Very Painful Feeling

Very Painful Feeling
bagian 17


__ADS_3

Usai badai salju tadi malam seluruh kota Shinjuku tertutup oleh salju


"Himiko"


"Himiko!"


Himiko membuka matanya dan melihat Mega


"Ini sudah pagi" kata Mega


Himiko mengucek matanya, karena badai salju semalam dia tidak bisa pulang dan memutuskan untuk tidur di rumah makan itu bersama Shina, dan Mega


"Oh... " Himiko duduk sejenak menatap Sina yang masih malas untuk bangun karena suhunya yang dingin. Setalah itu dia berjalan menuju ke kamar mandi dan mencuci mukanya.


"Shina kau juga bagun payah!" kata Mega keras


"Iya... " kata Shina yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya


Himiko datang


"SHINA! AYO SUDAH WAKTUNYA UNTUK BEKERJA" kata Mega dengan keras


Shina langsung bangun dengan rambut acak-acakan dan wajah datarnya


Himiko meletakkan pisau di pangkuan Shina


"Baru juga bangun..." kata Shina pelan dengan suaranya yang berat


Himiko memukul ompreng "Prang-prang"


"Kalian juga bangun! Kerja woy kerja!" ucapnya agak keras


Lalu pelayan rumah makan milik mereka bertiga yang tidur di tempat seadanya pun bangun


"Sudah pagi ya?"


"Malam berlalu dengan sangat cepat... "


"Akh aku masih mengantuk"


"Jadi rumah makan ini tetap buka?"


Himiko sudah mempersiapkan bahan makanan yang akan di olahnya ia juga teringat mengenai menu makanan yakni aram-aram


"Shina, Himiko aku pulang ya" kata Mega melihat Shina dan Himiko


"apa?!" Shina


"Shina... Kak Mega sudah tidak tidur semalaman kan? Biarkan dia pulang dan beristirahat di rumah" Himiko


"Aturanya kan memang begitu? :v di rumah makan ini ada dua shif,malam dan pagi. Aku sudah melaksanakan tugasku di shif malam, sekarang giliranmu dan Himiko bekerja di shif pagi, paham gak sih lu adik bodoh?" kata Mega kesal kepada Shina


"Iya, iya... Aku ngerti kok! Yaudah sana pulang!" kata Shina mengusir kakaknya


"Kalo begitu laksanakan pekerjaanmu dengan baik" kata Mega yang langsung pergi dengan sangat kesal


Shina melihat Himiko yang sudah mulai sibuk dan pelayan-pelayanya juga sudah mulai bekerja


###

__ADS_1


Beralih kepada Triana yang sampai di apartemen miliknya bersama dengan Farida


"Kakak aku pergi ya" kata Farida pelan


"Gila, dingin banget ya?" kata Triana yang kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya


Farida bangun dari tempat duduk


"Kamu mau kemana?! di luar dingin banget tau nggak" tanya Triana kesal


"Ke kampus lah kak,namanya musim dingin ya emang dingin" kata Farida


"Oh iya ya, kamu juga udah biasa dengan cuaca kayak gini tentunya. Yaudah hati-hati di jalan ya" Triana melambaikan tanganya kepada adiknya


"Ya... " Farida pergi langsung meninggalkanya


Sesampai diluar wajah Farida mendadak sangat kesal


"ASEM! kakak ngapain sih ikutan ke Jepang? Aku gak bisa bebas gara-gara di awasin sama dia" batin Farida


Farida berjalan dengan santai dan dia berpapasan dengan Silva.Farida yang seperti pernah melihat orang yang baru saja berpapasan denganya pun langsung menghentikan langkahnya. Ketika dia melihat ke belakang seseorang yang baru saja berpapasan denganya sudah tidak ada.


"Apa mungkin itu hanya perasaanku saja ya?" batin Farida


Sementara Silva sendiri bingung harus bagaimana lagi untuk mencari Himiko, ketika dia berjalan di pagi itu langkahnya terhenti karena mendengar suara anak menagis. Silva melihat darimana  suara tangisan anak kecil itu berasal.


Suara tangiasan itu berasal dari rumah yang sudah sangat rapuh bangunannya. Lalu Silva mendekat ke rumah itu yang mana pintunya terbuka sedikit


Ada seseorang tetangga keluar dari rumahnya dan berkata


"Dia anak terlantar. Ayahnya pergi dengan wanita lain meninggalkanya dengan ibunya. Tiba-tiba saja ada seorang penagih hutang datang kerumahnya, penagih hutang itu menjelaskan bahwa suaminya punya hutang sebanyak 2,4 miliar"


Silva sangat kaget dengan cerita barusan dan bertanya "Lalu apa yang terjadi setelah itu?"


"Berapa hari dia di sini sendirian?" tanya Silva


"Sudah seminggu ini, dia hanya menangis. Tidak mau berbicara sama sekali, tidak mau makan dan minum. Tubuhnya bau dan ambutnya acak-acakan" kata tetangga tersebut


"Kenapa tidak di bawa ke panti asuhan?" tanya Silva lagi


"Ada pihak dari panti asuhan datang kemari berkali-kali tapi anak itu benar-benar keras kepala dia selalu mengatakan bahwa ibunya akan datang menjemputnya" kata tetangga itu


"Begitu ya? Terimakasih untuk penjelasannya paman" kata Silva


Kemudian Silva masuk ke rumah itu, dia melihat anak laki-laki yang berusa 9 tahun dan penuh air mata


Silva duduk di hadapanya. Anak itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"Siapa namamu?" tanya Silva


Anak itu hanya diam


"Namaku Silva Heartlifia. Kau bisa memanggilku Silva, karena kau tidak memberi tahu namamu,Aku akan memanggilmu Kai" kata Silva


Anak itu masih diam


Nama itu di berikan oleh Silva karena memiliki arti yang bagus, dan anak itu sendiri juga tidak mau mengatakan siapa namanya


"Kai, kamu gak pengen jalan keluar? Kamu tidak bosan? Kamu tidak pengen sekolah? kamu itu masih muda. Anak muda harus punya semangat juang yang tinggi" kata Silva dengan sangat semangat

__ADS_1


Silva terdiam sebentar


"Kai kau harus punya cita-cita... Jalanmu masih panjang, kalau kamu mau aku bisa membantu mewujudkan cita-citamu kok" kata Silva


"Bruak"


Sebagian bangunan rumah itu ambruk dengan sendirinya


"Kai, aku tidak akan pergi sampai kau berbicara padaku" kata Silva pelan


30 menit kemudian Silva masih belum pergi, dia main game di samping anak yang di panggil dengan nama Kai.


1 jam, Silva yang bosan bermain game lanjut nonton anime. Kai mulai melirik Silva diam-diam.


1 setengah jam lagi Silva membaca manga online di hpnya.


"Nakano... itu namaku. Bukan Kai"


Silva langsung mematikan hp nya dan melihat anak tersebut


"Nakano... " Silva


"Aki Nakano. Itu namaku, jadi berhentilah memanggilku Kai" kata Nakano


"Jadi apa kau mau ikut bersamaku?" kata Silva tersenyum


Anak yang bernama Aki Nakano hanya diam


"Kalo begitu... " Silva bangun dan menariknya keluar dari rumah itu


Nakano terbelalak melihat Silva yang mengandeng tanganya dengan lembut setelah itu


"Bruak"


Rumah itu roboh seketika


Silva dengan wajah bahagia membawa Nakano ke apartemennya


"Selamat datang dek Nakano" kata Silva


Nakano menundukkan kepalanya


"Kenapa kau membawaku? Aku...Aku tidak mau ikut bersamamu" kata Nakano pelan


"Tenang saja. Aku bukan orang yang jahat kok... Kalau begitu kamu mandi dulu ya"kata Silva yang mendorong Nakano ke dalam kamar mandi


Silva menutup pintu kamar mandi dan menghela nafas panjang.


"Sekarang... Ada seseorang yang harus ku lindungi, aku rawat, dan harus aku sayangi serta kuperhatikan juga. Ini seperti apa yang Himiko lakukan padaku juga dulu, Ya aku ingin merasakan hal yang Himiko rasakan juga hanya saja aku tidak mau menjadi iblis sepertinya. Aku akan jadi malaikat" batin Silva


###


Sementara itu Mega sendiri begitu sampai rumahnya langsung merendam tubuhnya di pemandian air hangat dalam rumahnya sambil mendengarkan alunan musik lewat hpnya


Mega membuka instagram saat itu, dia mengetikan nama yang di carinya


disitu di ketiklah "Triana"


Selama ini Mega sangat mengagumi sosok Triana yang merupakan seorang penulis popular dari Indonesia. Mega selalu membaca karangan yang Triana buat, dia juga berharap untuk bisa bertemu dengan Triana suatu saat nanti

__ADS_1


To be continue


Oleh: Kousei


__ADS_2