Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
10. You Are To Much!


__ADS_3

Satria meninggalkan ruangan Rozi menuju ke basement. Ia sudah harus pulang ke rumah. Hanna, putri semata wayangnya pasti sudah menunggu lama dirumah. Dan istrinya, Inggrid tidak mungkin ada. Istrinya pergi ke luar kota selama satu bulan untuk penggarapan sebuah film baru, tadi pagi.


"Ehem ..." suara deheman terdengar. Satria menoleh ke arah kanan.


"Ada perlu apa?" tanyanya pada pria itu.


"Untuk apa anda datang kemari?" tanyanya langsung.


"Saya hanya menjenguk Kahiyang. Ada yang salah?" tanya Satria balik.


"Darimana anda tahu keberadaan Kahiyang? sebenarnya anda siapa?" tanyanya lagi dengan nada cukup lantang seperti ingin mengajak berkelahi.


"Dari ambulance yang anda bawa. Tertera nama Rumah Sakit ini. Dan saya bukan siapa-siapa. Saya hanya kebetulan menjadi korban kecelakaan siang tadi. Ada yang salah lagi?" terang Satria.


"Tapi untuk apa anda repot-repot menjenguk Kahiyang? saya melihat jelas kalian berdua bergandengan tangan. Sadar diri! anda tidak pantas mendekati calon istri saya! anda lebih cocok menjadi pamannya!" perkataan Bumi membuat Satria kesal. Satria langsung menarik kerah jas putih khas dokter yang dipakai Bumi.


"Saya tidak repot dan saya tidak mendekati Kahiyang! saya tidak seperti yang anda fikirkan! dan perkataan terakhir anda, saya maafkan. Mungkin memang saya terlihat jauh lebih dewasa dari Kahiyang tapi saya tidak serendah itu. Saya memiliki anak dan istri!" terang Satria. Bumi melepas tangan Satria.


"Baguslah. Kalau begitu, anda tidak perlu datang lagi kemari dan bertemu dengan Kahiyang!" ujar Bumi menegaskan.


"Ya ..." jawab Satria lalu ia pergi ke arah mobilnya.


Bumi mengepalkan tangannya. Ia berhasil sudah memperingati Satria tapi hatinya kacau. Kahiyang yang disebutnya calon istri tadi, masih bersikap menyebalkan padanya. Sulit sekali meluluhkan hati Kahiyang, gumam Bumi.


Satria melajukan mobilnya lalu membunyikan klakson pada Bumi karna dokter muda itu masih berdiri mengawasi Satria. Bumi ingin melihat bahwa Satria benar-benar pergi.


"Sinting! dia pikir aku pedofil?" gerutu Satria sambil menyetir melewati Bumi.


Jarak usia Satria dan Kahiyang memang cukup jauh. Kahiyang yang muda belia berusia 20 tahun, sedangkan dirinya sudah menginjak usia 35 tahun dan memiliki istri juga anak. Sangat tidak mungkin baginya untuk menyukai Kahiyang. Bumi sangat berlebihan, pikirnya.


Bumi kembali ke lantai atas, ia akan berusaha lagi mendekati Kahiyang. Meski malam itu bukan jadwal ia praktek, semua demi Kahiyang dan mengambil hati Brisia juga Rozi.


"Permisi, bu. Maaf mengganggu," ucap Bumi pada Brisia. Ia baru saja membuka pintu kamar inap Kahiyang.


Kahiyang sedang tertidur. Sedangkan Brisia duduk di sofa sambil menonton sinetron. Rozi masih di ruangannya, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.


"Masuk, masuk, nak Bumi," Brisia melambaikan tangan. Bumi mengangguk lalu menutup pintu perlahan.


"Kahiyang sedang tidur. Kemari! duduk disini!" ujar Brisia, menepuk sofa disampingnya.

__ADS_1


"Terimakasih, bu," Bumi menuruti, duduk disamping Brisia.


"Nak Bumi sudah makan?" tanyanya.


"Sudah, bu. Ibu bagaimana? apa sudah makan? kalau belum, saya bisa keluar mencari makanan untuk ibu. Ibu mau makan apa?" tanya Bumi.


Dasar penjilat. Batin Kahiyang. Ia sudah bangun saat mendengar pintu dibuka oleh Bumi. Tapi Kahiyang memilih berpura-pura tidur. Ia malas harus bertemu Bumi. Rasanya ingin mengusirnya.


"Terimakasih banyak nak Bumi. Kebetulan memang saya belum makan malam. Saya menunggu Papa Kahiyang saja. Tidak perlu repot-repot, nak Bumi," -menepuk bahu Bumi- "saya senang, selain muda dan sukses dalam pekerjaan, ternyata nak Bumi juga sangat perhatian. Pasti orangtua nak Bumi bangga memiliki putra seperti ini," sanjungnya. Brisia memang sangat senang melihat Bumi. Pikirnya pilihan suami dan dirinya tepat. Kahiyang akan bahagia bersama Bumi nantinya.


"Saya tidak repot, bu. Saya senang melakukannya. Semua orang pasti melakukan apa yang saya lakukan, ini hanya hal kecil bu," ujar Bumi.


Kahiyang semakin kesal mendengarnya. Benar-benar luar biasa laki-laki itu, batin Kahiyang. Mulutnya manis tapi hatinya busuk. Berpura-pura, sok perhatian.


"Tidak perlu, nak Bumi. Cukup temani Kahiyang disini. Saya mau ke ruangan suami, sekalian makan malam sebentar. Tidak keberatan kan?" ujar Brisia.


Mama, kenapa tinggalin Kahi disini sama dia? argh ... gerutu Kahiyang tanpa suara. Posisi tidurnya masih seperti semula, membelakangi Brisia dan Bumi.


"Baik, bu. Saya akan temani Kahiyang. Lebih baik, ibu dan dokter Rozi istirahat dirumah. Saya bisa jaga Kahiyang sampai besok pagi," Bumi memberikan penawaran.


Jangan Mama! Jangan! Kahi nggak mau semalaman sama dia. Jangan Mama! Please. Kahiyang memohon dalam hati.


"Tidak masalah, bu," balas Bumi. Ia ikut berdiri, mengantar Brisia sampai didepan pintu.


Mama ... Kahi nggak mau sama dia. Ah, whatever. Kahiyang menjerit dalam hati. Kahiyang memutuskan untuk tetap seperti itu, berpura-pura tidur.


Terdengar langkah kaki Bumi mendekati arah ranjang.


Duh ... ngapain dia kemari?. Perang batin Kahiyang.


Bumi semakin dekat. Tangannya membelai tepian ranjang.


My God, dia mau apa?. Kahiyang semakin gelisah.


"Aku tau kamu pura-pura tidur. Aku tidak sebodoh itu Kahiyang," celetuk Bumi.


Kedua alis Kahiyang saling menaut. Kenapa dia bisa tau? apa aku terlalu mencolok?.


"Buka matamu! atau harus aku cium dulu biar kamu buka mata, Kahi sayang," ancam Bumi tepat didepan wajah Kahiyang. Bumi mencondongkan tubuhnya.

__ADS_1


Damn it!. Kahiyang mengumpat. Lalu membuka matanya, melihat wajah Bumi yang sudah sangat dekat.


"Brengsek!" Kahiyang mendorong Bumi sampai terjatuh, terduduk di lantai. "Jangan mimpi kamu, bisa cium aku!" menunjuk-nunjuk Bumi.


Bumi tersenyum, tidak marah. Ia bangkit dan mendekati Kahiyang lagi.


Kahiyang yang sudah dalam posisi duduk, langsung melakukan penolakannya lagi. "Jangan dekat-dekat! Jangan karena Mama beri kamu ijin buat temenin aku, terus kamu mau buat yang aneh-aneh! Duduk saja kamu disana! Jangan kemari!" Kahiyang melarang Bumi untuk dekat-dekat dengan dirinya.


"Okay, no problem," Bumi beralih ke arah sofa di sisi kanan Kahiyang.


Kahiyang mengacuhkan Bumi. Ia sibuk dengan ponselnya.


Kecelakaan siang tadi muncul di akun jakarta_hari_ini. Terdapat beberapa gambar saat kecelakaan terjadi. Entah darimana mereka mendapatkan informasi secepat itu lalu mengabadikan beberapa momen.


Kahiyang menggeser satu per satu. Ia berhenti menggeser pada gambar ke dua. Dirinya yang sedang menunduk karena ketakutan dan Satria sedang mengetuk-ngetuk pintu mobilnya.


Dia laki-laki yang baik. Aku pikir dia menyebalkan. Tapi kemana dia? setelah pergi dengan Papa, dia tidak datang lagi. Kahiyang bertanya pada diri sendiri.


Kemudian menggeser lagi gambar berikutnya. Satria sedang memapahnya, menjauhi mobil yang rusak dibagian depan. Lalu menggeser layar ponselnya lagi. Kahiyang tanpa sadar menggenggam tangan Satria erat, saat Bumi ada dihadapan mereka berdua.


Kahiyang menutup mulutnya. "Oh God! aku pegang tangan dia?" ucapnya begitu saja, sampai Bumi menoleh dan memperhatikannya.


"Enggak! ini nggak boleh! He already has a wife. And probably already have kids. Oh no!" ujar Kahiyang. Ia berusaha menepis dan menghilangkan rasa kekagumannya pada Satria.


"Ya, dia memang sudah beristri, juga punya anak. Lalu, kamu mau sama om-om seperti itu? kamu masih muda, jangan jadi perusak rumah tangga orang lain!" ujar Bumi memberi peringatan keras pada Kahiyang.


"What is it to you? You think I'm crazy? menyukai suami orang? You are too much, dokter Bumi!" Kahiyang kesal bukan main. Apa urusan Bumi untuk mencampuri hidupnya. Sungguh keterlaluan.


"Karena kamu calon istriku! Someday," jawab Bumi dengan percaya diri.


"In your dreams, and never, ever will be!!" timpal Kahiyang. Tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun.


"Mimpi itu akan menjadi kenyataan, Kahi. Terima saja apa yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita berdua. Restu sudah aku dapatkan dari Papa Mama kamu. Jadi bersiaplah untuk menyambutku nanti," menarik dagu Kahiyang.


"Cih ... " Kahiyang menepis tangan Bumi. Bumi tersenyum sarkas, merasa menang.


To be Continued...


~ Kisah awal mula Kahiyang ada di Novel aku yang pertama My Young Husband season 2. Disana kalian akan tau darimana Kahiyang berasal.

__ADS_1


Dari rahim seorang pelukis bernama Kiran yang berbeda keyakinan dengan Rozi. Pertemuan yang tidak disengaja.


__ADS_2