WAKETU GAMON (SHS 1)

WAKETU GAMON (SHS 1)
Curhat?


__ADS_3

Hendra Mahesa. Setiap orang yang baru pertama kali mengenalnya pasti akan berpikiran bahwa cowok itu adalah golongan ips.


Soalnya nih anak kan jarang masuk sekolah, sekalinya masuk malah seringnya gaul sama anak cowok ips 1 yang udah di kenal seantero sekolah sebagai pembuat onar.


Berandalannya kelas MIPA? Ya cuman Hendra Mahesa.


Dan si berandalan itu merupakan tetangga sekaligus teman main Gempi sejak kecil.


"Lo bego ya?"


Gempi mendelik, namun enggan menoleh pada cowok yang duduk lesehan di sampingnya ini yang sejak tadi terus mengeluarkan berbagai umpatan dari mulutnya.


Dan semua umpatan itu di tujukan pada Gempi.


"Anj-TUH KAN APA GUE BILANG!"


Gempi mencibir saja tidak peduli, meletakan benda pipih yang layarnya menampilkan tanda 'Defeeat' atau yang artinya –kalah dalam permainan– itu di atas meja tepat di belakangnya, selanjutnya gadis itu merebahkan tubuhnya di atas karpet berbulu di ruang tengah itu.


"Ck! Gak lagi gue main game sama elo"


Gempi mengumpat tertahan."Elo yang tadi maksa-maksa gue temenin elo main ya, UPIL BADAK!" katanya jadi emosi.


Memang saat ini mereka sedang berada di rumah Gempi, tepatnya di ruang tengah.


Di dalam rumah yang luas itu hanya ada mereka berdua, juga Bi Ija pembantu di rumah itu yang sekarang sedang sibuk di dapur membuat nasi goreng untuk mereka berdua.


Orang tua Gempi? Sedang di luar kota.


Minggu siang, Hendra tiba-tiba mampir tanpa mengabari lebih dulu, memaksa Gempi bangun dari tidur nyenyak nya hanya untuk menemani cowok itu main game moba.


sat!


Hendra mencibir, menendang kaki Gempi yang terjulur di depannya."Terpaksa, dan gue nyesel" Katanya yang kembali memulai game, tidak memperdulikan Gempi yang sudah melotot tajam bersiap menjambak rambut pemuda itu brutal.


"Gue laporin tante Aya kalau sampe lo ngasarin gue" Kata Hendra mengancam, menyebutkan nama wanita paruh baya yang merupakan Mama dari gadis yang sedang tiduran di sampingya itu.


Gempi mencuatkan bibir mendengar itu, berikutnya jadi diam di tempatnya.


Ya beginilah mereka, di sekolah dan di rumah gak ada bedanya.


"Besok ada kuis" Setelah terjebak hening beberapa saat, gadis itu kembali menyeletuk, menatap Hendra yang tampak fokus pada layar hpnya.


Gempi menghela nafas. "Kalau lo gak masuk sekolah lagi, gue laporin lo sama Mama" Katanya gantian mengancam.


"Ck, iya-iya bawel lo" Kata cowok itu kesal. Namun berikutnya jadi melirik sekilas ke arah Gempi. "Besok.. Berangkat sekolah bareng gue?"


"Gak" Tolak gempi cepat."lo bawa motor ugal-ugalan.


"Enggak elahh" Hendra kembali fokus, jempolnya bergerak cepat di atas layar HP. "Biar sekalian temenin gue ke 'rumah bokap gue', bentar aja ya"


Gempi melebarian mata, kini jadi menatap temanya itu lekat.


Hendra meneguk ludah, mencoba terlihat biasa. "Kita berangkat pagian biar gak telat ke sekolah"

__ADS_1


Gempi diam sesaat hatinya berdesir merasa tidak nyaman, membuang muka, gadis itu mencebik pasrah. "Oke deh, mau gimana lagi kan... Muka lo udah kelihatan mo nangis gitu"


Hendra mengumpat kasar.


Gempi merapatkan bibir. Setidaknya hanya hal-hal sederhana seperti ini yang bisa Gempi lakukan untuk Hendra.


Gempi diam lagi, tiba-tiba jadi memikirkan sesuatu, kemudian jadi melirik Hendra yang masih terus mengumpat kasar di depan layar HP nya.


Gadis itu merapatkan bibir sesaat, menghela nafas menelan kembali ucapan yang sudah di ujung lidah.


"Paan?" Hendra yang menyadari itu langsung bertanya. Mengerling ke arah Gempi yang juga tengah menatapnya.


"Hen"


"Ha?"


Gempi mengulum bibir ke dalam, agak ragu sebenarnya. "Kalau misal ya, misalnya elo tanpa sengaja baper sama teman sendiri–"


"Gak bakal"


"Dengar dulu bangsat"


Hendra mencibir, Gempi berdehem pelan. "–apa yang bakal elo lakuin, kalau suatu saat lo ada di posisi itu?" Tanya Gempi serius.


Hendra diam sesaat, melirik Gempi sekilas. "Maksdnya... Elo lagi curhat?"


"Anj-" Gempi mengumpat tertahan, dengan kesal langsung bangun meraih bantal sova lalu melemparkannya tepat mengenai muka Hendra. "Tinggal jawab aja bisa nggak sih!"


"Ck! Apa ha apa? Lo beneran baper sama Yohan?" Tanya Hendra blak-blakan, selanjutnya kembali fokus ke layar HP setelah menyingkirkan bantal sofa dari wajahnya."Udah gue duga, elo nolak semua cowok karena Yohan, kasihan cowok-cowok yang deketin elo, cuman di jadiin pelampiasan"


"Halahhh" Hendra mendengus remeh."lo tuh dah baper tau gak, apa? Mo ngelak? Cuih"


Gempi mengumpat, menyesal sudah bertanya pada cowok sinting satu ini.


Suasana jadi hening sesaat, hingga akhirnya Hendra tiba-tiba menyeletuk, kali ini jadi serius.


"Ge, gue gak pernah ngelarang elo buat suka sama siapapun itu hak elo, sebagai teman lo gue bakal selalu dukung selama itu bikin lo senang"


Gempi diam mendengarkan, Hendra menoleh, meletakan HP nya di atas meja saat permainan yang telah selesai.


"Yohan cowok baik, dia teman gue juga, gue tau dia orangnya gimana"


Hendra mendesah pelan."Selama ini dia perlakukan elo itu 'beda' dari teman kelas cewek yang lain, semua orang juga bisa lihat jelas, tapi Ge–"


Gempi mengangkat sebelah alis, saat Hendra memberi jeda sesaat. "Apa?"


"Yohan pernah ngomong, kalau dia itu cuman nganggep elo kayak adiknya sendiri"


"Adik-adikan maksud lo?" Gempi mengerjap, terperangah mendengar itu. "HAH?!


"Ck, muka lo biasa aja napa?!"


"GUE HERAN ANJIR!"

__ADS_1


"Ya sama, si Yohan otaknya geser kali ya nganggap modelan sancawati kayak elo adik, merinding gue pas dia ngomong gitu–ARGHHH GEMPI ANJERRR SAKIT WOYYY!"


Gempi menggoyang-goyangkan kepala Hendra brutal, rambut Cowok itu ia cengkraman dengan kuat. "Nggak usah nyampah"


Hendra meringis saat berhasil melepaskan diri dari Gempi, cowok itu menarik diri menjauh sambil melotot horor. "Kalau sampe Yohan balik baper ke elo, berarti emang benar otaknya geser"


Gempi mengumpat kasar, namun melongos tidak peduli.


Hendra mencibir pelan."Tapi gak mungkin sih, Yohan kan gamon parah, makanya pas gue tau lo naksir–"


"GUE GAK NAKSIR YA BANGSAT!"


"NENG GEMPI JANGAN TERIAK-TERIAK ATUH" 


Gempi kembali mengatupakan bibir saat Bi Ija menegur dari arah dapur.


"Ngeles mulu" Balas Hendra santai."Gue udah tau ya, lo ngambek sampe gak muncul di gc kelas karena Yohan ketahuan pulang bareng sama Manda"


"Dih enggak ya"


Hendra dengan iseng mengikuti cara bicara Gempi dengan gaya yang di buat-buat aneh. "Yaudah, ngelak aja terus sampai Yohan balikan sama Manda" Kata Hendra mulai provokator. "Gue denger dari Ciko, Yohan sama Manda pulang bareng lagi, waduhhh makin rapat, kayaknya tinggal nunggu kabar nih"


Gempi tanpa sadar jadi merengut mendengar itu. "Bacot lo simpanse"


"Dih panas" Balas Hendra sambil kembali meraih hpnya.


Gempi mendelik tajam. "Maksud lo apa sih!?"


Hendra melirik malas."Perjuangin ege"


Gempi sontak terdiam, mengernyit jadi bingung membalas apa.


Perjuangin?


Yohan?


"Lah ngapain gue perjuangin?"


Gantian jadi Hendra yang mengumpat kasar. "Karena lo naksir dia bego, ihhh kaset welkom"


"Enggak ya" Gempi langsung mengelak cepat.


"Kalau emang gak naksir kenapa tadi lo tiba-tiba ngasih pertanyaan kayak gitu ke gue?"


"Pertanyaan yang mana sih?"


Hendra melotot."Pikun bener nih bocil" katanya kesal. "Yang lo tanya pendapat gue gimana kalau misal sampe suka sama teman sendiri, kenapa lo naya itu Ha? kenapa lo nanya kalau emang gak ada apa-apa?"


Gempi melebarkan mata, terhenyak jadi menyadari itu.


lah iya ya?


Hendra yang melihat reaksi Gempi, hanya bisa mendengus lalu melongos keras. "Bego banget sama perasaannya sendiri, Heran gue" gumamnya muak.

__ADS_1


***


__ADS_2