Very Painful Feeling

Very Painful Feeling
bagian 15


__ADS_3

Dulu saat masih kelas 11 SMA Farida sempat di lamar oleh anak pengusha yang sangat kaya.Mereka berencana menikah saat Farida lulus SMA


Tapi ketika Farida naik ke kelas 12 SMA ada kabar bahwa calon suaminya kecelakaan lalulintas dan meninggal dunia. Setelah kejadian itulah Farida memutuskan untuk fokus kepada pendidikannya.


Kembali kepada Himiko yang sampai di rumah dengan sangat lelah


"Harusnya gue gak pakai nih cincin" ucapnya kesal memandang jarinya


Dia masih berusaha melepas cincin itu mulai dengan sabun, minyak, dll tapi masih saja belum juga lepas


"Capek gue hampir seharian nih cicin belum lepas juga lagi" kata Himiko kesal melihat jarinya


Farida sendiri sudah sampai di asramanya dia melihat jari manisnya dimana terdapat cincin yang sama dengan Himiko.


"Cincin ini di berikan sama kak Dani... Saat dia masih hidup, dulu ukurannya pas sama jari gue tapi saat gue mencoba melepasnya... Tiba-tiba gak mau lepas. Susah banget di lepas" kata Farida dalam hatinya sembari menarik cincin di jarinya yang tak kunjung lepas


Kemudian hpnya bunyi, Farida melihat siapa yang nelpon


"Kakak?" batin Farida


Farida menjawab telpon dari kakaknya


"Halo kak? Iya aku udah di asrama kok... Iya kak aku ngerti, kakak gak perlu khawatir... Oke" kata Farida yang kemudian menutup telpon dari kakaknya


Triana yang saat itu masih sibuk menulis teringat akan Himiko, kemudian dia memandangi foto Himiko yang di ambil terakhir kalinya. Setelah memandangi foto Himiko, Triana melanjutkan kembali aktifitasnya


"Sepertinya cerita yang gue buat kali ini bakal lebih panjang deh... Gue gak bisa menyelesaikan kisah ini sendirian... Masa iya sih gue harus nyari editor?" kata Triana yang berhenti nulis dan memandang layar laptopnya


Tiba-tiba hpnya bunyi


Tanpa melihat siapa yang nelpon Triana langsung menjawab telpon tersebut


Triana pikir itu adalah panggilan dari team penerbitan buku atau  pelanggannya.


"Halo ini Triana ada yang bisa saya bantu?" tanya Triana


Apa kabar?- Himiko


Triana langsung terdiam setelah mendengar suara itu


"Hi... Miko?" batin Triana


Hei aku bertanya padamu... jangan diam saja- Himiko


Setelah itu Triana tersenyum kalo suara itu adalah suara Himiko, Triana sangat kenal dengan suara itu


"Kabarku baik lu sendiri gimana?" Triana


Ya gue baik-baik aja kok... Eng gue kangen banget sama elu, lu gak kangen sama gue?- Himiko


"Gue juga kangen sama elu Him...gue pengen denger cerita yang elu alamain selama perjalanan ke Jepang" Triana


Itu dia! Lu harus merahasian tentang semua yang elu ketahui saat ini... Jangan bilang ma siapa-siapa kalo gue masih hidup ya please banget Triana- Himiko


"Iya ya... Jadi gimana ceritanya" Triana


Emmm ntar gue kirim lewat email aja ya- Himiko


"Boleh..." Triana


Btw gue udah baca semua cerita karangan lu- Himiko


"Masa sih Him? Gimana menurut elu? Gue pengen banget denger pendapat elu mengenai karya yang gue buat" Triana seneng banget


Semuanya bagus kok, keren banget ceritanya. Tapi yang paling gue suka itu Kalo gak salah judulnya Cinta di Mars- Himiko


"Ya itu menceritakan tentang perasaan seorang gadis yang cukup polos dan sangat menyukai orang lain yang mana orang itu memiliki karakter yang gak baik" Triana

__ADS_1


Iya... Sang gadis tidak berani mengungkapkan perasaannya, aku bertanya-tanya kenapa orang di sukainya harus laki-laki seperti itu sih? Gadis yang aneh ya- Himiko


"Dalam cerita itu setiap hari sang gadis selalu melihatnya, dan memperhatikan laki-laki itu diam-diam …" Triana


sampai di situ saja... Aku belum membacanya sampai selesai- Himiko


"Oh gitu ya" Triana


Ngomong - ngomong mengenai Silva... bagaimana dia sekarang - Himiko


"Silva..." Triana berhenti berbicara sebentar


###


Silva sendiri terlihat duduk di tempat tidur Arisa malam itu. Silva datang menemui Arisa untuk curhat seperti biasanya


"Tapi lu sama Stein kagak putus kan?" tanya Arisa yang masih bingung


Flash back on


**************


Hubungan Silva dan Steinar mendapat masalah dari pihak keluarga Silva dan Steinar sendiri


Kedua orang tua mereka tidak setuju


"Jadi bagaimana?" tanya Silva yang sudah merasa lelah dengan semua ini


"Ayo kita pergi bersama-sama dan memulai lembaran baru" Steinar


"Jangan gila... Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu" Silva


"Silva aku mencintaimu!Aku tidak ingin berpisah denganmu Sil!" Steinar


"Tapi kau sudah lihat sendiri kan? Bagaimana orang tuaku dan orang tuamu?! Lebih baik kita akhiri hubungan kita sampai disini, aku lelah" Silva


"Kak Stein?" Silva


"Apa kamu benar-benar mencintaiku selama ini? Atau kau hanya berpura-pura mencintaiku? Aatau bahkan kamu tidak pernah mencintaiku selama ini? Jawab aku" Steinar


"Kak Steinar, aku mencintaimu" Silva


"Jangan berbohong! Akhir-akhir ini saat kau dan aku saling melihat, aku melihat ada orang lain di matamu dan itu bukaah aku! " Steinar


Silva menundukkan kepalanya ke bawah


"Maafkan aku ya, memang benar, Ada orang yang aku pikirkan selama ini... Maaf" kata Silva pelan


"Harusnya aku sadar lebih awal... Tapi aku terus memaksamu. Hemmmmm baimana ya?" Steinar


Mereka kemudian diam


"Jika ini yang terbaik kalo begitu, selamat tinggal Silva" kata Steinar dan langsung pergi meninggalkan Silva


"Terimakasih atas cinta yang kakak berikan padaku selama ini" kata Silva pelan


***************


Flash back off


"Jadi siapa orang yang kau suka itu?" tanya Arisa


"Himiko" kata Silva terus terang


Mata Arisa terbelalak karena sangat kaget


"Himiko. Aku mencintai Himiko,aku juga tidak menyangka jika orang yang aku cintai adalah Himiko" kata Silva dengan sangat jelas

__ADS_1


"Tapi kang iblis itu sudah..." Arisa


"Tidak! Dia itu iblis, iblis tidak akan mati dengan begitu mudah!" kata Silva memotong ucapan Arisa dengan


"Aku akan mencarinya... Aku yakin jika dia masih hidup" Silva


Malam itu sendiri Himiko berjalan menuju rumah makan yang dia bangun bersama kedua temannya


"Selamatt malam semuanya" kata Himiko yang melempar pisau ke Mega


"Hait!" kata Mega menangkapnya


"Hampir saja mengenaimu kak Mega" kata Himiko sembari mengambil tomat


Kemudian  Shina datang dan melihat Himiko. Himiko yang ngerasa di lihatin sama Shina terus melihat balik Shina


"Ada apa?" tanya Himiko


"Ayolah Him jan marah sama gue,Gue minta maap" kata Shina yang cemas dengan Himiko


"Yaelah... Gue aja udah lupain semua kejadian kemarin. Santai aja kali Shin" kata Himiko mulai mengambil bumbu masakan di depannya


Dan...


Secara tiba-tiba pandangan mata Himiko mendadak menjadi sangat gelap


"Apa yang sudah terjadi padaku?" batin Himiko yang sangat keget


"Him?"


"Himiko?"


"Kau kenapa?"


"Oi jangan nakutin-nakutin gue dong"


Hanya suara dari Shina dan Mega yang bisa di dengarnya. Tapi dia gak bisa melihat lantaran pandangan matanya menjadi sangat gelap sehingga Himiko terjatuh dan matanya terpejam


Dia terjebak oleh ingatan masa lalu


"Bagaimana rasanya?" tanya Himiko pada Silva


"Biasa saja"jawab Silva


"Biasa saja katamu?!" Himiko


"Kau bertanya bagaimana rasanya kan? Aku menjawab apa yang aku rasakan! Dan rasanya benar-benar biasa saja..." Silva


"Selama ini makanan yang aku masak itu mempunyai cita rasa yang sangat khas dan enak... Kau berbohong padaku" Himiko


"Ya... Baiklah aku memang berbohong padamu. Masakanmu itu sangat enak" Silva


"Karena orangtua kita pergi, dan dirimu juga payah di dapur. Aku akan menjadi koki di rumah ini" Himiko


"Apa kau bilang? Aku payah di dapur?!" Silva


"Sudah... Tidak masalah kok" Himiko


Walaupun Himiko dan Silva sering bertengkar tapi Silva selalu memakan makanan Himiko sampai habis


"Himiko... "


Himiko mendengar suara dari Shina yang terus memanggil namanya sejak tadi


Perlahan Himiko membuka matanya, dia merasa kepalanya sangat pusing


To be continue

__ADS_1


Oleh: Kousei


__ADS_2