
"Aku tidak menyangka semua akan jadi semudah ini" batin Joey
###
Di apartemen milik Silva, dia masih saja kerepotan mengurus anak yang di panggilnya dengan Daiki padahal nama aslinya adalah Nakano
"Kai, kau harus sekolah" kata Silva
"Namaku, Nakano!" Nakano
"Ayo aku akan mengantarkan kamu ke sekolah pagi ini" kata Silva mengandeng tangan Nakano
"Aku tidak mau" Nakano
"Nakano, kau harus sekolah, pendidikan itu sangat penting untuk masa depanmu Nakano" kata Silva menarik paksa Nakano kekuar
"Ughhhh nggak mau!" kata Nakano duduk
Silva melepaskan tangannya dan melihat Nakano dengan wajah cemberut. Kemudian Silva mengangkat tubuh kecil Nakano
"Lepaskan aku! Aku mau turun! Kakak lepaskan aku! Aku tidak mau pergi ke sekolah!" kata Nakano keras
"Memangnya kenapa? Apa gurunya galak? Atau Nakano tidak punya teman? Apa jangan-jangan teman-teman Nakano jahat dengan Nakano?" tanya Silva
"Bukan begitu!" Nakano
"Lalu bagaimana?" Silva
"Turunkan aku!" Nakano
"Tidak akan. Aku akan membawa Nakano seperti ini sampai di sekolah" kata Silva
"Kakak bodoh!" Nakano
"Oh itu kata-kata yang tidak pantas di ucapkan Nakano" kata Silva
"Kakak!" kata Nakano kesal
Sekarang Nakano hanya bisa pasrah dia berpapasan dengan Triana saat berjalan menuju ke sekolah Nakano. Triana menghentikan langkahnya
"Silva, aku baru saja melihat Silva" batin Triana
dan kemudian Triana melihat ke belakangnya, Saat itu Silva yang sedang mengangkat Nakano masih belum jauh dari pandanganya. Diam-diam Triana mengikuti Silva kemana perginya pagi itu
"Apa yang dia lakukan disini? Sudah berapa lama Silva disini? Apa dia tau jika Himiko masih hidup?" tanya Triana dalam hatinya
Triana tahu banyak tentang Silva dari cerita Himiko, tapi Silva tidak tahu tantang Triana. Silva menurunkan Nakano didepan gerbang sekolahnya
"Sekolah yang pinter ya, jangan nakal. Sesama teman harus saling membantu, bekalnya jangan lupa di makan oke" kata Silva ceria lalu mengusap kepala Nakano dengan lembut dan pergi
"Dan siapa lagi anak itu?" batin Triana penasaran
Kemudian Triana pergi ke sebuah perpustakaan umum disana dia mulai mengeluarkan laptopnya dan kembali menulis tapi setelah itu tulisanya di hapus.
Triana memakai earphone yang tersambung dengan hpnya dia hanya diam dan berpikir sejenak mengenai karya selanjutnya yang harus dia buat
"Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang menyelimuti hatiku sekarang. Di Jepang aku merasa kehilangan seseorang, tak tau dia siapa dan aku ingin mencarainya.OH TIDAK APA YANG SUDAH KU PIKIRKAN KATA-KATA BARUSAN SEPERTI SEORANG WANITA YANG LELAH AKAN KEJOMBLOANYA ANJIR" batin Triana kesal memukul menjanya pelan
Triana menyangga kepalanya yang perlahan mulai pusing
__ADS_1
"Bagaimana dengan Sudeni itta? Yang memiliki arti kepergianmu?" batin Triana
Triana terdiam dan melihat Fotonya bersama Himiko. Dia mulai berpikir akan cerita yang di buat selanjutnya, setelah itu dia merasa mendapatkan suatu petunjuk dan mulai mengetik
"Sudeni itta... Ini tentang perasaan seorang putri yang sangat menyukai seorang panglima perang dari kerajaannya yang sangat tampan,panglima itu juga di sukai banyak gadis lainya, dan sebagaian putri-putri cantik dari kerajaan lain juga sangat mengagumi kehebatan bertarungnya di medan perang dan ketampanannya... Hanya saja salah satu dari mereka tidak ada yang berhasil membuat hati sang panglima muda tersebut. Dan pada suatu hari..." batin Triana
Triana mendadak semangat menulis hari itu
Disisi yang lainya diam-diam Joey mengikuti Himiko yang berjalan menuju rumah makan cita rasa. Dia mengambil gambar Himiko dan langsung berniat untuk mengirimnya kepada Himeko, tidak sadar bawa dia di awasi oleh Kazuma yang duduk santai di mobilnya bersama Ash
Setelah Himiko masuk ke dalam rumah makan itu, Joey pergi
"Si Joey Franz itu serahkan saja itu padaku, aku yang akan mengurusnya" kata Ash yang sibuk dengan laptopnya
Sementara itu Himeko bergegas untuk pergi ke Jepang tanpa sepengetahuan ayahnya Silva
###
Dan siang itu Farida pergi dari kampusnya sambil membaca buku pelajarannya di sepanjang jalan
"Sepertinya aku sudah mulai mengerti" kata Farida yang masih melihat bukunya
Dan tiba-tiba saja
"Brak"
Farida menabrak seseorang hingga dirinya terjatuh
"Kebiasaan buruk ini selalu saja terjadi padaku" ucap Farida bangun dan mengambil bukunya
"Eng... Kamu gak apa-apa kan?"
"Aku seperti pernah melihatnya" batin Farida
"Aku baik-baik saja" jawab Farida
Mereka berbicara dengan bahasa Jepang
"Apa kamu orang Indonesia?" tanya Farida
"Ya? kenapa?" jawab Silva
"Bukan apa-apa. Kamu magang di Jepang ya?" tanya Farida penasaran
"Tidak. Aku kesini untuk mencari seseorang" kata Silva
"Mencari seseorang? Siapa? Kenalanmu?" tanya Farida
"Dia kakakku" kata Silva
Farida merasa menginjak sesuatu dia melihat apa yang dia injak, dan itu adalah sebuah cincin yang kemarin di lepasnya
"Lihat, Ini cicin saat aku mau menikah. Karena calon suamiku sudah meninggal Yang satunya lagi aku berikan kepada seseorang" kata Farida memamerkan cincin mahal tersebut
"Apa seseorang yang kau berikan cincin itu calon suamimu yang baru?" tanya Silva
Farida tertawa
"Aku bahkan tidak tau dia siapa" kata Farida yang menahan tawanya
__ADS_1
"Aku Silva Heartlifia... Siapa namamu?" tanya Silva
Farida dan Silva berjabat tangan
"Panggil aja Fari" kata Farida
Farida memakaikan cincin miliknya di tangan Silva tanpa seijin Silva
"Wah pas... " Farida
"Hey apa yang sudah kau lakukan?" tanya Silva kaget
"kalau begitu itu untukmu saja ya" Farida
"Apa? Kau sudah gila ya Fa?" Silva
"Sudah tidak apa-apa kok... Lagian aku juga gak butuh tuh cincin. Kalau kau gak mau kau bisa menjualnya. Harganya tidak murah loh" kata Farida
"Kenapa tidak kau saja yang menjualnya?" Silva
"Eng... Gimana ya?" Farida bingung
"Gawat ada seseorang yang harus ku temui saat ini. Aku duluan ya Silva, sampai jumpa lagi" kata Farida yang berlari meninggalkan Silva
Silva menatap Farida yang sudah sangat jauh
"Dia sangat aneh... Aneh sekali... " kata Silva dengan heran
Lalu Silva melepaskan cincinya dan dia berjalan menuju toko perhiasan
"Anu...aku ingin menjualnya... Kira-kira berapa ya?" tanya Silva menunjukkan cincin tersebut
Penjual perhiasan di toko itu meminta cincin yang di bawa oleh Silva
"Tunggu sebentar ya kak" kata sang penjual lalu pergi sebentar
Cincin itu di tes asli atau tidaknya setelah itu sang pemilik toko datang kepada Silva dengan membawa cincin tersebut
"Maaf kak, ini hanya cincin yang terbuat dari paduan logam yang tahan korosi yang mengandung 67% nikel, dan 30% tembaga, dan sedikit besi, sulfur serta unsur lainya" kata pemilik toko
Silva kaget dengan mulut ternganga
"Jadi, Jadi ini cuma cincin monel? Kenapa aku percaya gitu aja sih sama anak yang bernama Farida" kata Silva kesal dalam hatinya
Silva meminta cincin itu dan memakainya kembali
"Maaf aku gak tau kalo ini palsu" kata Silva kepada pemilik toko lalu pergi
Silva langsung ke sekolah Nakano, di depan pintu gerbang sekolah Nakano masih berdiam diri dengan kepala tertunduk ke bawah
"Maaf menunggu lama Nakano" kata Silva dengan wajah ramahnya
Nakano hanya diam tidak mengatakan apapun, kemudian Silva mengandeng Nakano pergi.
Hati Silva mendadak gelisah melihat Nakano yang masih murung, tidak seperti anak-anak yang ceria pada umumnya
To be continue
Oleh: Kousei
__ADS_1