
Kahiyang menutup tirai, menghempaskan tubuhnya ke kasur. Menenggelamkan wajahnya ke bantal. Kahiyang berteriak sekeras mungkin. Rasa rindu bercampur kecewa. Ingin rasanya berlari memeluk Satria dan percaya dengan ucapan kekasihnya itu tapi keputusannya sudah bulat. Ia akan memilih Bumi sebagai calon suaminya.
Sakit hatinya dibohongi Satria telah menyadarkannya akan perkataan Papanya, Rozi. Pilihan Papanya yang terbaik. Bumi pria dewasa yang belum menikah dan memiliki karir yang baik juga. Sosok laki-laki yang sama keras kepalanya seperti Satria.
Suara ketukan pintu terdengar. Bitna membawa ponselnya untuk ia berikan pada kakaknya, Kahiyang. Alsya sepupunya menelfon.
"Halo, kak," sapa Kahiyang setelah menyeka air mata.
"Kahi, adikku. I miss you so much. Kemana handphonemu? Aku telfon nggak aktif." sungut Alsya. Kesal, beberapa kali menelfon tapi tidak tersambung.
"Handphoneku rusak, kakak," jawab Kahiyang, berbohong. Ponselnya masih disita Rozi.
"Tebak sekarang aku dimana?" tanya Alsya, suaranya begitu ceria.
"Dimana?" Kahiyang tidak bisa menebak.
"Aku di Bali ..." jawabnya. Kahiyang malas mendengar kota itu disebut. Mengingatkannya akan Satria.
"Bali? Since when?" tanya Kahiyang lagi.
"Ssstt ... Jangan bilang siapa pun! Cuma kamu yang tau," -Kahiyang berdehem, tanda mengerti- "Nice, good sister. I've been in Bali with my boyfriend for three days," papar Alsya. Seketika Kahiyang menutup mulutnya.
"Kenapa, kak? Ngomong apaan? Kenapa sama Bali? Kak Alsya di Bali? Wah, pasti Mama Nata nggak tau. Ish ... aku bilang ke Mama ah," ancam Bitna.
"Apa sih? Udah sana pergi! Awas aja kalau sampe bilang ke Mama! Ini rahasia!" -menunjuk- "ini urusan orang dewasa. Kamu masih kecil." Kahiyang mengusir adiknya dengan mengibaskan tangan.
"Itu handphoneku. Jadi aku tunggu disini." Bitna tetap duduk di sofa yang ada di dalam kamar Kahiyang.
"Ada apa? Bitna kenapa?" tanya Alsya dari sebrang sana.
"Dia kepo. Udah lanjut aja, aku dengerin." sahut Kahiyang.
"Oke ... Aku diam-diam pulang ke Indonesia. Mama Papa tau aku landing di Jakarta sabtu besok. Gimana dong? aku udah kangen banget sama pacarku. Bayangkan Kahi, satu tahun aku nggak ketemu dia. Jadi aku sama dia liburan berdua," terang Alsya. Kahiyang kembali menutup mulutnya. Bitna memilih membaca buku.
"Are you crazy? Gimana kalau Mama Papa tau?" bisik Kahiyang. Bitna melirik lalu kembali membaca.
"Makanya jangan sampai Mama Papa tau. Only you! Just you!" ujar Alsya.
"Berdua? Cuma berdua?" Kahiyang begitu penasaran.
"Heem ... memangnya kenapa? come on Kahi. Kita sama-sama kuliah di luar, soal itu udah biasa. Yang pasti pakai pengaman. Jangan sampai enggak," papar Alsya dengan santainya.
"Gila kamu, kak!" Kahiyang mengumpat.
"Dia janji bakal nikahin aku setelah lulus nanti," imbuh Alsya.
"Really?" Kahiyang tak percaya.
"Really! Udah ah. Lusa dia mau ke Bali lagi, jemput aku. See you adikku sayang." Alsya mematikan sambungan itu sepihak.
Kahiyang tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar. Alsya kakak sepupunya itu sangat penurut, patuh dan juga sopan. Tapi dibalik itu semua, diam-diam Alsya menjadi sosok yang bar-bar dan terbilang nekat.
**** di luar nikah? Ya, Kahiyang hampir melakukannya dengan Satria lalu Bumi. Beruntung hal itu tidak terjadi. Kahiyang mencegah Satria sedangkan Bumi sebaliknya, calon suaminya itu yang menyudahi cumbuan.
__ADS_1
Kahiyang semakin mantap bersama Bumi dan meresmikan hubungannya lusa, di hari Sabtu.
Lain dengan Satria. Pria beristri yang sedang kalut itu tidak pulang ke rumah. Ia memilih pergi ke apartemen yang sempat disambangi Kahiyang.
Ponselnya sudah berdering entah berapa kali. Satria tidak menggubris. Pikirannya kacau. Kekasihnya memilih bertunangan dengan laki-laki lain sabtu besok.
Satria mengguyur kepalanya dengan air dingin. Memikirkan jalan keluar agar Kahiyang kembali ke sisinya. Dan segera menyelesaikan permasalahannya dengan Inggrid. Satria sungguh muak. Diantara mereka berdua sudah tidak ada kecocokan dan cinta. Semua ia lakukan hanya demi Hanna.
Tapi kali ini Satria ingin egois, ingin memikirkan dirinya sendiri. Hanna harus diberi pengertian bahwa hubungannya bersama Inggrid tidaklah baik.
Satria selesai membersihkan tubuhnya dan keluar hanya memakai bathrobe, langsung menyambar ponselnya. Menggulir layar lalu membuka pesan dari orang suruhannya tadi yang belum sempat dibukanya.
"Bit*ch!" umpatnya. Kemudian duduk, membuka laptopnya. Satria membuka email berisi bukti-bukti baru.
"Kerja bagus! Sudah saya transfer. Thanks a lot," ucapnya pada orang itu melalui sambungan telefon.
Satria menggertakkan giginya. Dirinya ditipu mentah-mentah.
"Apa?" bentak Satria setelah dering kedua ponselnya berbunyi. Inggrid menelfon.
"Anak durhaka! Dimana kamu? Kenapa nggak pulang-pulang? Istrimu sedang hamil. Bukannya pulang malah keluyuran. Kemana kamu? ke tempat gadis itu? Iya?" Melani langsung mencecarnya.
"Mama nggak perlu ikut campur! Aku sedang dimana, Mama nggak perlu tau!" Satria mematikan telefonnya lalu melempar ke atas ranjang.
Satria membuka lemari, memakai kaos dan celana pendek. Ia duduk di sofa tanpa menyalakan televisi, pikirannya melayang memikirkan Kahiyang lagi.
"I miss you, Kahi. Tunggu sebentar saja. Aku secepatnya menyelesaikan semua," gumam Satria, memandangi foto dirinya bersama Kahiyang.
Ponsel Satria kembali berdering. Kali ini nama putrinya yang tertera.
"Papa, dimana? Hanna kangen," ujar Hanna, suaranya serak.
"Maaf sayang ... Papa sedang ada urusan di luar," bohongnya. Lalu terdengar Hanna terbatuk-batuk.
"Hanna sakit?" Satria khawatir.
"Iya, Papa. Hanna sakit. Papa pulang. Hanna mau tidur sama Papa," pintanya dengan suara lemah.
Satria menegakkan tubuhnya. "Iya, iya. Papa pulang. Tunggu Papa!" janjinya pada Hanna. Kemudian berlari ke arah kamar, menyambar dompet dan segera pergi dari sana.
Satria menyadari jika dirinya beberapa minggu belakangan tidak memperhatikan Hanna. Ia sibuk dengan Kahiyang dan mengurus Inggrid. Terbesit rasa bersalah pada putri semata wayangnya itu.
Malam itu tol Tangerang-Jakarta cukup ramai. Satria menerima telfon lagi dari Hanna, menanyakan keberadaannya. "Iya sayang ... Papa sebentar lagi sampai. Hanna sudah makan?" tanya Satria.
"Sudah, Pa." jawab Hanna.
"Sudah minum obat?" tanya Satria lagi.
Hanna menggelengkan kepalanya. "Belum. Hanna tunggu Papa,"
"Oke, tunggu Papa. Sekarang Hanna istirahat dulu di kamar." titahnya pada Hanna.
"Iya, Pa. Hanna tunggu di kamar," ujar Hanna. Kemudian sambungan itu kembali terputus.
__ADS_1
Satria berusaha lebih cepat lagi untuk sampai di rumah. Dan kembali teringat Kahiyang saat melewati Restoran dimana untuk pertama kalinya Satria mencium dan menyatakan cintanya.
"Tuhan, sekali saja beri aku kesempatan untuk bertemu Kahiyang dan menjelaskan semua. Jangan biarkan Kahiyang menikah dengan laki-laki lain selain aku," Satria merapalkan doa, berharap Tuhan mengabulkan doanya.
Setelah melewati satu lampu lalu lintas, mobil yang dikendarai Satria memasuki perumahan mewah. Rumahnya berada di blok ke empat, rumah pertama. Jarak antar rumah lain pun cukup jauh, karena rumah masing-masing penghuni begitu luas.
Satria membuka pintu mobil lalu menyerahkan kuncinya pada satpam rumah. Ia bergegas masuk ke dalam. Satria melihat sekilas keberadaan mobil orang tuanya di garasi luar.
Terdengar suara Hanna yang ceria di ruang keluarga. Satria menghentikkan langkahnya.
"Asik ... Hanna punya adik bayi. Hore ... hore ..." teriak Hanna. Satria memijat pelipisnya saat mendengar itu.
"Hanna mau adik bayi perempuan," celetuknya.
"Kenapa harus perempuan?" tanya Inggrid. Hanna sedang memeluk Mamanya seraya menciumi perut yang masih rata.
"Biar bisa main barbie. Kan seru, Ma," jawabnya.
"Ehem ..." Satria berdehem, ikut bergabung.
Semua menoleh ke arah Satria. Melani dan Arsyanendra juga Arila ada disana juga.
"Papa ..." seru Hanna, berlari ke arah Satria.
Satria merentangkan dua tangannya lalu menangkap Hanna, menggendongnya. Inggrid mencebikkan bibir, mencibir.
"Sudah baikan?" tanya Satria pada Hanna. Hanna menganggukkan kepala. "Kenapa tidak istirahat?" tanyanya lagi.
"Hanna sayang, kemari sama oma," Melani menginterupsi. Hanna menoleh.
"Hanna harus istirahat. Ini sudah malam." timpal Satria lalu membawa Hanna ke lantai dua, ke kamarnya.
Arsyanendra berdehem. Satria memicingkan matanya, kemudian meninggalkan ruang keluarga bersama dengan Hanna.
Satria tidak mau Hanna mendengar ocehan-ocehan orang tuanya. Maka dari itu Satria bawa masuk Hanna ke dalam kamar.
"Lihat, Pa! Dia semakin kurang ajar," celetuk Melani pada suaminya.
"Biarkan dia menidurkan Hanna dulu. Kita tunggu dia turun," ujar Nendra.
Inggrid menghampiri mertuanya. "Mama ..." menyandarkan kepalanya manja.
"Maafin anak Mama. Kamu pasti capek. Kamu istirahat aja di kamar. Biar Mama Papa yang bicara dengan Satria," sarannya, mengusap kepala Inggrid.
"Makasih Pa, Ma. Inggrid pusing, Inggrid ke kamar dulu," memasang ekspresi wajah yang lemah.
Inggrid di antar Arila ke kamarnya.
"Gimana? Ada kabar apa dari Romi?" tanya Inggrid, ia berjalan dengan sehat setelah tidak terlihat mertuanya.
"Belum ada, Mba. Tapi Romi bilang secepatnya," jawab Arila.
"Oke. Aku tunggu. Aku harus punya sesuatu untuk mengancam dia," bisiknya sambil menatap ke arah pintu Hanna, dimana Satria ada di dalamnya.
__ADS_1
To be Continued...