Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
16. Rumit


__ADS_3

Tiga hari berlalu. Dan selama itu Kahiyang selalu datang untuk memberikan ilmunya pada Hanna. Tidak hanya mengajari Hanna melukis saja, tapi juga menemani disaat Satria ada urusan di sekolah, meskipun pengasuh ada. Hanna sudah terlalu nyaman dengan Kahiyang.


Selama tiga hari itu juga, banyak hal yang terjadi antara Kahiyang dan Satria.


"Saya belikan ini, maaf kalau tidak sesuai selera kamu," Satria mengangkat tas jinjing dengan logo wanita berambut panjang memakai mahkota bintang berwarna hijau, kedai kopi kenamaan.


"Terimakasih banyak," Kahiyang menerimanya lalu merogohnya kemudian mengeluarkannya. Tiramisu Coffee Frapuccino dan Smoke Beef Emmental Croissant.


"Minuman manis untuk membangkitkan semangat. Saya yang berterima kasih karena kamu mau meluangkan waktu dan tenaga untuk mengajari Hanna," -meraih tisu, menyeka sudut bibir Kahiyang- "Maaf ..." ujar Satria setelah melakukannya. Lagi lagi Satria kelepasan dan tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.


Kahiyang mengambil alih tisu di tangan Satria. "No problem, saya mengerti. Terimakasih." -menggigit croissant- "saya hanya melakukan apa yang seharusnya. Saya senang mengajari Hanna," imbuh Kahiyang.


Hanna sedang tidur setelah belajar melukis dan bercerita tentang banyak hal.


"Sampai kapan kamu ada di Indonesia?" tanya Satria. Ia mengetahui Kahiyang masih menempuh pendidikannya di Inggris.


"Akhir bulan ini." jawabnya.


"Apa bisa kamu mengajari Hanna sampai akhir bulan? saya lihat, putri saya jauh berbeda setelah bertemu dengan kamu. Hanna lebih bersemangat, ceria dan juga banyak tertawa. Sampai dia lupa soal cidera kakinya dan pementasan akhir semester nanti." Satria sesekali melihat Hanna yang tertidur pulas.


"Untuk itu saya tidak janji untuk setiap hari datang. Karena ada yang harus saya kerjakan sebelum kembali ke London," jawab Kahiyang.


"Oh ... baiklah." Satria tidak mau memaksa.


"Tapi saya usahakan untuk datang," imbuh Kahiyang.


"Terimakasih," ujar Satria.


Sepuluh menit berselang, pintu terbuka. Pengasuh datang bersama Melani, Mama Satria.


"Satria, kamu keterlaluan! Hanna terluka tapi kamu nggak kasih kabar ke Mama. Ini siapa? kenapa berdua-duaan?" Melani langsung memarahi putranya sekaligus bertanya soal keberadaan Kahiyang disana yang sedang duduk bersama.


"Mama ..." -Satria bangkit, mendekati Melani- "jangan keras-keras, Ma! ini rumah sakit. Cucu Mama sedang tidur," ujar Satria lirih, nyaris berbisik.


Melani memasang wajah kesalnya lalu memicingkan mata ke arah Kahiyang. "Siapa dia?" tanyanya dengan suara dipelankan.


"Namanya Kahiyang. Guru Hanna, guru melukis." jawab Satria. Kahiyang menganggukkan kepala.


"Guru melukis? sejak kapan? Mama tidak pernah tahu kalau Hanna belajar melukis. Jangan coba-coba menipu Mama!" Melani tidak langsung percaya.


"Empat hari. Saya baru mengajari Hanna melukis, empat hari yang lalu." sela Kahiyang. Ia langsung menjawabnya sendiri. "Saya Kahiyang Prasojo." Kahiyang mengulurkan tangan kanannya.


"Kahiyang Prasojo? namanya nggak asing. Sepertinya Mama pernah lihat, tapi dimana?" tanya Melani.

__ADS_1


"Kahiyang putri dokter Rozi Prasojo, pemilik rumah sakit ini, Ma." ungkap Satria.


"Putri pemilik rumah sakit ini?" Melani terkejut seraya mengedarkan pandangannya, menatap Kahiyang dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kahiyang mengikuti apa yang dilakukan ibu Satria itu, memeriksa penampilannya sendiri.


"Iya, Ma." jawab Satria.


"Bukan! Mama pernah lihat di-" -berfikir- "di akun ... kamu gadis muda yang ada di berita itu! kamu yang berpegangan tangan dengan putra saya!" Melani meninggikan suaranya dan menunjuk-nunjuk Kahiyang.


Kahiyang mundur satu langkah dari posisi berdirinya saat ini.


"Ma, pelankan suaranya! Hanna sedang istirahat. Jangan dibahas disini!" Satria memegang lengan kanan Melani.


"Berarti benar, kan? dia gadis itu? kamu gila, Satria! membawa gadis itu masuk ke dalam rumah tanggamu? berpura-pura menjadi guru melukis Hanna? Stupid!" bentak Melani.


"Ma, please. Ini bukan waktu yang tepat untuk kita berdebat. Satria sudah bilang berapa kali kalau semua dugaan Mama salah. Kami tidak ada hubungan apapun. Satria hanya menolongnya waktu itu. Satria sudah ada Inggrid dan juga Hanna. Mama jangan berlebihan!" ujar Satria.


Namun perkataannya barusan terdengar menyakitkan bagi Kahiyang, entah kenapa rasanya sakit saat Satria mengatakan kebenaran bahwa dirinya sudah memiliki istri dan anak.


"Maaf, sepertinya saya tidak seharusnya berada disini. Saya permisi." Kahiyang berpamitan, menghindari pertengkaran antara Satria dan ibunya.


"Bagus! Jangan datang lagi! Jangan dekati putra saya!" ujar Melani.


"Mama!" -membentak ibunya- "Kahiyang, tunggu! jangan pergi dulu!" Satria akan mengejar Kahiyang. Melani menahannya.


"Mba, tolong antarkan Mama ke lobby!" titahnya pada pengasuh Hanna yang sedari tadi memilih diam.


"Kamu ngusir Mama? demi gadis itu? kamu bodoh Satria!" bentak Melani.


"Ini yang Satria khawatirkan kalau Mama tau Hanna dirawat. Mama selalu saja membuat keributan," -menatap pengasuh, memberi kode- "Satria mohon, lebih baik Mama pulang saja." Satria mengatupkan kedua tangannya, memohon agar Mamanya segera pulang.


"Papa ..." seru Hanna, terbangun karena suara keras Melani. Satria menoleh.


"Mba, cepat bawa Mama!" titah Satria lagi, sambil menggandeng Melani keluar kamar.


"Kamu nggak bisa giniin Mama, Satria!" Melani terus berteriak.


"Cukup, Ma! Besok, Satria kerumah. Mama nggak perlu kerumah sakit. Biar Satria yang urus semua. Satria mohon," ujar Satria.


"Lepas! Saya bisa pergi sendiri" -menyentak tangan pengasuh Hanna- "oke ... Mama tunggu kamu dirumah, besok!" Melani langsung pergi.


Satria masuk lagi menemui Hanna. "Hanna, Papa ada urusan sebentar. Ada mba yang temani," mencium puncak kepala.


"Papa mau kemana?" pertanyaan Hanna itu tidak didengar Satria. Ia fokus pada Kahiyang. Ia harus menyelesaikan kesalah pahaman ini.

__ADS_1


Satria berjalan cepat menuju lift. Tujuannya lantai dimana kamar Kahiyang. Satria terus mengetuk-ngetuk pegangan tangan di dalam lift. Rasanya begitu lambat angka berganti. Tiap lantai ada saja yang masuk ke dalam dan menghambatnya untuk lebih cepat bertemu Kahiyang.


tring...


Pintu lift terbuka di lantai tujuan. Satria bergegas ke kamar Kahiyang. Kemudian mengetuknya.


Ketukan pertama tak kunjung dibuka, lalu Satria mengetuk lagi. Tak juga ada balasan. Dan akhirnya Satria membukanya perlahan nyaris tanpa suara.


Kahiyang sedang berdiri didepan jendela, memandang ke arah taman rumah sakit. Ada pemandangan yang menarik perhatiannya. Entah itu pasangan kekasih atau pasangan yang sudah menikah. Keduanya sedang duduk bersama di kursi taman dengan selang infus yang menancap di tangan sebelah kanan si wanita.


Si wanita menyandarkan kepalanya ke bahu kekasihnya, lalu si pria merangkul bahu kekasihnya sambil terus mengecupi kepala.


Jujur Kahiyang iri melihatnya. Rasanya tidak ada laki-laki yang pernah memperlakukannya seperti itu. Ya karna Kahiyang memang menjaga jarak dengan seorang pria, bahkan menutup diri.


Dalam lamunannya itu, Kahiyang kembali teringat ucapan Mama Satria dan Satria sendiri. Ia juga merasa aneh dengan perasaannya. Kenapa dirinya harus marah dan tersinggung oleh ucapan Melani dan fakta bahwa Satria adalah pria beristri.


Kahiyang memegang dadanya yang berdegup kala mengingat Satria.


"Ehem ..." Satria berdehem. Kahiyang menoleh ke belakang.


"Kenapa bapak ada disini? sejak kapan?" tanya Kahiyang.


"Maaf, saya mengetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Jadi saya masuk," -meraih tangan kanan Kahiyang- "Maaf atas ucapan Mama saya tadi. Ini hanya salah paham," Kahiyang menarik tangannya.


"Sudah saya maafkan. Memang semua salah saya. Saya yang menyebabkan kecelakaan dan juga ... saya yang bersedia menjadi guru melukis Hanna. Seharusnya saya menolak permintaan Hanna. Maaf," ujarnya. Kahiyang mengatakannya dengan penekanan.


"Jangan! Tetaplah seperti ini, menjadi guru melukis Hanna. Hanna membutuhkan kamu. Apapun akan saya lakukan demi Hanna. Hati putri saya sudah terluka atas ketidakseriusan dan hilangnya perhatian dari ibunya. Saya mohon, tetaplah bersama kami," Satria kembali meraih tangan Kahiyang. Dua tangan sekaligus.


"Brengsek!" teriak Bumi. Kahiyang dan Satria terkejut oleh kehadiran Bumi.


Bumi langsung menarik Satria dan meninjunya.


"Ahhhh ..." -berteriak- "Bumi! apa-apaan kamu! Stop! Jangan berkelahi di sini! Bumiiii ...." Kahiyang menarik tangan Bumi yang akan kembali meninju Satria, lalu memberikan tamparan keras di pipi kiri.


Satria mengalah, tidak mau membalas.


"Untuk apa? Untuk apa kamu lakuin ini? Kontrol emosi kamu, Bumi! Jangan bar-bar seperti ini!" Kahiyang kesal bukan main.


"Apa yang kamu lakukan dengannya? dia sudah beristri dan memiliki anak, Kahi! Kamu yang harusnya sadar!" Bumi memegang bahu kanan dan kiri Kahiyang.


Kahiyang diam. Satria juga diam.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2