
Kembali ke Silva yang semobil dengan Steinar yang saat itu tengah melakukan perjalanan
"Gue tadi mimpi apaan sih? Mimpi di siang bolong aneh banget " batin Silva
"Silva kamu nggak apa-apa kan?" tanya Steinar
"Enggak kok kak, aku nggak apa-apa kok" Silva
"Tadi temenku tuh ada yang gak masuk, biasanya dia rajin loh" kata Steinar
"Kak Ingvar ya?" tanya Silva
"Bukan, tapi Himiko" Steinar
"Himiko gak masuk? Tumben banget? Tapi kenapa dia gak masuk? Ada jadwal atau tidak biasanya dia masuk?" batin Silva heran
Pikiran Silva saat itu semrawut
Dan malam itu Himiko mengunci pintu kamarnya, saat Silva pulang di meja makan sudah tersaji makanan yang sangat enak
Himiko sendiri hanya memandangi fotonya bersama sang ayah saat itu
"Himiko kamu gak makan?" tanya Silva mengetuk pintu kanarnya
"Gue udah makan bangsat! Kemana aja lu jam segini baru pulang?" tanya Himiko kasar
Mendengar cara bicara Himiko yang masih sama seperti biasanya rasa khawatir Silva akhirnya hilang
"Bukan urusan elu anjir, elu juga gak masuk kan tadi?!" Silva
"Tadi gue pergi ke rumah temen, temen gue opnam di rumah sakit!" kata Himiko keras dari dalam kamar
"Duh gue bohong" batin Himiko
Silva kembali tersenyum dan pergi
"Sepertinya dia baik-baik aja" batin Silva
Dan keesokan itu orang tua mereka pulang, Silva sangat senang saat papah tersayangnya pulang selain itu mereka berniat untuk liburan bersama
"Bagaimana denganmu Himiko?" tanya Himeko
"Mamah, papah, kayaknya aku gak bisa ikut deh. Soalnya besok aku akan pergi sama pak dosen ada yang harus aku kerjakan. Aku sibuk banget, masih ngurusin organisasi juga" kata Himiko
"Kau lebih mementingkan pak dosenmu itu dari pada keluargamu ya Himiko?" tanya Rusdian ayah kandung Silva
"Sayangku tidak masalah kok jika Himiko tidak ikut. Sejak kecil Himiko itu selalu tergila-gila dengan yang namanya pendidikan, akhir-akhir ini Himiko memang sangat sibuk" kata Himeko
"Itu benar papah, kak Himiko tidak akan tenang jika dia ketinggalan pelajaran sedikit saja,jika itu sampai terjadi dia pasti akan merasa sakit hati" kata Silva
"Sebenernya aku juga gak mau kalo si rese ikut" batin Silva
"Baiklah kalo gitu terserah kalian saja lah..." kata Rusdian
Dan sore itu Himiko mengantar keluarganya sampai depan rumah, Arisa diam-diam melihatnya mereka dari jendela kamarnya
Arisa juga heran kenapa Himiko tidak ikut. Setelah mobil keluarganya pergi malam itu Himiko langsung lari dari rumahnya dan pergi ke perpustakaan
"Triana" panggil Himiko
"Himiko... Kau jadi berangkat malam ini?" tanya Triana penasaran
__ADS_1
"Iya" Himiko duduk
"Hati-hati ya Himiko" kata Triana
"Iya Triana. Kau juga jaga diri ya" kata Himiko
Kemudian Himiko bangun dari tempat duduknya dan menggendong tasnya
"Eng... Himiko" panggil Triana
Himiko melihat Triana
"Cekrek"
Triana mengambil foto Himiko kemudian Triana tersenyum lebar
Himiko juga tersenyum dan kemudian dia pergi malam itu menuju bandara. Sesampainya di bandara Himiko berlari mengangkat tas ranselnya di keramaian menuju ke pesawat yang akan berangkat menuju ke Jepang.
Di dalam pesawat Himiko duduk saat pesawat lepas landas dari maskapai penerbangan Himiko memejamkan matanya
"Sayonara Indonesia" ucapnya pelan
Sementara Silva sendiri pergi ke Bali dengan kedua orangtuanya tanpa Himiko dengan pesawat terbang, dia melihat kedua orangtuanya yang sudah tertidur pulas
"Kenapa aku merasa ada yang kurang ya? Ya mungkin karena kang iblis tidak ada bersama kami. Harusnya aku membiarkannya untuk ikut tapi saat itu aku malah mengatakan hal yang lainya, ukh apa yang aku lakukan? Aku sungguh merasa kesepian... Papah sibuk sama mamahnya dan aku di cuekin" batin Silva menyelimuti tubuhnya
Kembali kepada Himiko
"Bebanku di sini sudah hilang sekarang" batin Himiko yang teringat akan Silva
Triana yang malam itu masih di sebuah perpustakaan menangis pilu karena di tinggal sahabatnya
"He... He... He... He..." Triana
"Masaoloh elu kenapa Triana?" tanya Lulu
"Gue juga gak tau Lu... Tiba-tiba aja gue pengen nangis he...he...he" Triana
"Emang apa yang elu tangisin ha? Coba cerita sama gue" tanya Lulu memeluk Triana khawatir
"Paketan gue habis lu... Gue belum gajian. Ntar kalo download anime gimana dong?" tanya Triana
"Wifian kan bisa? Atau cari hotspot? Cuma masalah sepele aja di pikirin udalah jangan nangis" Lulu
Triana baru saja berbohong kepada Lulu. Mengenai menyembunyikan perasaan atau rahasia apapun itu, Triana mampu merahasiakanya dengan baik.
Sementara itu Himiko yang masih belum tidur
"Gregh"
Terdengar suara guncangan dari dalam pesawat
Perasaanya mendadak tidak enak malam itu, tiba-tiba alarm yang menandakan adanya bahaya di pesawat itu berbunyi. Semua awak pesawat terbangun dan panik
"Apa yang terjadi?" tanya Himiko kepada seseorang yang duduk di sampingnya
"aku tidak tau... "
"Apa pesawat ini akan jatuh? Jika pesawat ini akan jatuh ke laut kita akan tenggelam bukan?"
Semua orang panik dan ketakutan, para pramugari menenangkan mereka tapi pada akhirnya para pramugari menyerah
__ADS_1
"Pesawat ini akan jatuh!" ucap orang lain dengan suara yang lantang
"Duar"
Orang yang duduk di samping Himiko menendang kaca pesawat dengan sekuat tenaga
Himiko dan satu orang lainnya ikut membantu dengan sekuat tenaga hingga akhirnya kaca pesawat itu pecah
"Apa kita akan melompat?" tanya Himiko
"Tentu saja aku masih ingin hidup, pesawat ini akan meledak"
Kedua orang tak di kenal itu saling bergandengan tangan untuk melompat...
"Hitung mundur... Tiga ... "
"Dua... "
"Satu... "
Mereka melompat ke lautan
Himiko masih melihat ke bawah dan dia menjatuhkan dirinya
Lalu
"Byur"
Pesawat jatuh ke dalam air
Dan
"DUOR"
pesawat meledak
Berita mengenai pesawat terbang dari Indonesia saat terbang ke Jepang langsung masuk di seluruh stasiun televisi Indonesia, koran, internet
Triana yang esok itu membaca berita lewat hpnya pun mendadak syok
"Hi Hi Himiko" ucapnya berat
Lalu Triana menangis di kamarnya
"Kakak? Kakak kenapa kak?" tanya Farida adiknya Triana
Menurut berita yang menyebar luas semua penumpang yang ada di dalam pesawat meninggal, dan jasad mereka juga masih dalam tahap pencarian.
Silva yang saat itu liburan ke Bali juga melihat berita yang di siarkan di stasiun televisi yang ada di hotel.
Di berita itu di perlihatkan daftar orang yang meninggal dunia, selanjutnya daftar orang yang orang yang belum bisa di temukan.
Silva terkejut melihat televisi setelah melihat nama Akabane Himiko berada di daftar orang yang belum di temukan.
"Himiko?" tanya Silva kaget
Saat mereka liburan papah sama mamahnya Silva sedang di kerumuni wartawan di luar mengenai kejadian tragis anak mereka. Mamahnya Himiko yang tidak tau apa-apa sangat kaget dengan kejadian itu. Hari liburan yang harusnya menjadi sangat menyenangkan saat itu berubah menjadi hari yang menyedihkan untuk mereka.
Farik, dan Norman juga sangat syok setengah mati mendengar berita itu. Karena Himiko tidak pamit dengan mereka, bahkan Rachael yang tergila-gila sama Himiko juga hampir mengakhiri hidupnya dengan manggantung dirinya di kamar tapi untungnya aksi itu berhasil di ketahui oleh orangtuanya.
Triana harus di bawa kerumah sakit karena penyakit yang di deritanya kambuh karena terlalu memikirkan Himiko
__ADS_1
To be continue
Oleh: Kousei