
"Dia juga putriku! Aku hanya bertanya siapa laki-laki itu. Aku tidak mau putriku salah melangkah!" Rozi sudah tersulut emosi.
"Kamu membentakku?" Brisia tidak terima. Selama ini Rozi tidak pernah kasar padanya.
"Bri ..." Rozi mendekat hendak memegang tangan Brisia.
Brisia menolaknya, langsung membawa Kahiyang keluar dari sana.
"Mulai malam ini, Mama tidur dikamarmu. Mama sedang menghukum Papa. Biar saja dia tidur sendiri. Mama belum pernah sekalipun dibentak seperti tadi. Mama tersinggung," ucap Brisia lalu menutup pintu dan menguncinya.
Suara benda dibanting berasal dari ruang kerja Rozi. Brisia dan Kahiyang menutup telinga.
"Mang, tolong catat plat nomor mobil sedan yang mengantar Kahiyang tadi. Periksa CCTV sekarang juga! Saya tunggu!" titah Rozi pada satpam rumah melalui sambungan interkom.
"Baik, Pak."
Rozi ingin segera menyelidiki, siapa pemilik mobil itu. Kahiyang mengakui bahwa pemiliknya adalah laki-laki yang disukainya.
"Sebenarnya siapa laki-laki yang kamu sukai?" tanya Brisia lembut. Brisia mencoba membujuk.
"Kahi belum bisa beritahu siapa laki-laki itu. Maaf, Ma." ujar Kahiyang, sambil memegang kedua tangan Brisia.
"Baiklah, Mama tidak memaksa. Tapi Mama harap, secepatnya beritahu Mama," ujar Brisia, mengusap punggung Kahiyang.
Tiba-tiba pintu kamar Kahiyang digedor Rozi. Kahiyang dan Brisia melompat dari atas ranjang.
"Buka! Buka sekarang juga!" teriakan Rozi begitu keras.
Kahiyang menggenggam erat tangan Brisia.
"Tenang. Ada Mama," kata Brisia menenangkan.
Kahiyang berdiri di balik badan Mamanya, sedangkan Brisia memutar kunci. Belum sempat menyentuh handle pintu, Rozi sudah mendorongnya kuat.
"Sini kamu!" Rozi kembali berteriak, akan menarik tangan Kahiyang namun Brisia menghadangnya.
"Jangan kasar! Semua bisa dibicarakan baik-baik." ucap Brisia.
"Jangan ikut campur! Dia anakku! Aku yang berhak memberinya pelajaran!" seperti kesetanan, Rozi mengucapkan kata-kata kasar pada Brisia.
"Dia anakku juga! Jangan lupa itu! Aku minta bicara baik-baik!" Brisia membalas perkataan suaminya dan masih melindungi Kahiyang dibalik punggungnya.
"Ini sudah keterlaluan! Aku tidak bisa mentolerir ulahnya!" raut wajah Rozi memerah, urat dileher dan tangannya muncul.
"Apa maksudmu?" tanya Brisia. Jantung Kahiyang terus berpacu cepat.
__ADS_1
"Perempuan macam apa yang menyukai suami orang? Kamu sudah mempermalukan Papa, Kahi! Papa mendidikmu dengan baik sampai sebesar ini, tapi apa yang kamu lakukan? Menjadi simpanan om-om?" Rozi mengungkap semua.
Rozi menyelidiki siapa pemilik plat nomor mobil sedan hitam itu. Dan ternyata pemiliknya adalah Satria Arsyanendra. Pemilik Yayasan dan sudah memiliki istri dan anak.
"Papa ..." Kahiyang meremas ujung baju Mamanya.
"Kahi ..." Brisia menoleh ke belakang. Kahiyang menunduk.
"Anak tidak tahu diuntung! Kelakuanmu ini menurun dari ibumu? iya?" ucapan Rozi sangat menyakiti hati Kahiyang. Mendiang ibunya di hina seperti ini.
"Cukup, Pa!" Brisia ingin menghentikan suaminya. Semakin lama akan semakin buruk untuk hubungannya dengan Kahiyang.
"Tabiatmu sama seperti Kiran. Murahan!" menunjuk-nunjuk Kahiyang yang masih berdiri di balik punggung Brisia.
Kahiyang mengangkat kepalanya. Air matanya mengucur deras. Ibunya Kiran yang begitu ia rindukan dan begitu ia cintai, di hina oleh Papanya sendiri.
"Jangan bawa-bawa, Ibu. Ibu Kiran, ibu yang baik. Semua salah Kahiyang. Salahkan Kahi, jangan Ibu. Maaf sudah membuat Papa malu. Terimakasih sudah membawa Kahi masuk ke keluarga Papa. Maaf ..." Kahiyang beranjak pergi dari kamarnya.
"Kahi sayang, mau kemana kamu?" Brisia menahan lengan putrinya.
Kahiyang menggelengkan kepala, "Kahi nggak tau, Ma. Tapi lebih baik Kahi pergi. Kahi tidak mau membuat keluarga Papa malu,"
"Nak, jangan pergi! Papa salah bicara. Papa tidak bermaksud seperti itu," Brisia mencoba menahan Kahiyang.
Brisia berlari mengejar Kahiyang.
"Ma, ada apa?" tanya Bitna, keluar kamar setelah mendengar pertengkaran di kamar kakaknya.
"Bitna, bantu Mama kejar kakak kamu. Kahi pergi dari rumah," Brisia berteriak sambil terus menuruni tangga. Bitna langsung ikut mengejar.
Kahiyang terus menyeka air matanya. Terus berlari menjauh dari rumah. Kahiyang hanya memakai piyama satin dan sandal. Lalu ia sampai diujung jalan, keluar komplek.
Brisia dan Bitna menyusuri jalan komplek dengan mengendarai mobil, namun Kahiyang menghilang begitu cepat.
Kahiyang sudah berada dalam taksi. Dia bingung harus kemana, sudah dua kali sopir taksi itu bertanya soal tujuannya. Tapi Kahiyang menjawab, "jalan aja dulu, pak,"
Brisia dan Bitna pulang ke rumah dengan raut wajah lelah juga kecewa. Brisia menangis memeluk Bitna di ruang keluarga. Tubuhnya terasa lemas.
"Mama, tenang Ma. Bitna coba lacak nomor kakak. Tapi sekarang Mama istirahat. Jangan sampai Mama sakit. Besok kita cari kakak lagi," ujar Bitna. Brenda yang sudah tertidur, ikut keluar kamar dan mendapati Mama dan kakaknya diruang keluarga.
"Mama, kenapa?" tanya Brenda lalu suara benda dibanting kembali terdengar.
"Astaga ... itu siapa? Papa? Papa kenapa, Ma?" tanya Brenda. Brisia semakin pusing, merebahkan badannya lalu memijat pelipis.
"Sstt ..." Bitna menyuruh Brenda diam. Pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat Mamanya akan semakin down.
__ADS_1
"Kenapa sih? Ada apa?" tanya Brenda hanya dengan gerakan mulut tanpa suara.
"Ssstt ... nanti di kamar. Diam dulu," balas Bitna dengan gerakan yang sama. Brenda mengangguk mengerti.
Kahiyang berulang kali ingin menghubungi Satria tapi ia ragu-ragu. Menyalakan layar ponsel lalu mematikannya lagi. Selama lima belas menit terus berulang.
"Non, ini sudah malam. Saya harus sudah pulang ke rumah. Putri saya menunggu dirumah. Apa Nona sudah memutuskan mau kemana?" tanya sopir taksi. Sejak tadi sopir itu mengamati Kahiyang dari spion tengah.
Kahiyang kembali tersentuh saat mendengar perkataan sopir itu yang menyebut putrinya sedang menunggu di rumah. Kahiyang teringat Papanya.
Memori untuk pertama kalinya dipertemukan dengan seorang laki-laki yang dirindukannya, seorang Ayah yang sangat ingin ia miliki seperti anak-anak lain, kembali muncul.
"Kahiyang ... ini Ayah," ucap Rozi pertama kali bertemu Kahiyang. Kahiyang masih sangat kecil, usianya kurang lebih empat tahun.
"Ayah?" Kahiyang menatap Kiran, ibunya mengangguk lalu beralih menatap Rozi.
"Iya, ini Ayah. Ayah Rozi. Maafkan Ayah baru datang. Kahiyang rindu Ayah tidak?" tanyanya.
Kahiyang kecil tersenyum, matanya berkaca-kaca, mengangguk berkali kali. Rasanya sangat senang akhirnya Kahiyang memiliki seorang Ayah.
Dan Kahiyang kembali menangis mengenang memori itu.
"Non, ini," sopir taksi itu memberikan beberapa tisu.
"Terimakasih, pak," ucapnya.
"Sudah ada tujuan?" tanya sopir lagi.
"Sebentar, pak," Kahiyang menyalakan lagi ponselnya. Dan sepertinya ikatan batin itu ada. Satria menghubunginya.
"Halo," jawab Kahiyang. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Satria langsung.
"Aku nggak tau harus kemana. Aku bingung," suara isak tangis terdengar.
"Sekarang kamu dimana?" tanya Satria kembali.
"Aku di dalam taksi. Di sekitar Sudirman," jawab Kahiyang.
"Oke, aku jemput. Tunggu di fx Sudirman. Jangan kemana-mana!" pesan Satria. Menyambar kunci mobil dan dompet diatas nakas.
To be Continued...
__ADS_1