
"Kamu jahat, Mas! I hate you!" Kahiyang melempar remot ke arah layar tv, seketika retak. Suaranya begitu keras, sampai ke lantai dasar.
Kahiyang berteriak membanting barang-barang. "Arghh ... kamu bohong! Kamu bohongi aku, Mas!" teriaknya.
Kahiyang mendapati kenyataan bahwa Inggrid Mahira, selebritis sekaligus istri Satria Arsyanendra pingsan saat sedang melakukan syuting sebuah film di Bali. Disebutkan jika Inggrid sedang mengandung.
Wajah Satria terpampang jelas di layar televisi. Satria sedang mendorong kursi roda lalu memapah Inggrid masuk ke dalam mobil. Inggrid diperbolehkan pulang ke Jakarta.
Kahiyang terus menangis. "You liar! Kamu tidak menepati janjimu, Mas. Aku marah! Aku kecewa! Argh ..." membanting vas bunga. Prangg...
Kahiyang sendirian di rumah. Rozi dan Brisia di rumah sakit menjaga Airin. Asisten bagian dapur berlari keluar, meminta bantuan satpam.
"Mang, Non Kahi. Non Kahi ngamuk," ucap mbok Yah.
"Ngamuk? keno ngopo to nganti ngamuk ngunu?" tanya Mang Parto yang berjaga hari itu. Bertanya sebab apa sampai Kahiyang mengamuk seperti itu.
"Embuh ... aku ora reti. Aku mung krungu suworo tok. Cepet to! Kowe munggaoh, aku tak telfun Bapak," ucap Mbok Yah yang tidak tau sebabnya apa. Hanya mendengar suara. Lalu menyuruh Mang Parto cepat-cepat ke atas. Ia akan menghubungi Rozi terlebih dulu.
Mbok Yah menghubungi majikannya, mengabarkan perihal Kahiyang yang mengamuk. Rozi segera pulang bersama Bumi. Brisia menjaga mertuanya di rumah sakit.
Tiga puluh menit kemudian Rozi datang bersama Bumi.
"Pak, Mang Parto sudah ada di atas," Mbok Yah memberitahu pada Rozi saat bertemu di ruang makan. Menunjuk ke arah lantai atas.
Rozi dan Bumi bergegas menaiki anak tangga. Mang Parto masih berdiri tegap didepan pintu.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Rozi.
"Pintunya dikunci dari dalam, Pak. Tadi Non Kahiyang marah waktu saya buka pintu," terang Mang Parto.
Lalu Bumi mengambil alih. "Kahi ... sayang. Ini aku, buka pintunya ya," bujuk Bumi.
"Jangan masuk! Aku benci kalian semua!" teriaknya dari dalam.
"Kahi ... tolong buka pintunya. Papa mau bicara," ujar Rozi setelah mengetuk pintu.
"Enggak! Kahi nggak mau bicara dengan Papa! Pergi kalian semua!" kembali berteriak.
Rozi dan Bumi berbicara dengan mata mereka. Memberi aba-aba tanpa suara.
1 2 3 ...
__ADS_1
Dalam hitungan ketiga, Rozi dan Bumi bersama-sama mendobrak pintu. Kahiyang terkejut bukan main, ia reflek bersembunyi di bawah meja.
Rozi menyuruh Mang Parto membersihkan pecahan-pecahan kaca. Pintu rusak, satu engsel terlepas.
Bumi membuka penutup meja dimana Kahiyang bersembunyi di dalamnya.
"Kahi ..." serunya, bersimpuh.
Kahiyang berpaling, rasanya malu pada Bumi. Laki-laki yang ia pertahankan ternyata tidak seindah angan-angan. Dan calon tunangannya itu sedang duduk bersimpuh di hadapannya.
"Lihat aku!" menekan dagu Kahiyang. Bumi ingin melihat wajah ayu itu.
Rozi memberi perintah pada Parto untuk keluar meninggalkan Kahiyang dan Bumi berdua saja. Rozi percaya Bumi dapat menenangkan Kahiyang.
Kahiyang akhirnya mau menatap Bumi. Gengsinya masih begitu tinggi. Kahiyang menahan tangisannya. Ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Bumi.
"Apa?" tanya Kahiyang dengan suara yang sedikit bergetar.
"Kalau mau menangis lagi, menangis lah. Tumpahkan semua rasa kecewamu," ucap Bumi, membelai rambut Kahiyang.
Kahiyang menunduk, rasanya air matanya tak sanggup ia bendung lagi. Kahiyang menangis sesenggukkan. Bumi mengulurkan tisu yang diambilnya dari atas meja.
Kahiyang tak mampu berkata lagi. Hatinya benar-benar hancur. Untuk pertama kalinya jatuh cinta, namun dibohongi dan dikecewakan.
"Ingat Kahi, masih ada aku disini," ucap Bumi lagi. Kahiyang mengangkat kepalanya lalu memeluk Bumi erat-erat.
"Maaf ... Maafin aku," ujar Kahiyang. Hanya kata maaf yang ia sampaikan. Kahiyang menyesal sudah egois dan keras kepala. Tanpa sepengetahuan Bumi, ia menjalin cinta dengan Satria, pria tua beristri.
Bumi mengusap punggung Kahiyang. "Nggak ada yang perlu di maafin. Kamu nggak salah apa-apa. Sudah seharusnya aku sebagai calon suami, melindungimu." ujarnya.
Kahiyang melepas pelukan itu, menyeka air mata yang tidak pantas ia tumpahkan hanya untuk Satria. Laki-laki pembohong, bermulut manis.
Bumi menekan dagu Kahiyang lalu mengecup bibirnya. Kahiyang diam tanpa ekspresi.
Karena diam dan tidak menolak, Bumi kembali mencium Kahiyang. Kali ini lebih menuntut untuk mendapat balasan dari calon istrinya itu.
Kahiyang mengangkat kedua tangannya, merangkul leher Bumi. Ia membalas ciuman itu. Rasa kecewanya dibuangnya perlahan dan kembali menguatkan keputusannya bahwa lebih baik bersama Bumi. Menuruti kemauan Papanya. Pilihan Papanya tepat, Bumi laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak menyakitinya. Justru Kahiyang yang selama ini menghianati ketulusan Bumi.
__ADS_1
Kahiyang dan Bumi berciuman cukup lama. Kancing teratas bumi sudah terbuka, melonggarkan dasinya. Rasanya sesak. Mengeluarkan setengah tenaganya untuk merasakan manisnya bibir Kahiyang.
Awalnya Bumi cukup terkejut dengan kemahiran Kahiyang yang membalas ciumannya. Timbul pertanyaan dengan siapa Kahiyang pernah melakukannya. Pasalnya Kahiyang tidak pernah menjalin hubungan atau berpacaran dengan seorang pria.
Suara lembut keluar dari bibir Kahiyang saat Bumi mengecup lehernya.
"Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Bumi, meminta ijin untuk menyentuh sesuatu dibalik kemeja over size putih.
Kahiyang tidak menjawab namun ia menggigit bibir bawahnya. Rasanya aneh untuk menjawabnya.
Kahiyang merasakan sesuatu dibawah sana lembab. Kahiyang kembali teringat saat dicumbu Satria saat itu.
Kahiyang masa bodo dengan Satria. Saat ini yang terbaik memanglah Bumi.
Bumi menarik Kahiyang untuk keluar dari bawah meja, membawanya ke tepian ranjang. Bumi duduk sedangkan Kahiyang tetap berdiri di hadapannya.
Kahiyang tahu maksud tatapan Bumi. Ia kembali menggigit bibir bawahnya, kemudian berpaling.
Bumi kembali menatap Kahiyang yang tidak mau menatapnya. Kahiyang masih menggigit bibirnya, menahan gelisah.
Kahiyang memejamkan mata, bulu kuduknya meremang.
"Kamu suka?" tanya Bumi. Kahiyang mengangguk ragu. Bumi semakin tersulut gairahnya menatap mata sayu Kahiyang yang sering sekali menggigit bibir bawahnya.
Persetan dengan Satria. Kahiyang akan melupakan pria tua itu.
"Soal ini, aku mau kita lakuin untuk pertama kalinya nanti. Setelah kita menikah," ucap Bumi, Kahiyang mengangguk.
"Duduk sini," Bumi menepuk tepian kasur disampingnya. Kahiyang patuh.
Bumi kembali menepuk bahunya untuk Kahiyang bersandar. Ia menarik tangan Kahiyang untuk digenggam.
"Apapun masalahnya, aku nggak mau tanya macam-macam. Yang aku tau, sabtu besok kita bertunangan." ujar Bumi. Kahiyang kembali memberikan jawaban dengan anggukan kepala.
"Secepatnya kita menikah. Aku nggak masalah kamu masih melanjutkan kuliahmu di London. Yang terpenting, kita sah sebagai suami dan istri. Aku nggak mau liat kamu seperti tadi. Aku janji nggak akan bikin kamu nangis." janji Bumi pada Kahiyang.
To be Continued...
~Maaf beribu maaf Kahiyang baru bisa up. Karena kesibukan othor yang mudik dan baru bisa fokus nulis lagi.
~Masih dalam rangka hari raya Lebaran. Othor ucapkan "Mohon Maaf Lahir dan Batin untuk semua 🙏"
__ADS_1