
Satria keluar rumah sakit sambil mendorong kursi roda yang diduduki istrinya. Langkah kakinya terasa berat kala wartawan begitu ramai berkerumun di depan lobby. Satria cemas memikirkan bagaimana jika Kahiyang melihatnya di layar televisi. Berita kehamilan istrinya menggemparkan dunia entertainment indonesia.
Sudah sejak lama, para penggemar menunggu kabar sang aktris mengandung untuk kedua kalinya. Dan saat itu akhirnya tiba juga. Kabar kehamilan Inggrid benar-benar menyita atensi khalayak ramai.
"Kamu kenapa? diem aja dari tadi," -memiringkan duduknya- "kamu nggak jawab pertanyaan mereka. Aku yang selalu jawab," sungut Inggrid setelah mereka masuk ke dalam mobil saat perjalanan menuju bandara Ngurah Rai, Bali.
"Aku bukan artis atau selebritis," timpal Satria tanpa menoleh.
Sejak kabar kehamilan Inggrid, Satria banyak berdiam diri. Hanya senyum kecil terpaksa saat diminta istrinya.
Inggrid mencibir. "Selalu jawaban itu. Monoton."
"Seenggaknya sekali aja kasih feedback ke mereka. Kesan selama ini, kamu sosok suami yang cuek, nggak peka sama istri," Inggrid kembali melayangkan protesnya.
"Kalau aku nggak peka, aku nggak akan terbang ke Bali cuma buat liat kondisimu. Aku cuek memang dari dulu. Kamu tau itu. Pernikahan kita awalnya juga karna perjodohan. Justru kamu yang dulu tidak mau aku sentuh!" Satria geram. Rasanya keresahan selama beberapa hari kemarin ingin ia tumpahkan.
"Kenapa meneriakiku? aku sedang hamil. Kayaknya kamu nggak suka aku hamil. Dari kemarin kamu diam. Atau kamu kecewa karna aku hamil?" tanya Inggrid dengan lantang.
Arila yang duduk di bagian belakang sudah terbiasa mendengar perdebatan antara Inggrid dan Satria. Arila memasang earphone, memutar musik keras-keras dari ponselnya.
"Jaga bicaramu, Inggrid! Berhenti berteriak!" Satria mengeraskan rahangnya, menatap tegas istrinya.
Inggrid menunjuk wajah Satria. "Kamu yang berteriak lebih dulu!"
Satria mengepalkan tangannya, menahan amarah.
"Kenapa diam lagi?" tanya Inggrid. Kesal karena tidak ditanggapi.
"Aku nggak mau berdebat." jawab Satria memilih menatap keluar jendela.
Wajah Inggrid berubah muram. Kehamilannya justru tidak membawa angin segar untuk rumah tangganya.
Ponsel Satria bergetar, notifikasi pesan chat whatsapp muncul dari orang suruhannya. Namun ia masukkan lagi ponselnya ke dalam saku.
"Kenapa nggak dibales? dari siapa? dari selingkuhanmu?" cecar Inggrid lalu menarik lengan Satria. "Kenapa diem? jawab!"
"Apa sih? aku bilang, aku nggak mau berdebat. Hentikan tingkah kekanak-kanakanmu Inggrid!" menepis tangan istrinya.
"Kamu jadi kasar sama aku. Gimana kalau Hanna sampai tau sikap kamu yang begini? kamu berubah Satria!" ujar Inggrid. Kebiasaannya yang tidak pernah mau mengalah. Satria akan terus mendengar ocehan istrinya sepanjang perjalanan.
"Diamlah Inggrid. Kamu sedang hamil. Jangan membuat suasana semakin panas." Satria jengah. Di pikirannya saat ini, bagaimana caranya menghubungi Kahiyang. Ia tidak mau Kahiyang tau kabar kehamilan Inggrid. Satria ingin menjelaskan sendiri pada kekasihnya itu.
__ADS_1
Burung besi mengudara dari Indonesia bagian tengah menuju Indonesia bagian barat. Satria begitu gelisah. Rasanya sungguh tidak nyaman. Ingin segera pergi menemui Kahiyang.
Inggrid menghampiri asistennya, Arila. "Suruh Romi selidiki Satria. Ada yang nggak beres sama dia. Dia yang ngebet punya anak lagi tapi sekarang malah gitu. Nyebelin." gerutu Inggrid.
Arila mengangguk. "Baik, Mba,"
Satria benar-benar meninggalkan Inggrid di bandara bersama Arila. Ia langsung menghentikan taksi dan pergi menuju kediaman Rozi.
"Anj*ing! Breng*sek! Dia tinggalin gue, La. Gue lagi hamil begini. Ada yang nggak beres. Gue yakin. Cepet La, suruh Romi buntutin dia!" Inggrid begitu kesal sampai mengumpat.
"Sabar, Mba. Jangan emosi. Mba lagi hamil muda," Arila mengusap punggung Inggrid, lalu tangan kanannya bergerak lincah menghubungi Romi.
Perintah Inggrid sudah Arila sampaikan pada Romi. Selanjutnya mereka buru-buru masuk ke dalam mobil jemputan. Inggrid akan mengadukan sikap Satria pada Papa Mama mertua yang sudah terlebih dulu kembali ke Jakarta.
"Pak, tolong lebih cepat lagi. Saya harus menemui seseorang. Ini penting. Urgent!" ujar Satria setelah menepuk pundak sopir taksi.
"Maaf, Pak. Jam segini pasti macet. Jam bubar kantor," jawabnya.
Satria melihat jam dipergelangan kirinya. "Astaga! Maaf, Pak. Saya nggak lihat jam. Tapi bisa kan kalau lewat jalan tikus?" Satria memberi ide.
"Bisa, tapi jalannya sempit. Kalo ada mobil lain papasan, sama aja boong. Gak bisa gerak," jawaban logis sang sopir.
Satria semakin kalut mendengar jawaban itu.
"Ojol?" Satria mulai memikirkan ide dari sopir taksi.
"Iya, Pak. Kalo mau, saya turunin didepan situ. Pas banget mulai stuck," imbuhnya.
Satria akhirnya setuju. Memberikan tiga lembar uang kertas berwarna merah, lalu menyetop ojol.
"Saya nggak punya aplikasinya, Mas. Lepasan aja gimana? saya kasih segini," menyodorkan lima lembar warna merah.
Mas ojol tergiur melihat uang yang banyak itu. Pikirnya ia bisa membelikan boneka boba yang sangat di inginkan putrinya nanti. Rezeki pantang di tolak, gumamnya dalam hati.
"Oke, Pak. Ini-" menyerahkan helm pada Satria.
Satria langsung memakai helm itu dan ikut membelah kemacetan ibu kota. Ia ingin segera menemui Kahiyang bagaimanapun caranya.
Tepat pukul delapan malam Satria sampai di depan gerbang rumah Rozi. Mang Parto membuka jendela pos jaga.
"Cari siapa, Pak?" tanyanya dengan nada khas jawa.
__ADS_1
Satria berjalan mendekat. "Apa Kahiyang ada?" tanya Satria ragu.
"Non Kahi? Ada. Bapak ada perlu apa dengan Non Kahi?" tanyanya lagi.
"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Saya harus bertemu dengan Kahiyang. Ini penting," terang Satria. Ia sungguh gelisah.
"Tapi ... Non Kahi tidak diperbolehkan bertemu siapapun. Terutama orang yang bernama Satria. Bapak, Satria?" tanya Mang Parto tanpa ragu.
"Hah?" Satria terkejut.
"Kalo bapak, Satria. Mohon maaf, silahkan anda pergi dari sini!" usirnya.
"Saya mohon. Sebentar saja. Ini sangat penting. Saya nggak bisa pulang gitu aja. Tolong saya," Satria terus memohon.
"Pak Rozi ada didalam. Jangan membuat keributan! Lebih baik bapak cepat pergi dari sini!" Mang Parto kembali mengusir Satria.
"Saya harus ketemu Kahiyang sekarang juga!" Satria teguh pada pendiriannya. Lalu berteriak memanggil Kahiyang tanpa malu didengar orang lain.
Mang Parto membuka pintu gerbang tunggal untuk menghentikkan aksi Satria.
Bug...
Satria meninju Mang Parto sampai tersungkur. Dan mengambil kesempatan itu untuk menerobos masuk ke dalam rumah.
Satria berteriak memanggil manggil Kahiyang untuk keluar. Tapi justru Rozi yang muncul dari balik pintu.
"Untuk apa anda datang kemari?" tanya Rozi lantang. Mang Parto datang tergopoh-gopoh karena pusing akibat tinjuan yang dilayangkan Satria tepat pada mata kanannya.
"Saya ingin bicara dengan Kahiyang. Sebentar saja. Ini hanya salah paham. Berita itu tidak benar. Saya bersumpah, itu tidak benar," ujar Satria.
"Pergi dari sini! Tidak ada yang harus dijelaskan! Kahiyang sudah memutuskan untuk tidak menemui anda lagi. Kahiyang akan tetap bertunangan dengan Bumi. Dan segera menikah!" ungkap Rozi.
Satria tidak terima. Terus berteriak memanggil Kahiyang yang tak kunjung menampakkan dirinya.
Rozi geram lalu mengutus beberapa laki-laki yang bekerja di rumahnya untuk membawa keluar Satria.
"Lepas! Saya nggak akan pergi sebelum bicara dengan Kahiyang," -meronta- "sayang ... Kahiyang. Aku harus menjelaskan semua. Jangan percaya berita itu. Semua bohong. Percaya aku ..." teriakannya terdengar sampai di telinga Kahiyang.
Kahiyang berdiri di balik vitrase putih. "Aku nggak akan percaya. Kamu udah bohongi aku, Mas. Semua bukti itu jelas." gumamnya, menyeka sudut mata.
To be Continued...
__ADS_1