Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
25. Cuma Kamu


__ADS_3

Sesampainya di Fx Sudirman, hujan turun sangat deras. Taksi yang ditumpangi Kahiyang masuk ke lobby Mall.


"Maaf, pak. Apa bisa tunggu teman saya datang? saya tidak bawa uang," sejujurnya Kahiyang malu mengatakannya. Ia hanya membawa ponselnya saja tanpa membawa dompet.


"Tidak perlu, Non. Saya mau langsung pulang saja." tolak sopir taksi.


"Tapi, pak. Bapak sudah mengantar saya sampai sejauh ini. Tunggu sebentar saja. Sebentar lagi teman saya datang," Kahiyang tidak enak hati. Ia mencoba menghubungi Satria lagi.


"Nggak papa, Non. Saya ikhlas. Kalau lihat Non menangis seperti tadi, saya teringat putri saya," ujarnya lagi.


"Tapi, pak. Sebentar, saya hubungi lagi teman saya," Kahiyang mencoba menghubungi Satria kembali.


"Halo, sudah sampai mana?" tanya Kahiyang pada Satria.


"Hampir sampai. Kenapa? udah kangen?" Satria merayu di saat waktu yang tidak tepat.


"Jangan ngaco! aku belum bayar taksi. Aku pinjam uang kamu dulu boleh?" Kahiyang menekan rasa malunya pada Satria.


"Oke, tunggu sebentar. Aku sudah mau masuk lobby," jawab Satria.


Benar saja, mobil sedan hitam milik Satria berhenti tepat di belakang taksi yang ditumpangi Kahiyang. Hanya satu taksi yang berhenti dan sudah pasti itu Kahiyang.



Satria keluar lalu mengetuk jendela kemudi. Sopir itu bingung.


"Itu teman saya, pak," ujar Kahiyang.


"Berapa ongkosnya?" tanya Satria, mengeluarkan dompetnya.


"Dua ratus lima puluh ribu," jawab sopir itu. Lalu Satria menyodorkan tiga lembar uang kertas berwarna merah.


"Terimakasih sudah mengantarkan pacar saya. Sisanya untuk bapak," ucapan Satria membuat Kahiyang menggelengkan kepala.


Satria membuka pintu penumpang. "Pakai ini!" memakaikan topi juga kaca mata hitam. Satria merangkul Kahiyang, membawanya masuk ke dalam mobil. Kahiyang terus menunduk, menutupi wajahnya.



"Mau kemana?" tanya Satria. Mobilnya sudah keluar dari pelataran Mall.


Kahiyang menggelengkan kepala, masih memakai topinya. "Nggak tau," jawabnya.


"Lepas dong topi sama kaca matanya. Kan udah di dalam. Nggak ada yang bisa lihat," Satria melepaskan topi yang dipakai Kahiyang lalu membuangnya ke kursi belakang.


Kahiyang diam, membuka kaca matanya. Matanya bengkak karena menangis.


"Habis berantem sama Papa?" tanya Satria. Kahiyang mengangguk.


"Kenapa? Apa karena kamu menolak untuk bertunangan dengan dokter itu?" Satria menoleh sebentar lalu kembali fokus menyetir.


"Salah satunya," Kahiyang menyeka air matanya yang kembali mengalir.


Satria menggenggam tangan Kahiyang, mengecup tangan itu lalu menempelkannya ke pipi.


"Kita cari tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol." Satria ingin mendengarkan semua cerita Kahiyang.

__ADS_1


Mobil Satria masuk ke dalam basement sebuah apartemen. Kawasannya pun bukan di Jakarta tapi di pinggiran Jakarta yaitu Tangerang.


"Kahi ... sayang ... bangun. Kita sudah sampai," Satria mengusap pipi Kahiyang. Setelah banyak menangis, Kahiyang tertidur.


"Hah? Kita dimana?" Kahiyang bingung.


"Kita di Tangerang. Aku punya beberapa unit apartemen yang ku sewakan. Kebetulan ada satu yang kosong. Kamu bisa pakai untuk sementara waktu," ujar Satria, membantu melepaskan safetybelt.


"Pakai lagi," memakaikan kaca mata lagi kemudian meraih topi di kursi belakang.


"Ayok?!" Satria menarik tangan Kahiyang menuju lift. Satria selalu bersikap romantis pada Kahiyang. Tangannya tak pernah lepas dari pinggang.


"Kamu tunggu disini. Aku ke resepsionis," titah Satria. Kahiyang menuruti semua ucapan kekasihnya itu.


Tak lama Satria sudah kembali dengan satu kartu akses ditangannya.


"Ayok, kita ke atas," Satria kembali merangkul pinggang Kahiyang.


Angka itu terus berganti, lift semakin tinggi membawa mereka sampai di lantai 10.


"Masuk!" Satria membuka pintu setelah menempelkan kartu akses lalu memasukkan password.


Apartemen yang tidak begitu luas dengan perabotan tidak begitu banyak namun cukup lengkap.


"Duduklah dulu. Aku ambilkan minum," Satria menuntun Kahiyang duduk di sofa berbentuk L.


"Minum dulu," menyodorkan satu gelas air mineral dingin.


"Terimakasih," Kahiyang menerima lalu meminumnya hingga tersisa setengah gelas. Satria duduk disamping Kahiyang, masih terus mengusap punggung kekasihnya itu.


"Sedikit," jawab Kahiyang.


"Mau bercerita?" Satria merengkuh pinggang Kahiyang, merapatkan tubuhnya sehingga tidak ada jarak.


"Papa tau soal kamu. Papa marah besar," Kahiyang menyandarkan kepalanya ke bahu Satria.


"Bagaimana bisa?" Satria sedikit terkejut.


"Aku juga nggak tau. Papa bilang kalau aku murahan seperti ibu," Kahiyang teringat kembali ucapan Papanya tadi, dan kembali terisak.


"Ibu?" Satria belum mengerti. Ibu siapa yang dimaksud.


"Ibuku, Kiran. Ibu yang melahirkanku. Enam belas tahun yang lalu pergi meninggalkanku untuk selamanya. Ibu ... Kahiyang rindu," Kahiyang memeluk Satria. Menangis di ceruk leher pria tua itu.


Satria megerutkan keningnya setelah mendengar cerita Kahiyang.


"Jadi ..." ucapan Satria menggantung.


"Mama Bri, Mama sambungku. Setelah ibu pergi, Papa membawaku untuk tinggal bersama dengan keluarganya," terang Kahiyang, sesenggukan.


Satria menepuk-nepuk lembut punggung Kahiyang. "Aku sekarang sudah tau dan mengerti. Tenang, ada aku,"


"Hubungan kita salah, tapi aku nggak bisa. Aku sayang kamu, Mas," Kahiyang mengeratkan pelukannya.


"Kamu bilang apa?" Satria memberi jarak, ingin sekali lagi mendengar apa yang baru saja Kahiyang katakan.

__ADS_1


"Apa?" menyeka air mata dengan tisu.


"Tadi kamu panggil aku apa? yang terakhir," Satria tidak sabar.


"Apa sih? Aku lagi sedih, Mas. Jangan main tebak-tebakan," Kahiyang melempar tisu yang tadi dipakainya menyeka air mata dan juga ingus.


Satria tersenyum tersipu malu, lalu menangkup wajah Kahiyang. Menciumnya sebentar.


"Aku senang dengan panggilan itu. Mas." Satria kembali mencium Kahiyang.


Untuk saat ini hanya Satria, tempat berkeluh kesah dan sandarannya. Kahiyang ingin bersama Satria.


Satria membopong Kahiyang masuk ke dalam kamar. Pagutan itu masih berlangsung tanpa jeda. Satria merebahkan kekasihnya itu ke atas ranjang, mengukungnya.


Malam semakin larut. Satria sudah melepas kaosnya, begitu juga dengan Kahiyang. Kancing piyamanya terbuka hampir seluruhnya.


Kedua pasangan itu bercumbu dan mengeluarkan suara merdu yang saling bersahutan. Kahiyang meremas rambut Satria yang sedang menciumi lehernya dan bagian dada.


Saat Satria akan beralih membuka penutup dada, Kahiyang menahannya. "Jangan, Mas!"


Hasrat yang sudah melambung tinggi, meluruh begitu saja. Kahiyang tau batasannya.


Status Satria yang masih memiliki istri, membuatnya menghentikkan tindakan itu. Kahiyang takut nasibnya seperti ibunya, Kiran.


"Kenapa? Aku mau ..." mata Satria masih nampak sayu.


"Enggak, Mas. Cukup. Aku nggak mau lebih dari ini. Aku takut kita kebablasan," Kahiyang mendorong Satria lalu bangkit merapihkan pakaiannya.


Satria mengacak rambutnya, memungut kaosnya kemudian keluar kamar bertelanjang dada. Menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


Kahiyang duduk di tepi ranjang, menunduk lalu menutup wajahnya.


"Kenapa kami bertemu disaat yang tidak tepat seperti ini?" gumam Kahiyang.


Kahiyang dan Satria sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keduanya masih terjaga, sampai perut Kahiyang berbunyi. Ia lapar. Melewatkan makan malam karena pergi dari rumah.


Kahiyang membuka pintu kamar perlahan. Pikirnya Satria sudah terlelap, tapi pria itu sedang duduk fokus menatap layar ponselnya.


"Kenapa? Ada yang kamu butuhkan?" tanya Satria tanpa menatap Kahiyang. Satria dapat melihat Kahiyang yang berdiri didepan pintu kamar lalu mengintip.


"Emm ..." Kahiyang sungkan mengatakan kalau dirinya lapar.


"Kemari!" menepuk sofa di sisi kanan.


Kahiyang mendekat, menuruti perintah Satria.


"Kamu butuh apa?" tanya Satria lagi. Meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Aku laper," jawab Kahiyang sambil meringis.


Satria bangkit, mengulurkan tangan.


"Mau kemana?" Kahiyang bingung.


"Katanya laper. Ayok makan! Ada tempat makan yang enak, yang buka pas malam begini," ujar Satria. Kahiyang bangkit menerima uluran tangannya.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2