Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
5. Keteguhan Bumi


__ADS_3

"Untuk kedepannya, kakak berhenti antar kalian ke sekolah. Hari ini hari sial untukku!" ujar Kahiyang pada kedua adiknya, Bitna dan Brenda.


"Memangnya ada apa, kak?" tanya Brenda.


"Kalian tidak perlu tahu. Kejadian buruk! sangat buruk dan sangat menyebalkan!" geram Kahiyang jika mengingat hari ini.


Kahiyang baru saja sampai dirumah dan langsung menghampiri kedua adiknya di ruang tengah.


"Ada apa, kak?" tanya Brisia pada putri sulungnya. Brisia baru saja keluar dari dapur, menyiapkan makan malam untuk keluarga.


"Mama ..." Kahiyang mendekat lalu memeluk Brisia. Ia memang sangat kolokan. Tubuh tingginya melebihi Brisia, namun jika sudah bertemu dengan ibunya, Kahiyang akan berubah manja.


"Iya, kenapa kak?" tanya Brisia lagi. Mengusap punggung Kahiyang.


"Hari ini Kahi bertemu dengan dua manusia yang menyebalkan," ujarnya dengan nada sebal.


"Dua manusia? menyebalkan?" tanya Brisia, menjauhkan tubuh Kahiyang agar ia bisa melihat wajah putrinya.


Bitna dan Brenda tak ingin ambil pusing, mereka kembali berkutat dengan ponsel masing-masing.


"Iya, Ma. Kahi seharian ini dibikin pusing sama orang. Dan juga, Papa ngenalin dokter mudanya waktu Kahi ke rumah sakit," Kahiyang mengadu, memeluk Mamanya lagi.


"Terus ... terus ... kamu gimana? suka nggak sama dokter muda itu?" tanya Brisia.


Kahiyang memundurkan wajahnya, "Jangan bilang, Mama sama Papa yang udah rencanain ini semua?" Kahiyang curiga.


Brisia tersenyum kikuk lalu mengangguk. Ia bersama suaminya melakukan itu hanya untuk Kahiyang. Kahiyang putri sulungnya yang sudah dewasa, sampai saat ini belum juga mengenalkan atau pun memiliki seorang kekasih. Brisia dan Rozi khawatir.


"Mama ..." Kahiyang merajuk.


"Maaf sayang ... ini semua demi kamu. Untuk Kahiyangku. Kesayangan Mama Papa," membawa Kahiyang dalam dekapan.


Brisia begitu menyayangi anak tirinya itu. Brisia selalu teringat saat Kahiyang ditinggal oleh Kiran selamanya. Gadis kecil yang sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu.


Brisia membesarkan Kahiyang, membesarkan hati putrinya itu. Bahwa ia juga memiliki ibu lain yang sangat menyayanginya.


"Tapi, Ma ..." sejujurnya memang Kahiyang tidak tertarik dengan Bumi.


"Papa Mama nggak memaksa, tapi boleh kan di coba dulu, nak. Mama lihat, Bumi anak yang baik. Bekerja keras. Usianya juga masih muda dan nggak terlalu jauh dari umur kamu. Mama optimis kali ini," ujar Brisia. Kahiyang mengangguk. Apapun ucapan Mamanya, Kahiyang tidak bisa menolak. Brisia sangat berarti baginya.


"Ayok, kita makan malam dulu! Bitna ... Brenda," seru Brisia sambil merangkul putri sulungnya, berjalan ke arah ruang makan.


"Papa pulang tengah malam lagi, Ma?" tanya Kahiyang lalu menarik kursi, duduk di hadapan Brisia. Bitna dan Brenda datang dengan berlarian, saling berlomba siapa yang duduk pertama kali.


"Enggak, sebentar lagi sampai. Bitna Brenda, hati-hati nak. Kalian berdua ini selalu seperti itu. Seperti tom dan jerry," ujar Brisia.

__ADS_1


Dua pelayan bagian dapur datang membawa beberapa menu yang belum tersaji.


"Memangnya mau ada tamu, Ma? makanannya banyak banget," celetuk Brenda sambil menuang air minum ke dalam gelasnya sendiri. Bitna dan Kahiyang menunggu jawaban Brisia.


"Iya. Tamu spesial untuk putri sulung Mama," jawab Brisia tersenyum lalu mengerlingkan satu matanya pada Kahiyang.


Kahiyang memutar matanya malas. Ia sudah tau, tamu spesial mana yang akan datang malam itu.


"Siapa Ma? pacar kakak? wah, kakak ada kemajuan. Keren," tanya Brenda, menepuk paha Kahiyang.


"No! Big no!" -menggerakkan jari telunjuk- "bukan pacar kakak! remember that! jangan sampai kalian berdua mengeluarkan kata-kata yang enggak-enggak nanti! dia cuma teman! teman yang Mama Papa kenalkan! ini bukan mauku!" kesal Kahiyang. Ucapannya begitu terdengar sebagai penekanan dan peringatan bagi kedua adiknya agar tidak berulah saat orang spesial itu datang nanti.


"Nak ..." Brisia menatap teduh Kahiyang. Bitna dan Brenda saling bertatapan, mengedikkan bahu lalu terkikik. Kahiyang menoleh, menatap kedua adiknya dengan pandangan tidak suka.


"Ssttt ..." Bitna memberi tanda pada Brenda. Papa dan tamu spesial itu datang. Brenda langsung membalikkan badan.


"Ganteng banget," celetuk Brenda lalu menutup mulutnya. Bitna juga terpesona melihat pria itu.


Kahiyang ikut menoleh ke belakang. Senyum terbit dari bibir Bumi. Kahiyang membuang muka, ia kembali menghadap ke meja makan.


"Hai anak-anak Papa," sapa Rozi pada ketiga putrinya. Rozi merentangkan kedua tangannya menyambut istrinya, Brisia. Sambutan pelukan hangat.


"Nak Bumi, silahkan duduk. Di sebelah Kahiyang ya," ucap Brisia. Kahiyang memiringkan wajahnya menatap Mamanya lalu mencebikkan bibirnya. Rozi menahan tawa.


Bumi menganggukkan kepala, menarik kursi di sisi kanan Kahiyang. "Hai, kita ketemu lagi," sapanya.


"Hemm," jawab Kahiyang tanpa menoleh.


"Kahi ..." seru Rozi memberi peringatan untuk bersikap ramah pada Bumi.


"Papa ..." memasang wajah memelas.


"Tidak apa-apa, dok. Mungkin kehadiran saya tidak tepat. Maafkan saya, Kahiyang," ucap Bumi pada Rozi lalu beralih pada Kahiyang.


Kahiyang terdiam menggenggam sendok di tangan kanannya lalu garpu di tangan kirinya. Dalam hati mencaci maki Bumi. Laki-laki sok baik, berpura-pura menjadi sosok yang terpuji. Kahiyang sudah sangat muak.


"Oh tentu tidak, nak Bumi. Kahiyang baik-baik saja kok. Iya kan, Kahi?" ucap Brisia lalu memandang Kahiyang yang wajahnya sudah berubah kesal.


"Kakak kalau nggak mau sama Kak Bumi, biar Brenda aja. Brenda mau banget," bisik Brenda yang duduk di sisi kiri Kahiyang.


Kahiyang mengeraskan rahangnya lalu bergumam, merapatkan gigi. Membalas bisikan adiknya. "Shut up!".


"Brenda ... jangan ganggu kakak!" tegur Rozi. Brenda meringis, memamerkan deretan giginya sambil memberikan tanda 'oke'.


Makan malam yang tidak seperti biasanya. Kedatangan Bumi tidak berarti apa-apa bagi Kahiyang. Bumi hanyalah dokter muda yang bekerja di rumah sakit milik Papanya, thats it, tidak lebih dari itu.

__ADS_1


Kahiyang mahir dalam membaca karakter seseorang. Dapat dilihat dari cara bicara, gerakan tangan, mata, tarikan sudut bibir. Ia pelajari secara otodidak. Timbul keingin tahuan yang besar itu dipicu dari seorang sahabat kecilnya dulu. Sikapnya begitu manis di hadapannya tapi dibalik itu mencemoohnya. Kahiyang sakit hati.


Menjadi anak dari hubungan diluar pernikahan, sungguh beban berat yang di tanggungnya seorang diri. Meskipun keluarga besarnya menerima dan merangkulnya tapi beban itu akan selalu ada.


Semua orang tahu siapa jati diri Kahiyang. Rozi sebagai Ayah dan penyebab masalah ini, dihantui oleh rasa takut. Ketakutan akan jodoh untuk Kahiyang di masa depan.


Dan menurut Rozi, Bumi sangat cocok dan masuk kriteria sebagai pasangan Kahiyang kelak. Bumi yang mandiri, pekerja keras, ulet dan gigih dalam mencapai keinginan-keinginannya.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman denganku, katakan Kahiyang," ujar Bumi.


Saat ini mereka berdua sedang berada di taman belakang. Rozi dan Brisia meluangkan waktu untuk keduanya saling mengenal lebih dekat lagi.


"Kalau aku jawab iya, apa kamu mau mengakhiri pendekatan ini ke Papa?" tanya Kahiyang tegas.


Bumi menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku tidak akan berhenti sekarang. Kalau kamu tidak nyaman denganku, aku akan berusaha merubahnya. Aku akan berusaha membuatmu nyaman." timpal Bumi. Tekadnya memang terlihat sangat kuat.


Kahiyang berdecih. "Kamu terlalu optimis dan juga keras kepala. Aku tau tujuan kamu menerima ajakan Papa. Jadi jangan coba-coba membodohiku!" -bangkit- "sudah malam. Pulang gih. Aku capek!" ucapnya.


Bumi menarik lengan Kahiyang saat akan ditinggal pergi begitu saja. "Aku tidak membodohimu. Aku sungguh-sungguh ingin mencoba hubungan yang lebih jauh lagi. Meskipun kamu mengacuhkanku, aku akan terus berusaha sampai kamu jadi milikku!" ujar Bumi. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.


"In your dreams! Lepas!" Kahiyang menyentak tangan Bumi lalu pergi masuk ke dalam dan terus berlari menaiki anak tangga.


Bumi memandangnya sambil tersenyum sinis. "Bukan dalam mimpiku saja Kahiyang. Kamu akan menangis, bertekuk lutut bahkan memohon padaku!" gumamnya.


To be Continued...


~ Maaf gengs othor libur lumayan lama. Mood lagi berantakan banget.


Makasih ya udah mau nunggu n dukung Kahiyang 🙏


Penilaian Give Away Kahiyang terus berjalan sampai Tamat nanti.


Podium umum 1 (Tas Kahiyang+Mini Gold 0,05gr)


Podium umum 2 (Tas Kahiyang+Mini Gold 0,025gr)


Podium umum 3 (Tas Kahiyang)


Podium 4 s/d 10 (Casing HP Kahiyang)


*Disesuaikan jenis hp pemenang


Dukung terus Kahiyang guys 🤗🤗🤗


*Terkait GA ini, murni othor pengen kasih kenang-kenangan aja ya. Jangan dianggap yg aneh-aneh. Othor pengen bagi-bagi rezeki. Semoga semua pembaca karya-karya othor senang 😊

__ADS_1


__ADS_2