Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
46 : Lukisan itu


__ADS_3

Kahiyang membisu mendengar Satria memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Kahiyang ... I'm sorry, I'm really really sorry. Semua nggak benar. Aku di fitnah. Cuma kamu yang ada di hatiku. Please, come back to me," Satria terus meracau.


"Kamu mabuk!" tuduh Kahiyang.


"Mabuk? Aku nggak mabuk!" Satria berteriak.


"Sudah cukup! Sadarlah! Mau mengelak pun nggak akan guna. Istrimu sedang hamil. Jangan berbuat yang tidak-tidak!" Kahiyang mengingatkan.


"Fuc*k you! itu bukan anakku! Harus berapa kali aku bilang, kalau itu bukan anakku!" -berteriak, kemudian intonasi melemah- "please, come back. I'm miss you, Kahi," Satria memohon pada Kahiyang.


"Stupid! Aku nggak mau dengar lagi. Kamu mabuk!" Kahiyang mematikan panggilan itu.


"Bisa-bisanya dia mabuk," gerutu Kahiyang.


Satria marah dan berteriak, membanting ponselnya lalu membalik meja. Satria mabuk berat. Kepergiannya ke Australia hanya sia-sia. Satria masih teringat Kahiyang.


"Sesusah itu buat kamu percaya? Aku tidak melakukan apapun pada wanita iblis itu! Dia berselingkuh, dan aku yang harus menerima bayi dalam perutnya? What the fu*ck! Shi*t! Bang*sat!" terus memaki maki.


Begitu sulit untuk melupakan Kahiyang. Awal pertemuan mereka tidak lah mulus. Saling membenci dan berujung saling jatuh cinta. Cinta memang membuat semua menjadi gila.


Belum sadar betul, Satria sudah mendapat telefon dari Mamanya di Indonesia.


"Hmmm, ada apa?" tanya Satria setelah menggulir tombol hijau ke atas.


"Anak bodoh! Mau sampai kapan kamu meninggalkan yayasan juga anak istrimu? Istri sedang hamil, anak masih masa penyembuhan, tapi malah kamu pergi. Dimana otakmu?" maki Melani.


Satria yang masih marah dan mabuk, ikut tersulut mendengar ocehan ibunya.


"Anak bodoh? Ya, aku anak bodoh. Anak bodoh yang sudah ditipu istrinya sendiri!" teriak Satria. Kepalanya pusing karena terlalu banyak minum alkohol.


"Ditipu? Tidak perlu kamu buat-buat alasan, Satria! Cepat pulang! Urus yayasan dan keluargamu!" ujar Melani lantang kemudian menutup panggilan itu.


"Argh ... Breng*sek!" Satria membuang ponselnya lalu menendang meja didepannya, setelah itu membanting kursi hingga tidak berbentuk lagi.


Satria belum bisa melupakan Kahiyang tapi ia sudah dipaksa untuk pulang ke Jakarta.


*****


Kahiyang berendam dalam bathup. Tubuh dan pikirannya terasa lelah, sampai-sampai tertidur dan bermimpi.

__ADS_1


"Kak ... Nama kamu siapa?" tanya Kahiyang kecil pada remaja laki-laki yang sedang menggandengnya.


Laki-laki itu tetap berjalan dan tidak menjawab pertanyaan Kahiyang kecil.


"Kita duduk disini," kata remaja laki-laki itu. Kahiyang mengangguk, menurut. "Kamu bersama siapa kesini?" sambungnya.


"Dengan Mama, Papa," -menatap- "tadi aku lihat balon lucu," imbuh Kahiyang kecil.


"Tadi kamu dari arah mana?" tanya remaja laki-laki itu lagi.


Kahiyang menggelengkan kepalanya, "nggak tau,"


"Oke, untuk sementara kita tunggu disini dulu. Aku hubungi keluargaku di hotel," ujarnya lalu merogoh tas, memberikan air mineral pada Kahiyang.


"Terimakasih," ucap Kahiyang.


Saat remaja itu akan menghubungi keluarganya, ia membuka tudung hoodie yang dipakainya. Terdapat bekas luka 2cm di sekitar leher kanan. Tak sengaja Kahiyang menatap luka itu saat sedang meminum air yang diberikan tadi.


"Hah ..." Kahiyang terbangun dari mimpinya dan terduduk.


Mimpinya sama persis dengan yang dialaminya dulu saat hilang di menara Eiffel. Satu hal yang baru saja di ingatnya, yaitu bekas luka. Entah luka apa, yang Kahiyang yakini luka itu luka yang serius karena sampai membekas.


"Bekas luka itu," gumamnya sambil meraba lehernya sendiri.


*****


Kahiyang pergi berjalan kaki, satu hal yang sangat disukainya jika berada di luar negri. Hari itu memang ramai, banyak yang ingin menghabiskan akhir minggu dengan berjalan-jalan atau mengunjungi pameran. Presentasi penyuka seni di London sangat tinggi. Mereka begitu menghargai hasil karya orang lain. Jiwa seni mereka pun cukup tinggi.


Meski pun Kahiyang hanya sendirian, rasa percaya dirinya tidak berkurang. Karena terbiasa. Gadis muda yang tertutup. Bersosialisasi secukupnya.


"Hai, Kahiyang," sapa Rachel, teman satu kelasnya.


"Hai, Rachel," sapa Kahiyang.


"Kamu sendiri?" tanya Rachel.


"Ya, seperti yang selalu kamu lihat," jawab Kahiyang sambil tersenyum.


"Ya, aku tau," -tersenyum- "mau bergabung denganku?" tawar Rachel. Kebetulan ia juga datang sendirian.


"Emm ... Oke," jawab Kahiyang. Daripada dengan Jarvas, lebih baik dengan Rachel.

__ADS_1


Kahiyang dan Rachel masuk ke dalam gedung kesenian. Gedung yang dikhususkan untuk berbagai macam acara pameran.


Hari itu pameran lukisan di selenggarakan oleh walikota setempat. Beberapa lukisan dipajang disana. Lukisan-lukisan yang di hadirkan adalah lukisan seniman jalanan. Walikota mengapresiasi serta memberi wadah untuk karya-karya mereka.


Kahiyang takjub melihat banyaknya lukisan tercipta oleh tangan-tangan otodidak. Mereka secara naluriah memiliki jiwa seni yang tinggi tanpa harus mengenyam pendidikan seni dan budaya.


Ada satu lukisan menarik yang membuat Kahiyang menutup mulutnya.


"Kenapa?" tanya Rachel saat melihat Kahiyang terkejut.


Kahiyang menggelengkan kepalanya, "ini nggak mungkin. Kenapa sama persis?" gumamnya.


"Hah? Apa yang sama? Sama dengan lukisanmu?" tanya Rachel lagi.


"Bukan, bukan," tepis Kahiyang. Lalu ia mengamati inisial nama di pojok kiri bawah. Tertulis inisial huruf S.A beserta tahun lukisan itu dibuat, 2020. Lukisan berusia 2 tahun itu berada disana.


"S ... A? Siapa dia?" gumamnya lagi. Rachel bingung melihat reaksi Kahiyang, lalu mengedikkan bahu, meninggalkan temannya itu ke lukisan lain.


Kahiyang masih merenung menatap lukisan bersketsa menara Eiffel dengan dua sosok anak manusia yang sedang duduk bersama. Sama persis dengan kisahnya sewaktu kecil dulu saat ditolong remaja laki-laki.


"Kamu kemari?" suara Jarvas tepat di samping Kahiyang. Lamunannya buyar.


"Hah?" Kahiyang terkejut.


"Kamu tidak menerima ajakanku tapi ternyata kamu datang kemari. Dan sendirian," ujar Jarvas.


"Bukan urusanmu!" ucap Kahiyang, kemudian pergi mencari Rachel.


"Kenapa sok jual mahal sih? Bisa gila aku!" ujar Jarvas kesal.


Kahiyang tidak menoleh ke belakang, ia menghampiri salah satu penanggung jawab pameran yang ternyata sedang luang.


"Hai, Mr. Boleh saya bertanya satu hal?" tanya Kahiyang pada Mr. Cliff.


"Hai, Nona. Apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Mr. Cliff.


"Soal lukisan disana," -menunjuk- "apa aku boleh tau pemilik lukisan itu?" tanya Kahiyang, harapannya tinggi. Ada secercah harapan untuk bertemu dengan pahlawan masa kecilnya.


"Lukisan itu sudah ada di ruang khusus penyimpanan galeri kota dari tahun lalu. Maaf, sejujurnya saya tidak tau siapa pemiliknya. Pria itu hanya datang untuk menyerahkan lukisan dan pergi tanpa memberikan kartu nama atau identitas lain," terang Mr. Cliff.


Raut wajah Kahiyang seketika berubah lesu. Harapannya pupus. Kahiyang sangat yakin, pemilik lukisan itu adalah remaja laki-laki yang menolongnya.

__ADS_1


"Tuhan, aku ingin bertemu dengannya. Ijinkan kami bertemu dan aku ingin mengucapkan banyak terimakasih," Kahiyang merapalkan doa dalam diamnya sambil menatap lukisan itu dari kejauhan.


To be Continued...


__ADS_2