Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
73 : Merencanakan Pernikahan


__ADS_3

Satria mengantarkan Hanna pulang ke rumah, setelahnya ia pergi ke hotel dimana Kahiyang menginap. Selama perjalanan Satria dan Kahiyang diam saja. Suasana hening. Namun tangan Satria terus menggenggam erat tangan Kahiyang.


Meski keputusan mereka tetap menikah tanpa persetujuan Rozi, hati keduanya diliputi rasa kecewa. Terlebih Kahiyang, ayah kandung yang sangat ia sayangi setelah mendiang ibunya Kiran. Kekecewaan itu sungguh mendalam. Kahiyang menahan tangisnya.


Satria membelokkan mobilnya ke kiri, memasuki basement hotel. Kebisuan diantara mereka, masih tercipta. Satria membukakan pintu mobil lalu mengulurkan tangannya, menggandeng Kahiyang ke arah lift menuju lobby, kemudian berganti lift menuju kamar yang berada di lantai lima.


"Maaf," ucap Satria, memeluk Kahiyang setelah menutup pintu kamar. Kahiyang diam.


"Kita urus semuanya secepatnya," ujar Satria, mengecup puncak kepala. Kahiyang mengangguk tanda setuju.


Mereka sama-sama diam setelah pembicaraan singkat itu.


Malam berjalan seperti biasanya. Satria dan Kahiyang tidur di atas ranjang yang sama saling berpelukan. Keduanya tidak mau berpisah, namun kejadian sore sebelumnya membuat hati gusar, tidak tenang.


"Selamat pagi ..." suara parau Satria menyapa kekasihnya yang masih setia dalam pelukan.


"Pagi," balas Kahiyang lalu mengecup dagu Satria yang dipenuhi jambang.


"Apa rencanamu hari ini?" tanya Satria lagi.


"Seharian sama kamu, Mas," jawab Kahiyang sambil meringis, memamerkan deretan giginya yang rapih.


Satria tergelak, "serius? Seharian sama aku?" -Kahiyang mengangguk- "hanya berdua?" Kahiyang kembali menganggukkan kepala.


Satria senang bukan main, merubah posisinya dan saat ini Kahiyang berada dalam kuasanya, dibawah tubuhnya.


"Stop! Belum mandi, Mas. Bau," ucap Kahiyang, seraya menutup hidungnya yang mancung saat Satria akan menciumnya.


"Kalau gitu kita mandi bersama," Satria langsung membopong Kahiyang masuk ke dalam kamar mandi.


Hari itu Satria langsung menghubungi temannya yang memiliki satu butik besar di kawasan Kemang. Satria memesan satu gaun pengantin dan satu stel jas dengan warna yang senada. Satria tidak mau mengulur-ulur waktu lagi.


Satu venue di rooftop hotel mewah menjadi pilihan Satria dan Kahiyang untuk menggelar pesta pernikahan sederhana. Pesta yang hanya di hadiri keluarga dan kerabat dekat saja.


"Satria akan menikahi Kahiyang akhir minggu ini, Ma," ucapnya pada Melani melalui sambungan telefon.


"Hah? Secepat ini? Apa keluarganya sudah setuju?" Melani cukup terkejut. Baru saja kemarin ia mengatakan pada putranya untuk meminta restu pada orang tua Kahiyang, dan hari ini menyampaikan berita yang terdengar sangat terburu-buru.


"Tidak perlu menanyakan soal itu. Satria mau, Mama datang bersama Papa akhir minggu ini," ucap Satria, lalu sambungan itu ia tutup. Satria tidak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan lain. Ia akan fokus mempersiapkan semua secepat mungkin.


"Permisi ... Nona Kahiyang sudah siap," ujar pegawai butik yang membantu Kahiyang menjajal gaun pernikahan.


Satria mengangguk, mempersilahkan untuk membuka tirai yang menutupi calon pengantinnya.


Gaun putih tulang tanpa lengan dengan potongan di bagian dada yang cukup rendah, mengekpos kulit putih Kahiyang dan sebagian dadanya yang menyembul.

__ADS_1


Satria menelan ludahnya, melihat pemandangan eksotis didepannya.


"Bisa biarkan kami berdua sebentar? Lima menit ... Lima menit saja, cukup." tanya Satria pada pegawai butik tadi. Kahiyang mengerutkan keningnya, heran dan bertanya-tanya dengan tingkah Satria. Apa yang mau Satria lakukan?.


"Baik," jawab pegawai perempuan itu lalu segera keluar dari ruangan. Menutup pintu dan setia berdiri diluar sana.


"Ada apa?" tanya Kahiyang. Satria berjalan mendekat dengan senyuman manisnya.


Tangan panjang dan kekar Satria merengkuh pinggang Kahiyang, merapatkan tubuh.


"Kamu cantik banget. Tapi ini terlalu seksi. Aku tidak mau orang-orang melihatnya. Hanya aku yang boleh melihat sekaligus menikmatinya," ujar Satria. Seperti terhipnotis, Kahiyang hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Tanpa aba-aba, Satria meraup bibir Kahiyang begitu rakus. Tanpa memberi jeda dan peluang untuk menghirup udara, Satria terus meluapkan rasa yang membuncah di dada.


Tangannya bergerak meremas satu dada Kahiyang, lalu ia akhiri dengan mengecup kening lekat-lekat.


"Jangan pakai gaun yang ini. Pilihlah yang lebih tertutup lagi," ucap Satria sambil jarinya menjepit dagu Kahiyang.


"Iya," jawab Kahiyang, kembali menurut. Wajahnya tersipu.


"Kenapa? Pipimu memerah. Ingin melakukannya malam ini?" rayu Satria, mengusap pipi yang memerah. Kahiyang menggigit bibirnya sambil menggelengkan kepala. Ingin menolak namun tubuhnya berkata lain. Sungguh Satria selalu sukses membuat Kahiyang berdesir.


"So sweet," ucap Satria melihat tingkah calon istrinya. Dikecupnya sebentar bibir yang masih Kahiyang gigit.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Satria pada Inggrid di Lobby primary.


Inggrid dengan tidak tahu malunya berdandan berlebihan datang kesana. Tatapan matanya juga sangat Kahiyang benci.


"Sudah pasti aku menjemput putriku," -menarik sudut bibirnya sedikit, mengejek Kahiyang- "kasihan sekali putriku diabaikan oleh papanya yang sibuk pacaran," sindir Inggrid.


Kahiyang menahan lengan Satria agar tidak perlu menggubris perkataan Inggrid.


Inggrid sangat kesal melihat Kahiyang yang mampu menaklukan Satria. Mantan suaminya itu terlihat sangat berbeda.


"Papa ... Kakak ..." teriak Hanna. Inggrid langsung berdiri di depan Satria dan Kahiyang, menutupi dan langsung menangkap Hanna.


"Putri Mama. Anakku sayang," ujarnya, mengusap punggung Hanna.


Kahiyang kembali menahan Satria. "Biarkan saja. Ini di sekolah. Nggak baik kalau ada keributan," bisik Kahiyang. Lalu menggangguk dengan senyuman pada Hanna yang menatapnya dalam pelukan Inggrid.


"Mama, maafin Hanna. Hanna mau pergi sama Papa juga kak Kahiyang," mohon Hanna dengan wajah memelas. Wajah Inggrid berubah kesal, Hanna menunduk karena takut.


"Hanna ..." suara Satria lembut. Lalu mengangguk, "ayo," ajaknya kemudian, mengulurkan tangan.


"Maaf, Mama," ucap Hanna lirih lalu mengecup pipi kanan Inggrid.

__ADS_1


Inggrid bangkit, memutar tubuhnya menatap punggung-punggung yang pergi menjauhinya. Ia kehilangan suami dan putrinya karena ulahnya sendiri.


Mereka tiba di restauran sushi, tempat kesukaan Hanna. Hanna terlihat sangat senang karena mendapatkan kabar jika akhir minggu ini ayahnya dan kakak kesayangannya akan menikah. Hanna terus tersenyum. Senyuman yang sangat manis.


"Nanti Hanna punya adik lagi, Papa?" tanyanya begitu antusias.


Satria mengangguk, mengiyakan, "pasti. Kalau perlu ada lima adik. Bagaimana?" mengangkat kelima jari.


Hanna senang bukan main. "Yeay ... Hanna punya lima adik,"


Kahiyang menepuk kening lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Satria merangkul Kahiyang, mengecup pipi berulang kali.


Makan siang penuh dengan canda tawa dan raut bahagia.


"Kahi ..." suara terdengar dari jarak beberapa meja saja.


"Kakak ..." seru Kahiyang menatap Alsya yang masih berdiri dan menggandeng tangan Chris, bodyguard sekaligus kekasih Alsya.


Keduanya saling berpelukan. Setelah sekian lama mereka baru bertemu lagi.


"Siapa?" tanya Alsya lirih sambil memainkan satu alisnya. Matanya mengarah pada Satria.


"Emm ... Ini Satria dan ini Hanna," Kahiyang memperkenalkan.


"Hai ... Aku Alsya, sepupu Kahiyang," ujarnya memperkenalkan diri.


Dan akhirnya mereka bergabung di meja yang sama.


"What? Minggu ini kamu menikah? Dengan duda anak satu itu? Apa uncle tau?" Alsya begitu terkejut mendengar kabar yang Kahiyang sampaikan. Mereka berdua ada di toilet wanita.


Kahiyang menundukkan kepalanya lesu.


"Kawin lari? Stupid!" umpat Alsya yang tidak menyangka adik sepupunya itu terbilang nekat.


"Tapi Mama Bri setuju. Jadi ... Aku nggak perlu lagi tunggu sampai Papa setuju. Keputusanku sudah bulat. Aku harap kakak mengerti dan bisa datang. Tolong sampaikan permohonan maafku untuk Mama Nata dan Papa Reza," ujar Kahiyang.


Bagaimana lagi, Alsya tidak memiliki hak untuk ikut campur dengan keputusan sepipunya itu. Hanya janji untuk datang yang bisa ia berikan.


To be Continued...


* Maaf beribu-ribu maaf 🙏🙏🙏 Author baru sempat update lagi. Ada beberapa hal yang harus di urus. Juga kondisi kesehatan aku yang lagi kurang baik. Mohon doanya aja ya gengs 🙏


* Satu bab lagi Kahiyang tamat. Untuk pengumuman Give Away yang dari pertama aku janjikan, aku share nanti di GC H+2 dari bab akhir.


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2