Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
61 : Tak Berkutik


__ADS_3

Dengan gaya tegasnya, Kahiyang memberikan sambutannya lalu berdiri bersama perwakilan dari Kedutaan Inggris, Kemendikbud dan juga para promotor untuk membuka acara pameran seni itu.


Kahiyang bersikap angkuh saat ekor matanya menangkap sosok seseorang yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Kahiyang enggan menyapa.


Sungguh menyebalkan, batin Kahiyang berteriak. Satria memilih berdiri di sampingnya. Aroma parfume Musk menguar, menusuk hidung Kahiyang. Aroma yang dulu pernah di endusnya.


"Kamu cantik banget," bisik Satria. Kahiyang membuang wajahnya, muak dengan rayuan Satria. Bisa-bisanya di tempat umum, bertingkah seperti itu.


Tangan kanan Satria merangkul pinggang Kahiyang tanpa terlihat oleh lainnya. Kahiyang menurunkan perlahan rangkulan itu.


"Jangan berulah!" ancam Kahiyang tanpa membuka mulutnya. Bukannya marah, namun Satria tersenyum. Kahiyang semakin kesal.


Soft opening berlangsung lancar. Kini Kahiyang memandu orang-orang penting itu untuk menjelaskan setiap karya seni yang terpajang. Beberapa ada yang memang di komersilkan, termasuk karyanya sendiri. Sedangkan teman satu grup dengan Kahiyang memandu tamu lainnya.


Satria terus berada di samping Kahiyang, bukan mendengarkan penjelasan yang gadis itu terangkan tapi justru terpesona dengan wajah Kahiyang.


Kahiyang tahu Satria terus memperhatikannya, namun ia harus tetap profesional.


"Ini salah satu karya saya berjudul Mencintaimu Ibu. Saya membuatnya dengan maksud, penggambaran begitu dalamnya cinta seorang anak pada ibunya. Ada kerinduan di hati anak itu. Tidak hanya ibu yang cintanya luas, namun cinta seorang anak pun begitu dalam," terang Kahiyang, menjelaskan salah satu karyanya.


"Saya mau lukisan ini," seru Satria.


"Maaf, pak Satria yang terhormat. Untuk lukisan ini saya tidak menjualnya," jawab Kahiyang tegas. Satria diam, tidak menimpali. Posisinya sangat tidak mungkin untuk berdebat.


Seketika suara gaduh terdengar. Semua menoleh ke belakang. Seorang artis Inggrid Mahira datang ke gedung itu. Pengunjung lain riuh dan berebutan ingin berswafoto.


Satria marah melihat Inggrid yang tiba-tiba datang.


'Dari mana perempuan itu tau acara ini?' pikir Satria.


Kemudian membisikkan kata pada Kahiyang. "Aku ingin bicara, setelah acara ini selesai. Tunggu aku di tangga darurat. Kamu tau aku tidak suka di bantah!" Kahiyang jengah mendengar perintah Satria. Ia mengedikkan bahu, masa bodoh.


"Halo, sayang ... Maaf aku terlambat," ujar Inggrid memeluk Satria lalu mengecup pipi. Sengaja melakukan itu di hadapan Kahiyang tanpa malu di tonton banyak pasang mata termasuk orang-orang penting lainnya.


"Selamat malam semua. Maaf sudah membuat keramaian," sapa Inggrid sambil mengusap-usap perut buncitnya, memamerkan pada Kahiyang. Dan semua orang penting itu mengangguk memaklumi. Kahiyang membuang muka, membalikkan badannya bersiap memandu kembali. Inggrid tersenyum licik.

__ADS_1


"Buat apa kamu kemari? Dan dari mana kamu tau acara ini?" tanya Satria dengan berbisik-bisik.


"Pastinya untuk kamu dong sayang. Aku kan istrimu. Aku juga sedang hamil anak kamu. Kita melakukannya sangat panas malam itu," jawabnya sedikit mengeraskan volume suaranya agar Kahiyang mendengarnya.


Kahiyang memejamkan mata, menahan emosinya. Rasanya ingin mengusir pasangan itu.


"Jaga ucapanmu, Inggrid! Kamu datang untuk mengacaukan semua, bukan? Aku tau sifat licikmu. Dan sampai kapan pun, dia bukan anakku. Tidak pernah terjadi malam menjijikkan itu!" ujar Satria tepat di telinga Inggrid. Raut wajah Inggrid sangat merah dan kesal. Kahiyang kesal namun mendengar perkataan Satria, ia menahan senyumnya.


"Apa kalian bisa diam? Saya merasa terganggu," celetuk Kahiyang. Telinganya berbunyi karena Satria dan Inggrid terus saja berdebat.


Tanpa menjawab, Satria langsung menarik Inggrid keluar gedung.


"Apa apaan kamu? Aku lagi hamil. Pelan sedikit," protes Inggrid, enggan keluar.


"Kamu sudah membuatku malu, Inggrid! Tingkahmu sungguh kekanak-kanakan! Sekarang pulang lah! Angin malam untuk ibu hamil tidak baik. Meskipun bayi itu bukan darah dagingku tapi aku seorang ayah, bayi itu tidak bersalah. Jangan kamu jadikan sebagai tameng! Aku mohon pulanglah!" usir Satria dan Inggrid tetap tidak mau. Satria menghubungi sopir istrinya itu untuk segera datang ke lobby gedung.


"Aku nggak mau pergi dari sini! Aku nggak bisa biarin wanita murahan itu menang! Kamu milikku, Hanna juga putriku. Kamu bisa apa?" Inggrid mencoba membalikkan keadaan.


"Aku bisa menceraikanmu dan membawa Hanna pergi!" ujar Satria sambil mencengkeram lengan Inggrid. Beruntung lobby tidak terlalu banyak orang.


"Kamu nggak akan bisa menceraikanku!" balas Inggrid sengit.


"Cepat bawa dia pulang!" titah Satria pada sopir Inggrid.


"Baik, pak,"


Satria membanting pintu mobil lalu bergegas masuk ke gedung lagi. Ia mengurungkan untuk kembali bergabung dengan Kahiyang. Satria mengamati dari kejauhan. Satria menunggu waktu yang tepat untuk berbicara empat mata.


Kahiyang mengedarkan pandangannya, mencari sosok Satria. Meskipun bibirnya mengatakan tidak, namun hati dan pikirannya ingin tahu dimana pria dewasa itu berada.


'Apa dia pulang?' tanya Kahiyang dalam hatinya.


"Ehem ... Aku disini," suara yang ia cari muncul tiba-tiba, membuat Kahiyang terkejut.


Untuk menutupi rasa malunya karena kepergok mencari Satria, Kahiyang kembali membuang wajahnya lalu memejamkan mata, menunduk, merutuki diri.

__ADS_1


"Aku tunggu di tangga darurat," pesan Satria. Pria itu langsung pergi ke sudut ruang pameran.


Kahiyang dilema, menghampiri Satria atau tidak. Hal apa lagi yang mau dibicarakan? Bukankah semua sudah jelas dan sudah selesai. Pikir Kahiyang.


Perasaan menuntunnya untuk ke sudut ruangan. Kahiyang juga ingin tahu, soal apa yang akan Satria katakan.


Perlahan melangkahkan kakinya, mencari sela dimana orang-orang tidak memperhatikannya. Kahiyang takut jika ada yang melihatnya menyusul Satria.


Sekuat tenaga Kahiyang mendorong pintu itu, karena memang pintu darurat memiliki bobot yang berat.


Sosok Satria tersenyum padanya, membantu menutup pintu.


"Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan!" bentak Kahiyang.


"Kenapa terburu-buru? Apa lebih baik kita mencari tempat lain yang lebih layak?" tanya Satria, mendekat.


"Stop! Jangan mendekat lagi! Aku tidak mau ada orang yang curiga. Jadi katakan sekarang juga!" Kahiyang ingin segera mendengar dan mengakhiri pertemuan mereka itu.


"Bagaimana hubunganmu dengan Bumi?" Satria memulai menginterogasi, memancing Kahiyang.


"Mmm ... Baik," -gugup- "cuma itu yang mau kamu katakan?" Kahiyang kesal dan akan menarik pintu darurat. Satria menahannya.


"Bukan hanya itu," ujar Satria, tangannya masih menahan pintu.


"Lalu apa lagi? Sudahlah, istrimu yang sedang hamil itu pasti menunggumu. Lebih baik kita akhiri pembicaraan tidak penting ini!" Kahiyang menarik tangan Satria agar tidak lagi menghalanginya.


"Aku bilang, kita belum selesai bicara!" menarik tangan, merengkuh pinggang Kahiyang. Jarak wajah keduanya sangat dekat.


"Aku tau, kamu merindukanku. Begitu juga denganku. Aku sangat merindukanmu," perkataan Satria ditanggapi dengan cibiran Kahiyang.


"Omong kosong! Aku tidak pernah dan tidak akan merindukanmu! Aku sudah memiliki suami yang sangat mencintaiku. Jadi jangan coba-coba merayuku lagi!" Kahiyang berkilah. Satria mengeraskan rahangnya, semakin merapatkan tubuh mereka.


"Kamu yakin?" Kahiyang mengangguk lalu Satria tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Kahiyang, heran.

__ADS_1


"Kamu mencoba membohongiku? Sejak kapan kamu memiliki suami? Kamu sendiri yang membatalkan pernikahan itu," Satria langsung membuat Kahiyang tidak berkutik.


To be Continued...


__ADS_2