
Keduanya masih saling memagut, merasakan manis dan lembutnya bibir. Suara decakan terdengar menggelitik telinga, pertemuan dua lidah yang saling membelit. Seperti pertempuran adu mulut dengan arti yang sebenarnya.
Saling menjelajah dalamnya mulut dan deretan gigi yang tersusun rapih. Gairah di dada seakan memanas dan ingin dilepaskan. Kenyataan jika mereka berdua sudah sama-sama sendiri, membuat mereka lebih berani untuk melangkah.
Satria membawa Kahiyang dalam pangkuan dengan bibir masih bertautan, tak ingin melepaskan hanya sedetik saja.
Tangan kekar itu menjelajah, menyentuh lekuk tubuh Kahiyang dengan lembut. Satria dan Kahiyang larut akan hasrat yang membuncah, melupakan Hanna di kamar seorang diri.
Suara merdu lolos dari bibir Kahiyang, saat bibir lembut Satria membuat tanda kepemilikan di atas dada. Entah kapan, bajunya sudah terlepas. Tertinggal penutup dada yang masih menempel.
Satria terus menciumi, lalu tanpa bertanya kaitan itu terbuka dengan cepat, menampakkan payu*dara kencang dengan ujungnya berwarna merah muda. Tatapan keduanya beradu, Kahiyang menggigit bibirnya, membayangkan bibir Satria menempel di sana.
Menekan punggung lebih dekat, Satria sukses mendaratkan bibir dan juga lidahnya bergerak lincah pada benda mungil merah muda itu.
Kahiyang mendongakkan kepalanya, seraya meremas rambut ikal pria yang sedang menikmati dadanya begitu lembut lalu berubah rakus. Suara merdunya kembali lolos, "Aahh ..."
Setelah sekian lama tidak merasakan mencumbu, Satria seperti kehausan di tengah padang pasir. Dua benda itu di nikmatinya dengan rakus, di iringi suara merdu Kahiyang yang membuat keperkasaan di balik celana menggeliat.
Satria mengangkat Kahiyang ke atas ranjang, menarik seluruh celana yang tersisa. Tubuh cantik yang hampir polos itu dikungkungnya. Menciumi setiap lekuk tubuh, dan berakhir pada lembah yang masih tertutup under*ware berwarna hitam.
"Mas ..." Kahiyang menutup kakinya saat Satria akan membukanya. Satria kembali merangkak, memberikan ciumannya lagi. Kahiyang kembali terbuai.
Tangan nakal Satria menurunkan kain penutup terakhir milik Kahiyang. Gadis yang sedang di pujanya benar-benar dalam keadaan polos.
Satria tidak mau menyia-nyiakan waktu, jarinya nakal menyentuh inti tubuh Kahiyang yang ternyata sudah basah. "Aahh ..." suara merdu itu kembali terdengar.
Kahiyang menegang, sengatan aneh muncul begitu saja saat jari-jari Satria bergerak lembut.
Luma*tan pada bibir di sertai gerakan di bawah tubuhnya, membuat Kahiyang kelimpungan. Rasa nikmat dirasa akan menemukan puncaknya.
Pelepasan pertama begitu indah dan melambungkan raganya. Satria tahu itu dan terus menciumi bibir penuh Kahiyang.
"Bolehkah aku menciumnya?" tanya Satria. Kahiyang mengerti apa maksud ucapannya. Awalnya ragu, namun gerakan lutut Satria sangat lembut membuka kedua kaki yang masih dikungkungnya.
Kecupan-kecupan ringan di inti tubuhnya terasa menggelitik dan membuat bulu kuduk meremang. Kahiyang membuka mulutnya, menengadah ke atas ke langit-langit kamar hotel.
__ADS_1
Kedua kalinya Kahiyang merasakan inti tubuhnya berdenyut. Tenaganya cukup terkuras. Pengalaman pertama Kahiyang merasakan dicumbu.
"Jangan sekarang! Kita butuh pengaman," cegah Kahiyang saat Satria akan membuka kancing celananya.
Satria mengerutkan keningnya sambil menggaruknya. Sangat tidak mungkin, ia harus turun untuk membeli pengaman. Miliknya sudah ingin keluar dari sarangnya dan ingin segera memasuki lembah memabukkan.
"Aku bisa mengeluarkannya di luar," bisik Satria lalu mengecup bibir Kahiyang singkat. Buru-buru Satria melepaskan celananya.
"Mas, Hanna ..." Kahiyang mengingatkan Satria. "Hanna sendirian di kamar dan pasti sudah menunggu kita terlalu lama," sambungnya.
Satria menepuk keningnya, merasa bodoh karena terlalu terlarut dalam hasrat.
"Sebentar saja. Aku janji, hanya sebentar," ujar Satria, lalu kembali melepaskan celananya. Kahiyang membuang wajahnya, tidak ingin melihat tubuh polos Satria.
Pria dewasa, duda anak satu itu sedang berdiam diri setelah mampu menembus masuk. Menyamankan gadis yang ada di bawah kendalinya.
Rasa pedih berangsur mereda, wajah meringis Kahiyang berubah memerah kala Satria mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.
Penyatuan yang indah. Untuk pertama kalinya bagi Kahiyang, meskipun awalnya Satria sedikit kesulitan menembus pertahanan. Dan setitik bercak merah menodai alas berwarna putih.
Gerakan pinggul Satria berayun semakin cepat. Memeluk Kahiyang, meraup bibir seksi yang sedikit menebal karena ulahnya.
Kamar hotel Kahiyang terasa panas. Titik-titik keringat membasahi tubuh. Dan sesuai janjinya, Satria melepaskan penyatuan itu setelah Kahiyang mengejang dan dirinya berlari, masuk ke dalam toilet untuk menumpahkan semua amunisinya.
Satria mengecup kening Kahiyang lekat setelah membersihkan diri. Mereka masih sama-sama dalam keadaan polos.
"Aw ..." inti tubuh Kahiyang terasa nyeri. Satria memapah Kahiyang masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai berpakaian, Satria terus menggenggam tangan Kahiyang menuju kamarnya di lantai atas. Hanna putrinya pasti akan marah, karena menunggu cukup lama.
Pasangan yang sedang di mabuk cinta itu masuk ke dalam lift. Satria terus memberi kecupan pada puncak kepala dan pelipis Kahiyang. Kahiyang tersenyum lalu membalas dengan kecupan singkat di bibir Satria.
"Nanti malam aku tunggu di sofa. Aku akan turun, membeli pengaman," bisik Satria. Setelah merasakan pertama kali bersenggama dengan Kahiyang, rasanya Satria ingin melakukannya lagi.
Kahiyang mencubit manja hidung Satria yang mancung. "Mesum,"
__ADS_1
Satria langsung menangkap tangan Kahiyang, mengecup punggung tangan. "Aku mesum denganmu saja," bisiknya. Kahiyang tertawa.
Dengan langkah perlahan, Kahiyang dan Satria masuk ke dalam kamar. Ternyata Hanna sudah tertidur.
Plak ... Kahiyang memukul bahu Satria. "Aw ... Kenapa memukulku?" tanyanya.
"Kasian Hanna. Gara-gara kamu, Mas," tunjuk Kahiyang lalu meletakkan tas selempangnya ke atas meja, menghampiri Hanna yang sudah terlelap.
Kahiyang membaringkan tubuhnya di samping Hanna, memeluk putri kesayangan Satria.
Melihat itu, Satria tersenyum bahagia. Ikut mendekati, lalu membisikkan sesuatu pada Kahiyang.
"Aku turun. Aku tunggu di sofa," bisik Satria. Kahiyang terkejut seraya menggelengkan kepala dengan sikap mesum ditambah kerlingan mata genit Satria.
Satria bergegas keluar kamar untuk turun membeli pengaman di apotik terdekat. Layaknya pasutri baru yang sedang bulan madu, Satria begitu menggebu-gebu.
Kahiyang kembali teringat bagaimana penyatuannya tadi bersama Satria untuk pertama kalinya. Hanya dengan mengingatnya saja, tubuh bagian bawahnya kembali lembab.
Ia memutuskan untuk turun dari ranjang, membuka kopernya. Mencari pakaian seksi untuk memberik kejutan pada Satria.
Karena pertemuan mereka tidak direncanakan, Kahiyang tidak memiliki pakaian tidur seksi. Hanya ada bikini untuk berendam di kolam air hangat. Kahiyang memutuskan untuk memakainya.
Memandangi tubuhnya berbikini dari cermin kamar mandi, Kahiyang tersenyum geli. Entah apa yang ada dipikirannya hari itu, Kahiyang hanya ingin menghabiskan waktu semalaman bersama pak duda.
Menunggu Satria datang, Kahiyang mengunci pintu kamar dimana Hanna masih tertidur. Tubuhnya di tutupi oleh bathrobe putih hotel, duduk menunggu Satria di atas sofa.
Ruangan santai terpisah dari kamar tidur itu memiliki kaca besar dengan pemandangan menara Eiffel. Sangat indah dan romantis.
Suara pintu dibuka setelah tanda bunyi bippp. Kahiyang menoleh ke arah pintu. Satria diam mematung melihat bathrobe putih yang Kahiyang pakai.
"Apa ini? Kejutan untukku?" tanya Satria mendekati Kahiyang, mengecup pipi, memeluknya.
"Special for you," bisik Kahiyang lalu menggigit telinga Satria, menggoda, membangkitkan sesuatu di bawah sana.
To be Continued...
__ADS_1