
Sore itu setelah mereka sampai di bandara dan Satria pergi menggunakan taksi, Inggrid terus menggerutu. Ia tidak habis pikir, ditinggalkan begitu saja oleh suaminya.
Inggrid teringat kembali ucapan Satria satu tahun yang lalu.
Aku mau anak kedua. Hanna sudah waktunya punya adik. Apa kamu nggak bisa vakum dulu selama satu tahun?. Satria.
Enggak. Aku nggak bisa. Aku ada beberapa kontrak yang mengharuskanku berbadan kurus. Aku harus profesional. Inggrid.
Berapa denda yang harus kamu bayar kalau melanggarnya?. Satria.
Ini bukan masalah uang, tapi profesional dan kredibilitas aku sebagai seorang aktris besar. Orang-orang akan menganggapku sebagai aktris yang sombong dan seenaknya, meskipun semua tau kalau suamiku konglomerat. Inggrid.
Perdebatan itu akhirnya berakhir dengan pertempuran sengit di atas ranjang. Inggrid mau melayani suaminya, tapi untuk mengandung anak kedua, tidak.
"Dia dulu yang ngebet banget punya anak lagi. Tapi sekarang? gue beneran curiga, La. Romi harus gerak cepat!" ujar Inggrid dalam perjalanan menuju pulang.
"Apa mas Satria mulai curiga, Mba?" tanya Arila.
Inggrid mulai berpikir. "Nggak mungkin." tepisnya.
"Mas Satria emang berubah, Mba. Kata Uci, Mas Satria jarang tanya kabar Hanna," ujar Arila.
"Kapan ngomongnya?" tanya Inggrid.
"Waktu aku telfon mas Satria tapi nggak diangkat, terus aku telfon Uci. Uci cerita semua. Pernah juga berapa hari nggak pulang ke rumah," terang Arila. Ia menyampaikan apa yang dikatakan oleh suster yang menjaga Hanna.
"Nggak pulang?" tanya Inggrid memastikan apa yang baru didengarnya. Arila mengangguk. Inggrid semakin curiga.
"Apa Mas Satria selingkuh juga?" celetuk Arila. Inggrid memicingkan matanya kesal. "Aku salah ngomong ya? Maaf ... maaf," ucapnya lagi, merasa kikuk ditatap seperti itu oleh artisnya.
"Diem lu! malah bikin gue makin kesel," sungut Inggrid.
Arila menganggukkan kepalanya berkali-kali dan menutup rapat bibirnya.
Sesampainya di rumah, Inggrid mengadukan sikap Satria yang meninggalkannya di bandara pada Melani. Sedangkan Arsyanendra diam mendengarkan.
"Inggrid nggak tau Satria pergi kemana, Ma. Dia langsung pergi naik taksi. Aduh ..." Inggrid berpura-pura pusing. Melani langsung memapahnya untuk duduk.
"Kamu lagi hamil muda. Nggak baik kalau banyak pikiran. Udah biar Satria, Mama yang urus. Kamu istirahat dulu dikamar," ujar Melani.
Inggrid menuruti perintah Mama mertuanya untuk istirahat di kamar. Ponselnya berdering.
"Halo, Abang," sapanya.
"Gimana? Aman? Dia nggak curiga kan?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Aman, Abangku. Tapi ... justru aku yang curiga. Kayaknya dia punya selingkuhan. Dia nggak seneng kalo aku hamil, Bang," ujar Inggrid sambil meraih remot televisi, menyalakan tayangan gosip.
"Selingkuhan? Kamu nggak cari tau?" tanya orang itu lagi.
"Udah. Aku udah suruh Romi. Tapi belum ada kabar lagi," terangnya lalu tersenyum melihat dirinya masuk ke dalam berita gosip. Lalu menunjuk-nunjuk wajah Satria yang muncul dengan kesal.
__ADS_1
"Jangan sampai dia tau hubungan kita, sebelum kamu dapatkan semua aset-aset. Kamu harus cerdik sayang." ujar pria di seberang sana.
"Iya, Abangku sayang." jawab Inggrid dengan suara yang manja.
"Besok ke penthouse, abang rindu," ujarnya sambil mengusap-ngusap dagu.
"Tapi aku nggak janji bisa dateng tepat waktu. Ada mertua di rumah," sahut Inggrid.
"Ada Arila. Biar dia yang atur. Pokoknya besok Abang tunggu di penthouse." ujarnya tidak mau tahu.
"Iya ... iya,"
Sambungan berakhir. Inggrid melempar ponselnya lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Hari menjelang malam, Satria belum juga pulang ke rumah. Melani sudah begitu kesal. Dirinya benar-benar malu dengan sikap acuh putranya pada Inggrid, menantunya. Apalagi setelah mendengar cerita Arila soal Satria yang pernah tidak pulang beberapa hari. Dan diperkuat oleh pengakuan Uci yang membenarkan ucapan Arila.
"Inggrid, Mama pinjam handphonemu," pinta Melani, mengulurkan tangan.
"Untuk apa, Ma?" Inggrid cukup terkejut. Ia takut Mama mertuanya dapat melihat isi ponselnya.
"Telfon Satria. Siapa lagi?" -menyerobot- "Mama nggak bisa terus diam kayak gini," -menggulir, mencari kontak Satria- "istri lagi hamil muda, malah kelayapan. Anak kurang ajar!" gerutu Melani, sembari menunggu dering telefon yang begitu lama tidak diangkat putranya.
"Anak durhaka! Dimana kamu? Kenapa nggak pulang-pulang? Istrimu sedang hamil. Bukannya pulang malah keluyuran. Kemana kamu? ke tempat gadis itu? Iya?" Melani langsung mencecar Satria. Inggrid bertanya-tanya soal gadis mana yang dikatakan Mama mertuanya itu.
"Mama nggak perlu ikut campur! Aku sedang dimana, Mama nggak perlu tau!" Satria mematikan telefonnya lalu melempar ke atas ranjang.
"Anak kurang ajar! Dia matikan telefonnya," Melani sangat marah. Membanting ponsel Inggrid ke atas meja.
"Biar aja! Mama udah nggak ngerti lagi sama itu anak." sungut Melani.
"Jangan gitu dong, Ma. Mama mau punya cucu lagi. Jaga kesehatan. Jangan terlalu diambil hati sikap Satria. Mungkin lagi banyak pikiran soal sekolah, Ma," ujar Inggrid sambil memeluk Melani. Berpura-pura menjadi istri yang sabar dan pengertian.
"Mama malu sama kamu. Kamu artis besar, tapi sangat rendah hati. Mau bersabar untuk putra Mama," Melani menggenggam tangan Inggrid, mengusapnya lembut.
"Inggrid selalu berusaha menjadi istri yang lebih baik, Ma," sahutnya. Melani tersenyum dan menganggukan kepalanya. Rasa bahagia memiliki menantu seperti Inggrid.
Hanna turun digendong oleh susternya setelah selesai menelfon Satria.
"Kenapa, Sus?" tanya Melani.
"Non Hanna sedang batuk tapi mau sama bu Inggrid katanya," jawab Uci lalu menurunkan Hanna.
"Mama ..." Hanna langsung memeluk.
Hanna yang sebelumnya menuruti ucapan Satria untuk beristirahat, seketika lupa saat mendengar suara Mamanya dari kamar. Rasa rindunya sangat besar pada Inggrid.
"Ah anak Mama. Anakku sayang," -memeluk erat, menciumi puncak kepala- "Hanna sakit?" tanya Inggrid.
Hanna mengangguk. "Batuk." Mengeratkan pelukan.
Tak lama terdengar suara ceria Hanna saat mengetahui kalau ia akan memiliki seorang adik. Dan saat itu juga Satria mendengar semua. Satria memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Hanna mau adik bayi perempuan," celetuknya.
"Kenapa harus perempuan?" tanya Inggrid. Hanna sedang memeluk Mamanya seraya menciumi perut yang masih rata.
"Biar bisa main barbie. Kan seru, Ma," jawabnya.
"Ehem ..." Satria berdehem, ikut bergabung.
Semua menoleh ke arah Satria. Melani dan Arsyanendra juga Arila ada disana juga.
"Papa ..." seru Hanna, berlari ke arah Satria.
Satria merentangkan dua tangannya lalu menangkap Hanna, menggendongnya. Inggrid mencebikkan bibir, mencibir.
"Sudah baikan?" tanya Satria pada Hanna. Hanna menganggukkan kepala. "Kenapa tidak istirahat?" tanyanya lagi.
"Hanna sayang, kemari sama oma," Melani menginterupsi. Hanna menoleh.
"Hanna harus istirahat. Ini sudah malam." timpal Satria lalu membawa Hanna ke lantai dua, ke kamarnya.
Arsyanendra berdehem. Satria memicingkan matanya, kemudian meninggalkan ruang keluarga bersama dengan Hanna.
Satria tidak mau Hanna mendengar ocehan-ocehan orang tuanya. Maka dari itu Satria bawa masuk Hanna ke dalam kamar.
"Biar saya yang temani Hanna sampai tidur," ucap Satria pada suster Hanna setelah memberikan obat pada putrinya.
"Baik, Pak."
Satria menepuk-nepuk lembut Hanna agar tertidur, namun putrinya itu masih membuka matanya menatap langit-langit dan diam. Lalu terlontar beberapa pertanyaan.
"Papa tau kalau Hanna mau punya adik?" tanyanya. Satria mengangguk.
"Kenapa Papa tidak senang?" tanyanya lagi. Satria bingung harus menjawab apa.
"Papa nggak sayang Mama lagi?" pertanyaan berikutnya kembali terdengar. Satria masih diam.
"Apa karena kakak cantik itu?" satu pertanyaan ini mampu membuat Satria terkejut.
"Kakak? kakak yang mana?" tanya Satria. Hanna memiringkan badannya menghadap Papanya.
"Yang mengajari Hanna melukis," -mengamati- "Hanna lihat ada foto Papa dan kakak itu di handphone," sambungnya.
Satria sedang tertangkap basah oleh putrinya sendiri.
"Papa suka kakak itu?" -mengamati lagi- "Papa diam. Artinya iya?" pertanyaan berikutnya yang tidak mampu Satria jawab.
"Lalu bagaimana dengan Hanna dan Mama, juga adik bayi?" Hanna terlihat sedih.
"Papa sayang Hanna. Hanna putri Papa," Satria langsung memeluk.
Hati putrinya sungguh lembut. Hanna masih belum mengerti keadaan.
__ADS_1
To be Continued ...