Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
22. Awal yang Salah


__ADS_3

Kahiyang dan Satria memilih restoran yang memiliki ruang private. Keduanya menyadari bahwa kedatangan mereka ke tempat ramai dalam waktu cukup lama, akan menimbulkan masalah baru.


Kahiyang masuk terlebih dulu ke restoran. "Teman saya sudah pesan. Atas nama Mr. S," ucapnya pada staf wanita di bagian resepsionis.


"Baik, Nona. Teman saya yang akan mengantar. Silahkan!" staf wanita itu mengalihkan Kahiyang pada staf lain.


Kahiyang mengangguk kemudian mengikuti kemana arah staf restoran mengantarkannya.


"Silahkan, Nona. Untuk pesanannya akan datang lima menit lagi," ucapnya.


"Terimakasih," Kahiyang duduk. Staf itu meninggalkannya seorang diri. Kahiyang menunggu Satria datang.


Sejujurnya Kahiyang sebal dengan Satria yang terus memaksa menjadi kekasihnya. Hanya makan saja, mereka harus melakukannya diam-diam.


"Merepotkan!" gerutunya.


Lima menit kemudian, pintu diketuk. Pelayan membawakan beberapa menu yang sudah dipesan Satria melalui telefon.


Kahiyang masih menunggu dan akhirnya Satria datang. "Maaf membuatmu menunggu," ujar Satria sembari menarik kursi di samping Kahiyang lalu mengecup pelipis.


Kahiyang membiasakan diri dengan perlakuan Satria yang tiba-tiba memberi kecupan atau menciumnya.


Tanpa berlama-lama mereka menyantap makan siang untuk pertama kalinya hanya berdua saja.


"Bagaimana kabar Hanna?" tanya Kahiyang.


"Sudah lebih baik. Lusa sudah boleh pulang. Kamu rindu dengan putriku?" tanya Satria, meletakkan sendok dan garpunya lalu melingkarkan tangannya ke bahu kiri Kahiyang ingin merangkul.


"Jangan begini!" -melepaskan tangan Satria yang merangkulnya- "aku senang mendengarnya. Semoga Hanna bisa secepatnya ke sekolah," ujar Kahiyang tulus.


"Terimakasih. Tapi sepertinya untuk sementara Hanna homeschooling. Kakinya belum sembuh normal. Apa kamu mau mengajari Hanna melukis lagi?" tanya Satria, memegang punggung tangan Kahiyang.


Kahiyang langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku nggak bisa. Maaf,"


"Kenapa?" -menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi dahi Kahiyang- "kamu takut hubungan kita ketahuan?" tanya Satria lagi.


Spontan Kahiyang mengangguk lalu menyangkalnya. "Ah, bukan ... bukan. Bukan itu. We're not in a relationship. Kita bukan siapa-siapa. Bumi calon suamiku. Kamu tau itu."


"Calon ... bukan suami! Aku nggak akan biarkan itu terjadi!" meremas lengan kanan Kahiyang. Satria kesal mendengarnya.


"Kami sama-sama single. Dan Papa tidak mau menantu lain selain Bumi!" berusaha melepas tangan Satria. "Kamu menyakitiku! Ini bukan cinta. Kamu terobsesi denganku! Kamu sudah memiliki anak dan istri. Tolong jangan membuat semua semakin rumit," Kahiyang memohon.


"Tapi aku nggak bisa melihatmu menjadi milik orang lain. Bersabarlah! Tunggu aku menyelesaikan semua," memegang kedua tangan. Kahiyang terus menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Akan banyak orang yang tersakiti. Aku masih muda. Aku tidak mau mengorbankan masa mudaku untuk di caci maki orang-orang," ucapnya.


"Aku mencintaimu. Bukan obsesi!" tegas Satria, berusaha meyakinkan Kahiyang kembali.


Kahiyang terus menggelengkan kepala saat dirinya bangkit dan akan meninggalkan ruangan itu.


"Mau kemana? Kita belum selesai bicara," Satria menahan Kahiyang.


"Sudah tidak ada yang perlu kita bahas. Aku mengajakmu makan, karena aku merasa bersalah sudah membuatmu menunggu. Maaf," belum sempat Kahiyang membuka pintu, Satria sudah menariknya dan langsung memeluk erat.


"Aku mohon. Tunggu aku! Aku bisa gila," bisiknya.


"Lepas! Jangan memaksaku!" Kahiyang berontak ingin dilepaskan.


"Aku benar-benar jatuh cinta padamu!" Satria tetap pada pilihannya. Mencintai Kahiyang.


"But i don't love you!" balas Kahiyang.


Satria menekan tengkuk Kahiyang. Rasa kesalnya mendengar jawaban itu. Ia kembali menciumnya paksa. Kahiyang memukul dada Satria begitu keras. Satria menangkap dua tangan dengan hanya menggunakan tangan kirinya saja.


Satria terus berusaha membuka bibir Kahiyang. Mendorongnya ke sudut ruangan, mengungkungnya.


"Katakan yang sejujurnya! Kamu tidak mencintai dokter itu!" ujar Satria lirih. Wajah keduanya saling beradu, saling mengatur nafas. "Katakan Kahiyang!" bentaknya, memegang kedua bahu.


"Tapi kamu mencintaiku! Isn't it?" Kahiyang tidak mau menatap Satria. "Look at me!" menekan dagu, menggesernya lalu saling bertatapan.


Kahiyang kembali menundukkan pandangannya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia dilema. Kahiyang tak mampu membohongi dirinya sendiri. Kahiyang merasakan hal yang sama seperti Satria.


"Kenapa menghindar?" tanya Satria. Kahiyang menatap Satria lagi.


Maaf Papa, Mama. Batin Kahiyang.


Kahiyang merangkul Satria, memiringkan kepalanya. Memberanikan diri mencium Satria, meng-iyakan apa yang Satria katakan padanya.


Kahiyang mengakui kalau ia juga sama, telah jatuh cinta dengan Satria.


Tentu saja Satria menerima ciuman Kahiyang. Hati gadis muda yang dikejarnya beberapa hari ini, akhirnya didapatkannya.


Ciuman itu terus berlanjut. Satria semakin menggebu. Menggendong Kahiyang lalu memangkunya setelah tangan kanannya menarik satu kursi untuk mereka duduki bersama.


Tangan Satria mengusap punggung lalu beralih menyusuri garis pinggang Kahiyang yang sedang dipangkunya. Sedangkan Kahiyang terus mencium pria tua itu sambil meremas kepala belakang Satria.


Awal hubungan yang salah terjadi. Keduanya dimabuk cinta dan hasrat kian membara. Satria beralih menciumi dada bagian atas Kahiyang yang terbuka. Kahiyang mengeluarkan suara lirih untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Suara ketukan terdengar. Kahiyang mendorong Satria lalu turun dari pangkuan, merapihkan rambut yang sedikit berantakan dan juga pakaiannya.


"****!" Satria mengumpat. Ia mengancingkan kemejanya yang terbuka satu oleh tangan jahil Kahiyang. Bagian tubuh bawahnya pun terasa sesak. Satria menahannya.


Kahiyang duduk kembali di kursinya tadi. Kemudian seorang pelayan masuk membawakan bill. Satria mengeluarkan kartunya, memberikan pada pelayan itu.


"Kenapa kamu yang bayar? aku yang janji bayar tadi," ujar Kahiyang setelah pelayan itu keluar dengan membawa kartu milik Satria.


"Tidak masalah. Untuk kamu, apapun itu bagiku tidak masalah," mengusap bibir Kahiyang dengan jempolnya. Lagi-lagi Satria mencium Kahiyang. Kali ini tidak terlalu lama, karena pelayan datang menginterupsi lagi.


"Cuma aku yang boleh cium kamu, sentuh kamu," ujar Satria. Mereka sudah berada di dalam mobil.


Kahiyang diam, tidak tahu harus merespon apa. Keputusannya mengambil langkah salah ini sudah terjadi. Hatinya tertaut pada seorang pria tua egois yang bernama Satria Arsyanendra.


"Bibir kamu canduku," Satria mencium Kahiyang setelah mobil berhenti tepat di depan pagar rumah. Satria mengantarkan Kahiyang.


"Jangan menciumku lagi. Aku takut nanti ada yang melihat," Kahiyang khawatir.


"Tidak ada yang melihat. Besok datang ke ruanganku. Kita makan siang lagi." ujarnya sambil menciumi punggung tangan Kahiyang.


"Tapi aku nggak janji. Bumi-" Satria menutup bibir Kahiyang dengan telunjuknya.


"Jangan sebut namanya lagi! Aku tunggu besok siang. I love you," Satria mengecup sekilas. Kahiyang hanya tersenyum tanpa membalas ungkapan cinta Satria.


"Hati-hati di jalan," ucap Kahiyang, mengusap pipi Satria.


"Tentu," balasnya.


Kahiyang turun dari mobil Satria.


"Non, sudah di tunggu Mas Bumi di dalam," ujar satpam yang berjaga sore itu.


Kahiyang memundurkan kakinya. "APA??" Kahiyang terkejut bukan main. Jantungnya berdebar begitu cepat.


"Iya, Non. Sudah dua puluh menit yang lalu, Mas Bumi datang bersama Bapak," lagi-lagi ucapan satpam itu membuat Kahiyang lemas saat mendengarnya.


Bukan Bumi saja yang menunggunya, tapi Papanya juga. Untuk apa mereka berdua berada di rumah di waktu sore seperti ini. Pikiran Kahiyang semakin kalut.


To be Continued...


~ Nah nah nah...ikut deg deg an nggak? 😁😁😁


__ADS_1



__ADS_2