
Gempi Melangkah santai menyusuri koridor yang lumayan sepi, ia baru saja dari ruang ekskul mading setelah menjual informasi yang ia dapat.
Ekskul radio dan mading dari dulu memang menjalin kerja sama, Gempi yang bisa mendapat informasi dengan cepat dan akurat selalu bisa di andalkan oleh anak-anak mading.
Gempi tidak pernah ribet, pekerjaanya yang seperti ini menurutnya mudah, menyenangkan, dan mendapatkan untung.
Dari kelas sepuluh Gempi mengambil dua ekskul. Radio dan Mading, namun dia lebih memilih Radio.
Orang-orang selalu bertanya, kenapa Gempi tidak masuk saja di ekskul mading kemampuanya bisa di pakai di situ, jawabnya simpel. di ekskul Radio di sudah di tunjuk sebagai ketua jika memilih tetap bertahan.
Ya, Gempi tergiur jabatan.
Menuruni tangga, kedua kaki gadis itu kembali melangkah beberapa saat kemudian berbelok, hingga akhirnya sampai di depan ruang radio.
Membuka pintu, masuk ke dalam lalu menutup pintu ruangan itu kembali. Hingga saat berbalik Gempi tiba-tiba memekik kaget.
Kedua matanya melotot mendapati seorang cowok tengah dudung tenang di dalam ruangan ini seorang diri. "Yohan lo ngapain?"
"Nungguin elo, apa lagi" Jawab Yohan santai apa adanya. Cowok itu diam sesaat menatao Gempi lurus."Kita perlu bicara"
"Gue pergi–"
Yohan melebarkan mata, spontan bergerak cepat meraih tangan Gempi menahan gadis itu sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini. "Kenapa sih Ge?" Tanya Yohan lembut, mengambil tempat di depan Gempi menghalai gadis itu jika kembali mencoba keluar.
Gempi melongos pelan."Gak pa-pa"
"Terus kenapa hindarin gue, hm?"
Gempi menggigit sudut bibirnya, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan Yohan."Enggak tuh, ngapain juga"
"Nah kalau gitu kita bicara dulu ayo" Kata Yohan memelas, menggoyang-goyang pelan tangan Gempi yang tengah ia genggam.
Gempi merapatkan bibir, berusaha menahan diri melihat tingkah menggemaskan cowok di depannya ini. "Bicarain apa sih?"
"Duduk dulu" Kata Yohan menarik pelan tangan Gempi ke arah meja rapat di tengah ruangan. "Kenapa gak balas chat gue semalam?"
Gempi mengerjap, ia bergerak gelisah."Kan udah gue bilang gak ada kuota "
Yohan menghela napas, bibirnya tersenyum paksa. "Si Hendra beneran bakal gue pukul loh Ge, kalau itu alasan elo"
Gempi mendelik, memukul lengan Yohan spontan."Jangan aneh-aneh" Katanya mengancam, lagian sejak kapan Yohan menjadi pribadi yang mudah emosian begini?
Perasaan dulu nih anak kalem dan adem-adem aja.
"Ya lagian" Yohan memajukan bibir, merengut kesal."Salah gue apa sih, ngomong dong biar gue bisa introspeksi diri"
Gempi diam-diam menggigit sudut bibirnya menahan gemas.
__ADS_1
Kalau terlalu gemes gini, si Yohan lama-lama dia karungin mumpung gak ada yang lihat. Pikir Gempi tak tahan.
Gempi menghela nafas, ia diam lama, menatap Yohan lekat. Membuat Yohan yang di tatap sedalam itu jadi menelan ludah berusaha mengandalkan diri.
Di ruangan ini hanya merka berdua, kalau sampai ada setan lewat dan membuatnya khilaf bisa gawat.
Yohan mengumpat dalam hati, menyingkirkan pikiran gilanya itu."Kenapa Ge? gue gugup loh kalau lo liatin kayak gitu" celetuknya.
Gempi mendengus, menoyor pelan kepala Yohan."Olivia siapa?"
"Hm?" Yohan mengernyit."Kenapa jadi bahas Olivia?"
Gempi mencebil pelan. "Jawab aja"
Yohan menaikan siku di atas meja, lalu menopang kepala sambil menatap Gempi yang tengah menunggu jawabanya. cowok itu mengerjap dua kali."Olivia kakak sepupu gue" jawab Yohan apa adanya.
Gempi terdiam, mengakat alis tinggi mendengar itu. "Ka–kakak apa?"
"Kaka sepupu Ge" Kata Yohan lembut."Sepupu dekat, udah kuliah dia" Yohan diam sesaat, mengapati wajah gadis di depannya ini, melihat bibir gempi yang sedikit terbuka dengan kedua matanya yang melebar polos, membuat Yohan jadi tekekeh pelan."Kenapa sih?"
"Jadi.. dia keluarga elo?
" Iya"
"Bukan teman?"
Yohan mengeryit samar dengan senyuman geli yang terukir di wajahnya."Lo mikir apa sih?"
"Ohhh... OHHHHHH HAHAHAHA"
Yohan mendelik, tiba-tiba gadis itu tertawa lepas seolah ada hal lucu yang terjadi."Apa yang lucu sih?" Tanya Yohan geli melihat itu."Lo kenapa heh" katanya mengguncang bahu Gempi pelan.
Gempi berusaha meredakan tawanya, gadis itu meringis, menggaruk kepalanya merasa malu."Jadi Olivia itu sepupu an sama lo, gue pikir–"
"Apa?" Yohan mengangkat sebelah alis, sedikit-sedikit mulai paham dengan jalan pikir gadis itu.
Gempi mengulum bibir, ia melongos pelan menghindari tatapan meledek yang di berikan Yohan.
Sial.
"Lo jealous?"
"Enggak!" Gempi mengelak cepat, suaranya meninggi agak tidak santai. "Gue cuman–"
"Kesal, gak suka?" Tebak Yohan iseng, Gempi mendelik galak namun tak bisa membantah."Lo gak suka liat gue sedekat itu sama Olivia kemarin, karena mikir kita ada something?"
Gempi mengulum bibir ke dalam, lalu menggeleng pelan mengelak.
__ADS_1
"fix lo jealous" Kata Yohan tersenyum senang.
"Enggak ya"
"Boong banget, kelihatan jelas tuh" kata Yohan sambil menunjuk wajah Gempi yang memerah malu.
"Mana ada" Kata Gempi mendelik gemas, memukul lengan Yohan saat cowok itu malah tertawa puas. "ihhh rese lo"
Pintu rangan tiba-tiba terbuka dari luar, menghentikan interaksi antara dua orang di dalam ruangan itu.
Beberapa orang yang berdiri di depan pintu terdiam menatap Yohan dan Gempi yang tampak gelagapan. Lebih tepatnya hanya Gempi yang salah tingkah, Yohan malah terlihat tenang dengan gurat wajah yang kembali biasa menatap pemuda yang baru saja membuka pintu ruangan ini.
"Kita... ganggu ya?" Tanya seorang gadis cantik, siswi kelas sepuluh. Namanya Karina, menatap tidak enak pada Yohan yang menyorot mereka tak terbaca.
Gempi menggeleng menjawab itu."Gak, kita cuman ngobrong doang kok, masuk sini" Panggilnya pada beberapa orang itu.
Kelvin merapatkan bibir, sedikit menggeser tubuhnya merapat pada pintu agar anggota radio yang lain bisa masuk. Pemuda itu menelan ludah, merasa ada yang retak di dalam dadanya melihat interaksi antara Yohan dan Gempi tadi.
"Vin masuk, ngapain diam di situ?" Tanya Gempi heran. Kelvin mengerjap, tersenyum kikuk lalu melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu.
"Elo keluar gih kita mau rapat" Kata Gempi mendorong pelan bahu Yohan. Yohan mecebik pelan, dengan ogah-ogahan beranjak berdiri.
Kelvin memandangi itu dalam diam.
"Cepetan, itu si Kelvin mau duduk tau" Kata Gempi mendelik pada Yohan.
Yohan mengakat alis, menoleh pada Kelvin yang berdiri di sampingnya sejak tadi."Eh, maaf" Kata Yohan segera menyingkir.
Gempi menabok pelan lengan Yohan sambil berbisik menyuruh cowok itu segera keluar karena rapat akan segera di mulai.
"Kalian..." Kelvin meletakan map di atas meja, kemudian menatap Yohan dan Gempi yang juga balik menatapnya penuh tanya.
Bahkan semua anggota radio di dalam ruangan itu ikut menoleh, berpikir jika Kelvin sedang berbicara pada mereka.
".. pacaran?" Tanya Kelvin dengan sorot tak terbaca.
Yohan mengakat alis, memasukan kedua tanganya pada masing-masing saku celana."Kenapa?" katanya balas bertanya.
Kelvin menelan ludah, berusaha menahan diri. Entah kenapa tadi itu bisa kelepasan.
Gempi mengerjap, tidak menyadari aura menegangkan di antara kedua pemuda di dekatnya itu. "Enggak" jawab Gempi tenang, membuat Yohan sontak menoleh dengan sorot protes. "Kita cuman teman" Lanjutnya, berusaha tidak membalas tatapan Yohan saat ini.
Yohan diam sesaat, lalu mencibir pelan."Pulang nanti sama gue" Kata pemuda itu sebelum keluar dari ruang radio.
Gempi menelan ludah menoleh pada pintu ruangan yang baru saja tertutup setelah Yohan keluar, kemudian tersenyum tipis pada Kelvin yang diam saja."Kenapa?"
Kelvin perlahan menarik kedua sudut bibir tersenyum manis."Gak pa-pa, ayo rapat"
__ADS_1
Gempi mengangguk saja, tidak menyadari binar di kedua mata cowok di depannya itu.
****