Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
47 : Sandiwara Inggrid


__ADS_3

Kehamilan Inggrid sudah memasuki usia 4 bulan. Perutnya sedikit menonjol. Kehamilan keduanya ini tidak membuatnya mabuk atau ngidam. Semua berjalan lancar, seperti biasanya. Ucapan dokter pertama kali hanya sandiwara. Inggrid membayar dokter itu untuk membuat Satria luluh dan memberikan perhatiannya.


"Besok Satria pulang. Aku harus ada dirumah. Nggak apa-apa ya, malam ini aku nggak nginap," ujar Inggrid pada pria disampingnya yang ia panggil dengan sebutan Abang.


"Oke, tapi layani aku dulu," ucap pria itu sambil meremas bokong Inggrid.


"Semalam masih kurang?" tanya Inggrid, mencubit pipi.


"Selalu kurang," jawabnya dan langsung menarik dagu Inggrid, menciumnya kasar.


Malam itu Inggrid benar-benar pulang. Rasa letihnya setelah melayani nafsu selingkuhannya itu, membuat Inggrid memilih masuk ke dalam kamar.


Kamar tidurnya bersama Satria itu sudah satu minggu tidak ia tiduri. Selama itu Inggrid berada di apartemen kekasihnya.


Suara ketukan terdengar saat Inggrid baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mama ..." seru Hanna dari depan pintu.


Inggrid kesal, menghela nafasnya kasar lalu menggerutu. "Ngganggu orang mau istirahat!"


Hanna terus memanggil sambil mengetuk pintu. "Mama ... Mama ..."


"APA?" -membentak- "Mama pusing. Mama mau istirahat!" ujar Inggrid kesal. Wajah Hanna terlihat kecewa.


"Hanna kangen. Hanna mau tidur sama Mama," ucap Hanna lirih.


"Nggak ada, nggak ada!" -menolak- "tidur di kamarmu sendiri! Mama pusing!" usir Inggrid lalu menutup pintu dan menguncinya.


Hanna masih berdiri didepan pintu dan menangis. Hanna kesepian. Kedua orangtuanya sibuk dengan dunianya sendiri. Seharusnya Hanna lah dunia mereka.


Hanna menyeka air mata yang terus menerus mengalir ke pipi, sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya. Hanna menangis sesenggukan.


Diraihnya foto keluarga di atas meja belajar. Hanna membawanya dalam pelukan kemudian berbaring.


"Hanna rindu Mama Papa yang dulu," ujarnya lirih.


Hati seorang anak yang akan terluka oleh keegoisan orangtua. Hanna merasa tidak diperhatikan lagi.


*****


Seharian Inggrid ada dirumah. Bercengkrama dengan Hanna. Aktingnya memang luar biasa. Hanna yang semalam kecewa dan menangis, mampu di luluhkan hatinya.


"Maafin Mama, Hanna sayang," ujar Inggrid, duduk di samping ranjang Hanna. Inggrid masuk ke dalam kamar putrinya. Membelai serta mencium kedua pipi lalu memeluk.


"Iya, Mama. Hanna minta maaf. Apa Mama masih pusing? Gimana adik bayi? Adik bayi sehat kan, Mama?" tanya Hanna berentetan lalu mengusap perut Inggrid.

__ADS_1


"Mama sudah baikan kok. Adik bayi juga sehat," jawab Inggrid, menyentuh tangan Hanna di perutnya sambil tersenyum.


"Hanna sayang Mama, Papa juga adik bayi," ucap Hanna, memeluk perut Inggrid lalu menciumi adik bayinya.


Inggrid membelai kepala Hanna, "Mama juga sayang Hanna. Putri kecilku,"


"Ayok kita sarapan! Mama sudah masakkan nasi goreng kesukaan Hanna, juga ayam goreng," ajak Inggrid. Sandiwaranya sungguh apik.


"Nasi goreng dan ayam goreng?" tanya Hanna, matanya berbinar.


Sudah sangat lama sekali Inggrid tidak memasakkan makanan kesukaan Hanna. Inggrid selalu sibuk dengan dunia keartisannya.


"Iya sayang. Mama bangun pagi sekali spesial untuk masak makanan kesukaan Hanna. Ayok turun! Hanna harus habiskan semua makanannya. Oke?" terang Inggrid, mengajak putrinya keluar kamar lalu turun ke lantai bawah ke ruang makan.


Hanna sangat senang hari itu. Setelah sarapan, Inggrid memandikan putrinya lalu menemani Hanna berenang bersama terapis.


Inggrid duduk di kursi santai di pinggir kolam sambil sibuk membalas pesan kekasihnya.


📩 Abang


Besok aku tunggu di apartemen. Abang rindu. Abang nggak bisa lama-lama nggak ketemu kamu.


📩 Inggrid


Aku nggak janji. Lihat situasi. Sabarlah dulu, Abang.


📩 Abang


Inggrid hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar tukang mesum, tukang kawin. Maunya kawin mulu tiap waktu." Inggrid menggerutu tapi ia senang dan kegelian membayangkan adegan demi adegan yang di lakukannya bersama selingkuhannya.


Hanna memperhatikan Inggrid yang sedang tersenyum memandangi ponselnya. Hanna senang, ia sangka Mamanya itu sedang bertukar pesan dengan Papanya Satria.


"Sudah selesai?" tanya Inggrid pada terapis. Melihat Hanna keluar dari dalam kolam.


"Sudah, bu," jawabnya.


"Bagaimana perkembangan putri saya?" tanya Inggrid seraya memakaikan bathrobe pada Hanna lalu membantu mengeringkan rambut putrinya yang basah.


Semua orang akan menyangka bahwa Inggrid adalah sosok ibu sekaligus istri yang penyayang perhatian, sabar dan baik.


"Perkembangannya cukup signifikan. Satu bulan lagi, Hanna bisa bergerak bebas dan normal seperti dulu lagi," terang terapis.


"Syukurlah," -mengangguk- "tetap semangat putriku yang cantik!" ujar Inggrid memberikan semangat, sambil mencubit kedua pipi Hanna.


Hanna menggangguk mantap, "Pasti, Mama. Hanna akan terus semangat, asal ada Mama dan Papa di samping Hanna. Hanna pasti seneng banget," kata Hanna, memeluk Inggrid.

__ADS_1


"Iya, sayang," jawab Inggrid.


*****


Sore harinya Satria kembali ke tanah air. Setelah meliburkan diri selama dua bulan. Kepulangannya diketahui Inggrid. Inggrid yang jarang ada di rumah, hari itu ia sukses bersandiwara layaknya istri dan ibu yang baik mempersiapkan kepulangan suaminya.


Tanpa sepengetahuan Hanna, Satria kembali ke rumah.


"Hanna sayang, Papa pulang," ujar Inggrid setelah mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah.


Hanna dan Inggrid sedang duduk di ruang keluarga. Mereka sedang menonton acara kesukaan Hanna di layar televisi.


"Papa pulang?" tanya Hanna, terkejut.


"Iya. Papa pulang. Ayok kita sambut kepulangan Papa!" ajak Inggrid, bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan pada Hanna.


"Asik ... Papa pulang," seru Hanna, senangnya bukan main.


Inggrid menggandeng Hanna menuju teras rumah. Satria terlihat menyeret kopernya dan terkejut melihat pemandangan di depannya. Ia disambut oleh anak dan istrinya.


Hanna berteriak, berlarian ke arah Satria. "Papaaaa,"


Satria menghentikan langkahnya. "Jangan berlari seperti itu sayang!" himbau Satria. Kaki Hanna belum sembuh total. Ia takut cidera itu kembali berefek tidak baik.


Hanna tetap berlari lalu melompat, Satria menangkap kemudian menggendongnya.


"Hanna kangen banget sama Papa. Hanna seneng banget Papa pulang. Papa jangan pergi-pergi lagi! Hanna harus ikut kemana pun Papa pergi," ujar Hanna, menghujani kecupan pada wajah Ayah yang sudah lama ia rindukan.


"Iya sayang. Papa juga kangen banget sama Hanna. Maafin Papa. Lain kali kita pergi bersama," ucap Satria.


"Papa janji, ya? Jangan bohong!" kata Hanna, memberikan kelingkingnya, tanda perjanjian disepakati oleh mereka berdua.


"Janji!" ujar Satria, menautkan jari kelingking.


Hanna tertawa bahagia. Ayah yang dirindukannya, kini dalam pelukan.


"Welcome home, sayang," seru Inggrid. Mendekat lalu memberi pelukan serta ciuman di pipi kiri dan kanan.


Wajah Satria berubah masam melihat Inggrid. "Hemm," hanya deheman balasan dari Satria.


"Kamu nggak kangen sama aku juga bayi kita?" pertanyaan Inggrid yang menyulut emosi Satria.


Satria menyunggingkan senyum meremehkan. "Ayok kita masuk ke dalam," ajak Satria pada Hanna. Ia mengacuhkan Inggrid.


Inggrid menghentakkan kaki kesal diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2