Very Painful Feeling

Very Painful Feeling
Bagian 32


__ADS_3

Pukul 8 a.m


Silva Heartlifia, sudah sampai di kampusnya. Dia langsung bergegas menuju kelasnya, tapi ternyata setelah dia sampai di sana suasananya masih sepi. Sepertinya hari itu Silva terlalu kepagian.


"Aku pikir aku sudah telat tadi" Silva duduk di barisan ke dua.


Dia gadis yang sangat tekun dan rajin belajar, dan selama ini dia selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya. Namun, di balik sikapnya yang dingin dan cenderung tertutup, ada satu hal yang selalu ada di dalam pikirannya - Hiro, sang koki di rumah makan tempatnya bekerja. Setiap kali Silva duduk di kelas, dia akan teringat akan aroma masakan lezat yang dibuat Hiro di dapur rumah makan. Dia teringat akan senyum lembut Hiro dan caranya memasak yang penuh cinta. Setiap kali dia membuka buku resep untuk belajar memasak, dia akan teringat akan kata-kata Hiro tentang teknik memasak yang tepat dan cara memadukan bahan-bahan yang tepat.


Silva merasa aneh karena Hiro selalu muncul di dalam pikirannya. Meskipun sekarang mereka hanya berinteraksi di rumah makan dan selalu berbicara tentang pekerjaan, dia merasa seperti ada ikatan yang kuat antara mereka, bukan sebagai Kakak dan Adik tapi lebih dari itu.  Suatu malam, setelah dia selesai bekerja di rumah makan, Silva duduk di ruang tamu apartemennya dan merenung. Dia tiba-tiba merasa terganggu oleh perasaannya terhadap Hiro. Dia merasa bahwa dia tidak hanya melihatnya sebagai seorang rekan kerja maupun seorang  Kakak, tetapi juga sebagai seorang teman dan bahkan mungkin sebagai seseorang yang lebih dari itu.


Silva mulai memikirkan tentang kemungkinan untuk mengungkapkan perasaannya pada Hiro, tetapi dia merasa takut dan ragu-ragu. Dia tidak ingin mengambil risiko dan merusak hubungan mereka yang baik. Dia juga tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya dengan baik.


Di hari selanjutnya ketika suasana rumah makan sedikit lebih tenang, Hiro duduk di samping Silva yang saat itu sedang sibuk membaca buku dengan sangat serius. Dalam pikiran Hiro, Silva belajar dengan sangat keras. Begitu Silva selesai membaca dia langsung menutup bukunya, dia kaget hingga bereaksi sedikit heboh ketika melihat Hiro yang saat itu sudah duduk di sampingnya.


"Hwaaaa Mas Iblis? A-Apa yang kau lakukan di sini?!" Silva langsung bergeser tempat duduk dan menjaga jarak dengan Hiro, bukan karena saat itu sedang masa pandemi covid-19 tapi dia menjaga jarak gara-gara dia sangat gugup jika dekat dengan Hiro dan dia tidak mau jika Hiro mengetahui perasaan Silva yang sebenarnya.


"Aku ini Hiro, aku manusia. Berhenti memanggilku dengan kata Mas Iblis. Hei, mengapa kau menjaga jarak? Kau beneran menganggapku sebagai Iblis ya?" tanya Hiro sedikit kesal


"Bu-bukan begitu, kau mengagetkan diriku. Aku masih shock" jawab Silva yang kemudian mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Baiklah" Hiro mengambil bukunya Silva yang tadi sempat di jatuhkan lalu memberikan buku itu kepadanya "Ini"


Silva, yang baru saja memegang buku itu. Namun Hiro langsung menarik bukunya, nampaknya Hiro tidak berniat mengembalikan buku miliknya Silva. Silva yang menjadi sedikit lebih kesal dengan sikapnya Hiro langsung menarik bukunya dengan keras, tapi yang terjadi Hiro malah ikut ketarik ke arahnya. Sebenarnya Hiro bisa saja menarik bukunya balik, apa lagi dia itu seorang laki-laki pasti tenaganya jauh lebih kuat. Namun kali ini Hiro malah membiarkan dirinya ikut di tarik ke arahnya Silva. Sepertinya Hiro memiliki rencana lain yang tidak di ketahui oleh Silva. Dia memanfaatkan tarikan keras Silva tadi untuk memeluk Silva. Ya, setelah rencananya berhasil Hiro merasa Silva mendadak seperti patung. Itu karena Silva sangat gugup, jantungnya berdetak sangat kencang.


"Silva?" Hiro memanggilnya sembari melepas pelukannya


"Ya" Silva mencoba untuk tetap tenang


Hiro kembali duduk ke tempatnya yang semula dan menikmati teh hangat yang sudah di buat sebelumnya. Dia masih saja menatap Silva.


"Ada apa? Berhenti melihatku seperti itu" kata Silva yang mulai merasa terganggu


"Silva, kau itu seperti gula yang berada di dalam secangkir tehku ini" kata Hiro


"Haaah?  Apa maksudmu, Hiro?"  tanya Silva

__ADS_1


"Kamu membuat hidupku lebih manis dan menyenangkan" kata  Hiro


"Iya itu pandanganmu sebagai Iblis. Tapi sebagai seorang korban aku merasa sangat tersiksa" kata Silva yang lagi-lagi teringat masa lalunya.


"Tapi serius Silva. Aku merasa sangat beruntung bisa menghabiskan waktu denganmu lagi. Kamu seperti kunci pada kunci-kunciku. Ya, kamu membuat segalanya berjalan dengan mulus" kata Hiro dengan jelas


"Hiro, kau ini bicara apa sih?" tanya Silva yang masih tidak percaya juga tidak mengerti apa maksudnya Hiro.


"Ternyata aku gak cocok jadi cowok romantis ya" kata Hiro


"Haah?" Silva masih kebingungan


"Berikan aku kesempatan. Akan aku katakan lagi. Kali ini lebih baik" Hiro mendekati Silva lagi kali ini dia menjadi lebih serius. Dia memegang tangannya Silva yang sudah sedingin es karena sangking gugupnya.


"Silva, apakah kau mau menjadi asistenku? Ya asisten koki? Aku merasa kau memiliki bakat potensi yang baik" kata Hiro


"I-iya, aku akan berusaha keras dengan sebaik-baiknya" kata Silva, dia keheranan untuk memintanya sebagai asisten koki mengapa Hiro sampai memegang tangannya.


"Selain menjadi asistenku, aku juga ingin meminta hal lain darimu Silva" kata Hiro


"Hiro, banyak maunya ya?" tanya  Silva


"Apa lagi yang kamu minta dariku?" tanya Silva


"Tolong terima cintaku padamu Silva" Hiro


"Hiro?" Silva masih belum yakin dengan perasaan Hiro


"Silva, kamu mungkin tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Sebenarnya aku sudah lama menyimpan perasaan ini padamu. Ya, kamu mungkin ragu atau takut mengingat masa lalu kita dulu, tapi sekarang akan melakukan segalanya untuk membuatmu merasa aman dan nyaman dengan aku. Aku akan selalu ada untukmu dan aku akan selalu mencintaimu. Aku ingin memberimu kebahagiaan dan keamanan yang kamu butuhkan dalam hidupmu lalu menjalani hidup dengan penuh kasih sayang" jelas Hiro


"Hiro, aku tidak tahu bagaimana caraku merespon dirimu" kata Silva


"Kau tidak perlu meresponnya. Yang kau lakukan hanya menerimanya, ya menerima diriku dan juga cintaku" kata Hiro


"Hiro, apa kau tahu? Caramu menyampaikan perasaanmu kesannya seperti memaksa" kata Silva

__ADS_1


"Iya, aku memang memaksamu Silva" Hiro


"Iya tidak ada pilihan lain selain menerima dan menjalaninya jika Hiro yang meminta dan memaksa. Dari dulu memang selalu seperti itu kan?" tanya Silva


Mereka saling memandang satu sama lain sembari merasakan perasaan jatuh cinta yang mekar dalam hati masing-masing.


"Silva... Aku mencintaimu" Hiro langsung memeluk Silva


"Aku juga mencintaimu Hiro" kata Silva dalam pelukan erat Hiro


Dari kejauhan Mega melihat mereka berdua. "Shina, lihat itu! Apa yang mereka lakukan?" tanya Mega kepada adiknya


"Oh tidak, itu Hiro dan Silva sedang berpelukan. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Shina


"Kita harus mendekat dan melihat apa yang sedang terjadi" Mega berjalan dan mendekati mereka berdua


"Duuuh Kak Mega" Shina mengejar Mega


Hiro dan Silva terkejut ketika mereka menyadari bahwa Mega dan Shina ada di dekat mereka.


"Hmm, sudah jadian ya" Mega melihat Hiro dan Silva


"Tapi sayangnya, kecantikan aja nggak cukup buat membuat seseorang bahagia selamanya, Hiro. Kamu tahu kan?" Shina


"Iya, tentu saja aku tahu. Silva juga punya kepribadian yang baik dan itu yang membuat aku mencintainya" Hiro


"Tapi Triana itu kan juga punya kepribadian yang baik dan juga cantik. Mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk menjalin hubungan dengan Triana juga, siapa tahu lebih cocok dari pada Silva" kata Mega blak-blakan


"Jangan dengarkan dia, Hiro. Dia cuma ingin menjodohkan kamu dengan Kak Triana karena dia sendiri nggak berhasil mendapatkan gadis seperti Kak Triana idolanya itu" Shina


"Hahaha, kalian berdua lucu sekali. Tapi maaf ya, saya sudah sangat mencintai Silva dan tidak ingin merusak hubungan kami" Hiro


"Oke, oke, maaf ya Hiro. Kami cuma bercanda kok" Mega


"Ya, semoga kalian berdua langgeng terus ya" Mega

__ADS_1


"Terima kasih, Kak Mega dan Shina. Aku juga berharap begitu" kata Hiro dia melihat ke arah Silva "Oi, Silva bicaralah. Dimana dirimu yang selama ini suka banyak bicara dan membantah?" tanya Hiro kepadanya


To be continue


__ADS_2