
Yohan menghela nafas, menoleh pada Gempi yang berdiri di belakangnya."Balik ke kelas aja sana"
Gempi menggeleng."Gue yang salah, jadi gue juga harus ikut masuk ke ruangan BK" katanya keras kepala.
Yohan menggaruk pelipisnya sambil menggigit sudut bibir jadi pusing melihat itu. Sebenarnya tadi bukan hanya Gempi, tapi semua anak kelas MIPA 2 ingin ikut ke ruang BK.
Yohan dengan tegas melarang.
Lagian mau ngapain juga rame-rame, mau tauran?
Alhasil, hanya Gempi yang tetap ikut bersamanya, karena alasan gadis itu yang masuk akal. Dia mengaku salah, makanya mau tanggung jawab.
"Lo boleh masuk, tapi ingat" Yohan menatap serius."Lo cuman boleh duduk tenang, dan gak usah terlalu banyak nangepin pertanyaan pak Bibit, itu biar jadi urusan gue"
Gempi mengulum bibir ke dalam, lalu mengangguk mengerti.
Yohan menatap Gempi sesaat, lalu membuka pintu di depan mereka. Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam ruangan BK.
Di dalam situ sudah ada pak Bibi si guru BK dan juga ketiga cewek yang berkelahi dengan Gempi di WC tadi.
Gempi menatap mereka datar, lalu melongos kasar tidak peduli. Gadis itu kemudian mengekor di belakang Yohan, duduk di kursi yang berhadapan dengan ketiga cewek itu.
Pak Bibit sendiri duduk di tempatnya, menatap tajam murid-murid emas yang di kenal seantero sekolah.
"Jadi, apa masalahnya?"
"Dia jambakin saya pak, rambut saya sampe rontok" Kata Cika menjawab pertanyaan Pak Bibit itu, sambil menunjuk ke arah Gempi yang tampak tenang menatapnya malas tidak tertarik.
"Saya juga pak, nih liat, kepala saya botak nih" Timpal Dea sambil menundukan kepala, menunjukan bukti kebringasan Gempi.
Manda sendiri diam saja sejak tadi, menatap Yohan yang terlihat tidak peduli denganya sama sekali.
Pak Bibit memghela nafas, kemudian menatap ke arah Gempi."Jelaskan Gempi, alasan kamu lakuin itu sama mereka"
Yohan melirik sesaat gadis yang duduk di sampingnya ini, Kemudian menatap Pak Bibit kembali. "Biar saya aja yang jelasin pak"
Pak Bibit mengangkat tangan, sebagai tanda menyuruh Yohan diam. "Sebentar, saya mau dengar alasan langsung dari Gempi dulu"
"Mereka ngatain saya duluan pak" Jawab Gempi santai, menatap langsung pak Bibit tanpa takut."Awalnya saya gak langsung main jambak kok Pak, saya tanya dulu alasan mereka ngatain saya, tapi mereka malah makin keterlaluan" Kata Gempi kini menatap tajam ketiga cewek itu yang sudah merapat takut.
"Saya ngaku, udah salah karena nyelesain masalah dengan kekerasan, tapi mereka yang mau nampar saya duluan pak, ya saya balas" Jelas Gempi."Mereka bertiga saya sendiri, di pikir saya bakal ngerasa tertindas kali" lanjutnya mencibir pelan.
Pak Bibit tampak mengangguk pelan, lalu kembali menatap ketiga cewek yang ada di ruangan itu."Benar apa yang di bilang Gempi?"
"Bo-bohong pak" jawab Cika tanpa membalas tatapan tajam Gempi."Bapak bisa liat sendirikan, di sini tuh kita yang korban"
Dea mengangguk setuju.
__ADS_1
Gempi mengumpat pelan melihat itu."Dasar sancawati" Kata Gempi sinis.
Yohan menghela nafas lalu menatap Pak Bibit."Mereka ikutan nyerang kok pak, rame-rame lagi, Gempi juga dapat luka dari serangan mereka" Kata Yohan tetap tenang, cowok itu menoleh pada Gempi, menyelipkan helaian rambut gadis itu ke belakang telinganya."Ada luka di wajah Gempi, hasil cakaran dari tangan mereka bertiga" katanya yang kemudian menoleh pada ketiga cewek itu.
Gempi merapatkan bibir, diam-diam sudah ambyar di belain begini.
GANTENG BANGET WOY!! –Teriak gadis itu dalam hati menatap Yohan berbinar.
"Oke" pak Bibit mengangguk paham."Kalian bertiga, akan dapat hukuman skorsing selama tiga hari" Kata pak Bibit tegas hingga membuat Dea, Cika dan juga Manda hanya bisa menggerutu dalam hati tak bisa membantah. "Silahkan keluar, dan Gempi kamu tetap di sini"
Ketiga cewek itu menatap Gempi sinis, kemudian melangkah keluar dari ruang BK dengan perasaan dongkol.
Gempi tidak ambil pusing, ia hanya menatap Pak Bibit, menunggu pria paruh baya itu mengatakan alasan menyuruhnya menetap.
"Yohan?" Tanya pak Bibit heran cowok yang duduk di samping Gempi itu belum mu pergi.
Yohan mengakat alis, lalu berdehem pelan."Saya tetap di sini, sebagai wakil ketua kelas saya punya tanggung jawab buat jagain anggota kelas saya pak" Katanya kalem.
Gempi langsung mengulum bibir kedalam menahan senyum.
Pak Bibit menghela nafas tidak bertanya kembali."Gempi"
"Iya pak"
"Kamu juga saya hukum"
Gempi meringis, sudah tau hal ini pasti terjadi."Iya pak"
Gempi mengangguk, tidak keberatan."Boleh pak, aman serahin aja sama saya"
Yohan menatap itu geli, tersenyum gemas melihatnya.
Pak Bibit mendengus lalu mengangguk pelan."Udah, sanah kalian keluar" Katanya mengusir, sudah tidak tahan.
****
"Kita singgah ke indomaret bentar ya, mau beli eskrim"
Yohan yang tengah fokus mengendarai motor dalam perjalanan pulang, hanya mengangguk pelan menanggapi permintaan Gempi.
Motor Yohan melaju di jalan raya itu, hingga tak lama setelahnya berbelok ke arah Indomaret.
Gempi turun dari motor, melepas helm lalu merapikan rambutnya."Lo mau beli juga?"
Yohan menggeleng, tersenyum manis dari balik helm fullface nya."Gue tunggu sini aja"
Gempi mengangguk."Hm, gue gak lama juga kok, cuman beli eskrim doang" katanya kemudian berlalu masuk ke dalam indomaret.
__ADS_1
Gempi berjalan ke arah freezer, membukanya lalu mulai mencari eskrim kesukaanya. Memang pada saat datang bulan, Gempi itu maunya makan terus. Bahkan tadi mereka sempat singgah beli martabak.
Setelah mengambil eskrim kesukaanya dengan jumlah yang banyak, Gempi berjalan menuju meja kasir melakukan pembayaran kemudian melangkah keluar dari Indomaret itu.
Saat tengah berjalan santai sambil bersenandung pelan menuju parkiran, Gempi sontak menghentikan langkah saat berada di jarak yang tak begitu jauh dari motor Yohan.
"Siapa tuh cewek?" Tanya Gempi mendelik penasaran melihat cewek cantik itu tampak tertawa kalem berbicara seru bersama Yohan.
"Wah apa nih, rival cinta baru?" katanya ngasal kemudian dengan langkah cepat menghampiri kedua orang itu.
Saat tiba di samping motor Yohan, Gempi langsung batuk-batuk heboh mengundang perhatian dia orang itu, bahkan kang parkir indomaret sampe nengok buat nyari tau kali aja ada orang yang sekarat di parkiran itu.
"Kenapa Ge?" Tanya Yohan khawatir melihat Gempi.
Gempi melirik cewek yang berdiri di sebelah motor Yohan, tampak heran melihat Gempi.
"Gak, cuman tiba-tiba keselek aja" Katanya beralasan, tiba-tiba gurat wajah Gempi berubah drastis sambil menoleh pada cewek yang tampak diam menatap Gempi penasaran."Eh haiiii siapa ya?" Tanya Gempi sok asik, lalu menoleh pada Yohan yang terlihat heran."Lo gak mau ngenalin sama gue? Siapa? gebetan?"
Yohan mendelik, ia diam sesaat memahami gelagat Gempi hingga akhirnya senyuman geli tercipta di wajahnya."Bukan, kenalin ini Olivia" Kata Yohan mengerti, lalu menoleh pada cewek bernama Olivia itu, Gempi tersenyum manis membalas tatapan Olivia padanya.
"Liv, ini Gempi teman gue"
Hn?
Gempi sontak menoleh pada Yohan dengan tatapan tak terbaca. "Teman?" tanya Gempi mengulang ucapan Yohan itu.
Yohan mengerjap lalu mengangguk santai."Iya, emang teman kan"
Gempi berdecih, lalu melongos pelan kembali menatap Olivia."Gue Gempi, salam kenal" katanya berubah ramah.
Yohan mengulum bibir ke dalam menahan tawa. Selalu merasa gemas dengan tingkah Gempi.
"iya, Gue Olivia" Kata Olivia membalas ukuran tangan Gempi ramah, ia tersenyum manis, semakin terlihat cantik. Gempi sampai kagum."Kalau gitu gue pamit dulu ya, sory gak bisa ngobrol lama" Katanya lembut.
Gempi tiba-tiba merasa menjadi serbuk rengginang.
"Elo Yo, udah jarang mampir, di cariin bunda loh" Kata Olivia mengomel kecil.
"Iya-iya, nanti mampir deh" Balas Yohan tidak menyadari tatapan tajam yang di layangkan Gempi.
"Oke deh, gue masuk dulu" Kata Olivia sambil berlalu masuk ke dalam Indomaret.
Menyisahkan Yohan dan Gempi yang jadi terjebak hening.
"Ayo pulang" ajak Yohan menyerahkan helm Gempi. Lalu mengenakan helmnya sendiri yang sempat ia lepas saat bertemu dengan Olivia tadi.
Gempi diam saja merapatkan bibir enggan menatap Yohan, kemudian gadis itu tanpa kata naik ke atas motor Yohan.
__ADS_1
Yohan diam-diam memandangi itu dari spion motor, lalu tersenyum geli dari balik helm fullface nya.
****