WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Kenyataan


__ADS_3

Siang itu saat mata pelajaran sejarah, Pak Abdu tidak masuk, makanya sebagian anak MIPA 2 sudah pada ngacir keluar kelas.


Hanya tersisa beberapa saja.


Seperti Hendra yang tiduran di pojokan kelas, kali ini tidak ke belakang kantin ngerokok dengan anak IPS.


Kesya yang sudah kesana kemari mengacungkan hp seperti biasa buat instastory.


Reno, Ciko, Sofi, Ayu serta Wenda sedang duduk di tengah kelas membentuk lingkaran, samar-samar Gempi bisa mendengar nama guru olah raga dan salah satu siswi kelas dua belas di sebut-sebut.


Ya, mereka bergosip ria.


Gempi tidak peduli banyak karena sudah tau lebih dulu tentang kabar itu.


Dan Gempi sendiri?


Ia sedang menidurkan kepala di atas meja menghadap ke arah jendela kelas dengan kedua tangan yang terjatuh lemas di masing-masing sisi tubuh. Sibuk overthinking.


Kejadian kemarin masih menggangu pikiranya.


Hal ini juga yang menyebabkan ia jadi susah tidur tadi semalam.


Yohan nge-chat Manda?


Kenapa?


Kok bisa?


Udah akur ya?


Udah baikan?


Atau........udah balikan?"


Nyessss...


Hati Gempi langsung nyeri kayak di tusuk duri landak.


Gempi memejamkan mata rapat, dari tadi sudah misuh-misum dalam hati. Kedua kakinya menghentak-hentak lantai tidak santai.


"Ge? Kenapa lo?"


Tidak ada tanggapan. Yono mengeryit heran.


"Dah jangan di ganggu, tidur dia tuh" Kata Wenda menanggapi.


Reno meringis ngeri."Gege kalau ngigo horor juga ya" Ayu di sampingnya langsung menabok kepala cowok itu.


Reno sontak mendelik sengit."Kenapa sih Yuu" Sewot pemuda itu sambil mengusap kepalanya yang agak nyeri.


"Wakilin Yohan" Jawab Ayu santai. Memang jika anak-anak cowo mulai iseng mengganggu atau nyepik Gempi, Yohan bakan turun tangan buat nyadarin mereka satu-satu dengan cara kayak tadi seperti yang Ayu lakukan.


Reno mencebik kesal, sedetik kemudian jadi terhenyak seolah teringat sesuatu membuat cowok tampan itu diam dengan gurat wajah yang perlahan berubah.


Ketiga orang yang duduk di dekatnya mengeryit heran menyadari itu.


"Heh kutu ayam, napa lo?" Tanya Ciko menegur.


Yono mengagguk pelan."ho-oh, serem banget tiba-tiba diam"


"Panggilin pak Ahmad aja, biar di ruqyah langsung" Timpal Ayu menyebutkan nama guru agama itu, memberi saran.


Reno langsung mengumpat tak tahan. "Berisik anjir" Reno mendengus, merapatkan bibir menoleh ke arah pintu kelas sesaat kemudian kembali memandang ketiga temanya itu serius."Ada yang tau Yohan ke mana?"

__ADS_1


Mereka menggeleng, tidak tau menahu. "Kenapa tiba-tiba bahas Yohan?" Tanya Ayu heran. Yang lain mengangguk.


"Ck, penasaran aja-"


"Lo demen? anjir Ren istighfar"


Reno mengumpat, tanganya terulur mengusap kasar wajah Ciko yang duduk di sampingnya. "Elo yang istighfar, kaset welkom!"


Ayo dan Wenda tertawa geli. "Terus apa Ren?" Tanya Wenda penasaran.


Reno menghela nafas, membasahi bibir bawahnya jadi ragu, padahal tadi mau cerita karena beberapa hari ini sudah tidak bisa menyimpannya sendiri.


Memang tipe manusia mulut rombeng kayak Reno gak bakal betah nyimpan rahasia sendiri, mulutnya bakal alergi kalau gak ngomong.


"Menurut kalian, kalau Yohan ketemu lagi dengan Manda, tuh anak bakal gagal moveon gak?" Tanya Reno serius.


"Ha apah?!"


"Eitt apanih bisik-bisik manjahh, aku juga mau"


Keempat orang itu mendelik kaget ketika Suli dan Raya tiba-tiba berlari masuk ke dalam kelas langsung menyelip heboh ingin tau.


"Apasih ular sanca" Kata Yohan mendorong Suli dan Raya menjauh sebab dua cewek itu kini duduk di sampingnya menjepit tubuh cowok itu.


"Menurut gue sih iya" Kata Wenda kemudian menengahi ketiga temanya itu yang sudah berdebat saling pukul.


Ayu mengangguk setuju."Kejadian 'kemaren' masih membekas buat Yohan, mereka juga putusnya gak baik-baik kan." Ayu menghela nafas, melirik Gempi yang sepertinya masih tertidur pulas. "Yohan hatinya masih rapuh kayaknya, ibaratnya tuh lukanya masih basah, kalau sampe kena sepik sama si Manda, percaya deh langsung ambyar tuh anak"


"Jangankan sepik, di senyumin aja udah goyah dia" Ciko menimpali.


"Hm, Manda bening gitu, siapa yang gak demen" Kata Yono menanggapi, membuat Raya dan Suli mendelik menginjak kaki cowok itu di bawah meja.


"ARGHH ANJ- Apasih ha apa?" Kata Yono kesal. Raya dan Yuli melongos tak peduli.


Ciko menggeleng ngeri melihat itu. Cewek-cewek MIPA 2 memang jelmaan singa lepas semua.


"Eh tapi jangan sampe deh ya, itu si Yohan harus di awasin"


Semua orang sontak menoleh, Kesya tau-tau sudah ikut nimbrung berdiri di belakang Reno, cewek itu menyengir lebar. "Iya kan?"


Cewek-cewek yang ada di situ mengangguk kompak. "Yohan harus di amankan" Balas Wenda.


"Kenapa sih?" Yono menyeletuk lagi, belum tobat dari tadi kena pukul sama dua cewek di sampingnya, kayaknya memang mau dia amuk masa sekalian.


Anak-anak cewek sontak langsung melotot tajam.


"Lo di kubu mana sih ha? Lo mau si Yohan balikan sama Manda iya?"


"Emangnya salah?" Tanya Yono menantang, Ciko di sampingnya mengumpat kasar. "Minkem aja lo anying"


"Iya lah upil badak!" Kata Kesya tidak santai. "Si Yohan di selingkuhin lagi lo mau? Cukup yang kemaren aja"


Suli menoyor kepala Yono."lo itu harusnya jadi tim sukses YohanGege"


Yono mengerucutkan bibir diam, kalah telak.


"Tapi–"


Kini semua pandangan berfokus pada Reno yang sejak tadi diam.


"–Baru-baru ini, Yohan sama Manda pulang sekolah bareng"


Hening...

__ADS_1


"Waktu–"


"HAH!"


"ANJ-SERIUS LO? NGIBUL YA?!?!"


"LAH GIMANA CERITANYA?!"


"WAH PARAH NIH!"


"APA-APAAN NIH!"


Reno meringis semuanya langsung menyerbu bersamaan.


Hendra bahkan jadi terusik, dengan kesal bangun menatap nyalang human-human dia tengah kelas sana. "KALEM WOY" Teriak Hendra sewot.


Namun tidak ada yang menanggapi, mereka malah makin heboh entah apa sebabnya. Hendra mengumpat tertahan. "Bodo" Katanya kembali tidur mencoba tak peduli.


"Ck, bercanda ya lo?" Tanya Kesya mendelik tajam.


"Kagak elahhh, kapan sih abang Reno gak serus?"


Mereka mengumpat.


"Jelasin cepat" Kata Wenda menuntut.


Reno menggosok hidungnya kikuk."Kejadianya hari rabu kemaren, habis main futsal rencananya mau mampir ke Xiecup dulu, soalnya waktu itu anak-anak kelas pada ngumpul juga, elo yang nge-chat di grup kelas ingat gak, maksa kita buat mampir dulu" Kata Reno menatap Wenda.


Wenda melebarkan mata, kemudian mengangguk antusias.


"Nah, bertepatan di situ ada Manda yang lagi berdiri sendirian di pos satpam. Ketemu sama Yohan yang mau keluar sekolah." Reno meringis."Gue gak sempet dengar apa yang mereka omongin, soalnya posisinya di situ gue jaraknya agak jauh, baru ngeluarin motor"


"Wah jadi jelas sekarang" Kata Ciko berseru heboh."Kemarin Manda kesinih, kan tumben-tumbenan, gue sama Yolan aja heran, katanya sih nyariin Gempi, tapi kayak nyariin satu orang lagi"


"Anj- serius dia ke sinih?" Tanya Raya mendelik tajam, Ciko mengangguk santai.


"Gawat anying"


"Mencium bau-bau CLBK"


Bel sekolah berbunyi tanda waktunya pulang.


Delapan orang yang duduk berkumpul itu sontak terdiam kompak dengan mata yang melebar kaget.


Bukan karena bel sokalah yang berbunyi, BUKAN!


Tapi Karena gadis yang sejak tadi mereka pikir sedang tidur pulas, kini tiba-tiba saja berdiri tepat ketika bel sekolah berbunyi.


Mereka saling melempar pandang, lalu kembali fokus memperhatikan gerak-gerik Gempi yang tengah mengemasi alat tulisnya di atas meja, kemudian mengenakan tasnya dengan tenang.


Gadis itu melirik, menyadari kini sedang di pandangi oleh teman-temannya.


Merapatkan bibir, Gempi sekali lagi menarik napas dalam menenangkan diri, kemudian baru lah menoleh membalas pandangan teman-teman kelasnya itu. "Kenapa?"


Suaranya bergetar.


Gempi gagal mencoba terlihat baik-baik saja.


"Ge? Lo..... Dari tadi gak tidur?"


"Lo.... Denger semuanya?


Gempi tidak menjawab, ia membuang muka segera saat kedua matanya kembali terasa basah. "Ha apaan?" Katanya mengelak, kemudian dengan cepat beranjak pergi keluar dari kelas. samar-samar mendengar teman-temannya yang saling menyalahkan.

__ADS_1


🥨🥨🥨


__ADS_2