Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
15. Belajar Melukis


__ADS_3

Keesokan harinya, Hanna sudah terus menanyakan kapan ia belajar melukis. Karena Satria tidak memiliki nomor ponsel Kahiyang, ia memberanikan diri datang ke kamar inap Kahiyang setelah menyuruh stafnya Iren untuk membelikan peralatan melukis.


Bruk...


"Ah ... Maaf, saya tidak sengaja," ucap Satria setelah menabrak seseorang. Lalu orang itu berbalik.


"Mau apa anda ada di lantai ini?" tanya Bumi. Bumi baru saja keluar dari kamar pasien bersama suster jaga hari itu dan sedang berbicara dengan dokter lain yang kebetulan bertemu.


Satria ingin menjawab tapi melihat situasi bukan hanya mereka berdua saja, Satria memilih diam dan Bumi mengerti.


"Sus, letakkan catatan ini di ruangan saya," titah Bumi pada suster di sampingnya.


"Baik, dok." suster itu pergi.


"Oke, aku ke pasien lain dulu," pamit dokter, rekan Bumi yang sedang berbicara dengannya tadi. Seakan mengerti maksud diamnya Satria dan maksud Bumi mengusir suster.


"Oke, dok. Silahkan." ujar Bumi.


Setelah benar-benar hanya mereka berdua saja, Bumi kembali bertanya. "Anda mau menemui calon istri saya?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Calon istri?" -mengerutkan alis- "oh, Kahiyang maksud anda?" tanya Satria.


"Siapa lagi? sudah saya peringatkan untuk tidak menemui Kahiyang. Sebagai laki-laki dewasa dan sudah berkeluarga, sebaiknya anda tepati janji. Suami macam apa yang mengejar-ngejar gadis muda? sungguh tidak tahu malu!" ujar Bumi, menyunggingkan senyuman mengejek.


Satria langsung menarik kerah jas putih milik Bumi. "Tahu apa kamu soal saya? Jangan bicara yang tidak-tidak! ini rumah sakit. Kalau bukan dirumah sakit, sudah kuhabisi kamu!" ancamnya.


"Ada apa ini?" tanya Rozi. Ia baru keluar dari lift dan akan menemui putrinya. Namun justru pemandangan antara dokter kebanggaannya bersama pemilik yayasan sekolah putri-putrinya itu, akan berkelahi.


Keduanya menoleh lalu Bumi menghempaskan tangan Satria, seraya menepuk-nepuk jasnya.


"Bukan apa-apa, dok. Hanya kesalah pahaman saja." elak Bumi.


"Pak Satria mau bertemu dengan Kahiyang?" tanya Rozi.


"Iya, pak. Saya ada perlu dengan putri bapak. Apa boleh saya masuk?" tanyanya.


"Silahkan, silahkan. Di dalam ada istri saya juga. Sekalian, saya perkenalkan dengan istri saya. Dia sangat suka dengan istri bapak, setiap hari menonton sinetronnya." ujar Rozi.


Bumi yang di acuhkan, hanya diam sambil mengepalkan tangannya.


Satria mengangguk sambil tersenyum mengejek, membalas apa yang dilakukan Bumi tadi. Pembalasan yang sepadan.


Rozi merangkul Satria ke arah kamar Kahiyang. Bumi memilih pergi ke ruangannya sendiri.


"Mama ... Kahi, ada pak Satria. Katanya ada perlu sama putri Papa," seru Rozi setelah membuka pintu.


Kahi yang sedang merias tipis wajahnya dan memakai lip tint, terkejut. Pasalnya dia memang sudah terbiasa merias wajahnya, meski hanya sekedar memakai cream pelembab dan lip tint. Katanya sih supaya tidak terlihat pucat.


"Papa kenapa nggak ketuk pintu dulu?" Kahiyang sebal. Ritual meriasnya diketahui Satria.


Satria diam tanpa ekspresi, terus memandang Kahiyang yang salah tingkah. Entah kenapa, jika dihadapan Satria, kini Kahiyang seperti itu.

__ADS_1


"Maaf, nak. Papa lupa," ujar Rozi. Kahiyang mencebikkan bibirnya. Sedangkan Brisia sudah menghampiri suaminya.


"Pak Satria, ini istri saya," Rozi memperkenalkan istrinya.


"Saya Satria, bu. Selang berkenalan dengan anda," ucapnya, saling berjabat tangan.


"Saya sangat senang berkenalan dengan pak Satria. Saya Brisia Wiryawan. Kebetulan, penggemar berat Mba Inggrid," terang Brisia.


"Ah iya, bu. Nanti saya sampaikan ke istri saya, kalau ibu fans beratnya," balas Satria.


Kahiyang semakin menekuk wajahnya mendengar istri Satria disebut lagi. Sudah dari pagi tadi, Mamanya terus berceloteh tentang Inggrid Mahira. Rasanya telinga Kahiyang panas.


"Silahkan duduk, pak Satria!" ujar Rozi.


"Maaf, pak. Sebenarnya saya hanya sebentar saja, karna anak saya menunggu di kamar," Satria berterus terang.


"Emm ... Papa. Kahi sudah berjanji akan mengajari Hanna melukis. Mungkin maksud kedatangan pak Satria, ingin memberitahu soal itu," terang Kahiyang.


"Hanna?" tanya Brisia dan Rozi serentak.


"Hanna putri saya," jelas Satria.


"Oh, baiklah." ucap Rozi.


Kahiyang dan Satria berjalan berendengan, tak saling berbicara. Mereka berdua sama-sama diam.


"Silahkan!" ujar Satria mempersilahkan Kahiyang masuk ke dalam lift terlebih dulu.


"Apa peralatannya sudah disiapkan?" tanya Kahiyang, memecah keheningan.


Satria berdiri dengan dua tangannya masuk ke dalam saku celana, lalu menjawab, "Sudah. Staf saya yang membelinya. Mungkin sebentar lagi sampai,"


"Oh ..." Kahiyang menganggukkan kepalanya, mengerti.


"Maaf, kalau saya mengganggu waktu istirahat kamu," celetuk Satria. Kahiyang menoleh.


"No problem, saya senang ada yang tertarik untuk belajar melukis. Apalagi Hanna yang masih banyak mengeksplor dirinya," terang Kahiyang sambil tersenyum.


"Terimakasih," -membalas senyuman- "ah, soal kecelakaan kemarin, apa sudah ada penyelesaian?" tanya Satria. Mereka keluar dari lift menuju kamar Hanna.


"Papa sedang mengurusnya bersama pengacara keluarga kami," jawabnya lirih. Kahiyang merasa menyesal menjadi penyebab kecelakaan beruntun kala itu.


"Semoga semua cepat selesai," ucap Satria.


"Amin." balas Kahiyang.


Keduanya masuk ke dalam kamar inap Hanna. Putri semata wayangnya itu sedang duduk menyandar sambil disuapi oleh Iren.


"Kamu sudah datang. Peralatannya sudah semua?" tanya Satria.


"Sudah, pak. Saya baru saja datang, dan-" -menatap Kahiyang yang berdiri di samping atasannya- "dan nona Hanna lapar, jadi saya suapi dulu," terang Iren.

__ADS_1


"Kakak, Hanna makan dulu ya? habis ini, kita mulai belajar melukisnya," ucap Hanna dengan mulut penuh makanan.


Bersyukur, meski kakinya belum bisa banyak bergerak, nafsu makan Hanna stabil. Rasa sedihnya teralihkan oleh antusiasnya belajar melukis.


"It's oke, Hanna. Kakak menunggu." mengusap puncak kepala Hanna. Iren terus mengamati interaksi Hanna bersama Kahiyang.


Iren bertanya-tanya, siapa gadis muda yang datang bersama atasannya dan akrab dengan Hanna. Baru kali ini, ia melihatnya.


"Berkas-berkas yang saya perintahkan tadi, apa sudah dibawa semua?" tanya Satria pada Iren.


"Biar saya saja yang menyuapi," Kahiyang mengulurkan tangannya, meminta mangkuk sup yang sedang dipegang Iren. Iren memberikannya ragu-ragu.


"Sudah saya bawa, pak," -bangkit, meraih tasnya lalu menyodorkan beberapa berkas- "ini, pak."


"Oke, terimakasih banyak. Kamu boleh kembali ke sekolah. Ah iya, jangan beri tahu siapapun soal putri saya. Dan sampaikan ke kepala sekolah primary untuk me-rescedule pertemuan saya dengan orangtua siswi itu," ujar Satria seraya memakai kaca mata bacanya.


"Baik, pak. Saya permisi," Iren undur diri, lalu menatap Kahiyang. Gadis muda dan cantik itu membalas anggukan serta senyuman.


Selesai menyuapi, Hanna bersiap belajar melukis.


"Saya bantu," Satria menahan kanvas yang akan dibawa Kahiyang bersamaan dengan kuas dan cat. Tak sengaja tangannya bersentuhan.


"Baik." Kahiyang menghindar. Ia menata beberapa cat di dalam wadah.


Fokus Satria terbagi. Ia melihat bagaimana keluwesan dan kelembutan Kahiyang dalam mengajari Hanna. Satria meletakkan berkasnya dan terus menatap Kahiyang.


Kahiyang terlihat kerepotan dengan rambut panjangnya.


Satria bangkit, membantu melepaskan ikat rambut di pergelangan tangan Kahiyang. "Saya bantu," lagi-lagi Satria mengambil inisiatif terlebih dulu.


Kahiyang terbengong saat Satria berdiri di belakangnya lalu mengikat rambutnya.


"Sudah," ucap Satria setelahnya.


"Terimakasih," balas Kahiyang kikuk.


"Papa, lihat hasil lukisan pertama Hanna!" seru Hanna. Satria menggeser tubuhnya lebih dekat dan lagi-lagi ia tidak sadar tubuhnya sangat dekat dengan Kahiyang.


Aroma parfum menguar, Kahiyang menciumnya. Aroma Musk, salah satu aroma paling populer dan paling sering menjadi base notes dalam parfum. Jenis aroma musk biasanya dikaitkan dengan aroma woodsy dan earthy. Aroma musk memiliki karakteristik sensual dan warm sehingga terasa mewah saat dipakai. Aroma ini juga memberi kesan lembut dan elegan.


"Bagus sekali lukisannya, awal yang bagus. Benar kan?" tanya Satria, menunduk. Kahiyang mendongak dan wajah keduanya sangat dekat. Hanya berjarak beberapa senti saja. Reflek, Kahiyang memundurkan tubuhnya dan hampir terjatuh. Lalu Satria menangkap pinggangnya.


"Hati-hati," ujar Satria.


"Maaf ..." kata Kahiyang. Ia menegakkan badannya.


"Kakak nggak papa?" tanya Hanna. Kahiyang menggelengkan kepalanya.


"Benar kata pak Satria. Ini awalan yang bagus. Asal Hanna terus berlatih, pasti hasilnya akan lebih baik lagi," Kahiyang memberikan pujiannya sekaligus menyemangati.


"Siap kakak!" dan mereka bertiga tertawa bersama.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2