
Selesai dari Kedutaan, Kahiyang akan bertemu dengan Ibu Karenina di kantornya.
"Aku antar!" Satria langsung menarik tangan Kahiyang saat keluar dari ruangan Mr. Aldric.
"Lepas! Aku bisa sendiri! Jangan mengekoriku!" Kahiyang menyentak tangan Satria lalu berjalan cepat menuju lift.
Satria yang memiliki kaki panjang dapat menyusul Kahiyang dengan mudah.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Kahiyang. Satria sungguh menyebalkan baginya.
"Aku bilang, aku tidak menerima penolakan. Jadi kamu harus ikut aku. Aku antar dan selanjutnya makan siang bersamaku!" menggenggam erat tangan Kahiyang.
"Lepas! Jangan seperti ini! Semua orang melihat kita! Kamu sudah memiliki istri dan anak. Jangan paksa aku!" ucap Kahiyang dengan penekanan, tanpa membuka bibirnya.
"Aku tidak perduli!" Satria terus menggandeng Kahiyang menuju mobilnya.
"Kamu gila! Pria tua sinting!" maki Kahiyang setelah masuk dalam mobil Satria.
"Pria tua sinting?" Satria tersulut emosinya, merasa tersinggung.
Karena kesal, Satria mencium Kahiyang membabi buta. Kahiyang terus mendorong ingin melepaskan diri tapi tenaga Satria lebih besar darinya.
Satria menggigit bibir Kahiyang yang tertutup rapat. "Aw ..." Kahiyang menjerit lalu Satria melepaskan ciumannya.
"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi!" ujar Satria, menyeka bibir Kahiyang.
Gadis muda itu membuang wajahnya lalu Satria menekan dagu agar menoleh padanya. "Lihat aku, Kahi!" titahnya.
Kahiyang menatapnya dengan tajam, sungguh kesal. "Apa lagi?" tanyanya.
"Jadilah gadis penurut. Jangan suka membantahku dan juga jangan mengataiku. Understand?" Kahiyang mengangguk. "Oke, good girl," mengusap pipi lalu mengecupnya sebentar.
Kahiyang bingung harus bagaimana. Pria tua disampingnya itu terus memaksanya untuk bersama.
Satria melajukan mobilnya menuju kantor Kemendikbud di Jakarta Pusat. Dan hari sudah menjelang siang.
"Astaga, aku lupa bilang ke Pak Udi," -menepuk kening- "semua gara-gara kamu!" Kahiyang merogoh ponselnya dalam tas.
"Siapa Pak Udi? Lalu kenapa gara-gara aku?" tanya Satria.
"Sopirku! dia yang antar aku ke Kedutaan. Papa bisa marah kalau tau aku pergi sendiri tanpa sopir. Kamu yang paksa aku tadi! jadi semua gara-gara kamu!" Kahiyang kembali meluapkan amarahnya.
"I'm sorry baby," mengusap kepala Kahiyang.
"Apaan sih? baby ... baby." tepis Kahiyang.
__ADS_1
Kahiyang menghubungi Pak Udi dan memberikan satu pesan yang tidak boleh dilanggar. "Pokoknya Pak Udi jangan bilang ke siapa pun kalau saya pergi sendiri. Nanti saya transfer uang untuk biaya sekolah anak bapak. Pak Udi harus janji ya?!"
Satria gemas mendengar Kahiyang bicara seperti itu pada sopirnya. "Kamu lucu," mencubit pipi kanan Kahiyang.
"Lebay ..." menepis lagi tangan Satria.
Saat mobil sudah memasuki area parkir Kemendikbud, ponsel Kahiyang berdering. Bumi menelfon.
"Bumi? Kamu diam! Jangan bersuara!" menunjuk Satria, lalu menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
"Halo?" sapa Kahiyang.
"Kamu dimana? kenapa udah siang begini belum datang juga?" tanya Bumi sambil melirik ke arah jam dinding di ruangannya.
"Maaf, aku-" nafasnya terasa tercekat karena Satria mendekatkan tubuhnya pada Kahiyang, membukakan safetybelt.
"Kamu kenapa? kamu sekarang dimana?" tanya Bumi lagi.
"Aku nggak papa. Aku-" membekap mulutnya sendiri, menahan jeritannya. Satria mengecup pipinya.
"Kamu kenapa? kamu lagi dimana? kenapa ngomongnya putus-putus?" Bumi semakin khawatir. Ia bangkit dari duduknya.
Kahiyang mendorong Satria. Pria tua itu malah tersenyum meledek lalu duduk bersandar di kursinya.
"Aku nggak papa. Maaf, aku nggak bisa ke rumah sakit siang ini. Aku lupa kalau aku ada janji. Besok aku bi-" belum selesai Kahiyang bicara, Satria merampas ponselnya lalu mematikannya sepihak.
"Are you crazy?" Kahiyang berteriak dan ingin merampas lagi ponselnya tapi Satria memasukkan ponsel Kahiyang ke dalam saku celana.
"Kembalikan handphoneku!" Kahiyang berteriak lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Kalau bisa, ambil sendiri," jawab Satria, menyilangkan tangan ke depan dada.
"Sinting! Whatever!" Kahiyang langsung menyerah dan memilih keluar dari mobil. Satria menarik tangan Kahiyang. "Lepas!"
"Aku antar ke dalam," ujar Satria.
"Nggak perlu! Aku bisa sendiri!" tolaknya. Kahiyang membuka pintu lalu membantingnya dengan keras.
"What the fu*ck! Pria tua gila! Pria tua sinting!" umpatnya sambil terus berjalan menuju lift.
"Nggak baik, gadis cantik jalan sendirian. Aku nggak rela kamu jadi santapan mata-mata genit dari laki-laki lain," bisik Satria yang sudah berdiri di samping Kahiyang.
Benar saja, sejak Kahiyang berjalan masuk dari arah lobby, banyak sekali pria-pria yang menatapnya. Karena bertepatan dengan jam makan siang, semua karyawan disana berhamburan keluar.
Satria melindungi Kahiyang dari banyaknya karyawan yang baru saja keluar dari lift. Tangan Satria berada di pinggang Kahiyang, sedangkan Kahiyang berlindung di dada Satria.
__ADS_1
Harum parfum menusuk hidung. Aroma pria dewasa yang sangat maskulin. Tak sadar Kahiyang mengendusnya dengan mata terpejam.
"Sudah kosong, kita masuk. Kita bisa terlambat," ujar Satria. Kahiyang merasa kembali memijak bumi. Satria masih merangkul pinggangnya. Kahiyang menurut masuk ke dalam lift.
Pantulan dirinya bersama Satria terpampang jelas di hadapan. Satria tersenyum dan semakin mengeratkan rangkulannya, semakin mengikis jarak diantara mereka. Satria mengecup puncak kepala Kahiyang.
Kahiyang terlihat kikuk tapi ia tidak menolak diperlakukan seperti itu. Rasanya terlalu lama mereka dalam lift hanya berdua saja, sampai-sampai Kahiyang merasa butuh oksigen yang banyak.
"Kenapa?" tanya Satria. "Tangan kamu dingin. Kamu sakit?" Kahiyang mendongak dan menggelengkan kepala. "So cute ..." mencubit pipi.
Kahiyang menunduk, mengusap pipinya sambil tersenyum kecil. Satria dapat melihat dari tarikan sudut bibir Kahiyang.
Tting...
Pintu lift terbuka. Kahiyang melepaskan genggaman Satria.
"Tunggu disini. Aku masuk dulu," ucap Kahiyang pada Satria.
Satria senang sekali mendengarnya. Artinya Kahiyang ingin ia menunggu dan pulang bersama.
"Oke, aku tunggu disini. Jangan lama-lama, aku sudah rindu," bisik Satria genit. Kahiyang memukul bahu Satria lalu meninggalkannya. Kahiyang terus menggelengkan kepala seraya tersenyum mengingat kata-kata yang baru saja dilontarkan Satria untuknya.
"Dasar pria tua nakal! bisa-bisanya dia ngegombal!" gerutunya.
Kahiyang bertemu dengan ibu Karenina cukup lama. Sedangkan Satria sudah menahan rasa laparnya sejak tadi.
Niat hati ingin mengirim pesan pada Kahiyang, namun kenyataannya ponsel Kahiyang masih berada dalam saku celananya.
"Kenapa lama sekali?" gumamnya. Berkali-kali melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.
Suara langkah kaki mendekati. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Kamu terlihat pucat, aku traktir makan siang. Aku tidak kuat menggendong pria tua yang pingsan karna kelaparan," ujar Kahiyang lalu tersenyum.
Satria bangkit lalu menarik tangan Kahiyang. "Pria tua sepertiku tidak selemah itu," lalu perut Satria berbunyi.
Kahiyang tertawa. "Kasian sekali. Cacing-cacing dalam perut pria tua ini ternyata sudah berdemo," ledeknya sambil menusuk nusuk perut Satria.
"Beruntung aku sedang lapar, jika tidak ... aku sudah menerkammu gadis cantik," bisiknya.
Kahiyang langsung mencubit lengan Satria.
To be Continued...
__ADS_1