
Satria tidak melakukan perlawanan lebih. Ia harus memikirkan bagaimana rencana selanjutnya. Yang pasti, Satria tidak akan membiarkan Kahiyang bertunangan dengan Bumi.
"Lepas! Saya nggak akan kabur!" ucapnya pada kedua bodyguard Rozi.
"Kalian bisa tunggu diluar atau pergi," menunjuk pintu.
Satria masuk ke dalam kamar, membuka laptopnya. Memeriksa email yang dikirim oleh orang yang menghubunginya tadi.
Satria mengepalkan tangannya. Bukti itu masih belum cukup. Ia harus mencari bukti lain yang lebih kuat lagi.
"Bang*sat!" umpatnya.
Satria mengambil ponselnya, kembali menghubungi orang tadi.
"Saya mau bukti lain yang lebih kuat lagi! Saya beri waktu dua hari!" ujarnya tegas dan langsung mematikan panggilan itu.
"Damn! Bit*ch!" Satria begitu marah, membanting ponselnya ke atas ranjang.
Dua b**odyguard memilih berjaga di depan pintu. Mereka tidak mau disalahkan jika Satria kabur lalu membawa Kahiyang pergi.
Kahiyang mengusap lembut wajah Airin. Ia kembali meneteskan air mata. Neneknya yang begitu sayang dan memberinya banyak perhatian, saat ini ada di pangkuan, tidak sadarkan diri.
"Maafkan Kahi, Nek. Gara-gara Kahi, Nenek seperti ini," ucapnya.
"Sekarang kamu tau apa kesalahanmu. Jadi jangan membuat ulah lagi! Jangan sampai orang-orang tau permasalahan ini! Mau ditaruh mana muka Papa?" Rozi kembali tersulut emosi.
"Pa ..." Brisia mengusap lengan Rozi yang duduk disampingnya.
Kahiyang memejamkan mata, menghela nafasnya kasar. Ia tidak mau membantah.
Mobil yang ditumpangi mereka sampai di rumah sakit terdekat. Airin segera dibawa ke IGD untuk penanganan lebih lanjut. Kahiyang duduk memeluk Brisia. Sedangkan Rozi berdiri menyandar tembok. Rozi masih kesal dengan putrinya.
"Mama, tolong bantu Kahi. Kahi nggak mau bertunangan dengan Bumi. Kahi cuma mau Mas Satria," ucapnya lirih. Kahiyang tidak mau Papanya mendengar.
"Sayang ... Maaf, Mama tidak bisa bantu. Satria sudah memiliki keluarga. Bagaimana perasaan istrinya, juga putrinya? Meski kalian berdua saling jatuh cinta, tapi caranya salah. Bumi lebih baik dari Satria. Dia juga dari keluarga yang cukup terpandang dan single. Mengertilah nak. Kalau kalian tetap melanjutkan hubungan, akan banyak yang tersakiti. Percaya, Mama! Masalah cinta, akan tumbuh dengan sendirinya. Jadilah putri Mama yang penurut seperti dulu," nasihat Brisia pada putri tirinya.
__ADS_1
Kahiyang diam. Perasaan terhadap Satria benar-benar aneh. Awalnya ia menolak keras pria beristri itu, tapi kegigihan Satria membuatnya luluh dan sulit untuk berpaling. Magnet Satria begitu kuat, mampu menjinakkan Kahiyang yang keras kepala dan angkuh.
"Nenek, maafkan Kahi," ucap Kahiyang saat berada di dalam ruang khusus. Airin terkena serangan jantung dan belum sadarkan diri.
"Papa mau kamu tetap bertunangan dengan Bumi! Buat Nenekmu senang. Jangan buat keributan lagi yang akan membuat Nenekmu semakin parah!" ujar Rozi, menepuk-nepuk pundak Kahiyang lalu keluar dari ruangan itu.
Kahiyang menempelkan pipinya ke tangan kiri Airin yang terbebas dari selang infus. Kahiyang kembali menangis.
"Papa terus menekan Kahi tapi Papa lupa meminta maaf soal Ibu Kiran." gumamnya sendiri.
Setelah Rozi keluar dari ruangan, ia terkejut akan kedatangan Jodi dan Maya. Disusul Natasha juga Reza.
"Bagaimana Ayah tau?" tanya Rozi pada Jodi.
"Dari Natasha. Sore tadi Natasha bersama Reza ke rumah, tapi satpam bilang kalian pergi. Lalu Natasha menghubungi Bri. Bagaimana keadaan Airin?" terang Jodi. Kemudian Rozi merangkul Jodi untuk berdiri sedikit jauh dari keluarganya.
"Ada masalah apa?" tanya Jodi, merasakan sesuatu.
"Kahi pergi dari rumah karena tidak mau bertunangan dengan Bumi," ujar Rozi.
"Jangan memaksakan keinginanmu. Kalau Kahiyang tidak mau, mau bagaimana lagi. Biarkan dia mencari jodohnya sendiri. Dia masih muda, masa depannya masih panjang," ujar Jodi, menepuk-nepuk bahu putra sulungnya.
Siapa pun tidak akan mengira jika Kahiyang seperti itu. Semua tahu Kahiyang tumbuh menjadi gadis yang sulit untuk didekati.
Pesona apa yang ada dalam pria beristri itu, sampai membuat Kahiyang menentang keluarganya? hanya Kahiyang yang tau jawabannya.
"Dia suami artis Inggrid Mahira sekaligus pemilik Yayasan sekolah Bitna dan Brenda, Ayah. Bayangkan saja, kalau semua orang tau. Bagaimana nama keluarga kita? Rozi kecewa sekaligus malu, Ayah. Rozi merasa tidak becus mendidik Kahiyang," ungkap Rozi. Pikirannya sangat kacau.
"Tenang. Sabar. Jangan terlalu keras pada Kahiyang. Dia masih muda, baru mengenal cinta." timpal Jodi, merangkul putranya. Lalu Reza menghampiri.
"Sabar. Biar Natasha yang bicara dengan Kahi. Lebih baik sekarang fokus dengan kondisi Ibu," ujar Reza, menepuk bahu Rozi.
Reza dan Natasha memang curiga dengan gerak gerik Satria saat bertemu Kahiyang di acara makan malam waktu itu.
"Sayang, aku ke toilet dulu," pamit Natasha pada Reza.
__ADS_1
"Oke, hati-hati," ucap Reza.
Natasha mendengar sayup-sayup suara Kahiyang yang sedang berbicara dengan seseorang. Ia mendekati sumber suara itu. "Astaga." Natasha mundur beberapa langkah, kembali ke mejanya. Natasha melihat Kahiyang berciuman dengan Satria. Namun ia menutupi itu. Natasha takut akan terjadi keributan dikeluarga besar suaminya.
Di sudut lain Natasha dan Maya sedang berbicara dengan Brisia. Brisia menangis karena tidak bisa menjaga putrinya.
"Kahiyang berubah, Mom, Kak. Bri sungguh terkejut dengan kenyataan ini. Bri merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Kahiyang. Kasihan Mba Kiran," ujarnya.
"Sayangku, jangan menangis. Ini bukan kesalahanmu. Memang Kahiyang sedang di masa mengenal cinta. Mommy yakin Kahiyang akan kembali seperti dulu," ujar Maya, menyeka air mata Brisia.
"Sabar, Bri. Biar nanti aku yang bicara dengan Kahiyang. Dia dimana sekarang?" tanya Natasha.
"Ada di dalam, Kak," jawab Brisia.
Kahiyang masih menciumi punggung tangan Airin dan menangis.
"Ka-hi cu-cu-ku," suara lirih Airin mengejutkan Kahiyang.
"Nenek ... nenek sudah sadar? Kahi panggilkan dokter dulu," Kahiyang menegakkan badannya.
"Ne-nek ma-u ka-mu pu-lang. Ne-nek sa-yang Ka-hi. Ma-af ..." ucap Airin terbata. Kahiyang mendekatkan telinganya.
"Kahi yang salah, Nek. Kahi pulang. Kahi pulang. Tapi Nenek janji harus sembuh," Kahiyang mengusap kepala Airin, mencium pipi. Airin menangis.
"Ja-ngan per-gi la-gi. Ne-nek se-dih," Kahiyang mengangguk berkali-kali sambil menangis lalu keluar memberitahukan jika Neneknya sudah sadar.
Setelah dokter memeriksa kondisi terbaru Airin, semua masuk untuk melihat keadaannya. Hanya Natasha dan Kahiyang yang masih duduk di kursi cukup jauh dari ruangan Airin.
"Kenapa anak Mama lakukan ini? Kamu tau resikonya," tanya Natasha dengan nada lembut.
"Kahi cinta Mas Satria. Kahi tau kami salah. Tapi Mas Satria janji akan menyelesaikan semua lalu setelahnya menikahi Kahi," jawabnya.
"Tidak semudah dan segampang itu, Nak. Lihat istri Satria siapa? dia selebritis terkenal. Perceraiannya nanti akan menimbulkan banyak pertanyaan dan spekulasi. Kamu dan keluarga besar kita akan terseret. Banyak hal yang dirugikan. Dan putrinya. Apa kamu tidak memikirkan perasaan putrinya?" ucap Natasha memberikan nasihatnya.
Kahiyang menunduk. "Lalu Kahi harus apa, Ma? Kahi sudah terlalu cinta Mas Satria. Kahi nggak mau dijodohkan dengan Bumi," kembali menangis. Matanya bengkak terlalu banyak menangis.
__ADS_1
To be Continued...