Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
49 : Pergi


__ADS_3

Bumi mengetuk ruangan. Panggilan tadi saat makan siang berasal dari Rozi. Bumi diminta untuk datang ke ruangannya.


"Silahkan duduk," ujar Rozi, setelah Bumi masuk.


Bumi duduk di sofa panjang di ruangan itu, menghadap Rozi.


Rozi memegang sebuah amplop putih panjang lalu ia letakkan di meja di hadapan Bumi. "Kamu serius?" tanya Rozi.


Bumi mengangguk mantap. "Iya, dok. Saya serius," jawabnya.


"Apa ini karena masalah kemarin?" tanya Rozi lagi.


"Emm ... Salah satunya," jawab Bumi. Ia tidak bisa membantah. Salah satu alasannya juga karena masalahnya dengan Kahiyang.


"Sebenarnya saya masih berharap kamu tetap di rumah sakit ini. Masalah kemarin sudah saya lupakan. Dan juga, putri saya tetap meminta tidak memecat kamu. Tapi kalau keputusan ini sudah bulat, saya bisa apa?" ujar Rozi. Keputusan Bumi untuk mengundurkan diri dari rumah sakit memang terlihat sudah matang. Rozi tidak mau menahan Bumi.


"Keputusan ini, keputusan yang terbaik menurut saya. Terimakasih untuk semua pengalaman-pengalaman hebat selama saya bergabung di rumah sakit ini. Dan saya memohon maaf atas kejadian lalu. Saya akan berbenah diri," ujar Bumi dan Rozi terdiam.


"Maaf sekali lagi, dok." sambungnya.


Rozi berdehem, "sudah ada rencana selanjutnya?" tanya Rozi.


"Sudah, dok," jawab Bumi dengan cepat.


Rozi manggut-manggut. Ia tidak mau bertanya lebih detil lagi. Bumi sudah cukup dewasa untuk melakukan apa pun, termasuk masa depan karirnya.


Setelahnya, Bumi langsung keluar dari ruangan itu. Lusa pagi sekali, ia harus sudah terbang menuju negara dimana tempat tujuannya berada. Tawaran bekerja di rumah sakit khusus ibu dan anak. Karena pengalaman bedahnya yang mumpuni, Bumi langsung diangkat menjadi kepala bagian.


"Sudah saya rapikan, dok," ujar asisten Bumi yang ternyata sudah memasukkan barang-barang miliknya ke dalam kotak besar.


"Terimakasih banyak, Yuni," ujar Bumi.


"Sama-sama, dok. Semoga disana betah ya, dok," kata Yuni, asisten Bumi.


"Amin," balas Bumi.


"Dokter jangan capek-capek. Rajin olahraga. Saya doain dapet jodoh orang sana," ujar Yuni, terlihat meyakinkan. "disana kan ceweknya cantik-cantik, dok," sambungnya.


Bumi tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Ah iya, besok saya mau ajak kamu dan beberapa staf lain untuk merayakan hari terakhir saya di Indonesia," ujar Bumi.


"Siap, dok. Saya pasti datang," jawab Yuni.


"Oke, saya tunggu di restoran shabu-shabu jam 5 sore," kata Bumi.


"Restoran shabu yang di Mall depan, dok?" tanya Yuni.


"Iya. Jangan sampai terlambat!" pesan Bumi pada Yuni juga teman-temannya yang lain.


"Siap, dok!" balas Yuni.


Bumi sudah membawa beberapa barang miliknya dibantu Yuni dan Aryo ke mobil yang ada di basement. Cukup banyak staf yang merasa kehilangan. Sosok Bumi di rumah sakit terbilang sempurna. Selain pintar, tampan dan ambisius, Bumi dokter yang ramah dengan sekitar, termasuk dengan pasien-pasiennya. Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan baik, meskipun pada akhirnya terdengar kabar antara dirinya dan putri pemilik rumah sakit yang batal menikah. Entah karena apa, mereka tidak tahu dan tidak mencari tahu atau pun ikut campur.


"Oke, terimakasih banyak untuk bantuannya. Saya tunggu besok sore di restoran Mall depan," ujar Bumi, selesai memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.


"Sama-sama, dok. Baik. Kami akan datang tepat waktu. Dokter jangan khawatir," balas Aryo, staf perawat.

__ADS_1


Bumi menggangguk. "Oke, saya pergi dulu," pamitnya.


"Hati-hati, dok," ujar Yuni. Matanya berkaca-kaca akan menangis.


Bumi melambaikan tangannya lalu melajukan mobil keluar basement, meninggalkan rumah sakit untuk terakhir kalinya.


Setelah kekacauan lalu, Bumi belum menemui kedua orangtuanya. Bumi masih malas mendengar ocehan Mamanya. Risa masih saja kesal karena kecerobohan Bumi. Risa malu dengan teman-temannya. Ia menjadi topik pergunjingan diantara teman-teman arisan. Risa mengurung diri. Fahmi memberikan kabar itu pada Bumi, membuat Bumi semakin pusing. Dan tawaran itu datang dari sahabatnya yang bekerja di rumah sakit besar di Korea Selatan. Tidak perlu berpikir lama, Bumi langsung menyetujuinya. Ia sudah terlalu penat dengan ibu kota, juga kedua orangtuanya.


📩 Bumi


Bisa kita bertemu sebentar?


Pesan yang dikirimkannya pada Alsya. Bumi menunggu balasan cukup lama.


📩 Alsya


For what?


Alsya membalas.


📩 Bumi


Hanya sebentar. Ini penting.


Balas Bumi.


📩 Alsya


Where?


📩 Bumi


Cafe Y di PIK 2. Aku tunggu sore ini jam 5.


Bumi selesai mengirim pesan terakhirnya untuk Alsya. Alsya hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya lagi.


"Chris, sore ini temani aku ke Cafe Y di PIK 2." titah Alsya pada bodyguardnya.


"Baik," jawab Chris. Jawaban yang selalu membuat Alsya senewen. Chris memang terlalu pelit berbicara, namun ia lebih melakukannya dengan tindakan. Perhatian-perhatian kecil yang sanggup membuat Alsya tersipu.


"Emangnya anak Mama mau kemana?" tanya Natasha, mendengar percakapan antara Alsya dan Chris di teras belakang.


Alsya dan Chris menoleh bersamaan. Chris menganggukkan kepala lalu mundur satu langkah.


"Alsya ada urusan sama temen sebentar. Alsya minta Chris temenin kesana," terang Alsya.


"Bilang aja mau kencan sama Chris," -mencubit pipi- "pake kode-kode an gitu," ledek Natasha.


"Ih ... Apa sih, Ma? Alsya beneran mau ketemu temen," elaknya, pipinya memang sudah berubah merona. Chris terlihat menahan senyumnya.


"Beneran juga nggak papa. Anak mama kan butuh sandaran hati," ledek Natasha lagi.


"Mama ... Jangan ngeledek terus! Chris, kamu juga malah diem aja. Ngomong dong!" ucap Alsya minta pembelaan. Chris terlihat gugup.


"Maaf, Nyonya. Benar apa yang dikatakan Nona Alsya. Saya hanya diminta untuk menemani saja," terang Chris lalu menunduk.

__ADS_1


"Oke ... Oke. Mama cuma bercanda aja sayang," ujar Natasha sambil membelai rambut Alsya.


Chris ikut tersenyum lalu Alsya mengedipkan matanya sembunyi-sembunyi tanpa diketahui Natasha.


*****


Bumi sudah duduk menunggu Alsya di Cafe, tempat mereka akan bertemu. Untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah kegaduhan waktu itu.


Alsya menggandeng Chris setelah dibukakan pintu mobil. Sebenarnya mereka berdua memang dekat, namun Chris belum berani menyatakan pada Alsya yang notabene adalah anak dari Bosnya. Mungkin Chris memikirkan banyak hal. Lain dengan Alsya, meskipun tidak adanya pengakuan dari Chris, Alsya sudah tahu dan yakin. Mereka berdua seperti teman tapi mesra.


Bumi mengerutkan alisnya tatkala melihat Alsya bersama Chris berjalan menuju Cafe. Mereka terlihat jelas dari posisi duduk Bumi.


"Dia udah punya pacar?" gumam Bumi.


"Kamu tunggu disini. Aku cuma sebentar," ujar Alsya pada Chris.


"Baik, Nona," jawab Chris, melepaskan tangan Alsya lalu berdiri tegap di pinggir pintu.


Alsya masuk dengan tubuh tegap menatap lurus ke arah Bumi. Rasa amarah bercampur benci itu terlihat jelas dari tatapan mata Alsya.


Bumi melambaikan tangannya kemudian bangkit menyambut kedatangan Alsya. Alsya langsung duduk tanpa dipersilahkan terlebih dulu.


"Langsung aja!" ujar Alsya dengan nada penekanan.


"Mau pesan apa?" tanya Bumi.


Bukannya menanggapi ucapan Alsya, Bumi justru menawarinya makanan.


"Aku kesini nggak mau makan atau minum. Apa yang mau kamu omongin?" tanya Alsya kesal.


"Aku pesanin ya ... Ada makanan kesukaan kamu," ucap Bumi, kekeh akan memesankan makanan untuk Alsya.


Bumi bersiap untuk bangkit, Alsya memukul meja karena sangat kesal.


Brakk ...


Semua orang langsung beralih menatap keduanya.


"Aku bilang nggak mau! Kenapa keras kepala? Aku kesini cuma mau denger hal penting apa yang mau kamu omongin. Gak lebih!" Alsya geram. Bumi seolah tidak mau mendengarnya.


"Kenapa harus buru-buru? Apa karena pacar kamu udah nunggu di luar?" tanya Bumi, melirik keberadaan Chris yang masih berdiri di samping pintu.


"Kalau iya, itu bukan urusanmu! Kita nggak ada hubungan apa pun! Aku anggap pembicaraan kita sampai disini! Jangan hubungi aku lagi!" ucap Alsya ketus lalu bangkit dan akan pergi.


"Tunggu!" -menahan tangan Alsya- "aku cuma mau minta maaf. Rasa sayang dan cintaku masih ada untuk kamu. Tapi aku tau diri," -menghela nafas- "aku mau pergi dari Indonesia," terang Bumi.


Mata Alsya memerah, amarahnya sedikit menurun dan entah kenapa rasanya sakit mendengar Bumi akan pergi.


"Maaf, kami harus pergi!" ujar Chris menginterupsi. Chris membawa Alsya pergi dari Cafe itu.


Bumi berdiri mematung melihat punggung Alsya yang berjalan dirangkul oleh pria lain. Melihat punggung yang dulu pernah ada dalam dekapan.


To be Continued...


Maaf beribu maaf, othor baru sempat up bab baru. Banyak sebab dan hal yang harus di urus di dunia nyata. Othor harap semua masih tetap dan akan dukung Kahiyang sampai menemukan jodohnya 😊

__ADS_1


Terimakasih banyak 🙏


__ADS_2