Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
65 : Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Takdir Tuhan mempertemukan Satria dan Kahiyang di kota Paris. Semesta seakan mendukungnya.


Sesuatu yang tidak direncakan oleh Kahiyang, mengunjungi kota romantis itu. Tiba-tiba saja mimpi itu datang kembali. Anak laki-laki yang dulu pernah menolongnya, muncul dalam mimpinya. Kahiyang rindu dengan kenangan itu. Ia memutuskan untuk terbang ke Paris seorang diri.


Dan saat ini, saat yang tidak ia duga, bertemu dengan Satria. Pria dewasa yang pernah menjadi kekasih singkatnya. Yang selama beberapa bulan tidak bertukar kabar, kini pria itu ada di hadapannya.


Kahiyang pun terkejut saat melihat seorang anak kecil yang masih ia ingat jelas, putri dari kekasihnya dulu sedang kebingungan.


"Hanna ..." seru Kahiyang lalu berlutut mensejajarkan tingginya.


"Kakak Kahiyang ..." Hanna sama terkejutnya dengan Kahiyang. Kakak cantik yang akan ditemuinya esok hari, ada di depan mata, di hadapannya.


"Kenapa sendirian? Mama Papa mana?" tanya Kahiyang, turut mencari keberadaan Satria dan Inggrid. Meskipun di hatinya tidak ingin bertemu, namun hanya dirinya yang mengenal Hanna.


"Hanna nggak tau. Tadi Hanna lihat balon cinta warna pink ini," jawab Hanna jujur, matanya berkaca-kaca ingin menangis sambil menunjukkan balon di genggaman. Entah bagaimana Hanna mendapatkan balon itu.


"Oke, jangan sedih. Kita cari sama-sama, ya?" bujuk Kahiyang. Hanna mengangguk.


Kahiyang menggandeng Hanna, membantu mencari keberadaan Satria dan juga Inggrid. Seketika Kahiyang teringat masa lalu. Kejadian yang di alami Hanna saat ini, sama persis dengan dirinya dulu.


Kahiyang kecil hilang di keramaian halaman menara Eiffel lalu bertemu dengan anak remaja asal Indonesia. Anak laki-laki itu menolongnya sampai bertemu dengan orangtuanya.


Seperti terulang kembali, dan kini Kahiyang menolong putri mantan kekasihnya, Satria.


Kahiyang terus mencari Satria dan Inggrid, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan pada satu titik, Kahiyang menghentikkan langkahnya. Satria sedang berdiri tegap menatapnya. Tatapan yang tidak bisa Kahiyang artikan.


Satria dengan langkah panjangnya menghampiri Hanna dan Kahiyang, langsung menubruk, memeluk gadis yang di rindukannya.


"Mas ..." ucap Kahiyang terkejut. Tangannya masih menggandeng Hanna.


Hanna tersenyum melihat ayahnya memeluk kakak cantik yang sama-sama ingin ditemuinya itu.


"Kenapa menghilang? Selama ini aku menunggu kabar darimu," ujar Satria, masih memeluk Kahiyang.


"Aku ... Aku cuma mau sendiri dulu. Aku ingin fokus menyelesaikan kuliah," jawab Kahiyang lirih.


"Aku sampai gila, setiap hari terus memikirkanmu," ucapnya lagi. Kahiyang membisu.


"Papa ..." seru Hanna, menyadarkan Satria dan Kahiyang.


Satria melepaskan pelukan itu. "Maaf. Papa tidak sengaja," ucapnya. Namun tangannya sudah aktif menggenggam tangan Kahiyang.


"Mas ..." ucap Kahiyang lirih, menunjuk ke arah tangan yang sedang digenggam Satria dengan tatapannya. Kahiyang takut jika Inggrid melihatnya.


"Aku nggak akan lepasin kamu lagi," bisik Satria. Kahiyang berusaha melepas genggaman itu, namun Satria terus menahannya.

__ADS_1


"Papa ..." -kembali menginterupsi- "karena kakak cantik sudah ada disini, jadi besok kita tidak jadi ke London?" pertanyaan Hanna sontak membuat Kahiyang semakin terkejut.


"Ke London?" tanya Kahiyang. Satria memberi tanda agar Hanna diam. Namun putri kecilnya itu tidak mengindahkan perintah ayahnya.


"Iya, kakak. Aku dan Papa akan ke London, ke rumah kakak. Iya kan, Pa?" ditanya seperti itu oleh Hanna, Satria tidak bisa berkutik selain menganggukan kepala perlahan.


"Mas? Untuk apa?" tanya Kahiyang.


"Kita bahas nanti. Sekarang kita makan dulu. Hanna pasti sudah lapar. Iya, kan?" Satria mengalihkan pembicaraan seraya mengedipkan satu matanya memberi kode pada Hanna.


"Iya, Hanna lapar. Ayok, kakak kita makan!" Hanna langsung menarik tangan kiri Kahiyang yang tidak digenggam ayahnya. Kahiyang kebingungan. Dimana keberadaan Inggrid dan juga bayinya? Bukankah bayi itu sudah lahir? Kahiyang terus bertanya dalam hatinya.


Hanna terus menarik Kahiyang, Satria melepaskan genggamannya. Memandangi interaksi antara putrinya dan gadis pujaannya yang terus berjalan menjauh dari halaman menara Eiffel.


Tidak ingin menyia-nyiakan momen itu, Satria mengabadikannya melalui ponsel miliknya.


"Hanna pasti lelah," ujar Satria, langsung mengangkat Hanna, menggendongnya. Satu tangannya menarik Kahiyang menautkan jari jemari, bergandengan tangan.


"Mas ..." Kahiyang keberatan saat di genggam lagi oleh Satria.


Satria hanya memberikan anggukan lalu tersenyum, terus berjalan menuju restoran terdekat.


Hanya karena soal duduk saja, mereka berdua berdebat. Satria ingin Kahiyang duduk di sampingnya, namun ditolak. Sampai akhirnya Hanna langsung mendaratkan bokongnya ke kursi di seberang Satria.


Satria tersenyum dengan tingkah putrinya dan langsung menarik Kahiyang untuk duduk di sampingnya. Mau tidak mau, Kahiyang menurut.


Tidak langsung menjawab, justru Kahiyang mengalihkannya pada Hanna.


"Hanna mau makan apa?" tanyanya, menjaga perasaan Hanna. Satria tersadar.


"Ah, iya. Putri Papa mau makan apa?" tanya Satria lembut.


"Em ... Hanna mau apa saja, asalkan kakak yang pilihkan," jawab Hanna pada Kahiyang.


"Baiklah," Kahiyang membuka buku menu, memilihkan makanan apa yang sesuai selera Hanna.


"Pilihkan untuk ku juga," ucap Satria, sangat dekat di telinga Kahiyang.


"Jangan dekat-dekat!" Kahiyang melarang Satria.


Hanna masih saja cekikikan melihat ayahnya dan Kahiyang terus berdebat.


"Papa dan Kakak mirip tom and jerry," celetuk Hanna, kembali tertawa sambil menutup mulutnya.


"Bukan tom and jerry tapi Aladdin dan Jasmine," timpal Satria lalu merangkul Kahiyang.

__ADS_1


Kahiyang kembali berusaha menghindar dan melepas rangkulan itu, namun Satria merangkulnya erat. Kahiyang tersenyum kikuk pada Hanna.


Pesanan datang setelah menunggu selama sepuluh menit. Menu yang di pilihkan Kahiyang, sukses membuat Hanna menghabiskan isi piringnya.


Satria semakin kagum pada Kahiyang. Gadis yang di cintainya sangat mengenal Hanna, berbeda dengan Inggrid.


"Isi piring Papa juga habis," ucap Satria, memamerkan piringnya. Hanna memberikan dua jempolnya. Sedangkan Kahiyang menarik sudut bibirnya ke atas.


Langit sudah berganti warna, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Dan sangat kebetulan sekali, Kahiyang menginap di hotel yang sama namun berbeda lantai.


"Apa boleh malam ini Hanna tidur dengan kakak Kahiyang, Papa?" tanya Hanna, wajahnya mengiba seperti anak anjing yang lucu dan menggemaskan.


Kahiyang menatap Satria, meminta persetujuan.


"Boleh. Tapi Papa punya satu syarat," ucap Satria, mengangkat telunjuk kanannya.


"Apa syaratnya?" tanya Hanna.


"Tidur di kamar kita. Papa bisa tidur di sofa. Papa nggak bisa kalau tidur di kamar luas sendirian," ujar Satria, beralasan. Hanya tak tik agar satu ruangan dengan Kahiyang.


"Oke. Hanna setuju," jawab Hanna cepat. Kahiyang terperangah dengan persetujuan sepihak Hanna.


Pertanyaan soal Inggrid belum tuntas terjawab, namun sekarang mereka akan tidur satu ruangan. Kahiyang semakin tidak mengerti.


Anak kecil itu selalu mampu membuat Kahiyang tidak bisa menolak.


Satria membantu membawakan barang-barang Kahiyang yang ada di kamarnya, meninggalkan Hanna.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Kahiyang dengan hati-hati, menghentikkan langkah kaki Satria yang sudah sampai di bibir pintu.


Satria membalikkan badannya, "soal apa? Inggrid?" jawab Satria lugas.


Kahiyang menganggukkan kepala. Ia harus memperjelas kondisi saat ini.


Bukan memberikan jawaban, Satria menghampiri Kahiyang, meraup bibir yang sudah lama tidak di ciumnya.


"Emmm ..." gumam Kahiyang, memukul dada Satria.


"Kamu tanya soal Inggrid?" tanya Satria setelah menjeda ciumannya. Kahiyang mengangguk sembari menghirup banyak oksigen.


"Apa kurang jelas? Sesuai dengan ucapanmu dulu, aku datang setelah semua selesai. Aku sudah bercerai," terang Satria, kedua tangannya masih berada pada rahang Kahiyang. Mengatakan semua dengan jarak sangat dekat.


Seperti angin yang sejuk, pengakuan Satria membuat hati Kahiyang berbunga-bunga. Pria di hadapannya menepati janjinya. Kahiyang semakin yakin bahwa Satria memang benar-benar mencintainya.


Tanpa diduga, Kahiyang berinisiatif mengecup bibir Satria terlebih dulu. Dan dengan senang hati, Satria melahap bibir Kahiyang rakus. Hati keduanya sama berdebarnya. Seakan kembali merasakan jatuh cinta.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2