
"Bagaimana bisa?" tanya Satria lagi.
"Ada sesuatu yang merubah pikiran kak Kahiyang. Untuk lengkapnya, saya tidak bisa mengatakannya, pak," jawab Bitna.
"Tapi kenapa dia dan Bumi seolah-olah mereka sudah menikah?" pertanyaan yang langsung membawanya pada pertemuannya dengan Bumi dan juga Kahiyang.
Bitna menggelengkan kepalanya, karna tidak tahu harus menjawab apa.
Saat di bandara kala itu, Satria dan Kahiyang bertemu. Hanya saling menatap, namun Satria tidak bisa merengkuh tubuh Kahiyang karena terhalang status sebagai istri Bumi. Begitu bodohnya Satria, sama sekali tidak ada kecurigaan pada hubungan mereka.
Kini semua sudah jelas dan terang. Kekasihnya dulu masih berstatus single. Ada secercah harapan untuknya bisa kembali bersama.
Dari pertemuannya dengan Bitna, Satria berulang kali ingin menghubungi Kahiyang. Rasa bahagia membuncah dalam dada. Janjinya pada Hanna akan mengunjungi Kahiyang ke London, sepertinya akan benar-benar terwujud.
Saat pikirannya tertuju hanya pada Kahiyang, Iren masuk ke ruangan untuk mengingatkan acara pameran seni di gedung kesenian kota akan dilaksanakan sabtu depan. Seketika senyumannya mengembang. Kahiyang akan pulang ke Indonesia.
Satria terus menatap foto Kahiyang di ponselnya. Satu foto yang belum dihapusnya, Satria sengaja menyimpannya.
"Sebentar lagi kita bertemu. Kupastikan akan langsung memelukmu," gumamnya, terus memandangi layar ponsel. Satria ingin segera bertemu.
Memendam perasaan bahkan berusaha untuk melupakan, nyatanya tidak semudah itu. Status Kahiyang yang sebenarnya, membawa angin segar bagi Satria. Dia tidak akan lagi mencoba untuk melupakan Kahiyang. Satria akan memperjuangkannya lagi, meskipun harus menunggu sampai bayi dalam kandungan Inggrid terlahir ke dunia.
Wajah bahagianya mengundang keheranan Iren. Setelah sekian lama, senyuman itu kembali terbit. Satria keluar ruangan membawa paperbag berisi barang-barang yang dibelinya di acara Market Day untuk Hanna.
Meletakkan paperbag di kursi sisi kirinya. Satria mulai menginjak pedal gas, menuju rumah. Dalam suasana terbaiknya, Satria bernyanyi di dalam mobil. Di putarnya lagu-lagu cinta dengan volume cukup keras. Seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
Lagu Glenn Fredly - Romansa ke Masa Depan
🎶
Denganmu romansa tetap menggebu (menggebu-gebu)
Percikan awal pesona, oh, engkau terindah, yeah
Abadi, tetaplah mewangi
(Memori) Oh, semuanya kembali ke masa depan, ho-uh
Engkau dan aku akan selalu menyatu
Takkan pernah tergantikan
Kisah kita 'kan tetap abadi
Engkau dan aku akan selalu menyatu
__ADS_1
Takkan pernah tergantikan
Kisah kita 'kan tetap abadi selama-lamanya
Satria sedang mabuk cinta. Hari sabtu terasa sangat lama.
"Hanna dimana?" tanya Satria pada asisten rumah tangganya di ruang makan.
"Ada di kamar, pak," jawabnya lalu undur diri.
Satria menaiki anak tangga ke arah kamar Hanna, mencari keberadaan putrinya.
"Hanna, ini Papa," serunya setelah mengetuk pintu lalu membukanya perlahan.
"Sedang apa anak Papa?" tanya Satria. Tangan kirinya menenteng paperbag yang disembunyikan di balik badan.
"Main game," jawab Hanna singkat.
"Papa punya hadiah untuk Hanna," ucapnya, memberikan paperbag itu.
Hanna terlihat tertarik dengan isinya. Barang yang pertama kali dikeluarkannya sama persis dengan dugaan Satria. Frame kecil lukisan milik Kahiyang di tatapnya lekat-lekat. Matanya berbinar-binar.
"Hanna suka lukisan ini?" tanya Satria, melihat putrinya terus memandangi frame itu.
"Hanna mau tau siapa yang melukisnya?" tanya Satria lagi.
"Siapa Papa? Apa Hanna tau orangnya?" Hanna penasaran, ingin tahu.
"Huruf ini, nama depannya," menunjuk inisial huruf K di pojok kanan bawah.
"K?" -mencoba menebak- "Kakak Kahiyang? Iya Papa? Ini lukisan kakak cantik?" Hanna bertanya berulang-ulang seraya terus mengembangkan senyumannya.
Satria mengangguk. "Iya, ini lukisan kakak cantik," ucapnya.
Hanna bersorak gembira, melompat-melompat di atas kasur lalu turun meraih frame itu, dipeluknya. Satria turut tertawa, mengusap-usap kepala putrinya.
"Kakak cantik ada di Indonesia?" tanya Hanna.
"Dia masih di London. Lukisan ini adik kakak Kahiyang yang memberikannya pada Papa. Katanya ini hadiah untuk Hanna," terangnya.
"Really??" Satria mengangguk, Hanna kembali berteriak senang.
Magnet Kahiyang begitu kuat. Putrinya yang tidak pernah sebahagia ini, membuat Satria semakin yakin jika Kahiyang bisa menjadi ibu sambung Hanna, nanti. Angan-angan seorang Satria.
"Pokoknya Hanna mau ke London. Hanna mau ketemu sama kak Kahiyang. Papa harus mau!" ujarnya tegas.
__ADS_1
"Iya, sayang," Satria menahan diri untuk tidak mengatakan pada Hanna jika Kahiyang akan pulang ke Indonesia, minggu depan. Satria ingin pertemuannya nanti khusus hanya dia dan Kahiyang saja.
Khayalan Satria, dapat merengkuh tubuh Kahiyang, memeluknya erat lalu menciumnya dalam-dalam. Kahiyang harus tau bahwa dirinya selalu menunggu dan cinta itu tidak akan pernah hilang.
******
"Apa setelan jasnya sudah diantar, Iren?" tanya Satria pada stafnya.
"Sebentar lagi, pak. Orang butik sudah sampai di parkiran," jawab Iren.
Hari itu, hari yang ditunggu-tunggu Satria. Hari dimana pameran seni akan dibuka sore ini. Satria terlihat cukup gelisah. Jantungnya berdebar, sore nanti ia akan bertemu dengan Kahiyang untuk pertama kali, setelah beberapa bulan lamanya.
Satria duduk di kursi kebesarannya dengan terus mengetuk-ngetukan jarinya ke lengan kursi. Membayangkan bagaimana pertemuannya nanti. Pasti Kahiyang sangat cantik.
"Pak, setelan jasnya sudah sampai," ucap Iren, masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Tangannya membawa satu setelan jas berwarna hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu.
"Oke, tolong gantungkan di dalam lemari," pinta Satria, menunjuk kamar khusus di pojok ruangan.
"Baik, pak," Iren berlalu, masuk ke dalam kamar itu.
Dengan penampilan yang selalu rapih dan sempurna, Satria terlihat sangat tampan dengan setelan jas itu. Ia terus tersenyum di dalam mobilnya. Sebentar lagi akhirnya bertemu dengan pujaan hati.
Sebelum turun, Satria merapihkan lagi penampilannya sore itu. Ia harus terlihat sempurna saat bertemu Kahiyang.
"Halo, Pak Satria. Senang bertemu dengan anda," sapa Idris, perwakilan dari kementrian kebudayaan.
"Senang bertemu dengan anda juga," balas Satria, menjabat tangan.
Acara pembukaan di adakan di lobby gedung. Terdapat panggung yang tidak terlalu besar dengan background bergambar punggung seorang ibu dan putrinya yang sedang menatap lukisan.
Kahiyang memilih gambar itu karna memiliki makna yang dalam. Kenangan kecilnya dulu saat hidup berdua dengan ibunya, Kiran. Ibu yang memiliki keahlian melukis dan menjadi guru lukis private di rumah-rumah orang kaya.
Kecintaannya pada melukis menurun dari ibunya. Kenangan singkat yang selalu Kahiyang simpan dalam hatinya. Ibu Kiran.
Satria duduk di barisan depan dengan beberapa orang penting dan juga promotor lainnya. Kahiyang belum terlihat sama sekali. Satria gelisah, mengedarkan pandangannya ke pintu masuk dan sudut-sudut gedung.
'Apa dia tidak datang?' gumamnya dalam hati.
Terus melamun beberapa menit, suara heels terdengar ke arah panggung. Satria memfokuskan kembali pikirannya, menatap seseorang yang berjalan ke atas panggung.
"Kahiyang ..." ucap Satria.
To be Continued...
__ADS_1