Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
14. Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Kahiyang yang keras kepala dan Hanna yang manja, dengan cepat mengakrabkan diri. Satria terus memandang kedekatan putrinya bersama Kahiyang.


Sangat cantik. Satria bermonolog sambil punggung jari telunjuk mengusap bibir bawahnya.


"Ini semua lukisan kakak?" tanya Hanna saat melihat beberapa foto lukisan Kahiyang di ponselnya.


Kahiyang mengangguk. "Iya, ini semua lukisanku. Ah, ada satu lagi," -menggulir layar, mencari sesuatu- "ini lukisan ibu dan ini lukisan kakak waktu kecil seusia kamu," Kahiyang menunjukkan dua lukisan yang sama. Kahiyang saat sekolah dasar meniru lukisan mendiang ibunya, Kiran.


"Wah, sama Kak. Ini sama persis. Bagus sekali," -menoleh ke arah Satria- "Papa, lihat! lukisannya bagus sekali. Hanna juga ingin bisa melukis seperti kak Kahiyang," Hanna menunjukkan layar ponsel Kahiyang dari atas ranjangnya.


Satria mengangguk sambil tersenyum, Kahiyang menatap lekat pria beristri itu.


Sungguh tampan. Batin Kahiyang, lalu ia mengubah tatapannya ke arah lain.


Satria masih terus melihat Kahiyang yang salah tingkah, seraya tersenyum kecil.


"Yeay ... asyik. Hanna mau belajar melukis. Kakak Kahiyang mau kan mengajariku melukis?" tanyanya pada Kahiyang.


"Boleh. Nanti kakak bawakan peralatan melukis untuk Hanna," jawabnya.


"Tidak perlu. Nanti saya saja yang menyiapkan peralatannya. Kamu bisa beri tahu saya, apa saja yang harus saya beli," timpal Satria.


"Baiklah ..." balas Kahiyang.


Selama dua jam Kahiyang menemani Hanna dan kini Hanna sudah terlelap. Sedangkan Satria sibuk berkutat dengan laptopnya.


Kahiyang diam memperhatikan Satria yang fokus menatap layar laptop dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya. Dan lagi lagi tatapan mereka bertemu. Kahiyang spontan bangkit dari kursi sisi kanan ranjang.


"Saya mau kembali ke kamar," Kahiyang salah tingkah.


Satria menutup laptop, ikut bangkit. "Saya antar." ucapnya.


"Nggak perlu. Saya bisa sendiri. Permisi," tolak Kahiyang.


Rasanya tidak enak dilihat oleh pegawai rumah sakit lainnya, jika mereka jalan berdua saja. Satria pria yang jauh lebih dewasa dan beristri itu sanggup menimbulkan gosip-gosip tidak sedap nantinya.


"Tunggu dulu!" seru Satria. Ia menyambar ponselnya diatas meja.


Kahiyang membalikkan badannya. "Ada apa lagi?" tanyanya.


"Nomor handphone kamu?" pertanyaan Satria menggantung saat melihat ekspresi wajah Kahiyang. "Untuk peralatan melukis," sambungnya lagi.


Kahiyang mengulurkan tangannya, meminta ponsel Satria untuk memasukkan nomor ponselnya. Kahiyang meninggalkan ponselnya di kamar.

__ADS_1


Suara ketikan terdengar. Satria terus menatap Kahiyang yang sedang menekuni ponselnya.


"Cantik," celetuk Satria tanpa sadar.


Kahiyang mendongak. "What? tadi bapak mengatakan apa?" tanya Kahiyang, ia pasti salah dengar.


"Bukan apa-apa." elaknya, menggaruk belakang kepala.


Kahiyang menyodorkan ponsel Satria.


"Ini bukan-" ucapan Satria terpotong setelah melihat isi ketikan.


"Iya, bukan nomor saya. Tapi saya berikan rincian peralatan apa saja yang harus disiapkan. Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor handphone ke orang yang tidak terlalu dekat. Permisi," Kahiyang berlalu, meninggalkan Satria yang berdiri mematung menatap punggung dan rambut panjang Kahiyang yang terurai.


Kahiyang berpapasan dengan Bumi tepat di lorong kamar Hanna. Bumi memang mencarinya.


"Kata Mama, kamu menemui laki-laki tua itu! untuk apa?" tanya Bumi, memegang lengan Kahiyang.


"Mama? sejak kapan dia jadi Mama kamu? Jangan sembarangan dan jangan sok akrab! Dan bukan urusan kamu aku bertemu dengan siapa pun. Sadar posisi kamu hanya dokter yang bekerja di rumah sakit keluarga kami!" Kahiyang menyentak tangan Bumi kemudian berlalu masuk ke dalam lift. Bumi mengejar, ikut masuk ke dalamnya.


Bumi memojokkan Kahiyang. "Sudah kubilang kamu calon istriku!" ucapnya lantang lalu mencium paksa Kahiyang.


"Brengsek! aku bukan calon istrimu!" Kahiyang mendorong Bumi sampai membentur dinding lift.


Bumi kembali mendekatinya dan berusaha mencium bibir Kahiyang lagi.


Kahiyang menampar Bumi. "Kamu sudah kelewat batas Bumi!" bentaknya lalu berlari keluar lift. Bumi mengejarnya.


"Kahiyang tunggu!" Bumi menahan Kahiyang.


"Lepas! kamu nggak lihat, ada banyak orang disini? aku kecewa sama kamu!" Kahiyang menyentak tangan Bumi lagi. Bumi tidak bisa berbuat banyak karena benar, banyak pasang mata yang menatap mereka berdua.


"Aku minta maaf. Aku emosi. Maafkan aku, Kahi," Bumi berjalan di sisi kanan Kahiyang.


"Jangan panggil aku Kahi! hanya keluargaku saja yang boleh memanggil dengan nama itu! Sadar Bumi! Sudah aku bilang berkali-kali, jaga batasanmu! Kita hanya berteman tidak lebih!" ucap Kahiyang dengan suara dipelankan, hanya dia dan Bumi yang mendengarnya.


"Tapi aku-"


"Stop, Bumi! aku mau istirahat. Kamu kembali bekerja!" Kahiyang masuk ke dalam kamarnya.


Brisia dan Rozi sedang duduk berdua, mengamati layar tablet.


"Lama sekali, nak. Apa semua sudah beres?" tanya Rozi. Kahiyang mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa cemberut seperti itu, anak Mama?" Brisia mengulurkan tangannya. Kahiyang mendekat lalu duduk disebelah Brisia sambil memeluk Mama sambungnya itu.


"Bad mood, Ma" jawabnya.


"Why? permintaan maafmu tidak diterima?" tanya Brisia. Rozi ikut menatap putrinya.


Kahiyang menggelengkan kepala. "Semua berjalan lancar. Tapi ada hal lain yang buat mood Kahi buruk," menenggelamkan wajahnya ke dada Brisia.


Rozi merangkul Brisia sambil mengusap puncak kepala Kahiyang. "Hal apa? coba ceritakan sama Mama Papa,"


"Emm ... soal Bumi," -mendongakkan kepala, menatap kedua orangtuanya- "Kahi tidak nyaman dengan Bumi. Apa boleh Kahi menolak untuk berteman?" tanyanya dengan hati-hati. Kahiyang tidak ingin mengecewakan Papa Mamanya.


"Apa Bumi melakukan hal yang tidak kamu sukai?" tanya Rozi.


Kahiyang ingin bercerita tentang kejadian di lift tadi, tapi ia tidak mau menghancurkan karir Bumi di rumah sakit Papanya. Sudah pasti jika Rozi tahu, Bumi akan dikeluarkan. Kahiyang tidak mau menghancurkan masa depan orang lain.


Kahiyang menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan soal itu. Hanya tidak nyaman, Papa," jawabnya.


"Soal nyaman atau tidak, itu semua karena kamu tidak mau membuka diri. Cobalah lebih terbuka dan welcome dengan teman laki-laki. Mau sampai kapan putri sulung Papa menutup diri?" tanya Rozi.


Kahiyang menatap Mamanya untuk meminta bantuan tapi Brisia hanya tersenyum dan mengusap punggungnya. Brisia selalu menghormati apa pun keputusan dari suaminya. Apa yang dilakukan Rozi, semua yang terbaik untuk ketiga putrinya.


"Untuk sekarang, Kahi belum ingin dekat dengan laki-laki. Kahi masih banyak waktu, Papa. Kahi masih 20 tahun. Kahi juga belum capai cita-cita Kahi. Kahi ingin fokus kuliah," ungkap Kahiyang.


"Baiklah, Papa tidak mau memaksa. Tapi Papa minta, jangan terlalu menjaga jarak dengan Bumi. Dia salah satu dokter terbaik yang rumah sakit kita miliki. Papa berharap suatu saat nanti kalian bisa berteman lebih dekat lagi," ujar Rozi. Rasa optimis mendekatkan Bumi dengan putrinya tidak luntur. Rozi yakin Kahiyang akan lebih terbuka nantinya.


Kahiyang pasrah. Lebih baik mengiyakan ucapan Papanya.


"Papa Mama sedang lihat apa?" Kahiyang meraih tablet di atas meja.


"Itu foto kita liburan ke Paris. Kamu masih kecil juga lucu. Liburan pertama kita," ujar Brisia.


Kahiyang kecil yang baru saja masuk di keluarga besar Permadi dan Wiryawan. Keluarga kecil mereka berlibur untuk pertama kalinya sebagai keluarga. Bitna yang masih balita berada di stroller dan Kahiyang berada digendongan Rozi memakai topi Mickey Mouse. Mereka berfoto berempat di depan menara Eiffel.


"Kahi ingat. Waktu itu Kahi hampir hilang karena melihat balon milik anak kecil lain," Kahiyang kembali teringat masa itu.


"Beruntung ada anak laki-laki yang baik hati menolong putri cantik Mama," sambung Brisia sembari mencubit pipi Kahiyang.


"Ah iya, anak laki-laki itu orang Indonesia. Papa ingat," imbuh Rozi.


"Tapi Kahi lupa wajahnya seperti apa. Sekarang pasti kakak itu sudah sangat dewasa. Dia memang baik sekali. Kahiyang sangat beruntung bertemu dengannya," ujarnya.


"Papa Mama juga sangat berterimakasih pada anak laki-laki itu. Entah apa yang terjadi, kalau putri Mama tidak bertemu dengannya. Mama sudah pasti sangat sedih," Brisia memeluk Kahiyang, menciumi kening berkali-kali.

__ADS_1


Cerita liburan masa kecilnya itu membuat Kahiyang untuk pertama kalinya memiliki buku Diary. Dan berjanji, saat dewasa kelak dapat bertemu dengan laki-laki yang pernah menolongnya.


To be Continued...


__ADS_2