
8 P.M
Di tengah hamparan rumput yang luas Shina dan Farida duduk berdua menikmati makan malam mereka kemudian berbincang-bincang sambil menikmati indahnya bintang-bintang yang menghiasi langit pada malam itu.
"Farida, kamu terlihat sangat cantik malam ini. Apa rahasianya?" Shina meraih tangan Farida dan menggenggamnya
"Hanya sedikit make up dan baju yang aku pilih dengan hati-hati, Shina" jawab Farida
"Aku selalu suka cara kamu memilih baju. Ya, semua pakaian yang kamu kenakan selalu pas dengan tubuhmu yang cantik" Shina
"Hahaha, Shina. Kamu selalu saja menggoda. Tapi, jangan harap aku akan terjebak oleh rayuanmu itu" Farida
"Oh, tidak usah bersikap kaku begitu, Farida. Aku tahu kamu sebenarnya sangat romantis di dalam hatimu" Shina
"Maaf, Shina. Aku bukan tipe cewek romantis. Aku lebih suka makan malam dengan santai dan tenang seperti ini." Farida kembali menyantap makan malamnya
"Ya sudahlah, aku tidak akan memaksa kamu untuk berubah. Tapi, aku tetap bisa menggoda kamu, bukan?" Shina
"Tentu saja, kamu selalu bisa menggoda aku. Tapi, tidak ada jaminan aku akan meresponsnya dengan baik" Farida masih fokus makan dengan lahap
"Aku tahu, tapi itu adalah tantangan yang menyenangkan. Kamu tahu apa yang dikatakan tentang tantangan, kan?" tanya Shina
"Apa itu?" Farida meneguk air mineral dari botol minuman di depannya
"Tantangan adalah teman terbaik dari kegembiraan" Shina
"Hahaha, kamu selalu saja dengan kutipan-kutipanmu yang konyol, Shina. Tapi, aku harus mengakui, kamu membuat malam ini jadi lebih menyenangkan" Farida
Shina merebahkan tubuhnya dengan merentangkan tangannya lalu menatap pemandam indah langit pada malam itu setelah itu dia berkata kepada Farida "Kau tahu, menghabiskan waktu bersamamu adalah hal terindah dalam hidupku. Mengingat pekerjaanku di dapur kadang-kadang aku merasa seperti aku tidak punya waktu untuk hal yang ingin aku lakukan"
Farida memandang Shina yang terlentang dengan santai di sebelahnya "Tapi kamu selalu memiliki waktu untuk aku. Dan itu adalah hal yang paling penting bagiku" ucapnya
"Iya kamu benar. Itu karena kamu adalah orang yang paling penting dan berarti bagiku" Shina langsung menarik Farida dan memeluknya dengan erat, kali ini dia tidak ingin terburu-buru melepaskannya.
"Oi, Shina" Farida merasa bahwa dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya "Kau memeluku terlalu erat" lanjutnya
Shina tersenyum lalu berkata kepadanya "Diam dan jangan melawan sayang"
"Shinaa!" panggil Farida dengan nada tinggi
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Shina dengan suara berat dan lebih mesrah
"Jangan membuatku marah" Farida sedikit lebih kesal
"Sayang sekali, tapi kali ini itu adalah tujuan utamaku" Shina langsung mengubah posisinya di atas kemudian dia mencium Farida.
Di waktu yang sama juga, Mega sedang berdiri di dapur restoran tempat dia bekerja sebagai koki. Hari ini, dia merasa sedikit terganggu karena dia merasa bahwa Yukari, kekasihnya, tidak mencintainya.
"Aku masih tidak menyangka bahwa Yukari meminta pendapatku apabila dirinya selingkuh. Ya sejak awal kami tidak punya kesungguhan dan hanya coba-coba pacaran. Dan selama ini saja Yukari menerimaku serta meresponku dengan baik karena dia ingin membantuku dalam menyelesaikan project novelku" batin Mega
Dia mencoba mengalihkan pikirannya dan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia mulai memasak dengan hati-hati, mencampurkan bahan-bahan yang dibutuhkan dengan presisi dan memasak makanan dengan penuh perhatian. Namun, pikirannya terus terganggu oleh pikiran negatif tentang hubungannya dengan Yukari. Tiba-tiba, suara keras dari alarm di dapur memecah keheningan. Mega menyadari bahwa dia telah terlalu fokus pada pikirannya dan tidak memperhatikan makanan yang sedang dimasaknya. Makanan yang seharusnya matang sempurna sekarang sudah terlalu matang dan terbakar.
Mega merasa sedih dan frustrasi, dia berpikir bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar karena masalah di kehidupan pribadinya. Dia merasa sedih dan terus mengalihkan pikirannya ke dalam perasaan negatif tentang hubungannya dengan Yukari. Namun, kemudian seorang pelanggan datang ke dapur dan memuji Mega atas hidangan yang telah dia buat. Pelanggan tersebut sangat senang dan puas dengan makanan yang dimasak oleh Mega. Hal ini membuat Mega tersadar bahwa dia harus fokus pada pekerjaannya dan mencoba meninggalkan pikiran negatifnya di luar dapur.
Mega mulai berkonsentrasi pada pekerjaannya dengan lebih baik, dan kembali memasak dengan hati-hati dan penuh perhatian. Akhirnya, dia berhasil membuat hidangan yang sempurna dan disukai oleh semua pelanggan. Setelah shift selesai, Mega merasa lebih baik dan optimis tentang kehidupannya. Dia menyadari bahwa dia harus berfokus pada pekerjaannya dan meninggalkan pikiran negatif di luar dapur. Hari itu Mega tidak langsung pulang, seperti biasanya dia pergi menemui Yukari.
"Yukari!" Mega memanggil Yukari dari kejauhan dan berlari menghampirinya
"Mega-san" Yukari
Mega mengatur nafasnya sejenak "Seperti biasanya aku menemuimu lagi, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu" kata Mega yang memegang kedua pundak Yukari dan menatapnya dalam-dalam
"Aku ingin kau menjadi pacarku" kata Mega
"Aku sudah menjadi pacarmu" kata Yukari keheranan melihat Mega
"Ini serius, aku beneran menyukaimu Yukari. Aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu Yukari, percayalah padaku bahwa apa yang aku rasakan ini adalah cinta murni" jelas Mega
"Mega-san, terimakasih sudah jujur padaku. Aku juga merasa ada perasaan yang sama denganmu" Yukari
"Benarkah? Aku merasa sangat bahagia mendengarnya Yukari" Mega langsung memeluk Yukari
"Mega-san aku juga senang bisa memperdalam hubungan kita" Yukari
Dari sisi yang berbeda, Triana sedang sibuk membaca ulang salah satu bab dalam ceritanya tiba-tiba saja dia teringat bahwa hari ini editor yang baru pengganti Kimura akan datang. Setelah itu dia mendengar bahwa pintu apartemennya di ketuk, Trisna bangun dari tempat duduknya dan pergi membuka pintunya.
"Kai?" tanya Triana
"Selamat pagi, saya Akabane Kai salah satu editor dari perusahaan tempat kamu bekerja yang akan menggantikan Kimura-san" Kai
__ADS_1
"Ya, masuklah" kata Triana
Di dalam Triana mempersilahkan Kai duduk, dia menyuguhkan beberapa makanan ringan dan minuman untuk Kai.
"Aku masih tidak percaya aku menjadi editormu, Triana!" Kai
"Apa kau merasa terhormat?" tanya Triana
"Hahaha ya baru-baru ini aku mengagumi tulisanmu dan kini aku dapat membantumu menerbitkan karya-karyamu" Kai
"Baguslah kalau begitu. Tapi, jangan sampai kamu terlalu gampang puas dengan hasil editanmu. Aku tahu kau suka pamer dengan kemampuan editingmu" Triana
"Hey, aku editor yang baik, bukan editor yang sombong." Kai
"Iya, iya, pasti begitu. Oh iya, aku punya ide untuk ceeita selanjutnya. Bagaimana kalau kita menulis tentang hewan peliharaan yang lucu?" Triana
"Hewan peliharaan yang lucu? Seperti kucing yang suka ngupil?" Kai
"Eh, jangan yang itu. Bagaimana kalau tentang anjing dengan mata terbesar di dunia?" Triana
"Ha! Aku tahu hewan yang lebih lucu lagi! Kura-kura dengan topi sombrero!" Kai
"Tolong jangan mengubah topiknya menjadi kura-kura dengan topi sombrero. Lagipula, bagaimana kura-kura bisa memakai topi?" Triana
"Mereka bisa menggunakan tangan mereka yang tidak ada, begitulah caranya hewan-hewan lucu bekerja, Triana." Kai
"Hahaha! Kau ini lucu sekali, Kai" Triana
"Apa kamu pernah mendengar cerita lucu tentang editor dan penulis?" Kai
"Belum pernah, ceritakan!" Triana
"Ada seorang penulis yang mengirimkan naskahnya ke editor. Si editor kemudian memberikan feedback dengan kalimat, "Ini adalah naskah yang bagus, tapi saya akan menambahkan koma di sini dan di sana." Tapi, si penulis malah marah dan berkata, "Tolong jangan menambahkan koma di sana, saya sudah membuat alur cerita yang sangat rapi dan koma itu akan mengacaukannya!" kata Kai
"Hahaha, itu lucu sekali! Tapi, jangan sampai hal seperti itu terjadi pada kita ya, Kai" Triana
"Tidak akan terjadi, Triana. Kita akan selalu saling mendukung dalam pekerjaan kita. Sama-sama menghasilkan karya yang luar biasa!" Kai
"Betul sekali, Kai. Mari terus bekerja sama dengan baik" Triana
__ADS_1
To be continue