Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
30. Bad or Good News?


__ADS_3

Dua hari berlalu. Satria tidak bisa menghubungi Kahiyang karena ponsel kekasihnya itu disita oleh Rozi. Dan Kahiyang tidak boleh keluar dari rumah.


Satria mondar mandir diruangannya, menunggu kabar dari informan yang ia suruh. Waktu yang ia berikan hanya dua hari sebab Satria tidak mau kehilangan Kahiyang. Satria tidak mau Kahiyang bertunangan dengan Bumi atau pun laki-laki lain.


Ponsel Satria berdering. Muncul nama istrinya Inggrid. "Mau apa dia?" Satria menolak panggilan itu. Sudah satu bulan istrinya itu tidak menghubunginya untuk sekedar menanyakan keadaan Hanna. Satria marah.


Ponselnya kembali berdering dan nama yang sama yang muncul di layar. "Damn!" Satria memilih menonaktifkan ponselnya.


Satria terus menggerutu dan memaki Inggrid. Rasanya ingin cepat-cepat mengurus perceraian. Ia sudah tidak tahan dengan kondisi rumah tangganya.


tok tok tok


Pintu ruangan Satria diketuk, Iren masuk.


"Pak, ada kabar dari Bali. Ibu Inggrid pingsan di lokasi syuting. Bapak diminta untuk segera kesana," ujar Iren.


"Pingsan?" Satria terkejut. Bagaimanapun juga Inggrid masih istrinya. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi.


"Iya, pak. Asisten bu Inggrid menghubungi saya," jawab Iren.


"Oke, pesankan saya tiket ke Bali sekarang juga!" titahnya.


"Baik, Pak," Iren mengangguk lalu keluar dari ruangan.


Satria hendak menelfon suster untuk menjaga Hanna tapi justru Mamanya Melani menghubunginya terlebih dulu.


"Halo, Ma," sapa Satria, duduk dikursinya.


"Mama dapat kabar dari Arila kalau Inggrid pingsan di lokasi syuting. Mama ikut ke Bali. Pesankan tiket untuk Mama juga. Mama khawatir," ujar Melani terburu-buru.


"Satria jemput Mama, kita ke bandara sama-sama," jawab Satria, meraih jasnya lalu keluar ruangan.


Dua tiket penerbangan menuju Bali sudah ditangan. Satria menjemput Melani di rumahnya.


"Halo, Sus. Tolong temani Hanna malam ini. Jangan katakan apa pun soal Inggrid! Katakan saja, saya ada urusan keluar kota," ujar Satria pada Suster yang mengurus dan menjaga Hanna.


"Baik, Pak,"


Satria terus melajukan mobilnya sampai dirumah kedua orangtuanya.


"Papa ikut?" tanya Satria pada Papanya yang sudah membuka pintu mobil, duduk disampingnya.


"Iya. Kenapa? Papa nggak boleh jenguk menantu Papa sendiri?" tanya Arsyanendra.


"Tapi, tiketnya hanya ada dua. Tadi Mama nggak ada ngomong kalau Papa ikut juga," jawab Satria.

__ADS_1


"Mama lupa. Udah, suruh Iren pesankan satu tiket lagi. Sekarang kita ke bandara. Mama mau cepet-cepet sampe di Bali. Kasihan menantu Mama. Dia pasti kelelahan sampe pingsan begitu," ucap Melani, duduk di kursi belakang.


Satria tidak menggubris ucapan Mamanya. Ia fokus menyetir sambil menghubungi Iren untuk memesankan satu tiket lagi ke Bali.


Nendra dan Melani duduk di bussines class, sedangkan Satria di kelas ekonomi. Karena hanya kursi itu yang tersisa, benar-benar menyiksanya. Kaki panjangnya harus ia tekuk untuk beberapa jam.


Cuaca siang itu begitu terik. Mereka sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Satria berjalan di belakang orangtuanya, mendorong troli berisi dua koper kecil.


"Mereka pikir mau liburan? bawa koper segala," gerutu Satria.


Dari jarak hanya 2 meter, Satria mengenali sosok pria yang beberapa kali bertemu dengannya dan sekaligus menjadi rivalnya.


Pria muda itu berpelukan dengan seorang gadis cantik dan seksi.


"Bang*sat!" umpat Satria. Rasa penasarannya menuntunnya mengikuti kemana dua orang itu pergi. Satria buru-buru merekam video dan juga beberapa foto untuk ia simpan sebagai bukti.


"Lho, Satria mana, Pa?" tanya Melani saat keduanya sudah didepan taksi. Melani dan Nendra mencari keberadaan Satria.


"Itu, Ma," -menunjuk- "dasar anak nakal! dia malah pergi sendiri. Jelas-jelas orangtua ada didepannya, tapi dia keluyuran. Istrinya pingsan, tapi lagaknya santai. Lihat, Ma!" Nendra menunjuk Satria yang sedang berjalan mendorong troli ke arahnya.


"Mama juga heran. Bukannya cepat ke rumah sakit tapi malah santai begitu. Mama kesel!" ujar Melani.


"Yasudah, Mama masuk dulu. Biar Papa tunggu disini," ucap Nendra pada istrinya untuk masuk ke dalam taksi.


"Darimana kamu? Cepat masukkan! Kita harus cepat ke rumah sakit. Kasihan Inggrid. Suami macam apa yang santai seperti tidak ada raut cemas di wajahmu!" Nendra mengomeli Satria.


Taksi melaju ke arah rumah sakit yang cukup jauh dari bandara.


Satria bertemu dengan sutradara dan asisten Inggrid, Arila. "Bagaimana kondisinya?" tanya Satria.


"Mba Inggrid belum siuman, Pak," jawab Arila.


"Saya Birowo, Sutradara film," sapanya, mengulurkan tangan.


Satria menatap terlebih dulu sutradara itu, mengamati dari atas hingga ke bawah.


"Saya Satria, suami Inggrid," jawabnya, menjabat tangan Birowo sedikit kuat. Birowo meringis.


"Bisa ceritakan kronologis sampai istri saya pingsan?" tanya Satria pada Birowo.


"Em ... anu ... itu. Tadi pagi Inggrid mengeluh tidak enak badan. Saya sudah mengijinkan Inggrid untuk rehat satu hari. Tapi dia tetap bersikeras untuk syuting," terang Birowo, sedikit gugup karena Satria menatapnya tajam.


"Lokasi syuting jauh dari kota?" tanya Satria.


"Hah? Ah ... tidak. Lokasinya masih di sekitar sini," Birowo terkejut dengan pertanyaan Satria.

__ADS_1


"Lalu kenapa istri saya tidak pernah menghubungi saya atau Hanna putrinya? Kalau bukan karena sinyal lalu apa?" pandangan Satria beralih ke Arila.


Asisten Inggrid itu salah tingkah, seperti sedang di interogasi. "Scedule syuting Mba Inggrid penuh, Pak. Harus menyelesaikan beberapa part dalam satu hari. Kadang mba Inggrid tertidur di kursi," ucap Arila sedikit gugup.


"Jadi sesibuk itu? sampai-sampai tidak khawatir dengan kondisi Hanna." Satria tetap merasa kesal dan tidak masuk akal. Seorang ibu meninggalkan putrinya berbulan-bulan tanpa ada rasa rindu.


"Sudah-sudah. Jangan terus bertanya ini itu! Sekarang masuk, temui Inggrid," ucap Melani, menarik putranya.


Satria masuk dan bertemu dengan dokter yang menangani.


"Saya Satria, suami Inggrid Mahira," Satria mengulurkan tangan.


"Saya Aldo. Silahkan duduk," ujar Aldo.


"Istri saya kenapa, Dok?" tanya Satria tanpa berbasa-basi.


"Selamat, Pak Satria," mengulurkan tangan kembali.


"Selamat untuk apa, Dok?" tanya Satria tidak mengerti.


"Selamat untuk kehamilan Ibu Inggrid," -berjabat tangan, tersenyum- "usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke empat," imbuhnya. Satria membelalakan matanya sempurna.


"Hamil?" tanya Satria dengan nada terkejut sekaligus tidak percaya.


"Iya, Pak. Istri bapak sedang mengandung. Sebaiknya untuk beberapa bulan ke depan, Ibu Inggrid jangan melakukan aktivitas berat seperti syuting. Kondisinya cukup lemah," terang Aldo.


Satria mengepalkan dua tangannya. Nggak mungkin! ini nggak mungkin! Breng*sek! Baji*ngan!. Satria mengumpat dalam hatinya.


Kabar itu sudah terdengar sampai ke keluarga Inggrid di Jakarta maupun di Singapura. Siapa lagi kalau bukan Melani yang begitu antusias menggembar gemborkan kabar kehamilan Inggrid. Bahkan Hanna sudah ditelfonnya.


"Bukannya senang tapi kenapa pusing?" tanya Nendra pada putranya yang duduk di sofa memijati pelipisnya.


"Sayang ..." suara Inggrid memanggil Satria.


"Itu istrimu, panggil," Nendra menepuk paha Satria.


Satria membuka mata, dengan malas mendekati Inggrid.


"Ya ..." ucap Satria.


"Aku hamil. Anak kita. Adik Hanna. Anak yang kamu inginkan dari tahun lalu," ucap Inggrid, menarik tangan Satria untuk mengusap perutnya.


Satria tersenyum terpaksa sambil mengusap perut datar istrinya.


To be Continued...

__ADS_1



__ADS_2