Untuk Kahiyang

Untuk Kahiyang
27. Kedatangan Tamu


__ADS_3

Kahiyang dan Satria keluar untuk makan malam. Tempatnya cukup jauh di Tangerang Kota. Saat malam, daerah itu menjual berbagai macam makanan. Dari makanan berat, makanan ringan hingga aneka minuman.


Untuk pertama kalinya Kahiyang datang ke tempat seperti pasar. Penuh dengan orang yang berjualan dan antrian pembeli di tiap lapak yang berbeda.


"Kamu yakin kita makan disini?" Kahiyang masih blm percaya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling pasar itu dari dalam mobil.


"Kamu nggak suka? atau belum pernah ke tempat seperti ini?" tanya Satria sambil meraih dua topi hitam di jok belakang.


"Aku belum pernah," jawabnya sambil meringis.


"Oke ... ini akan jadi pengalamanmu yang pertama denganku. Are you ready?" Kahiyang menganggukan kepala ragu lalu Satria memakaikan topi padanya. Kemudian ia memakai topinya sendiri.


Satria keluar dari mobil terlebih dulu. Memutari bagian kap mobil, membukakan pintu seraya mengulurkan tangan pada Kahiyang.


"Pegang tanganku. Jangan sampai terlepas. Ramai, banyak orang. Aku nggak mau pacarku yang cantik ini diculik orang. Aku pasti bisa gila," bisiknya.


"Ish ... gombal," Kahiyang mencubit lengan Satria.


Satria dan Kahiyang berjalan berendengan. Genggaman tangan itu sangat kuat. Mereka seperti pasangan selebritis yang berkencan diam-diam dari paparazi.


"Kamu mau makanan berat atau makanan ringan?" tanya Satria sedikit berteriak, karena suara motor dan klakson mobil berseliweran di tengah jalan pasar.


"Dua-duanya," -meringis- "boleh, kan?" tanya Kahiyang, mendongak. Satria yang begitu tinggi terkadang membuat lehernya pegal.


"Boleh," mencubit hidung mancung Kahiyang.


Mereka berdua terus berjalan sambil melihat dan memutuskan untuk membeli makanan yang mana.


Setelah satu jam akhirnya mereka sudah kembali ke mobil dengan lima bungkusan makanan plus dua minuman dingin kekinian.


"Kamu kalap sayang. Kamu bisa habiskan ini semua?" tanya Satria.


"Semoga," -tersenyum- "ini untuk kamu, ini untuk aku," Kahiyang meletakkan satu bungkus ke pangkuan Satria dan satu bungkus untuknya. Sisanya ia letakkan di atas dashboard.


"Terimakasih sayang ..." mengusap pipi Kahiyang.


"Ayok, dimakan," ajak Kahiyang sambil tersenyum, membalas usapan di pipi Satria.


"Setelah ini, aku minta ciuman di sini," -menunjuk pipi kiri- "juga sebelah sini," menunjuk pipi sebelah kanan.


"Kenapa begitu?" tanya Kahiyang.


"Ucapan terimakasih karena sudah mengajakmu ke tempat ini," Kahiyang langsung menyuapkan satu sendok pangsit goreng ke mulut Satria agar diam.


Satria mengunyah sambil terus tersenyum.


"Makan dulu. Habiskan. Jangan minta yang aneh-aneh!" menyendokkan lagi pangsit goreng saat Satria akan membalas perkataannya.


"Sstt ... habiskan!" titah Kahiyang. Satria mengunyah sambil menganggukkan kepalanya.


Tubuh ramping tidak sepadan dengan porsi yang dimakan Kahiyang. Tiga jenis makanan lainnya habis dilahapnya. Dan tersisa minuman kekinian di genggaman.


Sluuurrrppp...


"Minumannya enak?" tanya Satria.

__ADS_1


"He em ... ternyata seenak ini. Semua makanan yang kita beli, rasanya enak. Dan juga murah," tersenyum lalu menyedot lagi minuman ditangan.


"Ternyata pacarku yang cantik ini dimanjakan dengan kemewahan. Sampai ke tempat seperti ini saja belum pernah," mencubit hidung Kahiyang.


"Ih ... nggak gitu juga. Aku pernah ke pasar tapi dulu, sama ibu. Waktu aku kecil," Kahiyang sedih mengingat kembali ibunya.


"Jangan sedih gitu dong," -mengusap kepala- "kemari! aku peluk," meletakkan minuman lalu menarik Kahiyang, memeluknya. "Ada aku. Jangan sedih lagi,"


"Ibu Kiran, ibu yang baik. Aku rindu," ucap Kahiyang, masih berada di pelukan Satria.


Satria menepuk lembut, mengusap punggung Kahiyang, serta menghiburnya.


"Aku nggak nyangka kamu suka pergi ke tempat seperti ini. Aku pikir, kamu selalu makan di tempat mewah yang mahal," ujar Kahiyang setelah hatinya terasa lebih baik.


"Apa salah kalau aku suka makanan di tempat seperti itu?" menunjuk pasar di depan mobilnya.


"Enggak, nggak salah. Justru aku kagum," menggambar hati di dada Satria dengan telunjuknya.


"Cuma kamu yang mau aku ajak ke tempat sepertu ini," akunya. Inggrid tidak pernah mau, baginya tempat seperti itu tidak higienis dan juga memalukan.


"Really?"


"Really ..." jawab Satria.


Malam semakin larut. Keduanya kembali ke apartemen setelah perut mereka sudah cukup kenyang.


Satria membelai rambut Kahiyang. Kekasihnya itu tidur. Satria memilih membopongnya karena Kahiyang terlihat begitu lelah.


"Ibu ... Kahi rindu," Kahiyang mengigau, sudah ketiga kalinya.


"Kamu pasti sangat terluka saat Ibumu dihina. Ternyata kamu menyimpan kerinduan dan juga luka," ujar Satria, membelai rambut Kahiyang yang telah ia rebahkan ke atas kasur.


"Jangan pergi! Peluk aku," Kahiyang membuka matanya. Wajahnya begitu menyedihkan.


Satria mengangguk, ia merangkak naik ke atas kasur. Merentangkan tangannya untuk menjadi bantal. Kahiyang memeluk Satria, merapatkan tubuhnya.


"Aku nggak mau sendiri. Ibu sudah pergi. Cuma kamu yang aku punya," setelah mengucapkan itu, nafas teratur menerpa leher Satria. Kahiyang terlelap.


Setengah mati Satria menahan sesuatu dibawah sana yang menggeliat. Dan hampir subuh, Satria masih terjaga. Tangannya terasa pegal. Kahiyang tidur hingga subuh dengan posisi yang sama. Satria tak berkutik.


"Kamu udah bangun?" tanya Kahiyang dengan suara serak bangun tidur, masih memeluk Satria.


"Aku nggak bisa tidur," jawab Satria.


"Hah? kenapa?" mendongak, saling bertatapan.


"Aku pria dewasa. Aku pria normal. Kekasihku memelukku sepanjang malam. Bagaimana aku bisa tidur?" ujar Satria, menjepit dagu Kahiyang dengan jempol dan telunjuknya lalu mengecup bibir sekilas.


"Ih ... baru bangun. Mulutku pasti bau. Jorok!" Kahiyang melepaskan pelukannya, menjauhkan diri dari Satria.


"Mau kemana?" Satria menarik kembali Kahiyang ke pelukan.


"Mau mandi. Aku bau. Katanya kalau peluk-peluk begini, kamu gelisah. Jadi ... lepasin aku," Kahiyang berusaha mendorong Satria.


"Mau mandi atau belum, nggak masalah," Satria langsung melu*mat bibir Kahiyang.

__ADS_1


Ponsel Satria berdering. Kahiyang menahan dada Satria. "Ada telefon, Mas," ujarnya.


"Biar saja," melepaskan tangan Kahiyang lalu menciumi leher kekasihnya itu.


Ponsel kembali berdering.


"Mas, ada telefon," Kahiyang menginterupsi lagi.


"Whatever," Satria menciumi dada atas Kahiyang. Membuat tanda kemerahan sebanyak dua titik.


Ponselnya terus berdering. Satria kesal, terpaksa menghentikkan aksinya.


"Halo ... Apa? Masih sepagi ini kamu sudah menggangguku!" Satria geram.


Kahiyang mengancingkan bajunya, Satria menatapnya lalu menariknya.


"Kenapa ditutup lagi?" bisik Satria.


"Aku mau mandi," ucap Kahiyang tanpa suara.


"Maaf, Pak. Saya sudah mengirim beberapa bukti yang cukup kuat via email," ucap seseorang disebrang sana.


"Oke. Akan saya buka nanti." Satria langsung mematikan telefonnya.


Satria berencana menyusul Kahiyang ke kamar mandi, namun pintu sengaja Kahiyang kunci.


"Sayang ... kenapa dikunci?" seru Satria mengetuk-ngetuk pintu. Kahiyang tersenyum di bawah guyuran shower.


"Aku tau pikiranmu, Mas." gumam Kahiyang.


Satria kesal karena Kahiyang tidak membukakan pintu untuknya. Pria tua itu menekuk wajahnya.


"Kenapa gitu mukanya, Mas?" tanya Kahiyang, memakai bathrobe berwarna putih.


"Kenapa harus dikunci? Aku mau dimandikan," memeluk Kahiyang, mengendus aroma sabun dan shampo. "Wangi banget, sayangku," pujinya.


"Gombal," Kahiyang ingin melepaskan diri.


"Aku serius," menciumi kening lalu menarik turun lengan bathrobe sebelah kiri. Satria begitu gemas, menggigit pundak, kemudian menyesapnya hingga kemerahan.


"Jangan mulai lagi!" Kahiyang merapihkannya lagi.


"Katanya ngantuk? Tidur gih," Kahiyang meninggalkan Satria ke arah lemari pakaian.


Beruntung ada satu stel pakaian beserta dalaman peninggalan penyewa sebelumnya. Kahiyang langsung memakainya.


Saat keluar dari ruang wardrobe, Satria sudah tidur tengkurap. Kahiyang tertawa melihat kelakuan Satria. Semalaman tidak tidur. Sungguh malang.


Kahiyang menuju dapur untuk melihat isi kulkas, ia lapar.


Dua potong roti panggang dan selai, cukup mengisi perutnya sampai siang nanti.


Dan siang itu apa yang ditakutkan Kahiyang benar adanya. Papa dan Mamanya datang bersama beberapa bodyguard.


"Papa ... Mama," sapa Kahiyang.

__ADS_1


"Siapa sayang?" Satria berteriak dari dalam kamar. Kahiyang memejamkan matanya. Tamat riwayatnya.


To be Continued...


__ADS_2