Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
9. Kebaikan Seorang Satria


__ADS_3

Satria kembali ke mobilnya setelah melihat Kahiyang pergi bersama Bumi.


"Mr. Kyle, I'm sorry for leaving you so long. There's a very serious problem there. I have to take care of this accident first. Can Mr. Go to the restaurant without me? My assistant will accompany. I am truly very sorry," ujar Satria pada Mr. Kyle. Ia sungguh merasa tidak enak hati pada rekan bisnisnya itu. Tapi ia sudah berjanji untuk mengurus kecelakaan yang terjadi, meskipun bukan salahnya.


"Okay, Mr. No problem. I understand. I'm going to Mr. Satria office tomorrow," jawab Mr. Kyle.


"Okay, Sir. I'll see you in the morning. I hope you brought good news to the foundation," ujar Satria. Satria menjabat tangan Mr. Kyle. Ia berharap esok pagi ada kabar baik untuk Yayasannya.


Mr. Kyle berpindah mobil bersama timnya dan juga staf Satria, Iren. Mereka pergi menuju restoran tanpa Satria.


Setalah kepergian Mr. Kyle, Satria menghampiri petugas kepolisian yang baru saja datang.


Para korban sudah mengerumuni petugas itu untuk saling melaporkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Baik ... baik. Tenang dulu bapak-bapak semua! saya tidak bisa mendengar dengan jelas, kalau bapak-bapak semua berbicara bebarengan seperti ini." keluh petugas. Dan semua mendadak terdiam, begitu juga dengan Satria yang memang sedari tadi hanya memperhatikan saja tanpa ikut berbicara.


"Apa ada yang mau mewakili?" tanya petugas itu yang bernama Handoko.


"Saya. Saya yang mewakili pelaku untuk menyelesaikan semua." ujar Satria lantang.


"Lho! bapak kan juga korban disini. Kenapa jadi mewakili pelaku?" protes salah satu korban.


"Iya ... iya. Bagaimana sih, bapak ini?" seru korban lainnya. Situasi kembali riuh.


"Tenang! tenang bapak-bapak!" -mengangkat dua tangan, untuk menenangkan- "bapak, siapanya pelaku? keluarga?" tanya Handoko pada Satria.


"Bukan, Pak. Tapi pelaku terluka dan sudah dibawa ke rumah sakit. Sepertinya pelaku mengalami luka psikis yang serius. Maka dari itu, saya yang akan mewakilinya." ujar Satria. Entah mengapa, ia berubah baik dan iba pada Kahiyang.


Seharusnya Satria tidak perlu sejauh ini untuk melindungi Kahiyang. Gadis angkuh yang belum dikenalnya.


"Baik. Bapak ikut saya sebagai saksi. Pelaku harus tetap saya periksa!" keputusan akhir dari Handoko, membawa Satria dan juga korban lainnya untuk dimintai keterangan lebih detail lagi.


Satria membawa mobilnya yang rusak dibagian depan dan belakang ke kantor polisi.


Di rumah sakit, Kahiyang tengah berbaring di ranjang IGD. Luka di dahinya tidak terlalu berat, namun trauma itu kembali datang. Bayang-bayang Soni, asisten Papanya memenuhi kepalanya. Rasanya Kahiyang ingin meminum obat penenang sekarang juga.


"Kamu terus berkeringat. Ada apa? Apa yang kamu cemaskan?" tanya Bumi. Sejak tadi menemani Kahiyang.


Kahiyang menggelengkan kepalanya.


"Papa ... tolong hubungi Papa!" pintanya. Bumi merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel lalu mendial nomor Rozi. Lalu Kahiyang merampasnya setelah dering pertama terdengar.


"Papa ... Papa ..." suara Kahiyang bergetar. Kebiasaannya kembali lagi, menggigit kuku karena cemas.


"Kahiyang, anak Papa. Kamu baik-baik saja, nak? Bagaimana keadaanmu?" tanya Rozi.


"Papa, Kahi takut. Tolong Kahi, Papa!" Kahiyang benar-benar sangat membutuhkan Rozi saat ini.


"Oke ... oke. Papa dan Mama terbang sekarang juga. Tunggu Papa, nak!" ucap Rozi. Ia tahu jika putrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Anak Mama, Kahi sayang. Tunggu Mama!" sahut Brisia, sama cemasnya.


"Iya, Mama ..." Kahiyang terisak. Gadis angkuh, keras kepala dan menyebalkan itu menangis. Kesempatan yang sangat langka bagi Bumi.

__ADS_1


Kahiyang meletakkan ponsel Bumi di sampingnya.


"Kamu istirahat dulu. Aku temani sampai dokter Rozi datang," ujar Bumi, sambil merapihkan selimut menutupi kaki Kahiyang.


"Nggak perlu! aku mau sendiri! kamu bisa pergi!" sentak Kahiyang, lalu mengubah posisi tidur membelakangi Bumi.


Sial! angkuhnya balik lagi. Batin Bumi. Sungguh kesal rasanya.


"Kalau ada apa-apa, suruh suster panggil aku ya?" pesannya.


"Buat apa? ada dokter jaga disini. Kamu balik ke ruanganmu aja gih. Aku mau istirahat. Kamu banyak omong, bikin aku makin pusing!" Kahiyang geram.


"Baik," Bumi langsung meninggalkan Kahiyang. Kepalanya terasa panas. Apalagi mengingat Kahiyang yang bergandengan tangan dengan seorang pria dewasa tadi.


Penantian cukup lama bagi Kahiyang. Rozi datang bersama Brisia. Keduanya memang tidak memberitahu keluarga besar soal kecelakaan putrinya siang tadi, termasuk Bitna dan Brenda.


Kahiyang sendirian, duduk menyandar kepala ranjang menatap jendela. Sore itu turun hujan rintik-rintik. Saat itu ia sedang mengingat Satria.


Suara Papa dan Mamanya terdengar.


"Kahi ..." seru Rozi dan Brisia, membuka pintu kamar inap. Kahiyang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap tadi. Bumi yang mengurusnya atas perintah Rozi.


Kahiyang menoleh lalu buliran air mata langsung jatuh. "Mama ... Papa ..."


Brisia dan Rozi memeluk putrinya. Kahiyang menangis. Keduanya memberikan waktu Kahiyang untuk meluapkan rasa sedih dan takutnya.


Pelukan hangat dari orangtuanya cukup membuat hati Kahiyang lebih baik.


"Sayangnya Mama," -memeluk sambil terus mengusap tangan- "semua baik-baik saja. Jangan khawatir," Brisia mencoba menenangkan.


Rozi tidak ingin membahas dulu perihal kecelakaan yang dialami putrinya. Ia menunggu keadaan Kahiyang tenang.


Hari menjelang petang, suara ketukan pintu terdengar. Kahiyang sedang disuapi buah melon oleh Brisia. Sedangkan Rozi duduk di sofa mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Hari itu mereka berdua tidak pulang ke rumah dan memberi tahu Bitna dan Brenda jika mereka sudah di Indonesia.


"Masuk ..." seru Rozi. Ia pikir suster datang.


Pintu digeser, semua menoleh ke arah pintu. Kahiyang terkejut siapa yang datang sesore itu dan untuk apa.


"Bapak siapa?" tanya Rozi.


"Saya Satria. Saya mau menjenguk Kahiyang," ucapnya lalu menatap Kahiyang.


Kahiyang mengangguk.


"Bapak tahu putri saya dari mana? apa bapak, guru SMA putri saya?" tanya Rozi lagi sambil mengamati penampilan Satria dari atas sampai bawah.


"Bukan. Saya-" perkataannya dipotong oleh Kahiyang.


"Papa. Dia yang menolong Kahi tadi. Dia juga korban. Kahi yang salah," ungkapnya lalu menunduk, meremas kedua tangannya.


"Nak ..." Brisia memegang tangan Kahiyang agar berhenti melakukan itu.


"Korban? bisa kita bicara di luar?" tanya Rozi. Ini kesempatan baginya untuk tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Satria mengangguk. Kemudian mereka keluar ruangan.


"Ke ruangan saya saja, bagaimana?" tanya Rozi pada Satria.


"Ruangan? anda dokter disini?" tanya Satria.


"Iya. Mari ikut saya," ajaknya menuju lift. Satria ikut saja.


Saat pintu lift terbuka, mereka berpapasan dengan Bumi.


"Malam, dok," ujarnya. Lalu ia merasa heran dengan keberadaan Satria di samping Rozi.


"Malam, dokter Bumi. Saya harus ke ruangan dulu," pamitnya.


"Baik, dok. Silahkan!" Bumi memberikan ruang untuk Rozi dan Satria masuk ke dalam lift.


"Untuk apa dia kemari? siapa sebenarnya laki-laki itu?" gumam Bumi.


Satria terkejut saat tahu siapa Rozi. Nama Rozi terpampang di depan pintu, selaku pemilik rumah sakit.


"Silahkan duduk, pak ...?" Rozi bertanya kembali, ia lupa.


"Satria. Satria Arsyanendra." timpal Satria menyebutkan nama lengkapnya.


"Satria Arsyanendra? sepertinya nama yang tidak asing," -berfikir- "keluarga Arsyanendra?" tanya Rozi. Anggukan Satria menjawab semua.


"Jadi anda pemilik Yayasan Peduli Bangsa?" tanya Rozi lagi.


"Betul." jawab Satria.


"Putri-putri saya sekolah disana. Namanya Bitna dan Brenda. Suatu kebetulan sekali, kita bisa bertemu seperti ini pak Satria," ujar Rozi.


"Bitna dan Brenda Prasojo?" tanya Satria. Ia hafal betul karena kedua murid berbeda tingkatan itu membawa harum nama sekolah.


"Ya, benar. Dan Kahiyang, putri sulung saya." imbuh Rozi. Satria kini mengerti.


"Maaf karena sudah melenceng ke tujuan awal. Jujur saya sangat senang bertemu dan mengenal pak Satria. Suatu kehormatan untuk saya," ucap Rozi.


"Tidak masalah, dokter Rozi. Saya juga cukup terkejut bahwa dokter adalah pemilik rumah sakit ini." akunya.


Perbincangan mereka semakin panjang dan lebar. Semua dibahas, termasuk kejadian kecelakaan siang tadi.


"Terimakasih banyak untuk informasinya pak Satria. Terimakasih juga sudah membantu putri saya. Saya masih belum bisa membahas soal ini dengannya. Traumanya dulu datang lagi." ungkap Rozi.


"Trauma? Kahiyang pernah mengalami kecelakaan?" tanya Satria.


"Pernah. Lima tahun yang lalu. Dan menjadi pukulan berat untuknya. Sangat sulit memulihkan psikisnya. Saya sungguh sangat berterima kasih pada pak Satria. Entah bagaimana jika bapak tidak membujuk putri saya keluar dari mobil," ujar Rozi. Pikiran buruknya menghantui.


"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Semoga semua kembali normal. Kalau begitu, saya pamit dulu," ujar Satria. Sudah setengah hari ia diluar sekolah mengurus masalah itu. Sampai-sampai ia lupa dengan putrinya, Hanna.


"Baik. Terimakasih sekali lagi. Hati-hati di jalan," Rozi mengulurkan tangan, berjabat tangan dengan Satria.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2