyang menyusul ke Jepang untuk menyaksikan adiknya berkompetisi. Dan berkumpulnya keluarga Permadi. Bibi, Paman dan sepupunya berada di sana.


"Brenda!" seru Kahiyang. Mobil yang di kemudikannya sudah berhenti di Junior Lobby. Brenda masih asik mendengarkan musik dari ponselnya melalui earphone. "Brenda!" seru Kahiyang lagi sambil menepuk lutut adiknya itu.


"Ya? eh ... sudah sampai. Sabar kak! Iya iya, aku turun. Thankyou kakakku tersayang." ucap Brenda dengan melemparkan kiss bye pada Kahiyang.


Tanpa menunggu balasan, Brenda langsung menutup pintu mobil dan menyapa temannya yang baru saja diantarkan seperti dirinya.


Kahiyang melajukan lagi mobilnya sedikit ke depan, kira-kira 100 meter.


Kahiyang berkata, "Bitna, turun -"


"Bye, kakak." potong Bitna. Ia sudah melepas seatbelt dan langsung keluar dari mobil. Kahiyang menggelengkan kepalanya.


Kahiyang menggerutu, "Sungguh luar biasa, adik-adikku."


Lalu Kahiyang melihat dompet Bitna yang terjatuh di lantai mobil. "Astaga ... anak ceroboh!" sungutnya. Kahiyang memungut dompet itu, lalu memutar kemudi mencari parking space yang kosong.

__ADS_1


Kahiyang dengan cekatan memarkirkan mobilnya, tanpa tahu area itu area terlarang.


Kahiyang turun membawa dompet Bitna di tangan kanannya. Terdengar suara klakson mobil yang mengagetkannya. "Crazy people!" Kahiyang kembali mengumpat. Ia tidak perduli dengan suara klakson yang berbunyi lagi. Kahiyang kabur, meninggalkan orang gila itu. Yang terpenting saat itu adalah dompet Bitna. Perut Bitna harus diselamatkan. Tanpa kartu makan alias meal card, adiknya bisa kelaparan.


"Sorry Miss ... can i give this to my little sister, Bitna? Bitna Prasojo, class topper," tanyanya pada guru yang berjaga di depan lobby Senior High. Kahiyang meminta ijin memberikan dompet untuk Bitna adiknya di kelas unggulan.


"Bisa dititipkan ke saya," jawab guru itu. Kahiyang menyodorkan dompet berlogo huruf double G.


"Terimakasih, Miss," ucapnya lalu kembali ke area parkir.


Seorang pria dengan dandanan parlente dengan setelan jas single breasted serba hitam itu menyandarkan tubuh dengan angkuhnya ke mobil miliknya sendiri. Mobilnya sengaja ia parkir melintang tepat didepan mobil Kahiyang.


"Bisa singkirkan mobil anda? I have to go right now!" protes Kahiyang. Ia benar-benar harus pergi sekarang juga. Janji bertemu dengan Ayahnya, Rozi di rumah sakit.


Pria itu tersenyum sarkas, "Kalau saya tidak mau, kamu mau apa?" tantangnya.


"Have you lost your mind?" Kahiyang geram dengan sikap pria itu. Pria gila.


"Orang Indo tapi gaya bahasa kebarat-baratan, dan tidak memakai otaknya. Modal cantik tidak cukup, Nona, kalau kelakuan kamu tidak sopan seperti ini," menunjuk dari atas kepala sampai ke kaki Kahiyang.


Kahiyang sungguh kesal, "Apa? aku tidak memakai otakku dan tidak sopan? you've gone to far!" bagi Kahiyang, pria tua itu sangat keterlaluan.


"Kamu tidak sadar apa kesalahanmu?" -menegakkan badan, mendekati- "area ini, area terlarang. Hanya saya yang boleh parkir disini! understand?" pria itu begitu dekat dengan Kahiyang, berkata dengan menatap tajam.


"Apa buktinya? disini tidak tertulis ataupun ada tanda dilarang parkir, kecuali anda! how funny you are!" tanya Kahiyang lalu mencibirnya dengan kata-kata 'anda lucu sekali!'.


Pria itu mengeraskan rahangnya, penuh dengan jambang yang tertata rapih. Memang kesalahan pihak penanggung jawab area parking, tidak mengingat betapa pentingnya tanda 'Only for School Owners'.


Kahiyang masuk ke dalam mobilnya. Ia akan nekad menabrakkan mobilnya pada mobil pria tua menyebalkan itu.


Kahiyang membunyikan klakson tiga kali. "Hei ... kamu yang salah, kenapa saya yang harus menyingkir? gadis angkuh!" sungutnya. Kahiyang terus membunyikan klakson dan pria itu justru meninggalkan mobilnya disana, tanpa bergeser sedikit pun.


"What the fu*ck!" Kahiyang kembali mengumpat, memukul setir. Lalu membuka pintu mobil, menguncinya, mengejar pria tua menyebalkan itu.


To Be Continued...


~Hai hai hai...selamat datang di Novel baru Othor 😊. Othor ngadain Give Away lagi lho. Dalam bentuk apa, nanti menyusul ya 😁.


~Dukung Kahiyang, kawal Kahiyang sampe dapet jodohnya 😉

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2