
Satu tahun bergabung di rumah sakit milik Rozi, kinerja Bumi memang terlihat sangat mencolok. Dokter muda yang baru saja lulus itu dapat menangani operasi besar seorang Menteri.
Namanya langsung meroket dan terkenal di lingkungan rumah sakit dan media sosial. Rozi tertarik untuk mengenalkan Bumi pada putri sulungnya, Kahiyang.
"Halo, dokter Bumi. Bisa ke ruangan saya sekarang? ada yang ingin saya sampaikan." ucap Rozi melalui interkom.
Bumi yang baru beberapa kali bertemu dengan Rozi dan belum terlalu mengenal pemilik rumah sakit sekaligus pimpinannya itu. Bumi bertanya-tanya, untuk apa dirinya di perintah untuk menghadap Rozi.
"Baik, dok. Saya segera ke ruangan dokter." jawab Bumi, menyambar jas putihnya lalu memakainya. Ia buru-buru ke lantai 3 dimana ruangan Rozi berada.
Bumi mengetuk-ngetuk pegangan di dalam lift sambil matanya terus melihat ke arah layar yang menunjukkan lantai berapa yang sudah dilewatinya. Kebetulan siang itu rumah sakit tidak terlalu ramai. Dalam pikirannya masih terus bertanya, alasan apa pimpinan rumah sakit memanggilnya secara langsung tanpa memerintah asisten.
Pintu lift terbuka di lantai 3. Ruangan Rozi berada di ujung lorong sebelah kanan. Langkah kaki Bumi berhenti sejenak untuk merapihkan tampilannya saat itu. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya, mengetuk tiga kali.
Pintu dibuka oleh asisten Rozi. "Silahkan masuk dokter!" ucap asisten laki-laki bernama Irwan.
"Baik, terimakasih," Bumi berjalan masuk. Irwan menganggukkan kepala lalu keluar ruangan, menutup pintu.
"Siang dokter Bumi," sapa Rozi, bangkit dari duduknya. Ia mendekati Bumi dan menjabat tangan kemudian merangkulnya untuk duduk di sofa.
Bumi terkejut dengan sapaan ramah Rozi. Pasti sesuatu yang baik yang akan di sampaikan padanya.
"Silahkan duduk!" Rozi mempersilahkan.
"Baik, dok. Terimakasih," Bumi duduk tegap di sofa berhadapan dengan Rozi.
"Santai saja, Nak Bumi," ucapnya. Bumi kembali heran dengan sebutan Nak untuknya.
"Maaf dokter, saya lancang. Saya hanya ingin tahu, alasan apa dokter memanggil saya? apa saya melakukan kesalahan?" tanya Bumi tanpa basa-basi. Ia tidak mau berlama-lama memikirkan penyebab ia harus berada di ruangan Rozi.
"Tentu tidak, Nak Bumi. Tidak ada kesalahan apa pun yang kamu lakukan. Santai saja, anggap kita sedang di luar rumah sakit," ujar Rozi, lalu mengeluarkan ponselnya. Mengirimkan pesan pada Bumi.
Ponsel Bumi di saku bergetar.
"Ada pesan masuk dari saya?" tanya Rozi. Bumi merogoh ponselnya.
Satu pesan dari nomor Rozi. Bumi membukanya lalu mengamati gambar yang ada di layarnya. Sosok gadis cantik yang langsung menarik perhatiannya. Bumi teringat sesuatu.
Satu tahun yang lalu saat Bumi pertama kali bergabung di rumah sakit milik Rozi, mereka berdua pernah bertemu di dalam lift.
Kahiyang sedang menelfon seseorang dengan bahasa asingnya, menarik telinga Bumi untuk mendengarnya. Bumi tersenyum saat Kahiyang melontarkan candaan pada orang dibalik telefon.
"Hei ... kamu curi dengar ya?" tegur Kahiyang. Di dalam lift hanya mereka berdua saja.
Bumi menatap Kahiyang lalu menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Iya, siapa lagi yang ada di dalam lift ini? it's just you and me!" ucapnya dengan nada kesal.
"Maaf, tapi saya punya telinga. Saya tidak tuli, jadi jangan salahkan saya," ujar Bumi, membalikkan badannya menghadap lurus ke pintu lift. Kahiyang mencibir dan pantulan wajahnya sangat jelas terlihat. Bumi menahan tawanya.
Setelah pertemuan itu, Bumi tidak tahu jika Kahiyang adalah putri sulung pemilik rumah sakit. Lalu saat ini ia seperti di ingatkan kembali kenangan itu.
"Itu putri sulung saya. Namanya Kahiyang. Usianya 20 tahun. Dia kuliah di London. Cantik?" Rozi memperkenalkan jati diri putrinya pada Bumi.
Bumi mengangguk saat ditanya seperti itu. Memang Kahiyang cantik, sangat cantik, batinnya.
Rozi tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala. "Jadi ... kamu mau saya kenalkan dengan putri sulung saya?" tanya Rozi lagi.
Tanpa bertele-tele, Bumi menjawab dengan mantap. "Saya mau, dok. Mau sekali," jawaban Bumi sangat memuaskan hati Rozi.
__ADS_1
"Baik. Senin depan, saya kenalkan kamu dengan Kahiyang. Tapi siapkan mental kamu. Putri sulung saya introvert dan tidak ramah. Saya harap kamu bisa mengerti dan bisa menanganinya," ujar Rozi. Bumi menganggukkan kepala.
"Baik, dok. Saya mengerti," jawab Bumi.
Bumi merasa tertantang dan dia sudah mendapat lampu hijau dari ayah Kahiyang langsung.
Selesai menghadap Rozi, Bumi sibuk mencari tahu soal Kahiyang. Ia mengumpulkan semua hal. Sejak kecil dan sampai soal kuliah Kahiyang di Inggris. Bumi mempelajari apa itu Art. Apa itu Kurator Seni Kontemporer. Tak luput juga pemberitaan tentang Kahiyang bukanlah putri kandung dari istri Rozi saat ini yaitu Brisia Wiryawan.
Bumi mengetahui kenyataan bahwa Kahiyang hanyalah putri yang terlahir tanpa status pernikahan orang tuanya. Ibu Kahiyang namanya tidak pernah diketahui, seperti memang sengaja di rahasiakan.
Dan waktunya tiba. Bumi bergegas ke ruangan Rozi dengan tampilan yang rapih dan wangi. Tak lupa kaca mata bertengger di hidungnya. Menampakkan kesan pintar dan cerdas.
Bumi mengetuk pintu ruangan Rozi di lantai 3.
"Selamat pagi, dok," sapanya. Menatap Rozi lalu Kahiyang. Cantik sekali, batinnya. Menatap Kahiyang tanpa berkedip.
"Pagi,"
"Nak, ini Bumi. Dokter muda lulusan UI," ujar Rozi memperkenalkan Bumi pada Kahiyang.
Kahiyang menatap Ayahnya dengan mengerutkan kening. Rozi langsung merangkul bahu Kahiyang, meremasnya sedikit.
Kahiyang menurut, mengulurkan tangan.
"Kahiyang," ucapnya.
"Bumi," balasnya.
Kahiyang hanya diam mendengarkan Rozi berbicara ini itu. Bumi sama cerewetnya.
"Kebetulan saya tau banyak tentang seni kontemporer. Saya juga suka melukis," ujar Bumi. Ia ingin mendapatkan perhatian Kahiyang.
Perkenalan itu tidak berlangsung lama. Bumi sudah harus masuk ke ruang oprasi.
"Nanti kalian makan siang bersama. Papa sudah pesankan tempat di cafe rumah sakit," ucap Rozi. Kahiyang menatap Ayahnya lagi.
"Baik, dok. Lunch nanti, saya jemput Kahiyang disini," ucap Bumi.
"Nggak perlu! Langsung di cafe saja," tolak Kahiyang. Bumi mengangguk.
Dan siang itu, Kahiyang menuruti semua yang direncanakan oleh Rozi. Lunch di cafe rumah sakit, lantai dasar.
Kahiyang menghormati Ayahnya dan juga menghargai keberanian Bumi.
"Kata dokter Rozi, kamu kuliah di London," ujar Bumi.
"Iya." jawab Kahiyang, lalu memasukkan salad ke dalam mulutnya.
"Kenyang makan salad aja?" tanya Bumi.
"Sudah biasa," jawab Kahiyang singkat lagi.
"Kamu udah cantik, badan kamu juga bagus. Sebaiknya tidak perlu diet lagi. Yang terpenting makan makanan yang sehat dan juga olahraga. Weekend ini mau olahraga bareng?" ujar Bumi. Agar semakin dekat dengan Kahiyang, ia akan meminta ijin pada Rozi untuk mengosongkan jadwalnya di akhir minggu. Demi putri sulungnya, pasti Rozi tidak akan menolak.
"Aku sibuk. Aku bisa olahraga sendiri. Terimakasih untuk ajakannya." Kahiyang menolak.
Makan siang yang terbilang singkat dan Kahiyang hanya menjawab seperlunya saja tanpa mau ingin tahu latar belakang Bumi seperti apa.
Reaksi Kahiyang datar, karna ia sudah bisa menebak saat Bumi berbicara. Pria di hadapannya tadi berniat lebih jauh lagi. Bukan hanya sekedar mengenal.
__ADS_1
"Sial! Angkuh banget! Sombong! Pelit ngomong!" cibir Bumi setelah mengantarkan Kahiyang di lobby rumah sakit.
*****
Sore harinya, Rozi datang ke ruangan Bumi.
"Ikut saya makan malam di rumah. Saya akan kenalkan kamu dengan istri dan juga adik-adik Kahiyang. Kalian harus saling mengenal. Dan terus berusaha menaklukan hati putri sulung saya. Kamu bersedia?" ajakan Rozi tidak ditolak mentah-mentah oleh Bumi. Tentu ia mau dengan senang hati.
"Saya bersedia, dok," jawabnya.
"Oke, saya tunggu di lobby pukul tujuh. Jangan terlambat! istri saya sedang menyiapkan menu makan spesial untuk kamu," ucap Rozi lagi.
"Baik, dok. Saya akan tepat waktu," jawab Bumi.
Kedatangannya ke kediaman Rozi malam itu tidak disambut dengan senyuman oleh Kahiyang. Kahiyang terus saja acuh dan membuang muka.
"Hai, kita ketemu lagi," sapanya.
"Hemm," jawab Kahiyang tanpa menoleh.
"Kahi ..." seru Rozi memberi peringatan untuk bersikap ramah pada Bumi.
"Papa ..." memasang wajah memelas.
"Tidak apa-apa, dok. Mungkin kehadiran saya tidak tepat. Maafkan saya, Kahiyang," ucap Bumi pada Rozi lalu beralih pada Kahiyang.
Kahiyang terdiam menggenggam sendok di tangan kanannya lalu garpu di tangan kirinya.
"Oh tentu tidak, nak Bumi. Kahiyang baik-baik saja kok. Iya kan, Kahi?" ucap Brisia lalu memandang Kahiyang yang wajahnya sudah berubah kesal.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman denganku, katakan Kahiyang," ujar Bumi.
"Kalau aku jawab iya, apa kamu mau mengakhiri pendekatan ini ke Papa?" tanya Kahiyang tegas.
Bumi menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku tidak akan berhenti sekarang. Kalau kamu tidak nyaman denganku, aku akan berusaha merubahnya. Aku akan berusaha membuatmu nyaman." timpal Bumi. Tekadnya memang terlihat sangat kuat.
Kahiyang berdecih. "Kamu terlalu optimis dan juga keras kepala. Aku tau tujuan kamu menerima ajakan Papa. Jadi jangan coba-coba membodohiku!" -bangkit- "sudah malam. Pulang gih. Aku capek!" ucapnya.
Bumi menarik lengan Kahiyang saat akan ditinggal pergi begitu saja. "Aku tidak membodohimu. Aku sungguh-sungguh ingin mencoba hubungan yang lebih jauh lagi. Meskipun kamu mengacuhkanku, aku akan terus berusaha sampai kamu jadi milikku!" ujar Bumi. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.
"In your dreams! Lepas!" Kahiyang menyentak tangan Bumi lalu pergi masuk ke dalam dan terus berlari menaiki anak tangga.
Bumi memandangnya sambil tersenyum sinis. "Bukan dalam mimpiku saja Kahiyang. Kamu akan menangis, bertekuk lutut bahkan memohon padaku!" gumamnya.
Bumi berpamitan pada Rozi dan Brisia. "Terimakasih untuk makan malamnya, dok," ucapnya pada Rozi.
"Maaf bu, saya sudah merepotkan. Masakannya sangat enak. Terimakasih banyak. Suatu kehormatan, saya diundang makan malam keluarga dokter," ucapnya pada Brisia, lalu menjabat tangan Rozi.
"Tidak merepotkan. Tidak sama sekali. Saya senang, Nak Bumi mau datang ke rumah kami. Saya berharap ada makan siang atau makan malam berikutnya," ujar Brisia.
"Baik, bu."
"Terimakasih juga sudah mau datang. Saya ingin kamu lebih bersabar lagi menghadapi Kahiyang. Dia anak yang baik, ramah juga ceria di rumah. Jangan putus asa!" ucap Rozi, menepuk-nepuk pundak Bumi.
"Baik, dok."
Bumi diantar sopir pribadi Rozi ke apartemennya. Mobilnya ia tinggal di rumah sakit.
Aku yakin bisa tundukin kamu, Kahiyang. Orangtuamu saja mendukungku. Kamu tidak akan bisa mengelak. Kamu harus menjadi istriku nanti! gumamnya saat melihat mobil Rozi pergi dari hadapannya di lobby apartemen.
__ADS_1
To be Continued...