
Hiro sudah tiba di rumahnya, di dalam rumah dia sudah mendapati kakaknya yakni Kai yang tengah sibuk memperhatikan layar monitornya. Nampaknya Kai sedang berurusan dengan pekerjaannya. Di lihatnya Kai dengan keheranan lalu Hiro bertanya kepadanya "Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaiamana kamu bisa masuk?"
Kai melihat ke arah Hiro yang masih menatapnya. "Hiro - kun, begitukah sikapmu saat berbicara dengan Kakakmu?" tanya Kai balik
Akhirnya Hiro teringat kembali mengenai status Kai. "Yaampun, aku minta maaf. Aku lupa jika sekarang kamu adalah kakakku, kakak kandungku. Ya kamu memiliki kunci rumah ini juga"
"Benar" Kai tersenyum lalu kembali fokus dengan layar laptopnya
"Ya baiklah" Hiro masuk ke dalam untuk meninggalakan Kai, lalu dia keluar lagi menemui Kai dan bertanya kepadanya "Kai niisan sudah makan?"
"Sudah tadi" Kai sibuk mengetik
"Oke" Hiro, kembali masuk ke dalam lalu tak lama kemudian dia keluar dan duduk di dekatnya. Secara terang-terangan karena di penuhi rasa penasaran Hiro bertanya pada Kai "Kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu?"
"Aku bekerja dari rumah. Pekerjaanku dalam bidang cyber security aku juga punya pekerjaan lain sebagai editor" jawab Kai dengan santai
"Begitu ya, ngomong-ngomong kau sudah punya pacar?" tanya Hiro
"Haaah? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?" tanya Kai yang masih sibuk mengetik
"Tidak boleh ya?" tanya Hiro
"Bukan begitu, kaget saja akunya" jawab Kai
"Jadi bagaimana? Ada atau nggak? Kalau nggak aku cariin" kata Hiro
"Cari saja untuk dirimu sendiri" ucap Kai
Hiro, melihat beberapa buku novel di samping Kai. Dia bangun mengambil semua buku-buku novel itu dan melihat-lihat judulnya, sepertinya itu semua adalah buku yang pernah dia edit. Ternyata benar, di novel tersebut dia menemukan nama Kai sebagai editornya.
"Sebenarnya sudah banyak sekali novel yang aku edit tapi buku yang aku miliki hanya itu saja. Yang lain dalam bentuk file pdf" jelas Kai
"Aku punya rekomendasi buku novel yang menurutku ceritanya sangat bagus. Penulisnya adalah sahabatku sendiri" Hiro
"Kau punya bukunya kan?" tanya Kai
"Tentu saja, aku punya" Hiro
"Lain kali jika aku luang aku pinjam punyamu" Kai
"Oke" Hiro pergi ke kamarnya. Dia merebahkan diri di tempat tidurnya sambil melihat layar hp nya. Hiro mengecek riwayat chat nya dengan Triana. Malam itu Triana kebetulan sedang online.
*** LINE ***
************
Hiro : Konbanwa!
Triana: Konbanwa:)
Hiro : Begadang lagi?
Triana: Iya aku mendapat ide yang bagus baru-baru ini.
Hiro : Triana, selalu semangat ya.
Triana: Iya, harus selalu semangat!
Hiro : Itu bagus. Silahkan lanjutkan menulisnya.
Triana: Iya ini juga sambil menulis.
Hiro : Ngomong - ngomong, Kak Mega tidak membebani kamu kan?
Triana: Tidak kok^^
Hiro : Aku menantikan novel kalian berdua.
Trisna: Aku dan Kak Mega akan berusaha semaksimal mungkin dan membuat yang terbaik.
Hiro melihat bahwa Silva baru saja online. Padahal tadi di WA dia memintanya untuk tidur tapi malah baru saja online di line. Hiro, tersenyum menyeringai melihat akun line milik Silva.
*** Line ***
__ADS_1
***********
Hiro: Wah Wah lihat, siapa yang baru saja berbohong. (dibaca)
Yaampun malah kebuka lagi, duuuh bagaimana ini? Off saja lah- batin Silva
Hiro sedang mengetik...
Lalu dia menghentikan mengetiknya dan menghapus pesan yang tadi sempat di tulis tapi tidak jadi di kirim.
Langsung offline? Baguslah - batin Hiro
###
Di sisi lain pukul 1 a.m pada sebuah Rumah Makan Cita Rasa, Mega sedang istirahat sejenak sambil telponan dengan Triana untuk membahas cerita yang mereka buat. Walaupun tidak bisa mendengar pembicaraan Triana, Shina menyimak dengan baik pembicaraan Mega.
"Tidak. Dari awal aku sudah tidak suka pada Silva, maksudku aku tidak mencintainya. Dia bukan tipeku, jika aku memaksakan diri untuk pura-pura mencintainya dan berpacaran dengan Silva mungkin sedikit menyakitkan. Aku menarik kata-kataku sebelumnya, ya aku berubah pikiran" jelas Mega
Baiklah, aku mengerti - Triana
"Iya aku berpacaran dengan gadis SMA" kata Mega blak-blakan
Shina yang tadi mencicipi krupuk basreng dari Indonesia mendadak keselek setelah mendengar ucapan Mega "Uhuk... Uhuk... Uhuk... Uhuk... Ehem... Ehem... " Shina menuangkan air minum di suatu gelas lalu meminumnya sendiri
Kau serius? - Triana masih tidak percaya dengan ucapan Mega
"Iya, tapi kami cuma coba-coba sih aku memberitahunya kalau pacaran ini hanya untuk membuat project cerita romance dan kalau misalnya aku merasa cocok aku bakal serius sama dia. Dia setuju-setuju aja kok" kata Mega
Begitu ya, walaupun cuma coba-coba aku harap suatu saat kalian berdua bisa saling mencintai satu sama lain, cinta yang murni. Aku juga bertemu orang baru tadi, karakteristik seperti tokoh cerita yang aku buat - Triana
"Begitu ya, sepertinya kedepannya akan menjadi lebih menarik ya" Mega
Benar. Baiklah kalau begitu aku tutup telponnya ya Kak Mega sampai jumpa- Triana
"Iya... " Mega, melihat hp nya
"Kak Mega, Kak Mega beneran pacaran sama gadis SMA?" tanya Shina
"Iya... " Mega menunjukkan fotonya dengan gadis SMA itu
"Kau mengenalnya?" tanya Mega
"Iya, dia adik kelasku Kak, kami memiliki guru yang sama dalam latihan karate" jawab Shina
"Begitu ya" Mega
"Dia dulu anggota gangster juga" Shina
"Dia sudah cerita soal itu padaku, cukup kelam. Yukari yang sekarang sudah berubah" Mega
"Entahlah, aku tidak tahu. Karena sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya" kata Shina
"Hubunganmu dengan Farida, berjalan dengan baik?" tanya Shina
"Iya, kami akan pergi bersama besok" jawab Shina
###
Keesokan harinya, seperti yang di katakan oleh Shina tadi malam. Begitu ada pergantian shift Shina langsung bergegas menemui Farida di tempat yang tak jauh dari lokasi kerjanya.
"Sayang" Shina memanggil Farida dan berjalan menghampirinya
"Duuh, padahal kamu baru saja selesai kerja tapi malah minta kencan. Kamu yakin?" tanya Farida khawatir
"Iya, jangan khawatir aku baik-baik saja kok. Yang terpenting adalah saat ini Faridaku sedang free. Aku ingin memanfaatkan hari ini dengan baik. Meluangkan waktu untuk kebersamaan seperti ini sangat penting" Shina menggelangi pinggangnya Farida dan langsung mendekatkan tubuhnya Farida dengan dirinya sendiri hingga tidak ada jarak lagi bagi mereka berdua.
"Shina, apa yang kau lakukan?" tanya Farida yang mulai merasa malu bermesraan di depan umum.
"Farida, aku merindukanmu. Aku selalu merindukanmu" Shina
"A-a-aku juga, lepaskan aku kita terlalu dekat. Ada banyak orang di sini" Farida mulai gugup
"Sayang hal semacam ini sudah lumrah di Jepang. Dan yang namanya jalanan umum di perkotaan ya memang banyak orang" ucapnya Shina dengan ramah
__ADS_1
Shina, mencium bibirnya Farida. Setelah itu dia melepasnya kembali lalu bertanya "Jadi sayang, mau kemana?"
"Aku sendiri juga tidak tahu mau kemana, aku pikir kamu sudah merencanakannya tadi malam" kata Farida
"Ini mendadak, aku sibuk baik itu secara fisik mau pun pikiran" Shina
"Otakmu ini hanya di penuhi dengan menu makanan ya. Aaah baiklah kalau begitu aku yang menentukan, jangan protes loh ya" Farida
"Iya, aku tidak akan protes kok. Aku akan selalu mengikuti Farida kemana pun Farida pergi" Shina
"Oke kita pergi ke Tokyo sekarang!" kata Farida dengan penuh semangat dan menarik tangan Shina lalu mengajaknya berlari bersamanya menuju ke halte bus.
Begitu mereka sampai, bus datang dan mereka langsung masuk ke dalamnya. Farida dan Shina duduk berdua mengatur nafasnya sejenak.
Dari sisi yang berbeda di waktu yang bersamaan, Mega menemui pacarnya di stasiun kereta. Saat itu Yukari sedang duduk di peron menunggu kereta datang.
"Aaah aku kepagian" kata Yukari
"Bukankah datang awal lebih bagus?"
Yukari, melihat arah suara itu berasal ternyata dari Mega yang baru datang. Mega duduk di sebelahnya, jarak mereka berdua berdekatan.
"Mega - san baru pulang kerja kan? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yukari
"Aku sering lewat sini. Semangat untuk hari ini ya" Mega menyentuh kepalanya Yukari
"Iya, terimakasih banyak" kata Yukari
"Akhir pekan jika kamu free kita kencan" Mega
"Katanya akhir pekan kamu sibuk mau nulis novel?" tanya Yukari
"Nggak, aku berubah pikiran" Mega
"Jadi kamu akan menjadikan kencan kita sebagai referensi project menulismu kan?" tanya Yukari
"Tepat sekali" Mega
"Masih ada waktu beberapa hari lagi, kamu dapat merencanakan bagaimana caranya supaya kencan bisa berjalan dengan baik dan romantis" Yukari
"Ya baiklah" Mega
Kereta api datang. Yukari dan Mega bangun dari tempat duduknya.
"Mega - san, aku berangkat ya" Yukari
"Hati-hati, Yukari" Mega mencium pipinya Yukari lalu tersenyum kepadanya
Muka Yukari langsung merona merah "Iya" Yukari berjalan meninggalkan Mega dan masuk ke dalam kereta.
Mega juga tidak sengaja melihat Silva yang berlari dan masuk ke dalam kereta. Bukan hanya Silva saja, tapi ada Kai, orang yang mengendarai skate board dan hampir menabraknya juga pergi untuk naik kereta.
"Seperti biasanya, semua orang sangat sibuk" kata Mega
Di dalam kereta, secara Silva duduk di tengah-tengah di antara Yukari dan juga Kai. Namun tujuan mereka berbeda. Hari itu Silva harus ke kampusnya, sementara Yukari akan pergi ke sekolahnya, dan Kai pergi ke kantor penerbit buku. Saat itu Silva tidak tahu kalau orang yang ada di sebelahnya (Kai) adalah kakak tirinya (Kakak kandung Hiro). Untuk Kai sendiri, dia tahu tentang Silva.
"Menyebalkan, aku ingin sekali bersantai sambil menonton film romance hari ini tapi sepertinya aku akan sangat sibuk" Kai sedikit mengeluh.
"Menonton film romance dengan pacarmu?" tanya Yukari menyahut dan melihat Kai yang ada di sebelahnya Silva.
"Sangking sibuknya aku tidak punya waktu untuk memikirkan percintaan" jawab Kai
"Wah sibuk parah ya" Yukari
"Begitulah" Kai
"Tapi kalau ada niatan untuk jatuh cinta seperti sesibuk apa pun pasti bisa kok. Pasti bagus jika keduanya saling mendukung satu sama lain dalam memperjuangkan dan mewujudkan masa depan yang indah" kata Silva
"Benar banget" Yukari
"Kamu punya pacar?" tanya Kai kepada Yukari
"Iya, kami berdua juga sibuk dengan urusan masing-masing" kata Yukari
__ADS_1
To be continue