Very Painful Feeling

Very Painful Feeling
Bagian 27


__ADS_3

Pukul 5 p.m


Triana berjalan menuju rumahnya dengan langkah kaki yang pelan dan santai karena dia masih menahan luka akibat tembakan kemarin lusa. Kemudian dia mengambil beberapa foto mulai dari foto-foto masyarakat yang sedang melakukan aktivitasnya, pepohonan, bunga-bunga, langit, gedung-gedung.


Tiba-tiba saat Triana hendak mengambil foto pemandangan, dia melihat Hiro di depan lensa kameranya, di wajahnya juga terukir senyuman khasnya. Triana langsung menurunkan kameranya dan berkata kepadanya "Hiro, apa yang kamu lakukan di sini? Kau tidak langsung pulang?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu seperti itu, kamu baru saja keluar dari rumah sakit tapi kamu langsung jalan-jalan?" tanya Hiro


"A-aku bosan" jawab Triana


"Mau mampir kerumahku? Rumahku tidak jauh dari sini loh" tanya Hiro


"Terimakasih, mungkin lain kali saja. Aku akan langsung pulang soalnya aku sudah berjanji pada Farida bahwa aku tidak akan pulang malam" kata Triana


"Baiklah, aku akan mengantarmu" ucap Hiro yang merasa khawatir dengan Triana yang pulang sendirian ke asramanya Farida


"Hiro?"


Mereka melihat Silva yang bersama Nakano dari kejauhan


"Jangan beri tahu bahwa kita sangat dekat" ucap Triana pelan dan langsung pergi meninggalkanya


"Eh?" Hiro kaget kenapa Triana mengatakan hal seperti itu padanya? Kenapa harus disembunyikan?


Setelah Triana menjauh darinya, Triana diam-diam memperhatikan Hiro dan Silva, perlahan-lahan Triana mulai bisa merelakan Hiro dengan Silva walau hal itu sangat berat dan cukup menyakitkan baginya.


Sedangkan Hiro yang saat itu bersama Silva, masih kepikiran kenapa Triana memintanya agar menyembunyikan hubungannya sebagai sahabat? Hiro ingin sekali mengetahui apa alasan Triana memintanya?


Lalu Triana meninggalkan tempat itu dan pergi ke halte kemudian menaiki bis yang berhenti di depanya. Dia dalam bis dia duduk dengan laki-laki yang usianya satu tahun lebih tua darinya, laki-laki tersebut terus menerus melihat pemandangan diluar jendela bis itu.


"Tidak terasa bahwa besok sudah memasuki musim panas ya" kata laki-laki itu kepada Triana


"Iya" ucap Triana


"Dilihat memang sangat indah karena bunga-bunga sakura yang mulai bermekaran, tapi kelihatanya beberapa orang ada yang merasa bahwa musim semi mengisahkan peristiwa yang buruk. Bagaimana dengan kisahmu musim semi kemarin?" tanya laki-laki itu kepada Triana


"Bagaimana ya? Kisahku biasa saja" jawab Triana dengan santai


"Kelihatanya kau bukan orang Jepang?" tanya laki-laki tersebut memperhatikan Triana


"Memang bukan" jawab Triana


"Siapa namamu? Dari mana kau belajar bahasa Jepang?" tanya laki-laki yang tidak dikenal


"Namaku Triana, aku belajar bahasa Jepang secara mandiri tapi sahabatku Hiro terkadang juga mengajariku" jawab Triana


"Baiklah aku akan turun di pemberhentian selanjutnya, sampai jumpa" ucap Triana yang langsung berdiri dan berjalan mendekati pintu bis


Tanpa Triana sadari, dia menjatuhkan selembar fotonya bersama Hiro yang selalu dia bawa dan selipkan kedalam bukunya. Saat laki-laki itu mengambil dan hendak mengembalikanya, Triana sudah turun lebih dulu dan pergi.


Laki-laki itu kembali memperhatikan fotonya Triana bersama dengan Hiro sembari bertanya-tanya "Jadi dia sudah mengganti namanya sebagai Hiro? Pasti Triana tahu banyak tentangmu selama ini ya Hi - ro ?"


###


Malam itu Hiro mengirimkan chat lewat line kepada Triana, dalam chat tersebut Hiro bertanya kenapa Triana memintanya merahasiakan hubungannya sebagai sahabat kepada Silva? Hiro meminta alasan yang logis kepada Triana, karena dia masih penasaran.


Triana:


Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak memberitahumu Hiro?


Hiro:


Jahat, padahal kita sahabat kan? Kau merencanakan sesuatu ya?


Triana:


Silva, menyukaimu Hiro


Hiro:


Memangnya apa pengaruhnya dengan hubungan kita?


Triana:

__ADS_1


Aku hanya tidak ingin membuatnya cemburu, hanya itu


Hiro:


Kelihatanya kau sangat mendukung antara hubunganku dengan Silva ya?


Triana:


Maaf kau salah, sebenarnya aku tidak peduli hubungan kalian berdua hahaha


Hiro:


Sialan


Triana:


Selain itu, aku tidak mau ada kesalahpahaman mengenai hubungan kita atau menjadi penghambat dari Silva


Hiro:


Aku mengerti sekarang


Triana:


Aku mengerti sekarang


Hiro:


Bagaimana denganmu? Apa ada seseorang yang kamu sukai?


Triana:


Entahlah...


Hiro:


Kok entahlah


Hiro merebahkan tubuhnya dan melihat jari manisnya yang terdapat cincin pernikahan dari Farida yang pernah di pungut di jelanan. Lalu kepalanya mengarah kepada cincin satunya lagi di sebuah kotak kecil yang diletakkan diatas meja sebelah tempat tidurnya.


###


Di Rumah Makan Cita Rasa


Pukul 22.00


Mega dan Shina sangat sibuk memasak di dapur karena malam itu rumah makan tersebut sangatlah ramai. Keterampilannya dalam memasak mereka sudah tidak di ragukan lagi, bagi mereka memasak adalah suatu kegiatan yang menyenangkan, nikmat, dan memuaskan.


"Aku rasa pasokan bumbu yang kita milik sudah tinggal sedikit" ucap Shina sambil menggoreng daging sapi


"Tenang saja Yuma sudah mencatat apa saja yang harus kita jauh-jauh hari dan sudah memesan keperluan yang kita butuhkan. Besok akan datang" kata Mega sembari memotong ikan tuna


"Baguslah kalau begitu" Mega meletakkan bebera menu makanan di nampan, setelah itu pelayanannya datang mengambil hasil makanannya untuk di antar kepada pelanggan.


Pelayan lain datang mengambil masakan lain yang sudah di buat untuk di antar ke pelanggan.


Hp nya Mega bergetar, di lihatnya sejenak sambil memasak ternyata itu adalah notifikasi ig. Mega tersenyum senang karena itu adalah DM dari Silva yang bersedia memberikan id line kepadanya.


Shina yang terlihat sibuk memasak diam-diam memperhatikan kakaknya yang senyum-senyum sendiri. Dalam hatinya Shina membatin Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentang kakakku, kenapa dia terlihat sangat puas? Apa itu berkaitan dengan novel? Atau hal yang lain?


"Kak Mega, kalau boleh tahu judul cerita yang Kak Mega dan Kak Triana buat itu tentang apa?" tanya Shina sambil melakukan finishing terhadap menu makanannya


"Masih menjadi rahasia antara aku dan Triana" jawab Mega


"Padahal cuma judul loh" kata Shina


"Iya aku tahu, tapi Triana memintaku untuk merahasiakannya dulu" Mega


Keesokan harinya,


Mega dan Shina pulang. Dia di gantikan oleh Hiro yang mendapatkan giliran shift pagi. Di sisi lain Yuma yang merupakan chef baru yang usianya masih muda terlihat sedang menata bahan-bahan makanan seperti bumbu, daging dan sebagainya di tempat penyimpanannya.


"Yuma, mohon kerja samanya hari ini ya" kata Hiro kepada Yuma.

__ADS_1


"Iya Hiro - san" Yuma mulai mengambil sebuah pisau yang akan di gunakan untuk memotong salmon


Sedangkan Mega sendiri pagi itu mulai chattingan dengan Silva.


Saat ini kau mungkin tidak menyukaiku. Tapi lihat saja nanti, aku akan membuatmu tergila-gila padaku Silva - batin Mega


"Itu Farida" Shina melihat Farida yang berjalan dengan langkah kaki cepat menuju ke kampusnya. Shina berlari mengejar Farida sambil memanggil-manggil namanya "Farida, Farida... "


Farida mendengarnya tapi karena dia sedang terburu-buru, Farida tidak mau menoleh ke belakang dan terus berjalan ke depan.


Sekarang Shina sudah berjalan di samping nya "Sayang, kenapa kau mengabaikanku? Apa salahku?" Sambil berjalan Shina membuka tas gendong Farida lalu memasukan sesuatu ke dalamnya dan menutup kembali tas gendong Farida


Farida berhenti sejenak "Shina, apa yang kau lakukan?" tanya Farida


"Aku membuat bekal makanan untukmu" kata Shina "Kau belum menjawabnya, mengapa kau mengabaikanku saat aku memanggilmu dari kejauhan?" tanya Shina lagi


"Maafkan aku Shina, aku kesiangan" Farida merasa bersalah


"Yasudah sana, pergi ke kampusmu sekarang.  Kau bisa telat" kata Shina


Farida pikir Shina akan marah tadi, tapi ternyata Shina sangat peduli dan mendukung apa pun yang Farida perjuangkan. Farida memeluk Shina erat "Terimakasih banyak Shina"


Shina, keheranan dengan sikap Farida "Terimakasih untuk apa?"


"Semuanya. Oke aku berangkat" Farida langsung berlari meninggalkan Shina


Sedangkan itu Mega, di kamarnya masih chattingan dengan Silva.


Mega Pratama:


Semangat untuk hari ini


Mega Pramatama mengirimkan sebuah foto


Silva Heartlifia:


Terimakasih.


Hey, kau mengikutiku ya?! Dasar penguntit!


Mega Pratama:


Aku gak mengikuti kamu


Silva Heartlifia:


Lah terus tadi dapat fotoku hari ini di stasiun itu apa? Dari mana?


Mega Pratama:


Selain suka masak aku juga photographer jalanan, waktu aku pulang ke rumah aku gak sengaja lihat kamu ya sudah aku foto dan hasilnya aku kirim ke kamu.


Silva Heartlifia:


Oh gitu ya, duuh jadi salah sangka


Mega Pratama:


Iya gak apa-apa kok


Silva Heartlifia:


Maaf ya


Mega Pratama:


Iya santai saja. Kalau gitu selamat beraktivitas.


Silva Heartlifia:


Oke...


Mega dan Silva sama-sama offline.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2