
"Kok diam aja? Masih sakit banget ya kepalanya?" Tanya Yohan sambil mengerling ke arah Gempi yang duduk enteng di sampingnya.
"Enggak, udah mendingan" Jawab gadis itu santai, tersenyum manis pada Yohan yang sedang fokus menyetir."Makasih ya"
Yohan mengangguk, tangan kirinya terulur mengelus lembut surai hitam Gempi."Lain kali jangan ikut campur kalau ada anak cowok lagi berantem" Ucapanya, mengingat kejadian di sekolah tadi. "Cowok kalau dah emosi, akal sehatnya cuman satu persen"
Gempi meringis pelan, mengakui kebodohanya itu."Yaa mau gimana lagi Yo, Ciko sama Sofy gak bisa di harap, Hendra yang udah kek banteng lepas gitu gak bisa di tangenin kalau cuman Toni doang, jadi gue ngikut bantu" Katanya beralasan.
Yohan mendesah pelan, melirik sekilas pada Gempi yang tengah meraba-raba balutan perban di kepalanya. Cowok itu membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, namun jadi mengurungkannya saat gadis itu tiba-tiba saja menyeletuk.
"Hendra gimana? tadi mukanya banyak lebam gitu" Gempi menoleh manatap Yohan dengan gurat wajah khawatir yang kentara."Ck tuh anak padahal baru kemarin dapat peringatan dari PD, sekarang buat ulah lagi" Kata Gempi mulai mengomel.
"Gak takut apa di keluarin dari sekolah?" Gempi mendengus kesal, kemudian melipat tangan di depan dada.
Yohan diam mendengarkan, ia memainkan lidah di dalam mulut, lalu menggigit pelan sudut bibir bawahnya.
"Hendra cuman harus buat surat permintaan maaf, selebihnya nanti gue yang urus" Yohan menginjak rem saat tiba di lampu merah."Santai aja, gak perlu khawatir" Lanjutnya dengan intonasi tenang.
Gempi mengakat alis, menatap lekat Yohan yang memandang lurus ke depan jalan."Lo gak bakal marah sama dia kan? Hendra gak salah kok" Ucapnya membela, Gempi menggaruk jidatnya yang terbalut perban."Yang mulai duluan si Virgo tuh, tiba-tiba nongol bikin emosi"
Yohan menoleh, membalas tatapan Gempi tepat."Terus?"
"Yaa gitu" Gempi menipiskan bibir, berdehem pelan merasa dadanya tiba-tiba berdesir saat di tatap oleh cowok ini. "Hendra itu, paling sensitif kalau soal keluarga. Dan Virgo udah sengaja nyentil itu, makanya Hendra sampe kesetanan kayak tadi" Katanya berdecak pelan. Seantero sekolah tau, kalau Hendra memang tidak pernah akur dengan salah satu senior kelas dua belas itu.
Wajah Gempi berubah masam.
Padahal Virgo itu ganteng banget, salah satu senior idaman, tapi kenapa kelakuanya malah nauzubillah bikin istighfar tiga puluh tiga kali.
"Ge"
"Eh ya?!" Gempi menoleh cepat ke arah Yohan, ia mengerjap pelan."Apa?"
Yohan diam sesaat, menginjak gas kembali menjalankan mobil saat lampu berubah hijau."Lo... Suka sama Hendra?"
__ADS_1
Gempi langsung tersedak ludahnya sendiri, gadis itu menatap Yohan horor."MAKSUD LO?!" Tanyanya tidak santai.
Yohan yang melihat respon itu tanpa sadar tersenyum tipis nampak samar."Enggak ya?"
Gempi melotot tajam. "IYA LAH, sinting lo" Balasnya jadi sensi.
Yohan terkekeh pelan."Biasa aja dong" Katanya geli, menyempatkan mengacak puncak kepala gadis itu.
Gempi mengerucutkan bibir."Ya lagian kenapa sih tiba-tiba nanya itu, aneh"
"Hm?"
Yohan menegak, tertegun mendengar itu.
Lah iya ya......
Kenapa?
Yohan jadi kepikiran?
Mobil Yohan berhenti, tepat di depan rumah mewah dengan pagar menjulang berwarna hitam itu.
Mereka telah sampai di rumah Gempi.
"Yo? Heh!"
Yohan mengakat sebelah alis, agak linglung menoleh pada Gempi yang mengernyit heran menatapnya.
"Yang kepalanya luka tuh gue, kenapa malah elo yang kelihatan punya gejala amnesia" Kata Gempi menyerocos asal.
Yohan mendengus."apaan?"
"Tas gue mana?"
__ADS_1
"Di belakang tuh" Jawab Yohan sambil mengerling ke arah jok belakang mobil.
Melihat itu Gempi langsung memajukan diri ke jok belakang, mengecek. "Ohiya ad–eh apa nih?" Tanya Gempi jadi salah fokus pada paper bag yang terletak di samping tas gadis itu.
"Hn?" Yohan jadi menoleh ke belakang, mengernyit melihat Gempi yang kembali ke posisi semula dengan kedua tangan yang masing-masing menggengam sesuatu, tas sekolahnya di tangan kiri sedangkan paper bag warna biru di tangan kanan.
"Apaan nih, obat gue ya?"
Yohan mengerjap melihat itu."bukan, obat lo udah gue masukin di dalam tas"
"Lah? bukan ya?" Gempi langsung cengengesan, tidak jadi mengecek apa yang ada di dalam paper bag itu dan mengembalikan yang ke tempat semula.
"Itu bekal makanan"
Gempi sontak mengakat alis."Punya lo? Gue baru tau lo bawa bekal ke sekolah"
"Bukan punya gue"
"Hn?" Gempi termangu, mengerjap dua kali menatap Yohan tak terbaca."Oh"
"Punya Manda"
"Gue gak nanya" Ucapanya ketus tanpa sadar.
Yohan membasahi bibir bawahnya, terusik melihat gurat wajah gadis itu perlahan berubah."Tadinya mau gue kembaliin, tapi lupa"
"Gue gak nanya, Yo" Gempi berdecak, entah kenapa jadi emosi tidak bisa menahan diri, gadis itu melepas sabuk pengaman, kemudian berancang hendak keluar dari mobil. "Makasih, gue masuk dulu"
Yohan membiarkan, menatap lekat gadis itu yang menutup pintu mobil kemudian berlalu pergi hingga hilang di balik pintu pagar rumahanya.
"Ck apaan sih" Yohan mengusap wajahnya kasar, mengenyahkan pikiran aneh yang sempat melintas di otaknya. "Kok jadi geer gini" Gummanya gusar.
***
__ADS_1