Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
23. Confused


__ADS_3

Kahiyang mengatur nafasnya, mempersiapkan diri untuk menemui Papanya dan juga Bumi.


"Huh, tenang Kahi. Tenang. Everything is fine," gumamnya sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah.


Terdengar suara Brisia yang sedang berbicara dengan asisten rumah tangga di bagian dapur. Kahiyang terus masuk ke dalam dan tidak melihat keberadaan Papanya juga Bumi.


"Huft ... lebih baik langsung masuk kamar, kunci pintu." gumamnya.


Kahiyang melangkah menaiki anak tangga perlahan, seperti pencuri yang sedang mengendap-ngendap.


"Aman ..." Kahiyang mengelus dadanya. Ia sudah ada tepat didepan pintu kamarnya.


"Kahi ... dari mana kamu?" seru Rozi. Kahiyang terlonjak kaget.


"Papa ..." mengelus dada.


"Dari mana kamu? kenapa pergi tidak diantar sopir? Papa kan sudah bilang tadi pagi. Kamu pergi dengan siapa?" rentetan pertanyaan di ajukan Rozi. Kahiyang menekan-nekan ujung kukunya, gugup.


"Dari ... dari kedutaan, Pa. Kahiyang ada janji temu dengan Mr. Aldric juga Ibu Karenina. Kahi mengurus beberapa berkas kerja sama," jawabnya.


"Lalu siapa yang mengantarmu pulang? Papa lihat, itu mobil yang kemarin malam," Rozi mulai curiga.


"E ... e. Itu ... itu ..." Kahiyang bingung harus menjawab apa.


"Kahi ..." seru Bumi. Calon suaminya itu muncul dari ruang kerja Rozi.


"Bumi ..." ucap Kahiyang.


"Kamu belum jawab pertanyaan Papa. Papa minta penjelasan kamu nanti malam!" bisik Rozi. Kahiyang mengangguk pasrah.


Kahiyang, Rozi, Bumi dan Brisia berada di dalam ruangan kerja milik Rozi. Kahiyang diam membisu, senyum canggung terus terbit dari wajahnya saat bertatapan dengan Bumi.


"Papa sudah bicarakan ini dengan orang tua, nak Bumi. Dan sudah kami putuskan bersama. Sabtu besok kalian berdua bertunangan," ungkap Rozi. Kahiyang mengangkat wajahnya, membuka mulutnya, terperangah. Lalu Kahiyang menggeser pandangannya pada Brisia.


"Turuti saja apa keinginan Papa. Semua yang Papa lakukan untuk kamu, Kahi," ucap Brisia, mengusap lembut punggung Kahiyang.


"Tapi, Ma," suara lirih Kahiyang.


Bumi melihat raut wajah Kahiyang yang tidak senang dengan berita pertunangan mereka akhir minggu ini. Bumi mengira sudah mendapatkan hati Kahiyang, namun nyatanya Kahiyang tidak seperti apa yang ia kira. Kahiyang belum sepenuhnya memberikan hatinya untuk Bumi.


Begitu juga dengan Rozi. Mengamati ekspresi Bumi dan putrinya bergantian. Bumi yang terus menatap Kahiyang, dan Kahiyang yang sedang memeluk Brisia dengan wajah yang kecewa.


Apa yang kamu rahasiakan dari Papa, Kahi? Siapa laki-laki itu?. Batin Rozi, mengingat kembali mobil sedan mewah yang mengantarkan putrinya sudah dua kali.


"Keputusan Papa dan orang tua nak Bumi sudah final. Untuk segala persiapan biar Mama dan Mama nak Bumi yang urus. Kalian berdua ikuti saja. Mengerti?" ujar Rozi tegas.


"Baik, dok," jawab Bumi. Kahiyang semakin erat memeluk Brisia, menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, panggil saya Papa. Seperti Kahiyang," ujar Rozi lagi.


"Baik, Pa," jawab Bumi sambil mengangguk.


Kahiyang memejamkan matanya. Hatinya sungguh bimbang. Satria pria tua beristri itu yang dicintainya, sedangkan Bumi pria muda dan single pilihan Papanya.


"Aku harus bagaimana?" gumam Kahiyang yang dapat didengar Brisia.


"Apa yang membuat putri Mama gelisah? Bukankah kalian sudah semakin dekat? Ada sesuatu yang tidak Mama ketahui?" tanya Brisia lirih.


Kahiyang membuka mata lalu melepaskan pelukannya. "Mama ..." Kahiyang meneteskan air mata lalu buru-buru ia seka. Kahiyang tidak mau Papanya tahu.


Brisia mengangguk mengerti. "Sepertinya Kahiyang lelah, Pa. Biarkan Kahi istirahat." celetuk Brisia.


"Oke ..." jawaban Rozi terdengar kesal. Brisia mengantar Kahiyang ke kamar. Lalu Bumi berpamitan.


Tertinggal Rozi di dalam ruangannya seorang diri. Rozi terus memikirkan apa yang disembunyikan Kahiyang darinya. Dan baru kali ini, putri yang sangat di sayanginya itu merahasiakan sesuatu.


Setelah diantar ke kamar oleh Brisia, Kahiyang memutuskan untuk berendam. Sejenak melupakan perkataan Papanya tadi.


Ponsel Kahiyang berdering. Kahiyang tahu siapa yang menelfonnya. Tepat seperti dugaannya. Satria.


Kahiyang beranjak dari dalam bathub, meraih ponselnya diatas rak wastafel.


"Halo," sapa Kahiyang lalu kembali berendam. Ia letakkan ponselnya di pinggiran bathub dan mengaktifkan loudspeaker.


Kahiyang mengangkat ponselnya, membuka chat yang dikirimkan Satria. Ada sekitar 10 chat. Kahiyang menggelengkan kepalanya.


"Tadi Papa panggil aku ke ruangannya. Kamu berlebihan. 10 chat dan semua isinya tidak penting," kembali meletakkan ponselnya.


"Pasti ada sesuatu. Papa bilang apa? Jangan bilang kalau minggu depan kamu harus menikah dengan laki-laki itu!" Satria seperti cenayang yang tahu obrolan apa yang terjadi antara Kahiyang dan Papanya, Rozi.


Kahiyang menutup mulutnya. Ia terkejut.


"Kenapa diam? Apa benar seperti itu?" Satria menggebrak meja kerjanya. Setelah mengantar Kahiyang tadi, Satria kembali ke sekolah.


"Bukan menikah, tapi engagement," jawab Kahiyang.


"Shi*t!" umpat Satria.


Kahiyang yang sama bingungnya memilih mematikan ponselnya, menonaktifkan.


"Argh ..." Kahiyang berteriak. "Kenapa serumit ini?" ujarnya sendiri.


Obrolan Kahiyang dengan Satria didengar samar-samar oleh Rozi. Rozi menghampiri Kahiyang ke kamarnya untuk menanyakan perihal seseorang yang mengantarkan putrinya kemarin malam dan sore tadi. Tapi justru Rozi mendengar percakapan itu.


"Siapa orang yang menelfonmu, Kahi? Jujur pada Papa!" tanya Rozi begitu saja setelah Kahiyang keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Papa ..." Kahiyang terkejut. Ia hanya memakai bathrobe.


"Pakai dulu bajumu! Setelah itu temui Papa diruangan," Rozi bangkit dari duduknya lalu menutup pintu kamar Kahiyang.


Kahiyang semakin takut. Apa yang akan ia katakan pada Papanya. Sangat tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Sudah pasti akan ditentang habis-habisan. Langkahnya memilih memiliki hubungan dengan suami orang, salah besar.


Langkah kakinya terasa berat untuk kembali masuk ke ruang kerja Rozi.


"Papa ..." seru Kahiyang setelah membuka pintu lalu menutupnya lagi.


"Duduk!" suara tegas Rozi yang setelah sekian lama tak didengar Kahiyang. Lebih tepatnya suara menahan amarah.


Kahiyang duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan Rozi.


"Sudah berapa lama kamu hidup bersama Papa?" pertanyaan Rozi membuat Kahiyang bingung.


"Maksud, Papa?" Kahiyang berbalik bertanya.


"Sudah 16 tahun kamu hidup bersama Papa dan juga Mama Bri. Sudah selama itu juga, kamu selalu jujur pada kami. Lalu sekarang berani membohongi Papa?" ucapan Rozi menusuk hati Kahiyang.


"Papa ..." Kahiyang meneteskan air matanya. Jika sudah berhadapan dengan Rozi dan Brisia, Kahiyang seperti gadis kecil yang manja, sensitif dan cengeng.


"Jangan bohongi Papa, Kahi! Papa tidak suka," mengulurkan tangan lalu menggenggam kedua tangan putrinya. Kemudian menyeka air mata di pipi.


"Maaf, Papa," setelah mengatakan itu, Kahiyang menunduk.


"Apa sesulit itu untuk berkata jujur pada Papa?" tanya Rozi lagi. Kahiyang menggelengkan kepalanya sambil terus menangis.


"Apa putri Papa tidak setuju dengan pertunangan akhir minggu ini?" Kahiyang mengangguk. "Katakan apa kekurangan Bumi!" Kahiyang menggelengkan kepala. "Lalu apa yang membuat putri Papa tidak setuju? ada pria lain yang kamu sukai?" Kahiyang mengangguk. "Siapa? apa yang mengantarmu kemarin malam dan sore tadi?" Kahiyang mengangguk lagi.


"Manager restoran?" tanya Rozi lagi.


"Bukan, Papa," jawab Kahiyang.


"Lalu siapa? Kenapa selama ini kamu diam saja dan tidak jujur pada Papa?" Rozi bangkit dari duduknya.


Kahiyang menutup rapat bibirnya.


"Katakan, Kahi!" Rozi berteriak.


"Pa ... Jangan berteriak! Kahi putri Mama juga!" Brisia masuk dan langsung memeluk Kahiyang.


To be Continued...


~ Kahiyang lagi pusing gengs.


__ADS_1


__ADS_2