Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
28. Pulang!


__ADS_3

Rozi akhirnya menyerah siang itu. Ia terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang fatal yang bisa terjadi pada putrinya. Sebelum terlalu terlambat, ia harus menjemput paksa Kahiyang.


"Ma, ganti pakaianmu. Kita jemput Kahiyang sekarang juga!" ujar Rozi, masuk ke dalam kamar.


Brisia yang sedang duduk di sofa memandangi foto Kahiyang, seketika bangkit.


"Kita jemput Kahi?" seakan tak percaya suaminya berubah begitu cepat.


"Iya. Papa nggak mau Kahi kenapa-kenapa. Sebelum terlambat, Ma. Ayok, cepat ganti bajumu!" Rozi mendorong istrinya ke ruang wardrobe.


Rozi turun bersama Brisia, bersamaan dengan keluarnya Airin dari kamarnya.


"Kalian mau kemana?" tanyanya.


"Mau jemput Kahi, bu," jawab Brisia.


"Ibu ikut. Biar ibu yang bujuk Kahi pulang. Ibu takut kamu nggak bisa kendalikan emosimu lagi. Bisa-bisa cucuku kabur lagi," Airin bersikeras ingin ikut.


Brisia dan Rozi saling bertatapan. Dan Airin ikut menjemput Kahiyang.


Selama diperjalanan, Airin tidak hentinya memberikan nasihat pada Rozi. Rozi hanya menjawab singkat 'iya, baik bu'.


"Benar nggak ini? Cucuku pergi sejauh ini?" tanya Airin, memandangi jalan tol yang terasa begitu panjang.


"Bu, sabar. Menurut informasi, Kahi ada di Tangerang. Sebentar lagi sampai," Brisia menenangkan mertuanya.


"Awas kamu Rozi, kalau nanti kamu memarahi cucuku! Ibu nggak mau Kahiyang pergi lagi. Pokoknya sampai sana, minta maaf sama putrimu!" ujar Airin dengan nada ketus sambil menunjuk-nunjuk wajah Rozi dari kursi tengah.


Mobil Lexus LM 350 Hitam itu terus meluncur membelah jalanan Tangerang. Memasuki kawasan perumahan dan hunian paling terencana di Indonesia. Merupakan kota satelit dari Jakarta dimana semua fasilitas tersedia. Mulai dari kawasan industri, perkantoran, perdagangan, pendidikan, wisata, sekaligus perumahan dan apartemen.


"Siang, Pak. Maaf ada keperluan apa?" tanya sekuriti yang menjaga palang masuk perumahan dan apartemen.


"Saya mau menjemput putri saya," ujar Rozi sambil menyelipkan uang kertas berwarna merah sebanyak 10 lembar.


"Baik, Pak. Silahkan," sekuriti itu membukakan pintu palang setelah menempelkan kartu pada mesin.


Satu mobil milik Rozi dan satu mobil dibelakangnya berisi beberapa bodyguard yang ia bawa serta, berhenti di lobby apartemen.


Rozi menyuruh satu bodyguard untuk meminta kartu akses dan juga nomor apartemen milik Satria yang sedang dipakainya.


"Silahkan, Pak," ujar salah satu bodyguard. Mempersilahkan masuk ke dalam lift. Airin menggandeng lengan Brisia. Tangannya begitu dingin.


"Sebenarnya cucuku bersama siapa? Kamu bilang Kahi nggak punya teman," bisiknya pada Bri.

__ADS_1


Rozi melirik saat Brisia ingin memberitahu siapa yang bersama Kahiyang.


"Bri juga nggak tau, bu." jawabnya. Airin kembali diam.


Sesampainya mereka di lantai itu dan terus berjalan menyusuri hingga bagian ujung lorong, Airin semakin gelisah. Begitu juga dengan Brisia.


"Ibu tunggu disini. Biar Rozi dan Bri bicara dengan Kahi," ujar Rozi, menyuruh ibunya berdiri di balik bodyguard.


Rozi memencet bel, tak lama suara pintu dibuka. Kahiyang yang memakai baju sedikit terbuka dibagian dadanya, terlihat jelas dua titik kemerahan karena ulah Satria.


"Papa ... Mama," Kahiyang terkejut.


Lalu Satria berteriak dari dalam kamar. "Siapa sayang?" Kahiyang memejamkan matanya. Tamat riwayatnya.


Rozi geram, sedangkan Brisia memegang dadanya.


"Sayang, siapa? Kenapa diam saja seperti itu?" tanya Satria. Menghampiri Kahiyang dengan rambut basahnya, ia baru selesai mandi.


Kahiyang menoleh ke arah Satria dengan raut wajah cemas.


"Kenapa?" tanyanya lagi, langsung merangkul pinggang Kahiyang.


"Dokter Rozi ..." Satria melepas rangkulan itu.


"Papa ... Jangan! Jangan sakiti, Mas Satria," Kahiyang memegang tangan Rozi yang masih menggenggam kerah baju Satria.


"Mas?" tanya Rozi dengan nada tinggi. "Breng*sek!" Rozi melayangkan tinjunya pada Satria sampai terhuyung ke belakang.


Kahiyang dan Brisia menjerit. Kahiyang berlari melindungi Satria, sedangkan Brisia memegangi suaminya.


"Papa, jangan pakai kekerasan," ujar Brisia lirih.


Airin tidak tahan lagi berdiam diri. "Cucuku, Kahi," serunya, melewati bodyguard didepannya.


Kahiyang menoleh. "Nenek ..."


"Kahi, Nenek rindu. Pulang lah bersama Nenek," Airin menangis.


Kahiyang ikut meneteskan air matanya, lalu menyekanya cepat. "Maafin Papaku, Mas," menyeka sudut bibir yang terluka dengan tisu.


"Kahi, nggak mau pulang! Kahi nggak punya siapa-siapa. Cuma Mas Satria yang Kahi punya," Kahiyang menolak. Ia memasang badan di depan Satria. Menghalangi jika ayahnya akan melukai Satria lagi.


"Lihat, bu! Dia hilang akal. Dia lebih memilih pria beristri dari pada kita keluarganya," Rozi kesal mendengar ucapan putrinya.

__ADS_1


"Rozi!" bentak Airin.


"Kahi cinta Mas Satria. Cuma Mas Satria! Bukan Bumi atau siapapun!" Kahiyang menggenggam erat tangan Satria.


"Dia sudah punya istri juga anak. Dimana pikiranmu? Hah?" Rozi kembali berteriak. Airin memukul punggung putranya.


Kahiyang menundukkan kepala. "Saya akan berpisah. Saya akan mengurus semuanya. Setelah semua beres, saya akan menikahi Kahiyang," Satria mengatakan dengan tegas dan berani.


"Mas ..." Kahiyang mengangkat kepala, menatap Satria.


Satria mengangguk. "Trust me!" ucapnya. Kahiyang ikut mengangguk dan tersenyum. Genggamannya semakin kuat.


"Saya tidak akan mengijinkan putri saya menikah denganmu! Kamu bisa meninggalkan istrimu, besar kemungkinan kamu dapat melakukan hal yang sama pada putriku!" Rozi menolak. Rasanya ia ingin segera membawa putrinya pulang dan menjauhkannya dari Satria.


"Nggak! Mas Satria nggak akan lakukan itu," timpal Kahiyang.


"Saya tidak akan akan pernah meninggalkan Kahiyang!" imbuh Satria.


Airin terus menangis mendengar perdebatan itu. Brisia tidak bisa berkata-kata. Kahiyang dan Satria sungguh keras kepala.


"Dia lebih pantas menjadi pamanmu!" Rozi terus berusaha menyadarkan putrinya.


"Usia hanya angka. Kahi akan tetap bersama Mas Satria. Papa, Mama, Nenek ... lebih baik kalian pulang." Kahiyang memeluk Satria.


"Tidak bisa! Kamu harus pulang bersama Papa! Kamu harus bertunangan dengan Bumi!" Rozi mencoba menarik Kahiyang tapi Satria menariknya terlebih dulu ke balik punggung.


"Saya tidak bisa melepaskan Kahiyang pada orang lain," ujar Satria. Kahiyang memeluk erat Satria dari balik punggung.


"Kamu siapa? Kamu tidak berhak atas putri saya! Saya akan laporkan kamu karena menculik anak saya!" gertak Rozi.


"Papa! Papa Jahat! Papa sudah menghina ibuku, lalu sekarang mengancam Mas Satria. Kahi yang datang, bukan Mas Satria yang memaksa Kahi!" perdebatan itu membuat kepala Airin berputar. Airin jatuh pingsan.


"Nenek ..."


"Ibu ..."


"Cepat bawa Ibu ke mobil. Kalian berdua tahan dia!" -menunjuk Satria- "jangan biarkan dia keluar dan membawa putriku lagi!" Rozi menarik lalu menyeret Kahiyang, setelah Satria di pegangi oleh dua bodyguard.


"Papa, lepasin Kahi! Kahi nggak mau! Kahi cuma mau Mas Satria! Papaaaa ..." Kahiyang terus berteriak ingin dilepaskan.


"Mas, Mas Satria ..." teriaknya lagi.


Rozi akhirnya menampar Kahiyang. "Sadar kamu! Ikut Papa dan diam! Bisa-bisanya kamu masih memikirkan laki-laki itu. Nenek kamu pingsan karena ulahmu!" Kahiyang memegangi pipinya yang merah oleh tamparan Rozi. Matanya memerah, sungguh sakit hatinya. Brisia tidak dapat berbuat apa-apa.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2