WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Tubir


__ADS_3

"YOHANNN"


Gadis cantik dengan garis wajah lembut itu memanggil dari pinggir lapangan.


Hanya menyebutkan satu nama.


Namun semua lelaki di lapangan yang awalnya asik mengejar bola, jadi berhenti dan menoleh begitu saja


Dua orang familiar tampak berdiri bersisihan. Yohan, cowok itu menarik kedua sudut bibirnya tersenyum lebar ke arah gadis cantik yang baru saja memanggil namanya itu. "OY, KENAPA?" Tanyanya balas berteriak.


"JANGAN KELAMAAN MAIN, KITA MAU NGEHIAS KELAS LOH NANTI"


Yohan mengernyit."HIAS AJA ELAH, MASI SERU NIH, GE" Katanya malas.


Gempi jadi merengut ditempatnya mendengar itu, ia berdecak pelan."YA KAN HARUS ADA ELO YO, BIAR NANTI ANAK-ANAK COWOK GAK BAKAL RUSUH"


Yohan mendengus."ADA HENDRA, AMAN AJA UDAH"


"JANGAN NGELAWAK DONG, HENDRA MAH GAK GUNA" Balas Gempi mendelik tak setuju.


Membuat Hendra yang berdiri tepat di sampingnya jadi mengumpat kasar mendengar ucapan pedas itu. "Ngajak berantem lo?"


"Dih, emang benar kok"


Hendra melotot gemas, kemudian melongos kasar jadi kalah.


Yohan berdecak melihat dua orang itu sudah sibuk berdebat di pikir lapangan sana. "IYA NANTI" katanya yang kemudian kembali berlari mengejar bola.


Gempi merapatkan bibir, diam sebentar memandang Yohan yang sudah larut kembali dalam permainannya.


"Ayo" Ajak gadis itu beranjak pergi sambil merangkul bahu Hendra, menarik pemuda itu ikut bersamanya.


Hendra melirik sinis."Gak usah maksa, elo tuh pendek, sok ngerangkul gue" Cibir nya sambil menepis pelan tangan Gempi dari bahunya.


Gempi mengumpat, namun berusaha tenang berlagak menjadi cewek manis yang kalem saat beberapa senior cowok kelas dua belas kebetulan lewat di sampingnya.


Hendra yang melihat itu tak tahan jadi mencibir sinis."Cuih ular!"


****


"UDAHAN DULU WOY" Kata Yohan berteriak pada teman-teman satu tim futsalnya, pemuda itu berjalan ke pinggiran lapangan, duduk di sana sambil meraih tumbler dari dalam tasnya. tubuhnya sudah di banjiri keringat.


"Eh Yo" Gandi datang menghampiri dengan heboh, duduk di samping Yohan yang tengah meneguk minuman dari tumbler. "Cowok yang tadi bareng sama Gempi siapa?"


Yohan melirik, kemudian menjauhkan sedotan botol dari bibirnya. "Hendra" Jawab cowok itu kalem.


"Mereka dekat ya?"


"Hm" Yohan mengangguk saja.


"Pacaran?"


Yohan kali ini menoleh, gurat wajahnya berubah perlahan menatap Gandi tak terbaca. "Mereka temen, Gempi memang akrab sama semua anak cowok di kelas" Jawabnya datar. "Kenapa sih?"


"Penasaran aja" Gandi berdehem pelan, menipiskan bibir."Takutnya belum gue gas, si Gempi udah ada pawang duluan"


"Elahhh masih aja, nyerah aja udah" Celetuk Reno ikut bergabung, duduk tepat di depan Gandi yang mendelik sinis ke arahnya. "Gempi udah suka sama orang lain"


Gandi langsung menegak, melebarkan mata kaget."Boong ya lo? Heh serius, anjir!" Katanya tidak santai. "Siapa woy!?"


Reno tertawa meledek. "Adaa dehh" Balasnya sok misterius, Gandi mengumpat tertahan."Sabar ya"


"Anjir! Siapa sih, cowok yang tadi ya?"


"Ha?"


"Si Hendra itu?"


Reno mengerjap dua kali, menatap Gandi sesaat, hingga sedetik kemudian langsung menyemburkan tawa geli. "Hendra katanya, Yo" Ucap Reno menatap Yohan sambil menunjuk Gandi yang melotot kesal.


Yohan mendengus saja, tidak peduli banyak.


"Terus emangnya sapa? Jujur aja udah ah lo mah" Kata Gandi memaksa, menedang kaki Reno yang selonjoran di depannya.


"Tuh tanya Yohan aja" Ujar Reno menghindar, malah melemparkanya pada Yohan yang mendelik tak tau menau.


"Siapa Yo? Lebih ganteng dari gue gak?" Tanya Gandi kini bergerak merapat penasaran.

__ADS_1


Yohan berdecak, dengan kesal menjauhkan wajah Gandi darinya."Gak tau gue" Katanya malas, kemudian mendengus pelan melihat gurat kecewa di wajah Gandi."Tapi yang pastinya bukan teman sekelas" Lanjutnya dengan yakin.


Reno sontak menoleh sengit, kemudian berdecih sinis."Dih sotoy"


"Diam lo" Balas Yohan melotot galak.


Reno melongos pelan, tidak manggapi lanjut. Yohan mencibir saja melihat itu, ia kini jadi diam dengan pandangan lurus ke arah tengah lapangan sana, tidak peduli dengan Gandi yang terus memberikan pertanyaan beruntung belum mau diam.


"Menurut gue baper sama teman sekelas itu aneh, Yo. ya kan?"


"Gue kalau temenan ya murni temenan aja"


"Gue gak mau pacaran sama teman sendiri, apa lagi teman sekelas, ribet"


Yohan menghela nafas. Tiba-tiba jadi mengingat ucapan Gempi itu.


"Ada masalah Yo?"


Yohan terhenyak, menoleh pada Reno yang tengah menatapnya penuh tanya. "Ha?" Balasnya agak linglung.


Reno mengernyit heran, saling melempar pandang dengan Gandi sesaat.


"Muka lo kelihatan murung, lo ada masalah?" Tanya Gandi menjelasnya akar dari pertanyaan mereka.


Yohan tertegun, kemudian bergerak kikuk menggosok hidungnya dengan jari telunjuk. "Nggak, gak ada" Jawabnya tenang.


"YOHANNNNN WOY YOHAN"


Ketiga pemuda di pinggir lapangan itu menoleh spontan, menatap seorang cowok yang berlari panik menghampiri mereka.


"Kenapa, Yon?" Tanya Yohan saat melihat gurat panik di wajah teman sekelasnya itu.


Reno berdiri, menghampiri Yono yang berdiri di samping Yohan, sibuk mengatur nafasnya yang memburu.


"Kalem dulu" Ujar Reno mengernyit bingung.


Yono menggeleng lemah, merasa ilang tenaga habis berlari dari kelas. "Hendra.. Hendra Yo"


Yohan sontak berdiri, garis wajahnya jadi serius kini. "Kenapa lagi?"


Yono mengerjap, mengumpat tertahan tiba-tiba di tinggalkan begitu saja.


"Virgo anak kelas dua belas ya, No?"


Yono menoleh, melihat Gandi yang tampak penasaran."ho-oh" Jawabnya seadanya sebelum akhirnya kembali beranjak menyusul dua temanya yang sudah jauh dari pandangan.


****


11 MIPA 2, kini terasa sesak di penuhi oleh murid-murid SHS, yang penasaran dengan keributan yang terjadi.


"Emang benar kan, jelas banget dari kelakuan lo yang berantakan, keluarga lo juga pasti gitu." Virgo belum mau diam, dari awal masuk ke kelas ini, cowok itu terus melontarkan kalimat yang memancing emosi Hendra. "Ibu lo mana, ha? Dia gak bisa ngajarin etika sama lo? Makanya kelakuan lo kayak preman begini?"


"BAJINGAN!" Hendra maju, melayangkan pukulan tepat mengenai bibir Virgo. Toni yang berusaha menahan Hendra sontak melebarkan mata saat tubuhnya terlempar mundur dengan lemahnya begitu saja.


Hendra melotot tajam, mengangkat kursi kelas dengan satu tangan lalu menghantamkan nya ke kepala Virgo yang langsung terjatuh ke lantai.


Orang-orang berteriak heboh, semua perempuan yang menyaksikan itu menjerit ngeri.


Gempi tertegun melihat itu. Hingga entah dapat keberanian dari mana tubuh mungilnya bergerak maju ke arah Hendra, tidak bisa membiarkan temanya itu melewati batas.


Yohan lo di mana?


Cepat ke sini tolong..


"Ge, ngapain lo Heh!" Toni dengan cepat menghalangi gadis itu. "Udah sonoh di pojokan aja lo"


"Gue bantuin elo ya, Hendra bisa di keluarin dari sekolah kalau gak cepat di amanin."


"Iya gue tau, ini lagi usaha, udah lo di sana aja samping Yolan, lo mau kena pukul juga?"


Gempi mengulum bibir, lalu kembali menatap Hendra yang terus melayangkan pukulan pada Virgo yang sudah kehabisan tenaga.


Semua teman-teman Virgo bahkan sampai kewalahan menghentikan Hendra.


"Tapi gue–"


"Ck Ge!"

__ADS_1


Gempi menggigit bibir bawahnya risau melihat Toni yang kembali maju berusaha menarik Hendra mundur.


Ciko dan Sofy yang tadinya ikut membantu kini malah di pojokan kelas tengah di amankan Wenda dan Yolan sebab dua orang itu sempat terpancing nyaris ikut berkelahi.


Yono sedang pergi mencari Yohan dan Reno, namun sejak tadi belum juga kembali.


Zeno sejak tadi diam sudah mendapat ultimatum dari Yolan untuk tidak bergerak dari tempatnya.


Jadi Gempi tidak punya pilihan lain selain ikut melerai, Toni saja sampai kewalahan begitu.


"Ck bodo lah" Ucap Gempi tak peduli, kemudian bergerak maju ke arah Hendara, tangan kanannya meraih kerah belakang seragam Hendra sedangakan tangan yang satunya mencengkram lengan pemuda itu, menariknya mundur sekuat tenaga.


"GE MUDUR WOY, NGAPAIN LO NYASAR DI SITU ADOOHHHH!" Yolan melotot kaget.


Toni yang menyadari keberadaan Gempi di dekatnya langsung mengumpat kasar. "Ge kenapa di sini sih"


Gempi tidak menggubris, gadis itu terus berusaha menarik Hendra mundur.


"Mati lo mati" Umpat Hendra terus memukul Virgo tanpa ampun.


"Woy Hendra, udah anjir" Salah satu senior yang merupakan teman Virgo berusaha memisahkan mereka.


Namun seolah tuli, Hendra semakin menggila.


Gempi rasanya hampir menangis melihatnya.


Hendra selalu seperti ini jika ada yang menghina kondisi keluarganya.


"Anj*ng"


Virgo tiba-tiba melayangkan tendangan ke perut Hendra membuat cowok itu menjauh darinya."Lo yang mati bangsa*at!" Katanya yang menarik kursi terdekat lalu melemparnya ke arah Hendra.


"ARGH!"


Hening seketika.


Semua mata langsung tertuju ke arah Gadis yang tersungkur ke ubin kelas setelah terkena pukulan keras dari kursi yang di layangkan Virgo.


"GEGE!"


"WOY ANJER"


"KYAAA GEGE ANAK GUE" Yolan dan Wenda langsung lari mendekat.


Tiga orang cowok menerobos masuk ke dalam kelas, berlari menghampiri sumber kekacauan itu.


Yohan terpaku, melihat Gempi yang tengah meringis sakit mecoba menjaga kesadarannya.


"Udah-udah, buset dah kalau mau berantem di luar aja pas pulang sekolah, atur tempat aja ayo" Reno langsung mengambil tempat di antara Hendra dan Virgo.


Yono menepuk jidatnya pusing, dengan cepat segera menarik Reno mundur. "Jangan gila dulu kampr*t"


Reno mendengus, menatap nyalang Virgo dan beberapa senior kelas dua belas di depannya.


"Ge?" Yohan menekuk lutut, berjongkok tepat di hadapan Gempi. Cowok itu menelan ludah susah payah, tanganya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menjuntai menutupi wajah gadis itu. "Ge, liat gue" Bisiknya halus.


Gempi meringis, pelan-pelan mendongak membalas tatapan Yohan. "Kenapa baru datang?" Tanyanya serak menahan perih.


Yohan melebarkan mata tertegun, tanpa sadar menahan napas saat melihat darah segar mengalir dari kepala Gempi. "Lo–" Tenggorokanya tercekat."–ke rumah sakit sekarang"


"Gak–"


"Diam!" Ucap Yohan menyela cepat, garis wajahnya berubah dingin, dengan sorot mata tajam. Pemuda itu dengan cekatan langsung meraih tubuh ringkih Gempi ke dalam gendonganya.


"TONI, YONO!"


Dua orang pemuda yang di sebut namanya itu menegak kaget, langsung menghampiri Yohan.


"Jagain Hendra selama gue gak ada" Pinta Yohan tegas, membuat Toni dan Yono langsung mengangguk patuh.


"Dan elo" Yohan kini menolehkan kepala, menatap Virgo tepat."Tungguin gue di belakang sekolah, kita selsaiin masalah ini" Katanya tajam, kemudian bergegas pergi dari situ dengan cepat, di ikuti Wenda, Yolan, Zeno, Reno, Sofy dan Ciko di belakangnya.


"Reno lo nyetir"


Reno mengangguk saja, tidak berani membantah jika Yohan sudah seperti ini.


***

__ADS_1


__ADS_2