
Setelah kejadian di parkiran empat hari yang lalu.
Manda tidak lagi menghubunginya.
Gempi pun tidak berinisiatif untuk nge-chat duluan.
Nggak. Gempi nggak ada marah, soalnya gak ada alasan juga buat marah, kan? Tapi memang begitulah kerjaan Gempi.
Jika ada costumer yang menghubunginya lebih dulu berarti itu minta bantuan, barulah Gempi meladeni.
Tapi jika mereka tidak menghubungi Gempi, ya Gempi diam aja seperti sekarang ini.
Btw, Gempi ini lambe turah nya SHS, kerjaanya selain jadi agen informasi, juga merupakan mak coblang yang sukses di sekolah ini.
"Lo bantuin Manda deketin Yohan?"
Gempi mengangkat alis sekilas, menanggapi itu masa bodo.
"Kalau anak cewek yang lain pada tau, abis lo di jadiin cacing geprek Ge" Kata Ciko yang duduk di samping gadis itu menakut-nakuti, mengingat memang anak-anak cewek di kelasnya, itu yang paling tidak setuju jika Yohan dekat lagi dengan Manda.
Yolan dan Wenda mengangguk membenarkan, Zeno yang duduk di samping Yolan diam saja menikmati chicken katsu di depannya.
"Ck, kenapa sih? Manda orangnya baik kok" Balas Gempi heran. Yolan dan Wenda langsung melotot tajam membuat Gempi menciut ngeri.
"Dia pernah selingkuhin Yohan ya Ge, lo lupa?" Tanya Yolan sensi.
Ciko mendengus sinis."Udah lupa Yol, kan udah temenan" Sindirnya tentang Gempi yang semakin dekat dengan Manda akhir-akhir ini, membuat Gempi tak tahan langsung menendang kaki cowok itu di bawah meja. "Canda anjir" Ucap Ciko meringis pelan.
Gempi mencibir."Itu kan cuman masa lalu" Ucap gadis itu memandang Wenda dan Yolan ragu-ragu."Yohan masih suka juga kan sama Manda, jadi pasti kalau gue bantuin Manda deket lagi sama Yohan, Yohan bakal senang"
Gempi menipiskan bibir, menguasai garis wajah tetap terlihat biasa saja.
"Halahhh lo mah cuman mau duitnya, kalau misi lo berhasil kan lo bisa dapat cuan, followers lo juga bakal nambah" Kata Ciko julid.
Gempi melotot Galak, namun tidak membalas karena itu benar. "Berisik lo!"
Wenda mendesah pelan, dengan tenang menyeruput jus alpukat di depannya, kemudian memandang Gempi kembali. "Asal lo emang yakin Ge, gue gak mau aja nanti lo nyesal" Kata Wenda serius."lo inget kan, apa yang gue bilang sama lo waktu itu?" Tanya gadis jangkung itu mengungkit kejadian di malam saat Gempi uring-uringan bingung dengan perasaanya sendiri.
"Gue gak tau kenapa gue marah, padahal kalau Yohan sama Manda pulang bareng gak ada ruginya juga buat gue"
"Lo cemburu?"
"Enggak lah, gila apa"
"Itu lo cemburu Gegeee"
Wenda mendesah pelan saat tidak mendapat balasan dari sebrang sana, gadis itu kembali melanjutkan.
"Gue gak tau ya, apa karena murni hanya rasa kehilangan seorang teman dekat, atau karena emang lo nya yang udah naksir sama Yohan"
"Teh~.. "
Wenda mengernyit saat samar-samar mendengar suara Gempi bergetar pelan. "Lo gak pa-pa kan?"
"... Gue takut"
"Takut kenapa ha? Lo gak pa-pa kan?" tanya Wenda jadi khawatir.
"Gue takut, kalau sampe beneran suka sama Yohan... Dia teman gue"
Wenda menggigit pelan bibir bawahnya, kemudian mendesah pelan."Ge–" Wenda memberi jeda sesaat, memilah kata-kata agar mudah di pahami temannya itu. "Sebenarnya, hal paling bodoh yang gak boleh lo lakuin itu, baper-baperan sama teman sekelas"
"Nah kah–"
"Denger dulu" Wenda langsung menyela. "Tapi kalau lo emang udah terlanjur baper gak usah takut, jalanin aja, perjuangin kalau bisa, Yohan emang gamon tapi elo Gempi julianti, tunjukin taring lo, pasti bisa"
Gempi di sebrang sana meringis pelan, tidak tau harus menanggapi apa.
"Manda yang cuman masa lalu bisa apa kalau lo udah gerak, Yohan mah kalau lo sepik dikit juga bakal ambyar, menurut gue kunci biar Yohan bisa muvon itu elo Ge, percaya sama Gue"
Sekilas percakapan mereka malam itu, membuat Gempi mendesah pelan. "Nyesel apa sih, gue kan gak pernah bilang kalau suka, Teh" Katanya kembali mengelak.
Ya, Gempi berusaha kembali membohongi perasaanya sendiri.
"Ngomongin apa sih?" Tanya Ciko menatap Gempi dan Wenda bergantian. "Yang jelas dong, noh kasihan mukanya Yolan kek orang tolol plonga-plongo"
Yolan yang awalnya tengah menatap Wenda dan Gempi penasaran langsung mengumpat, tanganya dengan cepat menabok keras kepala Ciko. "Bacot banget anjir"
Ciko mengerucutkan bibir, sambil mengusap bagian kepalanya yang kena tabok. "Kenapa Teh? Ngomongin apa sama Gempi?" Tanya Ciko kepo, belum mau diam."Yohan ya? Gempi beneran baper?"
__ADS_1
Yolan langsung merapat ikut penasaran. "Baper Ge?"
Gempi mengumpat dalam hati, gadis itu merapatkan bibir tidak menjawab.
Wenda yang melihat itu cuman mengulas senyum tipis, dengan sorot mata penuh arti pada Yolan dan Ciko.
"WAHHHH KAN KAN, HMMM UDAH GUE DUNGONG!"
"Duga bego!" Yolan mendelik, kaget tiba-tiba cowok di depannya itu heboh bukan main. "Alhamdulillah aja deh gue kalau bener" Lanjutnya tersenyum manis terharu.
Gempi meringis."Bukan git–"
"CYEEEE GEGE UDAH SUKA-SUKAAN" Ciko belum mau tenang.
"Diam gak!" Bisik Gempi melotot galak menjambak rambut cowok itu, sebab pandangan orang-orang di kafetaria sudah tertuju ke arah meja mereka.
"Ciko urat malunya cuman dikit makanya gitu" Celeruk Zeno masih enteng di tempatnya.
"Gak di kelas, gak di luar sama aja anjir"
Keempat orang itu sontak menoleh, Reno dan Yohan baru saja datang langsung menarik asal kursi terdekat, bergabung dengan yang lain.
Yohan mengambil tempat di samping Gempi, menatap gadis itu sambil tersenyum tipis."Rambutnya Ciko lepasin dulu" Katanya halus saat gadis itu cuman diam dengan wajah cengo ke arahnya.
Gempi yang mendengar itu langsung mengerjap jadi tersadar kemudian kembali menoleh pada Ciko, menoyor kepala cowok itu lalu mencibir."Jauh-jauh lo kuman"
Ciko mendelik, namun diam saja menarik diri, takut kena amuk lagi.
"Siapa yang suka-sukaan?"
"Ha?" Gempi menoleh kaget ke arah Yohan yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.
Anjir anjir ******! Gara-gara Ciko suaranya toak banget.
"Ohhhh itu si Gege, katanya-ARGHHHH AMPUN AMPUN ANJ-KYAAAAA" Ciko menjerit lebay ketika tiba-tiba kembali mendapat jambakan dari Gempi.
Yohan yang melihat itu mendengus, dengan segera langsung menarik Gempi mengamankan. "Di depan umum ini" Katanya menegur halus.
Gempi mendengus pelan."Ini nih si Ciko dari tadi nyampah mulu, kan kesel" Katanya mengadu.
Yohan mengakat alis, tanpa sadar melebarkan pupil mata saat melihat cewek di sampingnya ini sudah mengerucutkan bibir merengut kecil.
Gemes banget.
Ciko mendelik protes, namun jadi mencuit saat melihat tatapan garang dari wakil ketua kelasnya itu. "Ampun deh gak ngulang"
"Cih berdusta dia" Cibir Reno di samping Wenda.
"Kok tau?"
"Iya dong, kan aku Cenayang kamu"
Ciko dan Reno langsung tertawa gila bersama.
Yang lain cuman menata itu penuh hujatan.
"Kalau kamu cenayang coba tebak perasaan Gempi Julianti, apakan beneran jatuh cinta atau tidak?"
Gempi melotot, mengumpat tertahan melihat dua orang itu kembali bertingkah gila. "Apaan sih!"
"Wahhh panik dia" Balas Reno tengil. "Gimana nih bro, lanjut?"
"Gassss" Tangap Ciko makin sinting.
Yolan dan Wenda cuman terkikik geli melihat itu. Malah menikmati.
Reno sendiri kini sudah menyipitkan mata seolah-olah mengamati dengan serius ke arah Gempi. "Kalau gue liat-liat sih, emang ada aurah aurah falling in love dari mbak ini"
Gempi mengumpat. "Sinting"
"Terus-terus, coba tebak siapa yang buat dia jatuh cinta?" Kata Ciko mengumpan.
Reno kembali pura-pura mengamati, kemudian tiba-tiba melebarkan mata dengan tarikan nafas berlebihan seolah tak menyangka.
Yolan mengumpat, Zeno mencibir tak tahan, Wenda dan Yohan memandang itu lelah.
"Kenapa-kenapa?!" Serbu Ciko tak sabaran.
"Ada satu cowok, orangnya ada di dekat Gege, tapi–"
__ADS_1
Gempi melotot, tiba-tiba jadi tegang.
KURANGAJAR EMANG NIH MAHLUK!
Eh!
Tunggu-tunggu!
KENAPA GEMPI TAKUT?!
KENAPA?!
"Tapi kenapa mbah?"
Reno balas menatap Ciko, lalu menggeleng lemah seolah prihatin."Tapi sayangnya cowok yang dia suka itu gamon parah"
"Reno!!! anjir lo, SINI LO!!"
Reno langsung melompat keluar dari kursi bersembunyi di belakang Wenda menghindari amukan Gempi.
Ciko sendiri sudah tertawa lepas di tempatnya.
Lagi-lagi mereka menarik perhatian, Yolan sudah pura-pura kalem menikmati chicken katsu bersama Zeno berlagak tidak mengenal teman-teman itu.
Yohan diam termenung di tempatnya, memandang lurus ke arah Gempi yang masih mencoba meraih kerah baju Reno yang terus berlindung di belakang Wenda yang kewalahan mengamankan mereka.
"Ge tenang Ge, Reno nya nanti gue yang tebokin, udah sana balik duduk" Kata Wenda menenangkan gadis itu.
"Kenapa panik Ge? Benar ya?" Tanya Ciko mengumpan, Cowok itu menyeringai ke arah Gempi."Ohhhhh...OHHHHHH paham Ge gue mah, paham" Katanya mengangguk-anggukan kepala berlagak sok tau. "Udah Ren, udah kejawab"
Gempi mengumpat kasar, gadis itu dengan ragu-ragu melirik lalu jadi terhenyak saat mendapati Yohan yang kini tengah memandanginya tak terbaca.
Gempi bergerak tidak tenang, gadis itu dengan kikuk kembali duduk di kursinya, berusaha menghindari Yohan yang belum juga mau melepaskan pandangan darinya.
"Kenapa Yo?" Tanya Ciko melihat gelagat cowok itu. "Ada yang mau di tanyain sama Gege?"
Gempi mengumpat dalam hati, lalu mendelik pada Ciko menyuruh cowok itu diam saja.
Yohan mengerjap, kedua alisnya mengerut samar. "Ge"
"Apa?" Balas Gempi tenang.
Lebih tepatnya berusaha tenang.
"Lo lagi suka seseorang?" Tanya Yohan akhirnya, sebenarnya dari kemarin sudah penasaran.
Awalnya Yohan pikir itu cuman celetukan tidak jelas untuk mengisengi Gempi seperti biasa.
Tapi sekarang saat melihat respon Gempi yang seolah panik.
Yohan jadi kepikiran.
"Siapa?" Tanya Yohan lagi masih penasaran karena cewek di sampingnya ini masih diam belum juga menjawab. "Gue kenal?"
Reno dan Ciko langsung mengulum bibir menahan tawa.
"Tebak aja Yo, tapi jangan jauh-jauh" Celetuk Yolan ikut menikmati.
Yohan mengakat sebelah alis."Jadi bener?"
"Ck apaan sih, enggak" Elak Gempi melongos kasar.
Yohan yang melihat itu jadi merapatkan bibir. Cowok itu meletakan punggungnya ke sandaran kursi, ia diam sesaat, hingga kemudian tanganya terulur menyelipkan juntaian rambut Gempi ke belakang telinga gadis itu.
"Moveon aja"
Gempi menegak, namun tidak dapat menolehkan kepala membalas tatapan Yohan.
Kelima orang lainya yang ada di meja itu ikut kaget mendengar tanggapan Yohan yang tidak di sangka itu.
"Kata Reno, cowoknya gamon kan, susah Ge"
Gempi memejamkan mata rapat saat Reno dan yang lain sudah terbatuk-batik berlebihan mendengar saran yang di berikan Yohan itu.
"Hm, susah Ge, selain gamon, tuh cowok juga gak peka" Kata Reno sewot.
Gempi mengumpat tertahan.
****
__ADS_1
A/n
SURAT TERBUKA UNTUK SAUDARA YOHAN PANGESTU UNTUK SEGERA PEKA!