Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
42 : Kahiyang & Alsya


__ADS_3

Kahiyang duduk didepan cermin, menatap pantulan wajahnya yang sembab. Hatinya sama rapuhnya. Bumi menghancurkan semua. Dua kali rasa sakit itu ia rasakan.


Satria pria pertama yang mampu meluluhkan hati Kahiyang, meskipun hubungan mereka salah. Satria berusaha mempertahankannya, namun kenyataan pahit datang. Kabar istri Satria yang pingsan karena sedang mengandung, membuat posisi Satria tersudut.


Kahiyang kecewa, sakit hati dan putus asa. Siapa lagi yang membuat istri Satria hamil, kalau bukan Satria sendiri. Pikir Kahiyang. Menjadi gadis bodoh untuk pertama kalinya. Pengalaman pertama soal percintaan yang menyakitkan.


Dan Bumi datang menghiburnya, memberikan jalan keluar yang akhirnya ia setujui. Mau menerima rencana perjodohan dari Ayahnya, untuk menikah dengan Bumi.


Saat itu Kahiyang memiliki harapan yang cukup tinggi pada Bumi. Menjadi pasangan yang saling mencintai tanpa harus menyakiti atau pun menjadi penyebab kehancuran sebuah keluarga.


Namun semua hancur berantakan. Kahiyang tidak mendapatkan salah satunya. Bumi membohonginya, begitu juga Satria.


"Pesanku sama sekali nggak di baca," gumam Kahiyang, mengamati layar ponselnya. Pesan untuk Alsya dari semalam sama sekali tidak dibaca.


"Aku disini juga korban. Tapi kenapa marah? aku juga udah kasih dia kesempatan buat gantiin aku," ujar Kahiyang lagi. Merasa kesal pada Alsya.


Baginya sungguh tidak adil kalau dirinya disalahkan dalam permasalahan kemarin.


"Cowok sialan! semuanya sama!" makinya, lalu melempar ponsel ke atas kasur.


Kahiyang membuka lebar pintu balkon kamarnya. Berdiri bersandar pada pagar, memandang langit yang cerah pagi itu.


"Aku harus kembali ke London. Mungkin disini bukan tempatku. Lebih baik aku cepat pergi dari sini," ucap Kahiyang.


"Jangan gegabah. Jangan jadikan itu sebuah pelarian," celetuk Brisia. Muncul dari dalam kamar Kahiyang.


"Mama ...," serunya terkejut.


"Mama nggak mau kamu mempercepat keberangkatan ke London karena ingin lari dari masalah kemarin. Mama ingin kamu pergi dengan hati yang tenang. Mama mau tahun depan terbang ke London untuk acara wisudamu. Cari kebahagiaanmu disana. Jodoh tidak ada yang tau datangnya dari mana," ujar Brisia lalu mencubit pipi kiri putri sulungnya.


Kahiyang mengangguk sambil tersenyum. "Kahi janji, Ma. Tahun depan, Kahi wisuda. Kahi mau bikin Mama Papa bangga," balasnya.


"Bukan cuma Mama Papa yang bangga. Ibu Kiran juga pasti bangga," timpal Brisia. Mereka saling berpelukan.


Tidak ada hal yang indah, seindah menyaksikan kedekatan seorang putri tiri dengan ibu sambungnya. Orang lain tidak akan menyangka kalau mereka bukan ibu dan anak kandung. Kasih sayang yang luar biasa. Kahiyang merasa sangat beruntung.


"Terimakasih, Mama selalu ada untuk Kahi," ucap Kahiyang, masih memeluk Brisia. Brisia memberikan anggukan dan usapan lembut di punggung putrinya.

__ADS_1


Sore harinya, Kahiyang dibantu kedua adiknya memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Kahiyang memutuskan untuk mempercepat dua hari jadwal keberangkatan menuju London.


"Kakak nggak coba hubungin kak Alsya lagi?" tanya Bitna.


"Iya, kak. Nggak enak rasanya kalau pergi tapi masih ada masalah," imbuh Brenda.


Kahiyang menyodorkan ponselnya, memperlihatkan beberapa pesan yang dikirimnya pada Alsya. "Sama sekali belum dibaca. Terus aku harus gimana? tapi ini bukan salahku juga. Kenapa dia sewot sama aku?" ujar Kahiyang.


"Mungkin kak Alsya masih bete sama kakak. Jadi dia sengaja nggak mau buka pesan dari kakak," celetuk Brenda. Bitna menyikut adiknya, memperingatkan bahwa Brenda sudah salah bicara.


Wajah Kahiyang memerah. Bibirnya sudah komat kamit dan ingin mengumpat.


"Lupakan! Lupain aja soal pesan kakak itu. Ayok, kita lanjut packingnya! Mana lagi yang harus dimasukin?" tanya Bitna, mengalihkan pembicaraan.


Kahiyang menunjuk wajah Brenda. "Ambilin tas hitam di lemari paling bawah sebelah kiri!" titahnya.


"Iya ... iya," Brenda langsung bangkit, berjalan cepat ke ruang wardrobe. Sedangkan Bitna tertawa kecil sambil menunduk, menekuni pakaian-pakaian milik Kahiyang.


"Dasar!" cibir Kahiyang melihat tingkah kedua adiknya.


Tak terasa tiga jam berlalu. Saat ini mereka sekeluarga sedang duduk manis menikmati makan malam. Makan malam terakhir bersama. Besok malam, Kahiyang sudah akan terbang menuju London. Kembali menjalani rutinitas sebagai mahasiswi seni.


"Nenek kenapa?" tanya Kahiyang, mengusap tangan Airin.


Semua menatap Airin yang akhirnya meneteskan air mata.


"Kok nangis sih?" Kahiyang menyeka air mata neneknya.


Semua mengerti apa yang dirasakan Airin. Dan semua tahu bagaimana Airin begitu menyayangi Kahiyang.


Airin yang masih memakai kursi roda, menggerakkan kedua roda menghadap Kahiyang.


"Doakan nenek cepat pulih. Nenek akan sering-sering jenguk kamu ke London. Jangan pulang ke Indonesia, menetaplah disana. Cari kebahagiaanmu sendiri," pesan Airin. Menurutnya pengalaman kemarin sudahlah cukup bagi Kahiyang yang masih terhitung belia. Airin tidak mau cucunya teringat kembali kenangan itu.


"Tapi, bu. Kahiyang putriku. Bagaimana bisa dia menetap disana? Justru menambah kekhawatiran," protes Rozi.


"Semua gara-gara kamu! Diam dan untuk kali ini cucuku harus menuruti apa ucapanku!" tegas Airin.

__ADS_1


Brisia menahan suaminya yang kembali ingin mengatakan keberatannya.


"Iya, nek. Kahi setuju. Kahi akan menuruti perkataan nenek. Jangan memarahi Papa." ujar Kahiyang, kembali mengusap punggung tangan Airin yang keriput karena usia.


"Terus aku gimana?" -semua mata mengarah ke sumber suara- "aku harus ke London juga? cuma buat ketemu kamu, kangen-kangenan? cih ..." Alsya berdecih, melayangkan protesnya.


"Kak ..." Kahiyang bangkit dari duduknya. Semua ikut lega dan tersenyum melihat Alsya datang.


"Apa? segitu bencinya sama aku, terus buru-buru mau pergi?" Alsya merentangkan kedua tangannya setelah memberikan shoulder bag pada Chris. Alsya menyambut Kahiyang, ingin segera berpelukan.


"Kakak ..." Kahiyang berhamburan, menyambut sepupunya itu.


"Dasar adik nakal!" cibir Alsya. Kahiyang tersenyum dan matanya berkaca-kaca.


"Maaf ... aku minta maaf," ucap Kahiyang. Meskipun bukan kesalahannya, namun Kahiyang merasa semua terjadi karena ada andil dirinya.


"Untuk apa? Laki-laki sialan itu?" tanya Alsya. Kahiyang mengangguk perlahan.


"Stupid!" ujar Alsya, menoyor kepala Kahiyang.


"Duduk sini dong. Kita makan malam sama-sama," ajak Bitna, sambil melirik ke arah Chris.


Kahiyang merangkul lengan Alsya, mendekat ke arah meja makan dan semua keluarga.


"Siapa?" tanya Bitna setelah memberikan kursinya untuk Alsya duduki.


"Siapa?" tanya Alsya, lalu mengikuti arah pandang Bitna. Seketika Alsya mencubit paha mulus sepupunya itu.


"Aw ... Kenapa nyubit sih? Sakit, kak." Bitna mengaduh. Semua ikut melihat sosok laki-laki yang masih tegap berdiri.


"Jangan macem-macem kamu! He's mine!" ujar Alsya dengan tekanan, sambil memandangi Chris. Sang ajudan.


"Hah? Cepet banget move on nya," celetuk Brenda. Alsya menatapnya sinis.


Rozi, Airin, Brisia juga Kahiyang ikut tersenyum. Mereka lega.


Pada akhirnya Alsya dan Kahiyang kembali berbaikan. Sudah tidak ada ganjalan di hati keduanya. Mereka sama-sama merelakan. Kahiyang dapat kembali ke London dengan perasaan tenang dan bahagia.

__ADS_1


Dan di sisi lain, Satria masih dengan kekacauannya. Ia memutuskan untuk cuti beberapa hari ke Australia.


To be Continued ...


__ADS_2