Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
71 : Tidur Bersama


__ADS_3

"Satria, Mama mau bicara," ucap Melani, setelah selesai makan malam.


Satria tidak mau lagi menghindar, ia harus katakan malam itu juga.


"Mau bicara apa, Ma?" tanya Satria. Mereka masih di ruang makan. Hanna sudah terlebih dulu ke kamarnya diantar oleh pengasuh.


"Apa benar kamu bertemu dengan gadis itu?" tanya Melani.


"Kahiyang?" balas Satria. Melani mengangguk pelan. Setelah ditipu mentah-mentah oleh mantan menantunya, Melani sedikit berubah, tidak berapi-api seperti dulu.


"Bukan hanya bertemu. Aku, Hanna dan Kahiyang satu kamar, satu ranjang!" ujar Satria lantang tanpa perduli ibunya akan naik pitam.


"Jangan sembarangan kamu, Satria! Kamu tau latar belakang gadis itu. Bagaimana dengan nama baik keluarga kita?" mendengar jawaban putranya, Melani tersulut emosi. Suaranya meninggi.


"Nama baik keluarga yang mana? Menantu kesayangan Mama dulu yang sudah mencoreng nama keluarga kita! Kahiyang gadis yang baik dan aku cintai. Hanna juga suka dengan Kahiyang. Mereka sangat dekat." terang Satria dengan nada yang sama tingginya.


"Karena itu, jangan kamu tambah lagi Satria! Kali ini demi Mama. Berkorbanlah kali ini demi Mama. Tolong jangan lanjutkan lagi hubunganmu dengan gadis itu," pinta Melani, kedua tangannya memohon.


Satria kesal, "tidak! Kalau Mama terus seperti ini, aku akan pergi membawa Hanna dan menikahi Kahiyang sekarang juga!"


Setelah berkata seperti itu, Satria pergi ke kamarnya. Melani diam terpaku menutup mulutnya. Air matanya sudah turun sejak tadi. Kali ini Satria tidak akan merubah keputusannya. Ia akan tetap menikahi Kahiyang.


Sejak perdebatan dengan Melani, Satria tidak mau bertemu atau mengunjungi rumah orang tuanya. Satria benar-benar bertekad untuk menikahi Kahiyang nanti.


Satria memilih menyibukkan diri dengan bekerja dan mengurus Hanna, agar rasa rindunya pada Kahiyang teralihkan. Bagaimana tidak rindu? jarak London dan Indonesia begitu jauh. Terlebih Kahiyang sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan kuliahnya.


Hari berganti hari, begitu juga bulan berganti bulan. Dan tahun pun akan segera berganti. Satria dan Hanna hanya dirumah saja untuk menghabiskan malam pergantian tahun.


Keduanya duduk di taman belakang dengan jagung bakar di tangan.


"Papa, Hanna rindu kakak cantik," celetukannya sukses membuat raut wajah Satria semakin di tekuk.


"Papa juga," jawabnya singkat, kembali menggigit jagung bakar.


"Kakak juga rindu Hanna," suara khas yang sangat mereka kenal.


Hanna dan Satria menoleh ke arah belakang. Kahiyang sudah berdiri di ambang pintu dengan dress selututnya dan rambut yang di pangkas sebahu. Sangat cantik dan segar.


"Kakak ..." seru Hanna.


"Kahi ..." seru Satria, bebarengan.


Keduanya menghambur dalam pelukan. Satria terus menciumi puncak kepala kekasihnya itu, sedangkan Hanna memeluk pinggang Kahiyang. Rasa rindunya sedikit terobati.


"Boleh kakak bergabung?" tanya Kahiyang pada Hanna yang masih memeluknya.


"Tentu boleh," -mengangguk- "ayok, ikut Hanna! Kami buat jagung bakar. Seruuuu sekali," celotehnya sambil terus menarik tangan Kahiyang. Dan Satria turut mengikuti di belakang dengan senyuman merekah.

__ADS_1


Satria melihat dua punggung orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kahiyang dan Hanna sibuk membakar jagung lalu mengolesinya dengan saus manis pedas.


"Kenapa tidak beri kabar?" tanya Satria, memeluk Kahiyang dari belakang.


Kekasihnya itu menoleh dan tersenyum lalu mengecup pipi kiri Satria. "Surprise ... Kaget tidak?" tanyanya. Satria mengangguk kemudian mengeratkan pelukannya.


Mulai malam itu Kahiyang dan Satria tidak lagi menutupi hubungan mereka pada Hanna. Putri kesayangan Satria itu sudah mengetahui hubungan antara kakak cantik dan juga ayahnya.


Mendengar Kahiyang akan menjadi ibu sambungnya, Hanna begitu antusias. Hanna ingin secepatnya Kahiyang benar-benar menjadi ibunya.


"Papa ... Hanna ngantuk," ucap Hanna lirih, sambil menguap. Kepalanya sudah menyandar pada lengan Kahiyang.


"Oke, kita masuk. Malam juga sudah larut," ujar Satria, bersiap menggendong Hanna.


"Tapi Hanna mau tidur dengan kakak," pintanya dengan mata yang sudah sayu, lalu merebahkan kepalanya pada pundak Satria.


Satria dan Kahiyang saling bertatapan, sama-sama menunggu jawaban. Sedangkan Hanna sudah tertidur dalam gendongan.


"Apa tidak apa-apa kalau aku menginap?" tanya Kahiyang, berjalan di samping Satria menuju lantai atas, dimana kamar Hanna berada.


"Tidak masalah. Justru aku sangat menginginkannya," jawab Satria seraya mengedipkan mata genit.


Kahiyang mencubit lembut lengan Satria. "Jangan macam-macam!" ancam Kahiyang. Satria terkekeh.


"Apa kamu tidak rindu denganku?" Satria kembali meledek. Kahiyang membukakan pintu kamar.


"Kalau begitu, beri aku ciuman!" ujar Satria, kedua tangannya sudah menangkup pipi Kahiyang.


"Ada Hanna. Nanti kalau dia lihat bagaimana?" tanya Kahiyang lirih.


"Dia sudah tidur," -mengecup satu kali- "atau mau ke kamarku?" tanya Satria.


Kahiyang menggelengkan kepalanya, "jangan! Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku mau kita melakukannya lagi setelah menikah," ucapnya, menolak secara halus.


"Hanya ciuman saja. Aku janji. Aku sangat merindukanmu. Bayangkan ... sudah enam bulan lebih kita tidak bertemu. Aku ingin memelukmu sampai pagi," ujar Satria, lalu menarik Kahiyang keluar dari kamar Hanna menuju kamarnya.


Kahiyang menuruti saja. Asal hanya berpelukan saja, tidak melakukan hubungan intim seperti di Paris waktu itu.


Satria menutup pintu lalu memeluk Kahiyang erat. Rasanya sangat-sangat rindu.


"Kenapa baru sekarang kamu datang?" tanya Satria.


"Biar kamu makin cinta," jawab Kahiyang sambil mencubit pipi Satria.


"Emm ... Cinta ya? Sepertinya tidak," elak Satria dan Kahiyang mengerucutkan bibirnya kesal, lalu Satria tertawa.


"Tentu saja cintaku semakin dalam. Kalau perlu pagi nanti kita menikah. Bagaimana?" tanya Satria. Kahiyang kembali mencubit pinggang duda tampan yang masih berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Jangan mengada-ada! Kamu belum mendapatkan restu dari Papa, Mama, juga keluarga besarku," jawab Kahiyang, melepaskan kedua tangan Satria yang berada di pinggangnya. Kahiyang beralih duduk di sofa panjang di depan ranjang besar milik Satria.


"Aku sudah mengatakannya. Kita akan menikah meskipun tanpa restu dari orang tuamu," ucap Satria, duduk di samping Kahiyang.


"Berusahalah terlebih dulu. Kalau memang restu tidak kita dapat, kita akan tetap menikah," kata Kahiyang sembari mengusap lengan Satria.


Mendengar perkataan Kahiyang, Satria semakin bersemangat. Kahiyang akan benar-benar menjadi miliknya.


Satria sudah tidak dapat membendung lagi rasa rindunya. Keduanya berciuman cukup lama dan semakin memanas.


Awalnya hanya berciuman, namun gairah itu tetap ada dan muncul tak dapat dibendung lagi.


Tubuh bagian atas Kahiyang dan Satria sudah sama-sama tak terbalut apa pun. Suara merdu keluar dari bibir Kahiyang kala puncak dadanya sedang dipuja Satria.


"Masss ..." suara Kahiyang terdengar gelisah dan terus menggelengkan kepalanya. Satria membungkam bibir Kahiyang dengan menciumnya rakus. Sedangkan tangannya terus bergerak.


"Papaaa ...." seru Hanna dari balik pintu, mengetuk-ngetuk cukup keras.


Kahiyang langsung mendorong Satria hingga terjungkal di atas kasur.


"Cepat pakai bajunya, Mas!" ucap Kahiyang. Mereka berdua kelabakan, buru-buru menyambar pakaian lalu memakainya.


Kahiyang duduk di atas sofa, berpura-pura sedang membaca buku. Dan Satria membuka pintu.


"Papa, mana kak Kahiyang?" tanya Hanna. Satria memundurkan tubuhnya agar Kahiyang terlihat.


"Kakakkk ..." teriak Hanna, langsung memeluk Kahiyang.


"Ini masih malam, kenapa sudah bangun?" tanya Kahiyang selembut mungkin. Padahal dadanya berdegup kencang dan nafasnya cukup ngos-ngos an karena terkejut sekaligus terburu-buru memakai bajunya tadi.


Kalau saja Hanna tidak mengetuk pintu, mungkin saat ini Kahiyang dan Satria sedang melakukan hal terlarang itu lagi.


"Hanna kan sudah bilang, kalau mau tidur dengan kakak. Tapi kenapa kakak ada di kamar Papa? Berduaan?" tanya Hanna polos.


Kahiyang terbatuk dan Satria berdehem, menghilangkan kegugupan.


"Emm ... Tadi kaki kakak pegal. Kakak minta tolong Papa untuk pijatkan sebentar," alibi Kahiyang.


"Oohh ... Tapi udah baikan?" tanya Hanna.


Kahiyang mengangguk, "sudah, sayang,"


"Bagaimana kalau kita bertiga tidur dikamar Papa?" celetukan tiba-tiba Satria ditanggapi dengan anggukan berkali-kali Hanna. Putrinya itu sangat senang bukan main.


Dan tengah malam menjelang pagi mereka tidur bertiga di ranjang besar Satria. Dengan posisi yang sama seperti saat di Paris. Satria memeluk Kahiyang dan Kahiyang memeluk Hanna.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2