
"Satria berangkat dulu, Ma," mencium pipi kanan dan kiri Melani.
"Hanna juga berangkat sekolah dulu, Oma," mencium punggung tangan.
"Mama tunggu dirumah nanti siang!" ucap Melani pada Satria.
"Soal apa lagi? Satria ada urusan lain, Ma. Hari ini Satria sibuk. Lain kali Satria mampir ke rumah. Mama nggak perlu pusing soal berita itu. Satria nggak macem-macem," Satria mengusap bahu Melani lalu masuk ke dalam mobil lainnya. Mobil kemarin sudah dibawa orang suruhannya ke bengkel.
"Anak bandel! awas aja kalau macam-macam. Mama cari gadis itu!" gerutu Melani, terus menatap mobil Satria keluar gerbang.
Hanna menatap ayahnya terus. Satria melirik. "Kenapa lihat Papa terus? ada yang salah sama muka Papa?" tanyanya.
"Maksud Oma tadi apa? emangnya ada berita apa, Papa?" tanya Hanna. Satria bingung harus menjawab apa.
"Emm ... bukan apa-apa. Itu hal kecil. Hanya salah paham. Kamu belum cukup mengerti," jawab Satria, seraya mengusap kepala putrinya.
"Apa karena itu, Papa kemarin lupa dengan Hanna?" tanya Hanna lagi. Memiringkan kepala, ingin melihat reaksi apa yang diberikan Ayahnya.
"Emm ... maafin Papa, sayang. Papa bersalah, Papa sudah minta maaf," jawab Satria. Ia memilih tetap memandang lurus jalanan.
"Jadi benar ya, karena itu. Lalu, mobil Papa kemana? kenapa kita pakai mobil ini?" tanya Hanna lagi.
"Mobil Papa ada sedikit masalah. Harus diperbaiki. Sudah ya? Hanna fokus sekolah hari ini. Papa ada pertemuan penting," balas Satria. Pagi ini Mr. Kyle akan datang kembali.
"Iya, Papa." Hanna mengubah posisi duduknya lurus ke depan.
"Good girl." Satria kembali mengusap puncak kepala putrinya.
Pagi itu berjalan lancar. Satria sampai di sekolah tepat waktu. Lima menit kemudian, Mr. Kyle datang bersama asisten dan timnya.
"Thank you, Sir, for the joyous news. I was so grateful and so happy to hear it. I hope this partnership goes well" ujar Satria. Kabar bahagia ini benar-benar yang diharapkannya. Berharap jalinan kerja sama itu akan terus berjalan lancar.
"You're welcome, Mr. Satria. I also thank you for the meal. Nice hotel and nice food. Thank you very much," balasnya, bangkit dari duduknya, berjabat tangan.
Pertemuan singkat selama tiga puluh menit itu berlangsung begitu saja. Sampai Mr. Kyle harus segera kembali ke negara asalnya, Inggris.
"Iren, tolong pesankan makan siang untuk saya," ujar Satria pada Iren saat stafnya itu membereskan meja diruang meeting.
"Baik, pak." Iren mengangguk, lalu keluar membawa nampan. Memanggil office boy untuk mengurus sisanya.
Satria berdiri di jendela kaca ruangannya, dua tangannya masuk ke dalam saku celana. Ruangannya menghadap persis ke arah parkiran.
Satria kembali teringat awal pertemuannya dengan Kahiyang kala itu. Perdebatan sengit yang justru saat ini membuatnya tersenyum.
"Apa kamu sudah lebih baik?" tanyanya sendiri. Satria ingin tahu kabar terkini Kahiyang.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar. Satria membalikkan badannya.
"Masuk!" titahnya.
Beberapa menu diantar oleh karyawan yang bertugas di kantin Senior High School ditemani Iren. Iren membantu meletakkannya ke atas meja.
"Terimakasih," ujar Satria.
"Sama-sama, Pak." jawab Iren. Keduanya keluar ruangan.
Saat Satria menikmati makan siangnya, Iren mengetuk pintu ruangan kembali.
"Ada apa? kenapa terburu-buru?" tanyanya. Iren wajahnya terlihat panik.
"Pak, putri bapak terluka. Hanna terjatuh dari tangga," ujar Iren. Satria langsung bangkit, meninggalkan ruangannya dengan segera.
"Bagaimana bisa? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Satria pada Iren. Mereka buru-buru menaiki mobil ke lobby Primary, yang jaraknya cukup jauh. Karena letaknya di bagian depan sekolah itu.
"Saya tidak tau, Pak. Tadi Mrs Tasya yang menelfon dan hanya mengatakan hal itu saja." jawab Iren.
Dengan cepat Satria menghentikan mobilnya di lobby lalu berlari ke dalam. Hanna dibawa ke ruang UKS untuk penanganan awal.
"Hanna ..." seru Satria setelah membuka pintu. Hanna yang masih pingsan, sedang diobati luka lecetnya oleh seorang perawat.
"Pak Satria, kita harus bawa Hanna ke rumah sakit. Sepertinya kakinya patah," ucap suster itu. Satria mengangguk setuju.
Hanna dibawa oleh mobil ambulance menuju rumah sakit terdekat. Satria mengikuti dari belakang dengan mobilnya.
Beruntung lalu lintas lengang, Hanna segera sampai di rumah sakit.
"Itu ..." gumam Kahiyang saat melihat Satria berjalan cepat sambil mendorong brankar.
"Siapa, nak?" tanya Brisia menghentikan kursi roda yang didorongnya.
"Bukan siapa-siapa, Ma," Kahiyang menggelengkan kepalanya. Brisia kembali membawa Kahiyang ke taman di sisi kiri rumah sakit.
Satria menunggu putrinya dengan perasaan yang kacau. Putrinya yang masih berusia 7 tahun itu mengalami hal ini.
Ponsel Satria bergetar, satu pesan video masuk. Potongan rekaman CCTV saat Hanna terjatuh dari tangga.
Satria geram melihatnya. Hanna sengaja didorong oleh temannya. Entah karena sebab apa, anak yang masih sekecil itu berani mencelakai putrinya.
"Halo, Pak. Besok pagi suruh orangtua murid tersebut datang ke ruangan saya," ujar Satria, menelfon kepala sekolah *Primary.
"Baik, Pak," jawabnya.
__ADS_1
Satria menghela nafasnya kasar, lalu menghubungi istrinya.
"Halo, sayang. Hanna cidera, sekarang ada dirumah sakit. Bisa kamu pulang? Hanna pasti butuh kamu," ujar Satria. Putrinya pasti membutuhkan perhatian dari ibunya.
"Aku nggak bisa. Aku udah bilang syuting film sebulan. Maaf, kamu aja yang jaga Hanna. Lagian ada Mama. Suruh Mama temani Hanna," jawaban Inggrid membuat Satria kesal. Satria langsung mematikan panggilan itu. Hal yang sia-sia menghubungi istrinya.
"Anak masuk rumah sakit, bisa-bisanya dia santai!" gerutu Satria, memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Satria menunggu di depan ruang IGD selama dua jam, sampai dokter yang mengurus putrinya keluar dan menyuruhnya untuk ke ruangan.
"Begini, Pak Satria," -menampilkan hasil rontgen di bagian kaki kanan Hanna- "bagian ini yang patah dan yang ini sudah saya pasang pen sepanjang ini" terang dokter sambil menunjuk bagian kaki.
"Untuk penyembuhan membutuhkan berapa bulan dok?" tanya Satria.
"Kurang lebih 5 bulan atau bisa lebih. Karena lukanya cukup serius," jawabnya. Satria kembali hancur, bagaimana putrinya bisa melewati ini semua. Masa penyembuhan yang sangat lama.
Satria kembali teringat tentang permintaan Hanna untuk datang melihat penampilannya nanti di pentas akhir semester.
Hanna pasti sedih saat nanti tahu kondisinya. Kakinya tidak bebas bergerak dan sudah dipastikan ia tidak tampil di acara itu.
Satria menguatkan hatinya. Ia harus menyemangati putri kecilnya. Ia harus membesarkan hati Hanna.
Brankar yang membawa Hanna keluar dari ruang IGD. Hanna sudah bisa dipindah ke ruang rawat inap.
Lagi-lagi Kahiyang berpapasan dengan Satria. Namun pria itu tidak menatap Kahiyang, ia tidak sadar karena fokus membawa putrinya masuk ke dalam lift.
Kasihan. Itu pasti putrinya. Batin Kahiyang.
Dan mata mereka beradu saat pintu lift akan tertutup.
"Kahiyang," gumamnya. Sorot matanya tak dapat dipungkiri, kesedihan itu ada. Kahiyang merasakannya.
Kahiyang tersenyum sambil mengangguk.
"Mama kayak pernah lihat laki-laki itu," celetuk Brisia.
"Dia yang kemarin datang, Ma," sahut Kahiyang.
"Ah iya iya. Dia itu pemilik Yayasan Peduli Bangsa, sekolah Bitna sama Brenda, nak. Namanya Satria. Kemarin Papa cerita banyak tentang dia. Ternyata dia suaminya Inggrid Mahira. Artis sinetron yang sering Mama lihat tiap sore. Tapi kasihan, itu pasti putrinya," ujar Brisia panjang. Kahiyang tersenyum kecut saat mendengar nama istri Satria disebut.
Jadi dia pemilik Yayasan. Argh ... stupid! Bisa-bisanya waktu itu aku ribut sama dia. Batin Kahiyang.
To be Continued...
~ Maaf beribu maaf baru update bab baru 🙏🙏🙏
__ADS_1