Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
7. Pertemuan Kedua


__ADS_3

Pagi harinya setelah mendapati mobilnya sudah terparkir rapih di dalam garasi, Satria kembali memikirkan Kahiyang. Gadis angkuh yang belum ia ketahui namanya.


Bagaimana bisa gadis muda itu dengan beraninya mengantarkan mobil miliknya dengan mobil derek. Sungguh di luar dugaan Satria. Angkuh sekaligus pemberani.


"Pakai sabuk pengamannya sayang," ucap Satria pada putri semata wayangnya, Hanna.


"Iya, Papa," Hanna menarik safetybelt dan langsung memasangnya melindungi dada dan juga perutnya. "Hanna, sudah siap Papa," ucapnya lagi.


"Oke, Papa juga sudah pakai sabuk pengaman. Kita berangkat ke sekolah," ujarnya lalu memindahkan persneling kemudian menginjak pedal gas.


Satria membunyikan klaksonnya pada penjaga rumah setelah pintu gerbang terbuka otomatis.


"Papa, sejujurnya Hanna ingin Mama berhenti syuting. Hanna ingin diantar Mama ke sekolah. Hanna ingin di pentas akhir semester nanti, Papa dan Mama datang bersama melihat penampilan Hanna di atas panggung," keluh Hanna.


Bukan hanya Hanna, Satria pun menginginkan hal yang sama. Ia ingin istrinya berhenti menjadi selebritis, berhenti syuting. Satria ingin Inggrid memiliki waktu yang banyak untuknya dan juga putrinya, Hanna.


Hanna membutuhkan perhatian lebih dari Inggrid. Masa-masa kecilnya terlewati begitu saja tanpa kehadiran Inggrid. Mamanya itu hanya sesekali mengurusinya. Selebihnya Hanna diurus oleh suster Mia.


"Papa juga maunya Mama berhenti syuting. Tapi, Hanna tau bagaimana sifat Mama. Mama tidak mau di larang," papar Satria. Hanna menganggukkan kepalanya lemah. Ia kecewa.


Inggrid memang sangat keras kepala dan tidak mau menuruti permintaan Hanna maupun Satria.


"Jangan sedih begitu," -mengusap kepala- "Papa janji, akan berusaha membujuk Mama untuk melihat penampilan Hanna nanti," Satria berusaha menghibur putrinya.


"Janji ya, Papa. Awas kalau Papa berbohong!" ancamnya.


"Janji. Papa janji," ucap Satria.


Mobil terus melaju membelah jalanan ibu kota, sampai akhirnya mereka tiba di sekolah. Satria mengantarkan putrinya terlebih dulu ke Primary Lobby. Kemudian ia menjalankan lagi mobilnya sampai di area parkir miliknya. Area yang kemarin Satria dan Kahiyang perebutkan.


Satria masuk melewati Senior Lobby. Pagi itu Satria memiliki jadwal meeting dengan salah satu Universitas terkenal di London, Inggris. Yayasan Peduli Bangsa milik keluarga Satria akan menambah daftar kerja samanya dengan Universitas itu.


Karena beberapa murid Senior High berminat untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas tersebut, termasuk Bitna. Meski Bitna masih duduk di kelas 1 SMA, ia sudah mengisi angket jurusan apa yang akan diambilnya saat lulus SMA nanti.


Satria mengupayakan untuk melancarkan kerja sama ini. Banyak keuntungan yang di dapat dari kedua belah pihak.


"Mr. Kyle, we have prepared lunch at the nearest restaurant. Should we go now?" ujar Satria pada Mr. Kyle perwakilan dari Universitas. Asisten Satria sudah memesankan makan siang di restoran terdekat.


"Okay, I happen to be hungry. I have bread and omelettes for breakfast" jawab Mr. Kyle sambil tertawa. Dia memang merasa lapar, karena pagi tadi hanya sarapan roti dan omelet.

__ADS_1


Satria dan Mr. Kyle pergi bersama dalam satu mobil. Sedangkan asisten dan beberapa tim dari Universitas, menaiki mobil yang lain.


"Sorry Mr. Kyle. We're stuck in traffic like this," ucap Satria memohon maaf. Mereka terjebak macet.


"It doesn't matter Mr. Satria. Because it is lunch. Everyone went out to get something to eat. Isn't it?," balas Mr. Kyle sambil mengetuk jam di pergelangan tangan kirinya.


Satria mengangguk,"Right, Mr. Thank you for your understanding." Mr. Kyle tersenyum, menepuk pundak kiri Satria.


Brakkk ....


Mobil belakang Satria ditabrak oleh mobil di belakangnya. Begitupun Satria, menabrak bagian belakang mobil di hadapannya.


"Sir ... are you alright?" tanya Satria.


"Okay okay, I'm fine," jawab Mr. Kyle. Mereka kompak melihat ke arah belakang.


"It looks like a pile-up," ujar Satria. Mereka masih memandang ke belakang. Sepertinya kecelakaan beruntun. "Wait a minute, Mr. I'll take a look outside," Satria membuka pintu. Asisten dan beberapa tim dari Universitas yang berada di sisi kiri mobil mendekati mobil Satria untuk mengecek kondisi atasan mereka.


Orang-orang sudah beramai-ramai keluar mobil. Ada sekitar 5 mobil yang bertabrakan. Satria berjalan ke bagian paling akhir. Melihat mobil mana yang menjadi penyebabnya.


Ternyata mobil itu sudah dikerumuni orang banyak. Pengendara tidak mau turun karena takut di amuk masa. Gadis itu menunduk, menutupi kepalanya sambil terus menelfon seseorang meminta bantuan.


"Dia yang salah. Dia sudah menyebabkan mobil kita semua hancur!" ujar satu pemilik mobil yang mobilnya ringsek parah karena yang pertama kali mobilnya ditabrak.


"Iya ... iya. Mobil saya juga. Ada anak dan istri saya di dalam mobil. Untung tidak terluka." saut pemilik mobil lainnya.


"Bersyukur anak istri bapak tidak terluka. Untuk apa kita marah-marah seperti ini? mobil sudah rusak. Lebih baik hubungi polisi untuk urus semua. Jangan main hakim sendiri!" ujar Satria lagi. Ia merasa iba melihat gadis itu. Badannya gemetaran. Terlihat jelas saat ia mengetuk kaca mobil dan mengintipnya.


Tok tok tok


"Mba ... Mba, tidak apa-apa? ada yang terluka?" tanya Satria. Gadis itu masih menunduk. Wajahnya tertutup rambut panjangnya sendiri.


"Mba ... Saya hanya ingin membantu. Tenang saja mba, kami semua tidak akan kasar. Bisa buka pintu mobilnya?" tanya Satria. Pemilik-pemilik mobil lainnya membubarkan diri. Mereka menuju mobil masing-masing setelah salah satunya sudah berhasil menghubungi polisi.


Gadis itu masih tidak bergerak. "Mba, sudah tidak ada siapa-siapa. Hanya saya saja. Mba bisa buka pintunya sekarang juga," ujar Satria. Ia lupa keberadaan Mr. Kyle yang masih berada di mobilnya.


Satria menatap wajah yang tidak asing. Gadis itu mengangkat wajahnya. Tidak menangis tapi wajahnya pucat pasi. Dahinya terluka akibat hantaman pada setir.


Satria mengesampingkan rasa kesalnya kemarin pada gadis itu.

__ADS_1


"Buka pintunya. Kamu terluka," ucap Satria menunjuk kening.


Gadis itu meraba keningnya lalu melihat darah di jarinya. Wajahnya semakin pucat. Kecelakaan lima tahun yang lalu membuatnya trauma.


"Please, buka pintunya. Saya hanya ingin membantumu," ucap Satria lagi. Ia takut gadis itu pingsan di dalam.


Satria berhasil membujuk. "Apa kamu pusing?" tanya Satria sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Menyeka darah di kening gadis itu.


"Apa ada yang terluka di bagian lain?" gadis itu menggelengkan kepala. "Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang. Saya antar," Satria memapahnya.


"Aku takut." ucap gadis itu lirih.


"Tenang. Polisi dalam perjalanan kemari. Kamu aman," perkataan Satria justru semakin membuat gadis itu takut. Ia menahan tangan Satria.


"Aku takut dipenjara. Aku teledor. Maaf ... maafkan aku. Tapi aku tidak mau di penjara," gadis itu memohon.


Satria juga bingung. Melihat banyaknya mobil yang rusak karena gadis itu.


"Kahiyang ..." seru Bumi. Bumi datang membawa beberapa ambulance untuk menangani para korban.


Kahiyang menoleh. Sejujurnya ia tidak suka. Satria dan Bumi, dua laki-laki yang menyebalkan. Selama dua hari ini mereka seperti menghantui Kahiyang.


Tanpa sadar, Kahiyang meremas tangan Satria. Sungguh ia tidak mau bersama Bumi. Satria melihat tangannya yang diremas.


"Kahiyang, kamu terluka. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga! Papa kamu yang menyuruhku untuk datang kemari," Bumi memegang kedua bahu Kahiyang. Satria masih berdiri di samping Kahiyang sambil bergandengan tangan.


Rozi pagi sekali berangkat ke Singapura bersama Brisia. Kahiyang menghubungi Ayahnya tadi. Kahiyang pikir, Ayahnya akan mengirimkan asistennya untuk datang tapi justru Bumi yang datang.


"Ini siapa?" tanya Bumi. Ia menyadari tangan Kahiyang dan Satria saling menaut. Satria berusaha melepaskan genggaman tapi Kahiyang tidak mau.


"Saya bukan siapa-siapa. Lebih baik bawa gadis ini ke rumah sakit. Untuk urusan selanjutnya biar saya yang urus." jawab Satria melepaskan genggaman. Kahiyang menatapnya dengan tatapan yang tajam. Sungguh Kahiyang tidak mau bersama Bumi.


"Kamu jangan khawatir. Mereka yang terluka akan dibawa ambulance," ucap Bumi kembali.


Kahiyang akhirnya mau pergi bersama Bumi. Dan Satria kembali ke arah mobilnya setelah melihat Kahiyang masuk ke dalam mobil. Tatapan mereka bertemu saat mobil yang dikendarai Bumi melewatinya. Kahiyang masih memegang sapu tangan milik Satria.


To be Continued...


~ Maaf up nya lama 🙏

__ADS_1


__ADS_2