
Brisia kembali menangis saat ibu mertuanya datang. Airin pulang setelah satu bulan di Belanda. Bukannya disambut dengan suka cita, justru disambut dengan tangisan menantunya.
Brisia menceritakan apa yang terjadi. Tapi Brisia masih belum tahu pria beristri itu siapa. Hanya Rozi yang tahu.
"Bu, Bri mohon bujuk kak Rozi untuk mencari Kahi. Bri cemas. Kahi tidak membawa uang. Kahi juga tidak punya teman. Bri khawatir," Brisia memohon pada mertuanya.
"Ibu akan bicara dengan anak sialan itu! Dimana Rozi? Dia sudah kelewatan. Ibu kecewa," ucap Airin. Wajah tuanya itu terlihat lelah.
"Ada di ruang kerja," jawab Brisia.
Airin pergi ke lantai atas di antar menantunya. Pintu ruang kerja Rozi tidak dikunci. Betapa kagetnya saat pintu terbuka. Barang-barang berhamburan dimana-dimana. Pecahan kaca dari bingkai foto Kahiyang pun berceceran.
Brisia menutup mulutnya. Semarah ini suaminya.
"Bu, hati-hati," menahan lengan Airin.
"Sudah tidak apa-apa. Kamu suruh mbak bersihkan kekacauan ini," titahnya.
Airin melangkah pelan dan hati-hati. Rozi masih tertidur di sofa. Airin langsung memukul wajah putranya dengan bantal.
"Anak kurang ajar! Anak tidak memiliki perasaan!" makinya.
Rozi terkejut. "Ibu! Apa apaan ini? Kenapa memukuliku dengan bantal?" tanya Rozi, menutupi wajahnya dari amukan sang Ibu.
"Apa apaan? Harusnya Ibu yang tanya. Kamu kenapa? Tega kamu berkata seperti itu pada putrimu sendiri?" Airin begitu marah, berganti memukul putranya dengan tangannya sendiri.
"Bu, stop. Berhenti!" Rozi menangkap tangan Airin.
"Kamu keterlaluan. Cucu Ibu cuma punya kita. Kita keluarganya, tapi sekarang dia pergi," tubuhnya terasa lemas, turun dan terduduk di lantai.
"Maafkan Ibu, Kiran. Ibu memiliki putra yang tidak memiliki hati. Maafkan Ibu ..." Airin menangis, merasa bersalah akan kepergian Kahiyang dari rumah.
"Bu, jangan begini. Bangun," Rozi berusaha memapah ibunya. Tetapi Airin menolak.
__ADS_1
"Biar Ibu seperti ini. Ibu sangat berdosa. Ibu sedih, ibu kecewa. Kamu sudah menyakiti cucu Ibu. Oh ... Kahi cucuku. Maafkan Nenek ..." Airin menangis, meraung.
Brisia berdiri di ambang pintu, terus menyeka air matanya.
"Tapi dia salah, Bu. Rozi harus memberinya pelajaran. Biarkan dia pergi. Anak keras kepala! Sudah tau salah tapi tetap dia lakukan itu. Apa kasih sayang yang kita beri kurang? lalu dia mencarinya pada laki-laki beristri? Salah Rozi dimana, Bu?" ujar Rozi.
"Cara kamu salah! Kamu sudah menghina Kiran. Benar kata Kahiyang, salahkan dia tapi jangan hina ibunya. Kahiyang ada karena kesalahanmu juga! Kamu lupa? Kamu dan Kiran yang melakukan kesalahan itu, bukan hanya Kiran saja. Kamu juga, Rozi!" Airin kembali memukul Rozi dengan bantal.
Rozi diam. Dia memang salah.
"Kenapa diam? Amarahmu itu tidak terkontrol. Ayah macam apa yang mengalihkan kesalahannya pada orang lain? Orang yang dulu pernah kamu cintai. Ingat itu! Kamu dulu yang memilih Kiran, bukan Ibu atau siapa pun. Dan kamu yang membawa Kahiyang ke keluarga kita. Ingat perjuanganmu saat itu! Kamu hampir berpisah dengan Brisia," cecar Airin.
"Lihat istrimu!" -menunjuk Brisia- "dia menerima Kahiyang dengan tulus. Mencintai putrimu seperti putrinya sendiri. Begitu juga dengan Bitna dan Brenda. Bagi mereka, Kahiyang kakak terbaik yang mereka miliki. Kalau saat ini Kahiyang salah melangkah, rangkul dia. Berikan pengertian padanya. Bukan menyakitinya! Sekarang Ibu mau, kamu bawa pulang cucu Ibu! Minta maaf pada putrimu. Dan jangan memaksanya untuk menikah dengan laki-laki pilihanmu! Bukan yang terbaik menurut versimu tapi yang Kahiyang mau. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri," Airin lelah mengomeli putranya.
"Tapi dia justru memilih laki-laki itu, Bu. Pria itu usianya jauh diatas Kahiyang," -mengatur nafas- "dia Satria Arsyanendra, pemilik Yayasan dimana Bitna dan Brenda sekolah," Rozi menatap Brisia.
Brisia mundur, berpegangan pada gawang pintu. Ia terkejut.
"Itu tidak penting. Yang terpenting bawa Kahiyang pulang. Ibu yang akan bicara dengannya," Airin pergi dari ruangan itu, menuruni tangga, masuk ke dalam kamarnya.
"Ah ... Kahiyang cucuku. Nenek sangat bersalah. Nenek ingin meminta maaf. Nenek ingin memelukmu," Airin mengusap foto dirinya bersama Kahiyang saat liburan musim dingin tahun lalu di London.
Pagi itu menjadi pagi yang amat berat untuk Airin. Kepulangannya karena rindu pada keluarga, ingin berkumpul dan menikmati waktu bersama-sama.
Bitna menghubunginya untuk cepat-cepat pulang ke Indonesia. Sabtu ini Bitna mengajak seluruh keluarga untuk menginap di Vila. Namun rencana berubah setelah Rozi memutuskan untuk menggelar acara pertunangan Kahiyang bersama Bumi.
Airin tidak mengira jika Kahiyang akan senekat itu menyukai pria beristri. Kahiyang yang Airin tahu, Kahiyang yang penurut, tidak suka membuat ulah, baik dan penyayang. Tapi sekarang semua berbeda. Cucunya berubah.
"Nenek akan mendengar semua keluh kesahmu. Cepat pulang lalu peluk Nenek," gumamnya sendiri.
Airin tidur memeluk bingkai foto itu. Sampai waktunya makan siang, Brisia mengetuk pintu.
"Bu, makan siang dulu. Brisia sudah masakkan makanan kesukaan Ibu," ujar Brisia duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Airin menggelengkan kepala, menolak, tidak mau. Selera makannya menurun.
"Jangan begitu, bu. Ibu baru saja pulang, Ibu butuh energi lagi. Kahi pasti sedih kalau lihat Neneknya sakit. Makan dulu ya, bu? Atau Brisia bawa makanannya kemari?" Brisia begitu sabar dan perhatian pada Ibu mertuanya.
"Ibu mau Kahiyang pulang. Kalau Kahi belum juga pulang, Ibu nggak mau makan," Airin mogok makan. Seperti sedang mengibarkan bendera perang pada putranya, Rozi.
Brisia gagal membujuk mertuanya, ia merajuk pada Rozi.
"Pa, tolong bawa Kahi pulang. Cari dia, Pa. Ibu sampai tidak mau makan. Ibu mau Kahi pulang," Brisia memohon pada suaminya.
"Untuk apa mencarinya? Dia akan tetap memilih laki-laki itu! Sekarang saja dia berani tinggal bersama," ungkap Rozi.
"Maksud Papa?" tanya Brisia.
"Papa mengirim orang untuk datang ke sekolah. Satria tidak datang ke kantornya," terang Rozi.
"Lalu? Papa pikir Kahiyang bersama Satria?" tanya Brisia lagi.
"Iya. Dan nyatanya begitu. Orang suruhan Papa, mengirim foto ini," menunjukan gambar dari ponselnya, Satria dan Kahiyang keluar dari Apartemen semalam.
Lagi-lagi Brisia membungkam mulutnya. Kahiyang benar-benar berani melakukan itu.
"Kenapa putri Mama seperti ini?" gumamnya, masih menatap layar ponsel.
"Papa memang salah, Papa memang marah tapi Papa tetap mengawasinya. Papa ingin Kahi menyadari kesalahannya. Apa yang dia lakukan salah. Kahi sudah besar, seharusnya dia bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah," Rozi duduk di kursi kerjanya.
"Tapi Mama takut mereka melakukan hal yang tidak-tidak, Pa. Sebelum terlambat, bawa Kahiyang pulang! Mama tidak mau mengambil resiko," Brisia kembali memohon.
Rozi diam, menggertakkan gigi dan mengeraskan rahangnya. Sejujurnya Rozi sama khawatirnya. Rozi tidak ingin Kahiyang dan Satria melangkah lebih jauh lagi.
To be Continued...
Airin Prasojo
__ADS_1